Wed. Jan 20th, 2021

BLAM

KEREN

Populisme Islam: Haruskah Diperangi?

7 min read

Sumber gambar: indoprogress.com

9,997 total views, 988 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

“Saya tidak ingin, kita semua tentu saja tidak ingin populisme Islam ini berkembang luas sehingga kita kewalahan menghadapinya,kata Menteri Agama, Yaqut Cholil Quomas, pada acara diskusi lintas agama dengan tema “Memperkokoh Persatuan dan Kesatuan Bangsa dalam Kebhinekaan.”

Pernyataan tersebut disampaikan oleh pria yang akrab disapa Gus Yaqut tersebut, empat hari setelah dirinya dilantik sebagai menteri agama. Penyampaian menag tersebut disiarkan langsung akun youtube Humas Peldo Metro Jaya, selaku penyelenggara acara, Minggu, 27 Desember 2020.

Lantas, apa yang dimaksud populisme Islam tersebut oleh menag? Masih dalam acara yang sama, menag menyebut; “Agama dijadikan norma konflik itu dalam bahasa ekstremnya, siapapun yang berbeda keyakinannya, maka dia dianggap musuh dan karenanya harus diperangi, istilah kerennya itu populisme Islam.”

Dan saya tidak ingin, kita semua, tentu saja tidak ingin, populisme Islam ini berkembang luas sehingga kita kewalahan memeranginya,lanjut menag mempertegas mengenai apa yang dia maksud.

Sontak, pernyataan menag tersebut menimbulkan banyak respons dan kritik dari berbagai kalangan. Mulai dari politisi hingga peneliti LIPI mengkritik menag atas pernyataannya tersebut. Peneliti LIPI bahkan menyebut, Yaqut salah paham soal populisme Islam.

Apa sebenarnya populisme Islam, sehingga menag harus mengeluarkan “pernyataan keras” tentang hal tersebut? Apakah populisme Islam atau populisme agama memang mengancam integritas bangsa, sehingga harus diperangi?

Populisme

Pada tulisan saya sebelumnya tentang “Populisme: Politik Identitas dan Ancaman Disintegrasi”, di Website BLAM, saya mengulas populisme sebagai fenomena politik yang menggunakan identitas tertentu sebagai pembentuk identitas politik bersama, yang dicirikan sebagai gerakan yang anti kemapanan, mengusung gaya otoritarianisme, dan bersifat nativis.

Populisme, adalah gerakan yang mengangkat isu dan sentimen monokultur dan menegasi multikultur yang menandai kebangkitan politik identitas.

Populisme juga telah berjasa mengantarkan pemimpin fasis, seperti Hitler dan Mussolini, bahkan sebagian kalangan menyebutkan untuk kasus Trump.

Karena karakternya yang monokultur, maka populisme dalam bentuk apapun akan menjadi ancaman bagi disintegrasi bangsa. Massifnya wacana dan gerakan populisme berbanding lurus dengan rentannya disintegrasi bangsa.

Dalam tulisan saya lainnya yang berjudul “Populisme: Hantu yang Mengancam Demokrasi” (juga dimuat di Website BLAM ini), saya telah mengulas tentang populisme sebagai fenomena yang mengancam keberlangsungan demokrasi global.

Masifnya informasi melalui kemajuan teknologi digital membuat dunia memasuki era yang disebut Post-Truth. Hal ini menjadi momentum yang memfasilitasi populisme untuk semakin bergeliat dalam skala massif untuk memengaruhi opiini publik.

Populisme menunggangi demokrasi demi semata meraih kemenangan politik-elektoral, dengan mekanisme mengaktifkan sentimen emosional rakyat untuk kemudian dimobilisasi dan dikonversi menjadi suara dalam politik elektoral.

Terpilihnya Donald Trump dalam pilpres Amerika Serikat pada 2016 merupakan puncak kemenangan gelombang politik a la di dunia Barat yang berkarakter sayap kanan ultra-nasionalis. Donald Trump merupakan prototipe wajah populisme, yang mendestruksi tatanan dan nilai-nilai dari demokrasi.

Sebagai sebuah konsep yang dapat diisi oleh berbagai gagasan dan muatan. Populisme selain memainkan emosi massa melalui propaganda ultra-nasionalis, pada kasus yang lain populisme memanfaatkan konservatisme agama untuk memenatik sentimen massa untuk kemudian dimobilisasi.

Kecenderungan populisme di Eropa dan Amerika adalah populisme yang bermuatan gagasan ultra-nasionalis yang dimobilisasi oleh politisi sayap kanan.

Fenomena ini berubah sejak berakhirnya perang dingin, yang ketika itu gagasan sosialis-komunislah yang mendominasi gelombang populisme.

Sementara, pada negara dengan penduduk mayooritas Muslim, seperti di Timur Tengah dan Indonesia, tantangan kemudian adalah populisme yang berbalut “jubah agama” (Islam).

Apapun gagasan dan labelnya, populisme merupakan hantu yang mengancam keberlangsungan iklim dan dinamika demokrasi yang sehat.

Apakah populisme selamanya buruk? Populisme bagi negara dengan pemerintahan otoriter adalah kemajuan, pada posisi ini populisme adalah jalan menuju pemerintahan yang sehat dan pro-rakyat.

Namun, untuk negara yang menerapkan sistem demokrasi, populisme adalah kemunduran. Penandaan “rakyat  yang  autentik” dan “si liyan” sangat bergantung pada political situation dan discursive opportunity structure.

Karena kita sedang membcarakan populisme dalam konteks negara demokrasi, maka tiada lain, segala hal yang mengarah pada populisme adalah kemunduran dan meminjam istilah Lonescu dan Gellner, populisme adalah “hantu yang mengancam”.

Populisme Islam

Menurut Vedi R. Hadiz yang melakukan penelitian tentang populisme Islam di Indonesia dan Timur Tengah (2016). Populisme Islam adalah aliansi massa dari berbagai elemen dan kelas yang disatukan oleh simbol keagamaan bersama yang disepakati.

Populisme Islam memanfaatkan mobilisasi massa untuk melawan elit penguasa dengan menggunakan agama sebagai identitas politik bersama.

Dalam tulisannya tersebut, Hadiz menggolongkan gerakan “Aksi bela Islam” atas kasus tudingan penistaan agama oleh Ahok yang saat itu menjabat sebagai Gubernur dan sekaligus calon kuat gubernur DKI Jakarta untuk periode berikutnya.

Bahkan, “Aksi Bela Islam” atas kasus Ahok tersebut merupakan fakta yang paling mencolok dari fenomena populsime Islam di Indonesia. Bahkan semenjak peristiwa itu, diskursus populisme Islam kemudian menjadi marak dperbncangkan.

Masih menurut Hadiz, populisme Islam adalah bagian dari bentuk populisme secara umum yang menghimpun berbagai lapisan kelas, dalam struktur gerakan, yang kemudian mendaku diri sebagai “perwakilan Islam”.

Retorika politik simbolik baik melalui simbol maupun verbal dimainkan demi membakar emosi, memobilisasi massa, dan mengalang solidaritas, yang selalu dikunci dengan jargon retoris,”atas nama umat islam” atau “demi umat Islam”

Perbedaan esensial antara populisme konvensional dengan populisme Islam terletak pada konsep dasar mengenai  “The  Peoples” sebagai rakyat autentik yang ditindas oleh elite.

Sedangkan pada konsep populisme Islam “The Peoples” tersebut diganti menjadi ummah (umat yang ditindas dan terpinggirkan.

Dalam pandangan Populisme Islam, setiap Muslm, meski memiliki karakteristik beragam, namun merupakan bagian dari ummah sebagai community of believers sebagai representasi dari The People yang bergerak karena telah terpinggirkan dan dipinggirkan oleh elite yang mereka anggap sekuler.

Ummah menjadi terminologi retoris yang penting guna memantik simpati serta memobilisasi basis dukungan massa. Populisme Islam digunakan untuk membingkai keragaman kelompok dalam tubuh umat Islam untuk disatukan secara politis.

Populisme Islam adalah politik identitas atas nama kesamaan  agama  (Islam), sebagai manifestasi dan ekspresi protes sekaligus tawaran solutif untuk menyelesaikan  persoalan ketimpangan ekonomi, marginalisasi politik, maupun subordinasi budaya dengan merebut sumber daya dan kekuasaan  di  negara

Populisme Islam adalah wajah politik dari Islamisme. Ditengarai, munculnya gerakan populisme Islam merupakan reborn gerakan Pan-Islamisme yang muncul pada  awal Abad XX.

Namun, tentu bebeda antara gerakan Pan-Islamisme di masa lalu dan populisme Islam abad XXI. Pada masa lalu spirit Pan-Islamisme digunakan untuk melawan kekuasaan kolonialisme. Karena saat itu, negeri-negeri Muslim adalah negeri yang kalah dan terjajah oleh colonial Barat.

Sedangkan populisme Islam hari ini lebih menekankan pada bagaimana membangun narasi identitas yang berbasis umat Islam, dengan membangun kesan bahwa umat Islam terpinggirkan oleh rezim negara.

Populisme Islam digunakan lebih sebagai alat propaganda perjuangan demi mendapatkan kekuasaan dalam skala teritori nasional di negara tertentu.

Sarana perjuangan bisa melalui partai politik, organisasi keagamaan, front perjuagan, hingga pada bentuk ekstrem melalui modus terorisme, yang intinya adalah sebagai kendaraan atas penguasaan sumber daya dan dominasi kekuasaan.

“Kejayaan kembali Islam”, “kedaulatan umat islam”, “aksi bela Islam”, “Penerapan Syariat Islam” atau dalam bentuknya yang halus “NKRI Bersyariah” merupakan political buzzword yang terus menerus digaungkan demi meraih dukungan umat Islam, baik berupa dukungan dalam pemilihan maupun dukungan untuk sama-sama “berkerumun di jalanan.”

Kejatuhan rezim orde baru dan masuknya era reformasi, membuat populisme Islam di Indonesia menemukan momentum untuk bergeliat. Peruangan melalui jalur formal-struktural, partai politik, ormas keagamaan, hingga mengggunakan kekuatan laskar.

Perjuangan formalisasi syariat Islam dengan mengembalikan tujuh kata yang hilang (dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya) dari Pancasila versi Piagam Jakarta, maupun perjuangan formalisasi syariat melalui peraturan di tingkat daerah.

Selain perjuangan formal-struktural yang tak kunjung menuai hasil, gerakan populisme Islam juga sangat mengandalkan gerakan massa yang berkerumun dan secara demonstratif berupaya menunjukkan pengaruh dan power.

Parade Tauhid, Pawai Khilafah, Aksi Bela Islam, Kongres Umat Islam, dan Ijtima Ulama. Hingga aksi-aksi persekusi atas nama razia tempat maksiat, razia warung makan yang beroperasi pada siang hari di Bulan Ramadhan, hingga aksi kekerasan terhadap kelompok yang mereka anggap sesat. Merupakan bentuk-bentuk yang ditunjukkan oleh gerakan populisme Islam di Indonesia.

Haruskah Diperangi?

Haruskah negara memerangi populisme Islam?, sebagaimana yang disampaikan Gus Yaqut selaku menag?

Dari segi bahasa, mungkin pemilihan diksi “diperangi” terkesan cukup bombastis. Seolah menunjukkan, bahwa negara bertindak otoriter dalam menghadapi populisme Islam sebagai sebuah fenomena dan gerakan.

Pernyataan Gus Yaqut tentang memerangi populisme Islam adalah pernyataan tegas, bahwa negara akan benar-benar hadir dalam menangkal segala bentuk ekstremisme yang mengancam keutuhan NKRI.

Gus Yaqut, sejatinya, mengingatkan mengenai bahaya besar yang akan mengancam eksistensi dan keutuhan NKRi. Jika kita (terutama negara) abai terhadap populisme yang bergerak bak bola salju yang terus membesar, maka akhirnya nanti negara sendiri yang akan kewalahan menghadapinya.

Postulat negara ini adalah empat konsensus dasar yang kerap disebut pula sebagai empat pilar kebangsaan, yaitu NKRI, Pancasila, UUD 1945, dan Bhineka Tunggal Ika.

Oleh karena itu, negara tidak boleh main-main jika melihat ada ancaman yang berupaya menggoyang eksistensi maupun muruah postulat negara tersebut.

Memerangi kaum populis adalah dengan menegaskan kembali prinsip-prinsip kebangsaan yang telah disepakati oleh para pendiri bangsa, yang merupakan representasi masyarakat Indonesia pada masa itu, termasuk di antaranya para tokoh Muslim.

Menanggapi populisme, negara perlu menegaskan kembali prinsip-prinsip hak asasi manusia dan prinsip egalitarianisme yang ditolak oleh kaum populis.

Negara tidak boleh tinggal diam menyikapi kaum populis yang dengan terang-terangan telah mengoyak nilai inklusivitas dan toleransi yang merupakan prinsip hidup dalam kebhinekaan.

Tentu negara tak boleh diam menghadapi mereka yang selalu berteriak Pancasila sebagai ideiologi thaghut, demokrasi sistem kufur, dan presiden sebagai fir’aun. Jika negara diam, berarti negara sedang lemah, dan pemerintah tidak punya muruah

Memerangi populisme dalam bentuk apapun, termasuk populisme Islam adalah tugas semua aparat negara sesuai dengan tugas, fungsi, dan kewenangannya.

Memerangi populisme dalam lingkup tugas dan kewenangan kemenag, di antaranya melalui program pengarusutamaan Moderasi Beragama.

Karena hanya dengan keberagamaan yang moderat dan sinergis dengan visi dan komitmen kebangsaan Indonesia dengan empat konsensus dasar sebagai postulat dalam bernegara.

Di sinilah tugas besar dan berat bagi kemenag, mengarusutamakan Moderasi Beragama demi memerangi populisme agama. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.