Wed. Jan 20th, 2021

BLAM

KEREN

Hari Raya di Ohoidertawun

5 min read

Penulis saat melakukan penelitian di Desa Ohoidertawun, Maluku Tenggara. Foto: Dok. pribadi.

8,680 total views, 8 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Desa Ohoidertawaun

Tulisan ini merupakan sebagian dari catatan saya ketika melakukan penelitian Best Practice Kerukunan Umat Beragama (KUB) pada sebuah desa di sebelah utara Pulau Kei Kecil, yaitu Desa Ohoidertawun, Kabupaten Maluku Tenggara.

Untuk sampai ke sana, dari Kota Ambon, ibukota Maluku, masih harus menempuh penerbangan 1,5 jam lagi dengan menggunakan pesawat jenis Fokker. Tiba di Bandara KS. Tubun, Langgur, untuk tiba di Desa Ohoidertawun membutuhkan waktu tempuh sekitar 20 menit perjalanan dengan mobil.

Desa Ohoidertawaun merupakan salah satu desa dengan beberapa destinasi wisata pantai dan peninggalan gua bersejarahnya yang indah. Selain keindahan alamnya yang memukau, desa ini terkenal dengan suasana kerukunan antarumat beragama pada masyarakatnya.

Penduduk desa ini meski berasal dari etnis yang sama, yaitu etnis Kei, mereka menganut dua agama berbeda, yaitu Islam dan Kristen. Agama (Kristen dan Islam) masuk ke desa ini sekitar awal abad XX.

Menurut data monografi desa, jumlah penduduk yang bermukim di Ohoidertawun hanya 75 Kepala Keluarga (KK) dan 343 jiwa, yang terdiri atas 163 laki-laki dan 180 perempuan. Telah banyak keturunan dari Ohoidertawun yang telah keluar kampung atau merantau.

Umumnya, masyarakat bekerja sebagai petani rumput laut, peladang, nelayan, serta beberapa di antaranya bekerja sebagai penebang kayu di hutan. Pemukiman penduduk tersegregasi berdasarkan agama, namun hanya dipisahkan oleh jalan desa.

Sebelah timur adalah pemukiman warga Kristen dan sebelah barat adalah pemukiman warga Muslim. Menurut data monografi desa, terdapat 42 KK dengan total 180 jiwa pemeluk agama Kristen terdiri atas 81 laki-laki dan 99 perempuan.

Penduduk Muslim sebanyak 31 KK dengan total jiwa sebanyak 158 orang terdiri atas 80 laki-laki dan 78 perempuan, serta satu KK penganut Katolik, yang terdiri atas lima jiwa (dua laki-laki, tiga perempuan), serta satu KK adalah campuran, suami Kristen dan istrinya Katolik.

Kerukunan

Perbedaan agama di antara penduduk tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk hidup guyub dalam suasana persaudaraan yang sangat karib. Agama memang berbeda, tapi ikatan adat dan darah menyatukan mereka. Kearifan lokal adat Kei menjadi jiwa dari terbangunnya kerukunan antarumat beragama di Ohoidertawun.

Pada kegiatan-kegiatan desa seluruh penduduk berbaur, ibu-ibu dan remaja Muslimah umumnya mengenakan jilbab dan tanpa ada sekat, serta rasa canggung berbaur dengan warga Kristen.

Demikian pula, kalangan laki-laki Muslim dan Kristen berbaur tanpa sekat, sehingga kita sulit membedakan antara yang Muslim dan Kristen.

Kearifan lokal Kei bagi masyarakat Ohoidertawun, khususnya dalam konteks membangun best practice KUB, meminjam istilah Haba (2007), sebagai penanda identitas dan elemen perekat (aspek kohesif)  lintas  warga,  lintas  agama, dan kepercayaan.

Secara efektif, kearifan lokal tersebut berhasil terimplementasi dalam membangun hubungan solidaritas sosial untuk hidup rukun dan damai.

Ikatan kekerabatan dan adat menjadi kata kunci terbangunnya hubungan harmonis antarumat beragama tersebut melalui keseimbangan tatanan sosial dan budaya. Hal ini menurut Ritzer (2010) terjadi akibat mekanisme sosialisasi nilai dan norma terjadi, baik secara langsung maupun tak langsung, pada masyarakat Ohoidertawun.

Ikatan kerukunan masyarakat di desa tersebut sudah teruji ketika konflik kolosal melanda hampir seluruh wilayah kepulauan Maluku pada 1999. Ohoidertawun menjadi salah satu kampung yang paling aman ketika terjadi kerusuhan, meski masyarakatnya terbagi dari Muslim dan Kristen.

Kearifan lokal dan kesetiaan pada hubungan persaudaraan membuat masyarakat di Ohoidertawun  (meski berbeda agama) tidak terpengaruh sedikit pun dengan konflik agama yang terjadi.

Kearifan lokal dan persaudaraan menjadi alasan yang cukup kuat untuk mereka saling menjaga satu sama lain, sehingga konflik agama yang terjadi tidak sampai merembet ke Ohoidertawun. Padahal, hampir seluruh wilayah Kei telah terbakar api konflik.

Masyarakat bergaul nyaris tanpa sekat, saling menopang, merawat, dan mendukung kebersamaan. Pendeta Hobertin Yosep, Pendeta GPM asal Ambon, yang delapan tahun bertugas di Gereja Elim Ohoidertawun, menuturkan:

“Di antara pengalaman yang paling mengesankan, adalah ketika kami jemaat gereja sedang merenovasi plafon gereja. Melihat kami sibuk-sibuk di gereja, saudara-saudara Muslim tanpa diundang, saya garis bawahi tanpa diundang datang menawarkan bantuan. Mereka mengerjakan semua hal yang mereka bisa kerjakan, dan kami merasa sangat terbantu dengan hal tersebut”

Hari Raya

Perayaan atas perbedaan ditunjukkan melalui komitmen dan keterlibatan aktif pada setiap perayaan keagamaan umat lainnya. Sebagaimana dituturkan Saraju Sarwadan (Imam Masjid Nurul Huda Ohoidertawun):

“Kalau kegiatan seperti keluarga Kristen menyangkut Natal, kami dari keluarga Muslim ikut memeriahkan, Bahkan, kami dari keluarga Muslim dipilih sebagai panitia penyelenggara. Menjelang Natal, nuansa Natal seperti umbul-umbul tidak hanya penuh di pemukiman keluarga Kristen, tapi seisi kampung penuh dengan hiasan-hiasan natal, termasuk juga di pemukiman keluarga Muslim.”

Seorang pemuda setempat menuturkan, di Ohoidertawun seolah mereka punya dua hari raya dan semuanya meriah seisi kampung.

Ketika Natal, warga Muslim tanggal 25 Desember sore ramai-ramai berkunjung ke pemukiman Kristen, dan bersalam-salaman. Setelah itu, mereka menikmati makanan yang telah disediakan. Makanan itu dibuat ibu-ibu Muslim bersama ibu-ibu Kristen.

Demikian pula, ketika Lebaran tiba, keluarga Kristen datang. Warga Muslim membuat perjamuan di depan masjid, dan memasang tenda dan kursi. Semua warga menikmati makan-minum bersama begitu selesai warga Muslim melaksanakan Salat Id.

Seorang jemaat ketika saya berkunjung ke gereja setempat menuturkan:

“Natal tahun lalu saudara Muslim beserta pak imam juga datang masuk di gereja ini duduk bersama kami, sampai kursi gereja tidak cukup untuk kami semua duduk. Kalau Idul Fitri, kami yang Kristen berkumpul di depan masjid, selesai khutbah dibaca, kami semua pegang tangan (bersalaman) lalu makan bersama.”

Seorang tokoh Kristen menceritakan bagaimana warga Kristen juga ikut menikmati suasana ramadan:

“Kalau malam bulan puasa, beberapa dari kami yang Kristen memasang meja kursi di depan halaman masjid. Kalau ada pengajian, kami juga ikut mendengarkan dari luar. Atau, kalau tidak ada pengajian, selesai mereka salat tarawih kami duduk-duduk dulu bersama saudara Muslim untuk bincang-bincang sebentar dan minum teh atau kopi.”

“Kalau lebaran atau Natal kami semua berkumpul di suatu tempat, kalau Lebaran di depan Masjid kalau Natal di pemukiman Kristen. Kami tidak masuk rumah satu per satu karena itu lama, makanya kami pilih untuk berkumpul di suatu tempat supaya juga lebih meriah.”

Ketika perayaan Paskah atau hari ulang tahun GPM setiap 1 September, Gereja Elim mengadakan lomba-lomba untuk anak-anak, seperti lomba 17 Agustus di daerah lain. Peserta lomba tidak terbatas anak-anak Kristen saja, tetapi juga anak-anak Muslim dan Katolik ikut berpartisipasi.

Ketika masjid mengadakan peringatan Maulid atau hari besar Islam lainnya, warga Kristen juga ikut bergabung dan menjadi panitia acara. Ibu-ibu Kristen ikut bersama ibu-ibu Muslim memasak, sedangkan bapak-bapaknya membantu memasang tenda dan mengatur kursi di pelataran masjid.

Kerja bakti membersihkan tempat ibadat kerap dilakukan bersama. Biasanya, menjelang Natal dan menjelang masuk bulan puasa, warga Kristen ikut bersih-bersih masjid. Demikian pula,  umat Islam ikut membantu membersihkan gereja dan memasang dekorasi untuk peringatan Natal.

Akseptansi

Masyarakat di Desa Ohoidertawun mempraktikkan relasi dalam perbedaan agama bukan sekadar toleransi dalam ko-eksistensi yang pasif. Lebih dari itu, mereka mempraktikkan akseptansi dalam keragaman.

Akseptansi, sebagaimana yang dipraktikkan, adalah dukungan yang penuh terhadap perbedaan. Implementasinya tidak hanya sekadar mengakui dan menerima perbedaan sebagai sebuah kenyataan sosial.

Secara praksis, tapak pada sikap terbuka terhadap orang lain, ingin tahu, menghargai, ingin mendengarkan dan saling belajar. Akseptansi adalah sikap aktif untuk mendukung, merawat, hingga merayakan perbedaan tersebut.

Saling mengucapkan selamat hari raya kepada penganut agama lain yang merayakan merupakan perwujudan sikap akseptansi tersebut. Keterlibatan yang aktif dalammomen hari raya dalam konteks masyarakat yang plural menjadi perekat relasi sosial, karena adanya sikap saling menghargai secara tulus atas perbedaan yang ada.

Akseptansi pada masyarakat Ohoidertawun tumbuh dari kultur guyub masyarakat yang menjunjung tinggi semangat persaudaraan. Adat dan kearifan lokal benar-benar fungsional menjadi perekat kohesi sosial dalam perbedaan.

Melalui akseptansi atas keragaman diantaranya dengan kegemberiaan bersama padamomen hari raya agama lain, perbedaan keyakinan akhirnya dapat ditransformasi menjadi modal sosial membangun tata kehidupan sosial yang harmonis. Hal tersebut telah menjadi tradisi yang hidup pada sebuah masyarakat nun di pelosok Kepulauan Kei.

Selamat Hari Natal 2020 bagi segenap umat Kristiani di mana pun berada. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *