Wed. Jan 20th, 2021

BLAM

KEREN

Kisah-kisah seputaran Takhayul: “Pertarungan” Rasionalitas dan Irrasionalitas?

5 min read

Sumber gambar: id.pinterest.com.

9,514 total views, 10 views today

Oleh: Muh. Irfan Syuhudi (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Seorang pria paruh baya berpakaian kemeja lengan panjang tiba-tiba turun dari mobilnya. Begitu turun dari mobil, matanya langsung menatap ke arah jalanan.

Spontan, raut wajah berubah menegang. Ia, rupanya, barusan menabrak seekor anak kucing yang tengah menyeberang jalan. Seketika, kucing malang berwarna burik itu, meregang nyawa. Mati.

Beberapa warga yang kebetulan berada di sekitar jalanan ikut berkerumun. Mereka melihat kucing malang tersebut bersimbah darah. Semua merasakan kasian atas nasib yang menimpa kucing tersebut.

Di antara warga yang berkerumun, sayup-sayup terdengar suara yang menyarankan agar si penabrak segera mengubur kucing tersebut.

Malah, ada yang bilang, menguburkan dengan baju yang saat itu dikenakan penabrak. Bila hal tersebut tidak dilakukan (menguburkan dengan bajunya), si penabrak dikhawatirkan mengalami nasib buruk.

Takhayul: Rasional atau Irrasional?

Dalam kehidupan keseharian, kita sering mendengarkan hal-hal yang berada di luar nalar. Seperti saran untuk menguburkan kucing mati akibat tertabrak menggunakakan pakaian, dan bakal terkena “bencana” apabila tidak dilaksanakan, adalah sesuatu yang menurut anggapan sebagian orang adalah tidak rasional (irrasional).

Sejauh ini, orang kerap melekatkan pikiran irrasional dengan mitos maupun takhayul. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinsikan takhayul sebagai sesuatu yang hanya terdapat di dalam khayal belaka.

Sementara takhayul, kata Antropolog James Danandjaya (1997), adalah sesuatu yang menyangkut kepercayaan dan praktik (kebiasaan). Ia umumnya diwariskan melalui media tutur kata.

Tutur kata tersebut dijelaskan dengan syarat, yang meliputi tanda-tanda (signs) atau sebab-sebab (cause), dan diperkirakan akan ada akibatnya (result).

Menurut Danandjaya, takhayul tidak hanya mencakup kepercayaan (belief), melainkan juga kelakuan (behavior), dan pengalaman-pengalaman (experience). Terkadang, takhayul dipandang pula sebagai alat pengingat, ungkapan, dan sajak.

Orang berpendidikan dan berpikiran modern pun acap kali meyakini sesuatu di luar nalar mereka. Karenanya, takhayul tidak mengenal batasan sosial.

Dalam riset Danandjaya, misalnya. Ia mengemukakan, masyarakat Amerika ternyata mempercayai suara bunyi katak sebagai tanda turun hujan.

Di Indonesia, bunyi suara katak pun diyakini oleh sebagian orang sebagai tanda turun hujan. Bagi yang meyakini, suara katak tersebut (biasanya dilakukan beramai-ramai) dianggap “doa” mereka, yang ditujukan kepada Tuhan Maha Kuasa untuk menurunkan hujan.

Pada contoh lain, misalnya, ada yang mempercayai, bahwa “memandikan kucing bisa mendatangkan hujan” atau “mendengar suara burung gagak di malam hari menandakan ada orang sakit keras di sekitar situ,” dan sebagainya. Tentunya, masih banyak contoh-contoh lain yang bisa kita temukan di dalam masyarakat.

Memang, menghubung-hubungkan hewan dengan kejadian tertentu yang bakal terjadi di masa mendatang (seperti bencana, hujan, kematian, dan sebagainya), adalah irrasional, takhayul, dan primitif. Pikiran-pikiran seperti itu hanya dimiliki oleh orang-orang yang tidak mengenyam “bangku sekolah.”

Namun, jangan salah. Antropolog kawakan, E.E. Evans Pritchard (dalam Daniel Pals:2001), termasuk salah seorang yang ikut menampik tudingan tersebut. Kepercayaan terhadap kekuatan supranatural, kata dia, tidak mengenal batasan lapisan sosial.

Pritchard mengemukakan hal tersebut saat melakukan riset mendalam pada Suku Azande, Sudan.

Pada akhirnya, ia menyatakan, orang berpikiran modern, termasuk dirinya sekalipun, percaya terhadap kekuatan supranatural yang berbau mistik, gaib, yang terkadang dianggap orang sebagai takhayul.

Bruce Kapferer (Amich Alhumami:2010), juga menegaskan, sebagai local beliefs, segala bentuk kepercayaan pada masyarakat tak bisa dinilai dari sudut pandang rasionalitas ilmu,  karena punya nalar dan logika sendiri, yang disebutnya rationality behind irrationality.

Kepfeer mencontohkan, orang yang mempercayai dukun dan praktik perdukunan, misalnya, tidak lantas digolongkan ke dalam masyarakat tradisional atau tribal, yang melambangkan keterbelakangan.

Bangsa maju dan modern sekalipun, seperti Eropa dan Amerika, yang mengagungkan rasionalitas, juga punya sejarah perdukunan berwujud santet (witchraft), karena banyak di antara mereka merupakan representasi orang-orang terpelajar yang berpikiran rasional.

Tradisi Lisan  

Lalu, dari mana asalnya cerita-cerita tersebut? Apakah ia muncul dengan sendirinya di tengah masyarakat, dan lalu dipercayai sebagai sebuah “kebenaran” oleh pendukung kebudayaan tertentu?

Cerita-cerita seperti di atas umumnya bermula dari kebiasaan bertutur orang-orang tua kepada anak-anaknya pada momen-momen tertentu. Misalnya, menjelang anak tidur atau memberi nasihat kepada anak nakal.

Adat-istiadat tradisional maupun cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun, tetapi tidak dibukukan, dinamakan juga folklor.

Selain cerita rakyat, cerita lisan ini bisa pula berupa teka-teki, puisi rakyat, cerita prosa rakyat, dan nyanyian rakyat.

Biasanya, cerita-cerita yang dituturkan dan disertai contoh-contoh ini, pernah dialami oleh seseorang di dalam kebudayaan mereka.

Dalam kasus menabrak mati kucing dengan kendaraan, misalnya. Saya sebenarnya tidak tahu dari mana cerita ini berasal.

Namun, cerita tersebut mengisahkan, bahwa orang yang menabrak bakal bernasib sial apabila tidak menguburkan kucing dengan sewajarnya. Ia mengalami kecelakaan, atau kendaraannya mendadak rusak di tengah perjalanan.

Lama-kelamaan, karena sering diceritakan ulang, cerita tersebut akhirnya diyakini oleh sebagian orang menjadi sebuah kebenaran, terutama lagi, bagi pelaku kebudayaan di mana cerita tersebut lahir. Cerita seperti ini kerap pula memengaruhi orang-orang di luar kelompok kebudayaan tersebut.

Tradisi lisan kerap disebut cerita rakyat. Ia muncul dan berkembang di tengah kehidupan rakyat secara lisan. Kebanyakan, pesan yang disampaikan dalam tradisi lisan berupa nasihat disertai ancaman, seperti “jika tidak melakukan hal tersebut, maka kelak…?”

Selain ajaran moral, tradisi lisan juga berfungsi untuk menghibur dan mendidik, yang mengajarkan nilai-nilai keagamaan, nilai-nilai sosial, pendidikan, kepahlawanan, dan sebagainya.

Selain takhayul, banyak pula beranggapan, cerita-cerita bertutur di masa silam adalah mitos. Mitos sendiri berasal dari bahasa Yunani; muthos, yang secara sederhana berarti cerita, atau sesuatu yang dikatakan orang.

Mitos diartikan juga kumpulan cerita tradisional, yang diceritakan dari generasi ke generasi pada suatu bangsa atau kelompok kebudayaan (Wadiji, 2011).

Namun, mitos dalam istilah Roland Barthes (2011), adalah tipe wicara. Segala sesuatu bisa menjadi mitos asalkan disajikan oleh sebuah wacana.

Dalam kaitan ini, mitos tidak ditentukan oleh objek pesannya, melainkan melalui cara mengutarakan pesan itu sendiri, dan karenanya, tidak bisa hanya dibatasi pada wicara lisan.

Pesan bisa berdiri dari berbagai bentuk tulisan atau representasi, bukan hanya dalam bentuk wacana tertulis, namun juga berbentuk fotografi, sinema, reportase, olahraga, publikasi, yang kesemuanya bisa berfungsi sebagai pendukung wicara mitis.

Akhirnya, kembali kepada cerita di awal tulisan ini soal menabrak kucing. Sebab, saya juga pernah menabrak mati seekor kucing di sebuah perkampungan. Tanpa saya melihat kehadirannya yang mendadak, ban motor saya menginjaknya. Saya pucat. Apalagi, saat itu, saya melihat banyak orang di sekitar situ.

Namun, saat itu, saya memilih membungkus “mayat” kucing menggunakan kain, bukan baju yang sementara saya pakai. Saya juga menguburnya secara layak, tak jauh dari tempatnya meninggal. Saya menuruti pendapat warga, yang saya lihat sebagai orang dituakan di situ.

Saya juga tidak tahu, mengapa sebagian masyarakat begitu mengistimewakan kucing. Hal ini kontras dengan hewan-hewan lain, yang boleh jadi, ketika ditabrak mati di jalan, mereka kerap diabaikan begitu saja. Tidak ada “ritual” khusus. Tapi, untuk kasus kucing, biarlah pikiran saya dikatakan irrasional atau mengandung takhayul. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.