Wed. Jan 20th, 2021

BLAM

KEREN

Barang “KW” sebagai Penanda Identitas Budaya

5 min read

Sumber gambar: liputan6.com

7,385 total views, 427 views today

Oleh: Abd. Karim (Calon Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Apapun sebutannya, barang palsu tetaplah barang palsu. Sering kali kita menemukan beberapa istilah mengenai brand sebuah barang yang disinyalir merupakan barang tiruan.

Mulai dari barang “KW”, Great ori(ginal), hasil repro, “KW super, super “KW”, rebuild, dan masih banyak lagi istilah yang mewakilkan pembelaan terhadap sebuah barang “bermerek” dengan harga miring.

Saat ini, masyarakat dihadapkan pada kondisi, di mana setiap apa yang mereka miliki dan setiap aktivitas yang mereka lakukan penting untuk dipublikasikan di media sosial.

Masyarakat telah memiliki wadah untuk menunjukkan eksistensi dan kelas mereka secara bebas. Mulai facebook, instagram, whatsapp, twitter, dan banyak lagi aplikasi media sosial,  yang memungkinkan masyarakat untuk membangun citra.

Property (barang) menjadi salah satu bagian paling mudah yang dapat digunakan oleh masyarakat untuk mengangkat kelas mereka sendiri, atau sekadar untuk menarik khalayak netizen.

Barang menjadi objek penanda masyarakat. Seseorang menggunakan barang mahal, berarti mereka berada pada kelas atas. Sebaliknya, apabila seseorang menggunakan barang murah, maka mereka berada di kelas bawah.

Fenomena itu, tentu saja, tidak berlaku umum. Tergantung pada sudut pandang “netizen”. Hanya saja, banyak juga manusia yang rela mengeluarkan budget  lebih untuk mengikuti tren dan merek tertentu.

Hal itu dilakukan untuk menjaga kelas sosial dan identitas mereka agar tetap berada di posisi atas. Ada juga tipe manusia lain yang ingin menaikkan kelas dan identitasnya, tetapi tidak ingin-memiliki- budget yang cukup. Tujuannya, memenuhi tuntutan zaman.

Barang sebagai Penanda

Materi (barang) menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Barang dapat menjadi penanda dari sebuah identitas budaya.

Ian Woodward memaparkan bagaimana sebuah objek dapat 1) digunakan sebagai penanda nilai; 2) digunakan sebagai penanda identitas; 3) encapsulation jaringan budaya dan politik kekuasaan (Ian Woodward, 2007).

Digunakan sebagai penanda nilai, berarti materi menjadi representasi dari sebuah kondisi dalam sebuah struktur. Materi ditarik menjadi objek berperan dalam menunjukkan sebuah eksistensi masyarakat ataupun perjalanan kehidupan yang dilalui oleh masyarakat itu sendiri.

Artinya, apa pun yang menjadi simbol dalam sebuah materi akan menimbulkan pemaknaan terhadap sebuah nilai atau fenomena tertentu.

Barang yang digunakan oleh manusia memiliki simbol-simbol tertentu. Barang tersebut merepresentasikan sebuah kondisi yang sedang dihadapi oleh masyarakat itu sendiri.

Misalnya, bambu runcing yang menjadi representasi perjuangan bangsa ini melawan penjajah. Kita tidak peduli dengan efektivitas bambu runcing saat berhadapan dengan senjata api penjajah.

Akan tetapi, nilai yang dapat ditarik, adalah bahwa perjuangan bangsa ini sangat luar biasa, karena hanya menggunakan bambu untuk mencapai kemerdekaan. Meskipun sebilah bambu tidak akan menang melawan pistol, kecuali sang pemegang bambu kebal senjata.

Materi sebagai penanda identitas, berarti sebuah barang menjadi alat bagi penggunanya untuk menunjukkan siapa mereka.

Misalnya, seorang pejuang kemerdekaan menggunakan ikat kepala merah putih untuk menunjukkan, bahwa mereka orang Indonesia yang berjuang dan rela mati pada periode memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan.

Identitas ini menjadi sangat penting untuk menunjukkan, bahwa seseorang sedang menjalani sebuah proses, atau berada di pihak tertentu, tanpa harus membuat spanduk sebesar baliho partai politik, dan lalu membawanya setiap hari ke mana saja.

Selanjutnya, materi sebagai encapsulation jaringan budaya dan politik kekuasaan. Artinya, materi menjadi objek yang menjelaskan inti dari sebuah budaya dan merepresentasikan kekuasaan.

Dengan kata lain, materi sebagai objek adalah simbol dari jaringan budaya dan kekuasaan. Contohnya, sebuah kelompok masyarakat dapat diidentifikasi berada pada periode tertentu dengan melihat alat dapur yang digunakan, bentuk makam, alat berburu, alat produksi, pusaka (regalia), dan masih banyak lagi.

Masyarakat konsumtif menjadi ciri khas masyarakat Indonesia. Budaya konsumtif terlihat jelas pada gaya hidup masyarakat yang cepat mengalami perubahan.

Ada beberapa fase perubahan yang cukup mencolok dalam beberapa tahun terakhir. Mulai gaya hijabers sampai gaya sosialita, yang akhirnya terartikulasi oleh dukungan media sosial, yang sangat berkembang saat ini.

Gaya berpakaian dengan menggunakan hijab menjadi tren yang cukup berpengaruh pada budaya berpakaian di Indonesia. Hal itu juga didukung oleh kondisi di mana mayoritas masyarakat menganut agama Islam.

Jilbab tidak hanya menjadi penanda, bahwa seseorang menganut agama Islam, tetapi juga juga menjadi tren dari pakaian masyarakat.

Jilbab tidak hanya digunakan sebagai penanda sebuah keyakinan, tetapi telah menjadi penanda dalam sistem budaya masyarakat Indonesia. Meskipun jilbab adalah budaya yang berasal dari negeri Arab.

Terjadi reproduksi budaya atas jilbab itu sendiri. Jilbab tidak hanya menjadi penanda, bahwa seseorang yang memakai jilbab adalah umat Islam yang taat melaksanakan syariat agama, tetapi juga menjadi gaya berpakaian secara umum.

Seperti kita melihat seseorang yang memakai baju gamis dan jenis pakaian Islami lainnya yang menunjukkan, bahwa orang tersebut taat dalam melaksanakan ibadah.

Dengan kata lain, saat ini, identifikasi atas taatnya seseorang dalam beribadah sudah sulit diidentifikasi melalui cara mereka berpakaian, atau hanya merujuk pada simbol-simbol agama yang mereka kenakan.

Barang KW sebuah Identitas Budaya

Cara berpakaian dan pakaian yang dipakai oleh seseorang menjadi penanda yang paling tampak untuk mengidentifikasi identitas orang terebut.

Seseorang yang suka K-Pop akan berdandan dan berpakaian a la Korea, suka gaya hardrock akan berpakaian a la komunitas punk, dan suka gaya kalangan elite akan memakai barang-barang bermerek, dan masih banyak lagi.

Pakaian menjadi alat (tools) dalam menunjukkan eksistensi seseorang dalam sistem sosial masyarakat. Terutama, bagi masyarakat yang ingin mengangkat kelas mereka dalam sistem sosial.

Kelas sosial dalam masyarakat terklasifikasi dalam dua kelas, yakni borjuis dan proletar. Dalam perjalanan sejarah panjang manusia, kedua kelas ini sering kali bertentangan. Bahkan,  gerak sejarah banyak dipengaruhi oleh pertentangan kedua kelas ini.

Revolusi terjadi karena adanya gerakan, yang bertujuan menuntut kaum borjuis untuk melepaskan kekuasaan. Meskipun setelah revolusi, terbentuk tatanan borjuis baru.

Berebut untuk berada posisi teratas, tidak hanya terjadi pada perebutan kekuasaan saja, melainkan juga terjadi dalam sistem sosial yang paling mikro.

Pengakuan atas eksistensi seseorang dalam tatanan masyarakat tergambar dari pakaian dan barang-barang yang mereka pakai. Individu yang memakai barang bermerek, akan dicap sebagai orang “berduit.” Dengan begitu, kelas individu tersebut akan naik.

Misalnya, saja individu yang menggunakan barang bermerek Hermes, Gucci, Nike, Adidas, dan merek dari luar negeri lainnya, kelas sosialnya akan naik.

Identitas itu akan dikenali melalui dukungan media sosial, yang sangat cepat menyebarkan informasi itu sendiri. Dengan pola yang demikian, masyarakat kini terpaku pada merek untuk mengangkat kelas mereka, meskipun barang tersebut barang tiruan.

Barang “KW” atau tiruan tidak menjadi persoalan untuk menunjukkan identitas mereka. Tujuan mereka, adalah memeroleh pengakuan “dunia”, bahwa mereka berada di kelas atas. Media sosial menjadi wadah bagi mereka yang ingin menaikkan kelasnya dengan membagikan foto maupun video mereka sendiri.

Dalam posisi itu, barang tiruan bermerek menjadi objek yang digunakan oleh  Individu sebagai representasi identitas mereka.

Citra yang mereka tampilkan melalui barang tiruan, akhirnya menjadi sebuah standar dalam merepresentasikan kondisi mereka sendiri. Kebudayaan borjuis menjadi capaian dari usaha tersebut.

Kebudayaan borjuis adalah salah satu contoh bentuk kesadaran di dalam sebuah komunitas yang mengkonseptualisasikan umat manusia, dan pengetahuannya sebagai sesuatu yang diatur oleh berbagai objektivitas, atau struktur-struktur material di luar dan selain dirinya sendiri (Jenks, 2017).

Dengan hasrat bergaya hidup mewah dan tuntutan kelas borjuis akhirnya, barang tiruan menjadi solusi untuk memenuhi hasrat mereka. Dan, tentu saja, untuk memeroleh pengakuan dari komunitas atau lingkungan mereka sendiri.

Pengakuan atas individu itu diperolah secara mudah dengan mengkonsumsi barang tiruan. Barang yang semula seharga ratusan juta, dapat diperoleh hanya dengan ratusan ribu dalam bentuk barang tiruan.

Hal itu menunjukkan, barang bermerek pada dasarnya menjadi penanda sebuah identitas budaya dan kelas masyarakat tanpa memandang seberapa besar harga barang dan tentu saja tanpa melihat apakah barang itu asli atau tiruan.

Material culture studies menjadi sebuah pendekatan yang dapat digunakan dalam menganalisis relasi antara objek dan manusia. Dengan melihat bagaimana sebuah objek dapat bermakna budaya dan merepresentasikan kebudayaan yang tumbuh dalam masyarakat tertentu.

Barang “KW” atau tiruan dengan merek tertentu menjadi objek yang menujukan relasi masyarakat dengan kelas mereka. Artinya, barang tiruan menjadi solusi dalam perjuangan kelas bawah untuk mencapai kelas atas. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.