Wed. Jan 20th, 2021

BLAM

KEREN

Pelayanan Keagamaan Anak Difabel Jadi Riset Pertama Bidang Pendidikan BLAM

2 min read

Peneliti Bidang Pendidikan Agama BLAM mendiskusikan riset tentang pelayanan keagamaan anak difabel di madrasah aliyah. Foto: M. Irfan

2,464 total views, 4 views today

MAKASSAR, BLAM – Kehadiran anak difabel yang bersekolah di madrasah aliyah, ternyata menjadi daya tarik tersendiri Peneliti Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan, Balai Litbang Agama Makassar (BLAM).

Karena itu, untuk penelitian tahap pertama mereka pada 2021, Peneliti Bidang Pendidikan akan meneliti anak difabel di madrasah aliyah di kawasan timur Indonesia, terutama menyangkut masalah pelayanan pendidikan keagamaan di sekolahnya.

Koordinator Penelitian, Dr. Hj. Mujizatullah, M.Pd, menyatakan, selain pelayanan keagamaan anak difabel, ada empat fokus yang juga bakal mereka gali pada riset ini. Yaitu, materi pembelajaran, strategi pembelajaran, media pembelajaran, dan penilaian pembelajaran.

“Nantinya, para peneliti akan mendatangi madrasah aliyah negeri dan madrasah aliyah swasta,  yang di dalamya terdapat siswa difabel, seperti tunanetra, tunarungu; tunawicara, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, dan lainnya,” kata Mujizatullah, Kamis, 24 Desember 2020.

Untuk riset ini, mereka memutuskan sebanyak 10 provinsi di kawasan timur Indonesia yang menjadi lokasi penelitiannya, yakni Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Kalimantan Timur, Papua Barat, Maluku, dan Maluku Utara.

Dalam penyelenggaran sistem pendidikan, anak difabel masuk kategori pendidikan inklusif. Meskipun berkebutuhan khusus, mereka tetap diberi kesempatan untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran secara bersama-sama dengan peserta didik (siswa/siswi) lainnya.

Hal ini merujuk pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 70 tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa.

“Meskipun anak-anak itu berkebutuhan khusus, tapi mereka tetap memiliki hak yang sama dengan anak-anak lainnya. Termasuk, tentunya, dalam hal mendapatkan pelayanan keagamaan di madrasah,” kata Doktor Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, ini. (ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *