Wed. Jan 20th, 2021

BLAM

KEREN

Agama yang Mencumbu Tradisi

4 min read

Sumber gambar: islamicselfhelp.com

6,429 total views, 21 views today

Oleh: Syamsurijal (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Assituresenna adek e sarak e

Mappakarajai sarak e ri ade e

Mapakalebbii adek e ri sara e

Temmakulle sirusak bicara

Narekko pusa i bicaranna ade e

Makkutanae ri bicaranna sarak e

Makkutanae ri adek e

Temmekulleni si apusang.

Persetujuan antara adat dan sarak

Sarak Menghormati adat

Adat Memuliakan sarak

Adat dan sarak tidak saling membatalkan putusan

Kalau Adat tidak dapat memutuskan satu perkara

Maka adat bertanya pada sarak

Jika Sarak tidak dapat memutuskan satu perkara

Sarak bertanya kepada adat

Keduanya tidak akan keliru dalam mengambil keputusan.

Kalimat di atas, konon, menurut Mattulada, berasal dari piagam Ada’-Sarak, yang diterbitkan Abdul Makmur Khatib Tunggal, atau lebih dikenal dengan nama Datuk ri Bandang. Piagam ini dikeluarkan, saat Datuk ri Bandang menjadi qadhi di Kerajaan Wajo.

Tentu amat menarik mencermati isi dari piagam Ada’-Sarak ini, yang menunjukkan bagaimana  Islam menempatkan tradisi atau adat-istiadat yang hidup di masyarakat.

Dalam piagam itu terang terlihat, bahwa syara’ atau syariat alih-alih menyingkirkan adat, sebaliknya malah merangkulnya. Syariat dan tradisi menjadi dua entitas yang satu sama lain saling melengkapi dan menghidupi. Bukan sebaliknya, yang satu mencampakkan yang lainnya.

Jika benar teks di atas muncul atas inisiatif Datuk ri Bandang saat menjadi qadhi di Wajo, maka ini semakin istimewa.

Seperti jamak kita ketahui, Datuk ri Bandang adalah penganjur Islam dengan orientasi fikih yang kuat.

Hal ini menjelaskan pada kita, bahwa ulama dulu yang berorientasi fikih sekalipun,  tetap saja merangkul adat dan tradisi.

Khalil Abdul Karim, sejarawan Arab kontemporer, dengan jelas menyatakan, bahwa sejak awal datangnya Islam di tanah Arab, agama tersebut telah mengambil beberapa tradisi yang hidup di masyarakat. Islam tidak melakukan revolusi dengan serta merta membongkar semua tatanan yang ada.

Dalam al-Judzur at-Tarikhiyyah li asy-Syari’ah al-Islamiyyah, yang kemudian diterjemahkan LKIS dengan judul Syariah, Sejarah Perkelahian Pemaknaan, Khalil Abd Karim menunjukkan sebagian besar dari ajaran Syariat sudah memiliki akar historisnya di tanah Arab.

Tata cara berhaji, salat, Salat Jumat, dan penghargaan terhadap bulan tertentu dengan berpuasa, bahkan beberapa bentuk hudud dan jinayat, ternyata sudah ada dalam tradisi masyarakat pra-Islam.

Memang, ada beberapa perubahan yang dilakukan. Tetapi, tradisi yang sudah berkembang dalam masyarakat Arab, sama sekali tidak disingkirkan.  Dari sinilah kemudian berlaku kaidah:

الثابت بالعرف كاالثابت بالنص

 Artinya: “Yang ditetapkan oleh ʻurf sama dengan yang ditetapkan oleh nash.”

Dalam kaidah fikih yang lain juga disebutkan:

استعمال الناس حجة يجب العمل يها

Artinya: “Kebiasaan masyarakat banyak adalah dasar hukum yang harus diikuti.”

Ulama-ulama awal di  Nusantara yang mengembangkan Islam, menyadari betul prinsip-prinsip agama yang harus berpeluk mesra dengan tradisi. Keduanya tidak boleh saling menegasikan.

Sebab, agama sebagai ajaran dari langit, barulah bisa dikenali oleh masyarakat jika ia membumi. Salah satu syarat agar bisa membumi, maka agama harus merangkul tradisi.

Proses penyebaran Islam yang mencumbu tradisi ini, telah diamati oleh para intelektual dan sejarawan. Dari sana melahirkan berbagai konsep dan teori.

Taufik Abdullah, misalnya, menyebut satu konsep yang bernama “Islam Lunak”, Azyumardi Azra dengan istilah “Islam yang evolusionisme”, dan Abdurrahman Wahid dengan konsep “Pribumisasi Islam.”

Konsep-konsep itu tentu memiliki kekhasan masing-masing, tetapi intinya sama; Islam di Nusantara ini disebar atau diperkenalkan dengan cara merangkul tradisi, adat, dan budaya yang berkembang di masyarakat.

Tetapi, sekarang, mengapa ada segelintir umat Islam yang terkesan anti tradisi? Sedikit-sedikit, jika ada kebudayaan yang dilakukan oleh masyarakat dituduh musyrik? Atau, jika ada praktik keagamaan yang dipadukan dengan tradisi masyarakat, dianggap bid’ah?

Kelompok semacam ini mungkin kurang bercermin dari cara-cara ulama Nusantara dalam menyebarkan agama.

Boleh jadi pula, dia lupa atau tidak mencecap pandangan-pandangan ulama yang telah menegaskan posisi penting tradisi dalam beragama. Mereka lupa, bahwa sumber dalil tidak selalu teks, tetapi juga bisa berdasarkan kebiasaan atau tradisi yang berkembang di masyarakat.

Dalam Kitab al-Furuq, Imam Syihab al-Din al-Qarafi, salah seorang tokoh garda depan Mazhab Maliki, bilang begini:

“Jika tradisi terbarui, ambillah, jika tidak, biarkanlah. Janganlah bersikap kaku terhadap sumber-sumber tertulis dalam buku-bukumu semata sepanjang hidupmu. Kalau ada yang bertanya atau meminta fatwa dari negeri lain, tanyakanlah terlebih dahulu seperti apa tradisinya, kemudian berilah fatwa berdasarkan tradisinya, bukan tradisimu dan bukan pula menurut yang ada di buku-bukumu.”

Agama yang mencumbu tradisi tidak hanya berlaku dalam Islam. Semua agama, rupanya, jika ingin diterima oleh masyarakat di berbagai tempat, harus bisa berdialog dengan tradisi.

Agama Kristen, Hindu, dan Buddha yang masuk di Indonesia pun mengalami perjumpaan yang intens dengan tradisi Nusantara.

Agama Kristen, misalnya, sebagaimana digambarkan Philip van Akkeren (1994), dalam studinya yang menawan, telah melahirkan “Gereja Pribumi” di Jawa Timur. Gereja tersebut kini dikenal sebagai Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW).

Melalui Gereja Pribumi ini, Conrad Laurens Coolen sebagai tokohnya, berhasil mendialogkan antara ajaran Kristen dengan tradisi komunitas Ngoro di Jawa Timur.

Yang lainnya dapat disebut pula Kiai Sadrach Surapranata, orang yang sering dijuluki (kendati boleh jadi dia sendiri tidak setuju) sebagai “Rasul Jawa.”  Kiai Sadrach berhasil menyampaikan Kristen dengan cara dan melalui kebudayaan Jawa.

Karena itu, pengikutnya dengan bangga dan penuh kesadaran memilih nama bagi mereka sendiri sebagai “Golongané Wong Kristen Mardhika.

Agama, dengan demikian, sangat sulit dipisahkan dengan tradisi dan kebudayaan. Begitu kita menyebut agama dalam konteks kehidupan manusia di dunia, maka dengan sendirinya akan melibatkan kebudayaan di dalamnya.

Itulah mengapa, saya secara pribadi setuju dengan pandangan Jack Goody, bahwa agama, sejatinya, adalah apa yang dialami dan dipraktikkan oleh masyarakat. Dan, itu adalah buah dari perkawinan antara ajaran agama dengan tradisi yang mereka lakoni sehari-hari.

Saya setuju dengan pandangan ini, tanpa harus mengingkari, bahwa agama juga mengandung nilai-nilai langit. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.