Wed. Jan 20th, 2021

BLAM

KEREN

Hey Kaum Muda, Ingin Jadi Kaum Merdeka? Jangan Jadi ASN!

5 min read

Sumber gambar: samarindakota.go.id

5,911 total views, 4 views today

Oleh: Khaerun Nisa’ (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

“Duhai adik-adik para kaum muda sekalian. Jika kalian masih bercita-cita menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) supaya hidup kalian terjamin sampai tua, maka itu cita-cita generasi luama sekali. Orang tua kita dulu, SMA angkatan 70-80 mungkin masih begitu. Jika kalian bercita-cita jadi karyawan BUMN, biar gajinya bagus, pensiun ada, besar pula, maka itu juga generasi lama, paman-paman, tante-tante kita dulu, SMA angkatan 90-an, itu cita-citanya. Jika kalian bercita-cita  jadi karyawan multi nasional company, perusahaan swasta besar, biar bisa tugas di LN, tunjangan dollar, itu juga cita-cita kakak-kakak kita dulu, yang SMA angkatan 2000-an.”

“Kalian itu generasi berbeda. Kalian yang SMP, SMA, atau kuliah di tahun 2010 ke atas, seharusnya kalian tidak bercita-cita seperti itu lagi. Kalian adalah warga negara dunia yang tersambung dengan seluruh sudut dunia. Jadilah kalian pekerja kreatif, wiraswasta serta profesi pekerjaan-pekerjaan yang menakjubkan lainnya. Jika hari ini kalian adalah die hard fan dari restoran cepat saji seperti Mc Donalds, Burger King dan sejenisnya, juga penikmat kopi dari kedai seperti Starbucks, Excelso, Maxx Coffee dan lainnya, maka besok lusa giliran orang lain yang menjadi konsumen franchise milik kalian. Jika hari ini kalian pengguna dengan rate gold pada layanan Shopee, Buka lapak, Lazada, Tokopedia, Go Jek, Grab, Maxim dan seterusnya, maka semoga besok-besok giliran orang lain yang menjadi pengguna setia unicorn milik kalian.

Kiranya, kurang lebih demikian ulasan dari fan page akun Facebook seorang penulis buku terkenal di kalangan kaum muda tersebut, yang bukunya banyak wara-wiri di Gramedia.

Saya pun termasuk yang menyenangi karya-karyanya. Bahkan, karya-karyanya banyak menjadi teman duduk saya sejak kuliah, hingga kini. Tapi, saya sedikit mengerutkan dahi, ketika melihat tulisannya melintas di beranda Facebook saya, beberapa hari lalu.

Tentunya, tidak ada yang salah dengan bercita-cita seperti yang dinarasikan di atas. Seperti kata Soekarno, “bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, maka engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.”

Demikian juga novelis Andrea Hirata, yang suskes dengan karyanya Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi , mengatakan, bahwa bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu.

Jika kalian merasa cukup tangguh, bermimpilah lebih besar dari kebanyakan orang, dan kejarlah dengan sungguh-sungguh mimpi itu (anonim). Maka, bermimpilah setinggi-tingginya para kaum muda. Toh, bermimpi itu gratis. Mewujudkan (mimpi) yang “mahal”.

Tentu saja, ajakan menjadi generasi muda kreatif merupakan ajakan yang amat baik. Tapi, saya tidak setuju apabila ajakan tersebut untuk tidak menjadi ASN.

Ini bukan disebabkan saya abdi negara, dan kemudian menyarankan untuk menjadi abdi negara. Bukan seperti itu. Saya hanya memiliki pendapat, bahwa kreativitas dan ASN bukanlah sesuatu yang sulit bersatu. Meski riwayat profesi ASN konon identik dengan kemonotonan, namun  percayalah, menjadi ASN tidak akan “membunuh” kreativitasmu.

Motivator ASN

Ulasan-ulasan terkait ajakan untuk tidak menjadi ASN, sebenarnya bukanlah pertama kalinya diulas oleh si penulis tersebut. Ia sudah sering mengulasnya dengan berbagai sudut pandang dalam berbagai rupa; artikel, ruang-ruang kelas motivator, maupun melalui konten-konten Youtube.

Mereka “menelanjangi” profesi ASN dari berbagai arah dan menunjukkan betapa “tidak menariknya” profesi ini. Meski berseliweran kritik terhadap profesi ASN, nyatanya tidak mengurangi animo kaum muda untuk mengadu nasib.

Buktinya, setiap kali dibuka pendaftaran CASN, di situ pula ratusan hingga ribuan orang terlihat antre melamar.

Dalam sebuah kelas motivator yang pernah saya ikuti, pad sesi awal motivatornya kerap menggiring kami untuk mengingat keberadaan teman sekolah maupun teman kuliah yang rajin, selalu duduk di bangku baris depan di kelas, ber-IP tinggi, dan seterusnya.

Belum selesai saya menggenapi ingatan akan teman-teman saya, motivatornya sudah lebih dulu menjawab sendiri pertanyaannya. Kebanyakan teman-teman Anda menjadi buruh terampil di perusahaan-perusahaan, kan?

Ingatan saya pun ikut membenarkan motivator tersebut. Beberapa teman kuliah saya memang bekerja di BUMN sebagai data scientiest.

Selanjutnya, sang motivator menggiring kami untuk mengingat teman-teman kami yang ber-IP pas-pasan di bangku kuliah.

“Di manakah mereka semua? Sebagian menjadi direktur perusahaan swasta. Mereka kreatif. Punya jiwa kepemimpinan tinggi, sehingga berkarier di perusahaan besar dengan cepat, dan menyalip teman-teman mereka yang ber-IP tinggi.”

Tapi, siapakah pimpinan para direktur itu? Siapakah mereka? Mereka yang tidak sekolah, atau sekolah dan hampir tidak lulus. Atau, dikeluarkan dari sekolah.

Ingatanku pun dengan cepat tertuju pada Susi Pudjiastuti, mantan Menteri Kelauatan dan Perikanan, yang bahkan mempunyai Susi Air dengan hanya bermodal ijazah SMP, tapi dengan segudang pengalaman.

Juga, kepada orang terkaya kedua di dunia 2020 versi majalah Forbes, yang dalam sebuah wawancaranya mengatakan: “I failed in some subjects in exam, but my friend passed in all. Now he is an engineering in microsoft and i am the owner of microsoft.

Selanjutnya, untuk semakin menyedapkan pernyataannya, ibarat memeras jeruk nipis di atas kuah coto Makassar, sang motivator berkata begini :

“Inilah ironisnya dunia pendidikan. Anak-anak yang dulu sekolah berada di level terbawah, justru ketika mengarungi hidup, berada di puncak piramida ekonomi. Mereka merekrut orang-orang pintar dan kreatif. Menyumbang pajak terbesar di negaranya. Memberi beasiswa. Menyumbang kampus mereka, mungkin bahkan lebih banyak disumbang oleh 90% alumni.”

Tapi, bukankah memang demikian para motivator bekerja, kawan-kawan? Semua yang disampaikannya pun mengandung fakta yang amat jelas. Hanya saja, para motivator menyampaikannya dengan gaya agitatif dan provokatif.

Yang kemudian jadi pertanyaan, ketika semua orang pintar dan kreatif di negara ini direkrut para pengusaha, dan orang-orang kreatif pula yang membuat usaha atau perusahaan, lalu siapa yang mengelola negara ini?

Jika para dosen, guru, dan profesi akademisi lainnya hanya diisi oleh mereka yang punya gelar doktor tapi miskin imajinasi, apa jadinya negeri ini?

Bukankah sudah saatnya orang-orang kreatif menjadi ASN, menjadi dosen, pengajar, dan  menjadi birokrat?

Bayangkan, betapa eloknya jika mesin negeri ini punya pelumas yang baik, gesit, lincah, kaya inovasi, greget, dan tidak kalah cerdik dengan pengusaha “hitam”, serta politikus culas.

Menjadi ASN itu penting. Jangan tinggalkan sektor ini untuk diisi oleh orang-orang yang mandek. Sebab, mereka akan mudah “menghamba” pada orang-orang cerdik yang punya banyak uang.

Namun, sebuah negara akan “mandek” jika punya barisan ASN dengan niat pengen kerja enak dan santai, beban kerja ringan, tidak bisa dipecat, punya dana pensiun, dan masuknya pun dengan bantuan orang dalam. Maka, semakin bertambahlah beban sebuah negara membayar orang-orang tersebut. Padahal, negara ini sudah cukup menderita.

Sebagai penutup, setiap orang tentunya punya rel dengan kecepatannya masing-masing. Mengabdi pada negara, tidak harus menjadi ASN kok, kaum muda.

Tetapi, jika kalian sudah memutuskan untuk menjadi abdi negara, semogalah menjadi abdi negara yang bekerja dengan passion, semangat, dan penuh keikhlasan, seperti slogan Kementerian Agama, “Ikhlas Beramal.”

Selamat memasuki tahun 2021. Selamat Hari Amal Bakti Kementerian Agama RI. Semoga kita semua dibersamakan dalam kesehatan dan kebahagiaan. Semoga tahun ini membawa kebaikan-kebaikan. Aamiin. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.