Tue. Jan 19th, 2021

BLAM

KEREN

“Parupama” & Mangkatnya Komedi Rakyat

6 min read

Sumber gambar: walpaperlist.com

5,407 total views, 2 views today

Oleh: Syamsurijal (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Pada tulisan sebelumnya, saya telah berbicara tentang humor yang mulai menghilang dalam kehidupan kita. Tanpa sense of humor, hidup kita terasa penuh ketegangan. Makanya, yang terasa saat ini, adalah kemarahan-kemarahan yang membuat pengap udara negeri ini.

Salah satu hal yang membuat humor mulai menghilang dari kehidupan kita, karena tradisi-tradisi komedi yang tumbuh di masyarakat satu per satu telah menemui ajalnya.

Beberapa komedi rakyat, misalnya, Ludruk di Jawa Timur, Tutur Bapandung dalam masyarakat Banjar, Dongeng Humor masyarakat Banteng, dan Parupama di masyarakat Bugis-Makassar, satu per satu kehilangan tempat. Perlahan tapi pasti, mereka akan (dan sebagian telah) mangkat.

Komedi rakyat kebanyakan berbasis lisan. Seiring dengan makin bergesernya kelisanan (orality) menjadi keaksaraan (literacy), komedi-komedi rakyat yang kebanyakan berbasis lisan ini, juga mulai kehilangan tempat.

Sebagai catatan, tradisi lisan saat ini memang telah memasuki senjakalanya. Russ Rymer, dalam tulisannya, “Suara-suara yang Sirna” (2012), menyebutkan, dalam 14 hari, setidaknya satu suara atau bahasa lisan yang pupus.

Kata Rymer lagi, dalam rangkak abad XXI, setidaknya 7.000 bahasa ibu berbasis lisan telah sirna. Kelisanan seperti Tuva di Rusia, Aka yang menjadi bahasa ibu di gunung Arunachal Pradesh, utara India, dan Wintu di California, tak mampu bertahan dalam gempuran bahasa berbasis tulisan.

Salah satu komedi rakyat berbasis lisan yang mulai menghilang dari kehidupan kita, adalah Parupama. Tradisi ini dulunya berkembang di hampir semua masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya di Makassar, Gowa, Bantaeng, Maros, dan di Bulukumba.

Parupama tidak lain adalah bagian dari pau-pau (cerita rakyat). Pau-pau sendiri memang banyak kategorinya. Di antaranya, ada elong-elong atau kelong, yaitu cerita rakyat yang digubah ke dalam bentuk lagu dan syair.

Elong-elong ini terbagi ke dalam beberapa bentuk yang disesuaikan dengan kegunaannya. Ada yang digunakan pada saat acara pengantin, acara ritual, dan ada yang hanya digunakan sebagai hiburan.

Ada pula elong-elong yang disebut maro. Maro ini adalah lagu yang dilantunkan kepada orang sakit dan hanya dikenal di daerah Tator. Pau-pau, ada pula yang berbentuk rapang, yaitu cerita lisan yang memuat aturan-aturan atau perundang-undangan. Rapang ini semacam undang-undang yang tidak tertulis.

Parupama sering dituturkan pada acara tertentu. Bila ada satu pesta, maka parupama biasanya ikut mengambil bagian. Tetapi, sejatinya, ia tidak menjadi rangkaian acara. Parupama sekadar cerita-cerita lepas di tengah orang-orang yang sedang berkumpul.

Biasanya, ketika orang-orang sudah selesai dengan acara ritual, atau bila telah usai bersantap dalam satu pesta, parupama ini mulai dituturkan. Penuturnya biasanya orang-orang tertentu. Kebanyakan yang pandai parupama adalah orang-orang tua.

Selain pada pesta atau acara ritual, parupama sering pula disampaikan pada saat tidak ada acara sama sekali.

Biasanya, kalau kita sedang berbincang-bincang dengan orang-orang yang ahli parupama, ia akan menyelipkan dalam perbincangannya satu atau dua parupama. Acap kali parupama juga menjadi cerita pengantar tidur.

Parupama ini sendiri adalah sebutan yang dipakai oleh orang-orang Makassar, sedangkan orang Bugis menyebutnya, pau-pau rikadong.

Disebut demikian, karena jika seseorang telah bercerita atau mapparupama, yang mendengarkan selalu mengangguk-anggukkan kepala. Menganggukkan kepala tidak selalu bermakna membenarkan cerita yang disampaikan, tapi sekadar bagian dari menghangatkan suasana penceritaan.

Kejenakaan dari parupama tidak hanya ditentukan oleh materi cerita, tetapi juga sangat tergantung pada kepiawaian sang penutur.

Ketepatan memilih kata, gestur, intonasi, dan cara menuturkan, ikut menentukan komikal tidaknya parupama tersebut. Karena itu, parupama yang sudah ditulis, lalu kita baca, sering kali kelucuannya tidak “nendang.”

Mari kita simak salah satu parupama yang sering saya dengarkan dulu dari seorang ahli parupama di kampungku:

Dahulu kala, ada seorang imam kampung yang sangat senang makan onde-onde. Setiap kali ke acara-acara tertentu pasti yang dicarinya adalah kue onde-onde. Suatu ketika dalam satu acara, sang imam kampung ini melihat begitu banyak disuguhkan onde-onde. Terbetik dalam hatinya untuk meminta onde-onde untuk dibawa pulang ke rumahnya. Tapi karena dia imam kampung, dia merasa malu untuk minta onde-onde diboyong pulang ke rumahnya. Dia lalu mencari akal agar bisa membawa pulang onde-onde tanpa harus meminta ke tuan rumah.

Tak dinyana, tetiba lampu padam. Si Imam merasa punya kesempatan, onde-onde di depannya lalu diraupnya. Agar orang lain tidak melihatnya, onde-onde tersebut dimasukkan di balik songkok guru yang dikenakannya. Setelah lampu kembali menyala, onde-onde sudah aman di balik songkok gurunya. Karena sudah mendapatkan onde-onde Si Imam lalu minta izin pulang. Malang tak bisa ditolak, untung tak diraih. Ketika hendak berdiri, karena atap rumahnya agak rendah, kepalanya tiba-tiba membentur penyangga atap.

Onde-onde yang disimpan di balik songkok gurunya pecah seketika. Gulanya muncrat sampai mengalir keluar dari balik songkok gurunya. Orang-orang yang melihatnya kaget. Mereka mengira kepala si Imam berdarah. Ramai-ramai mereka mendatangi si Imam untuk memeriksa kepalanya. Alangkah kagetnya mereka. Karena ternyata di balik topi si Imam ditemukan onde-onde yang telah pecah. Tanpa memedulikan  si Imam, orang-orang lalu berebut onde-onde yang sudah pecah. Orang yang terakhir, tidak mendapatkan lagi onde-onde, akhirnya ia hanya mengelus kepala si Imam yang masih ada gulanya sambil berkata: “Gollanamo nakke” (gulanya saja saya).

Mungkin jika hanya dibaca, kita tidak bisa mencecap secara utuh unsur komikalnya. Berbeda halnya jika ini didengarkan dari penuturan para ahli parupama. Kejenakaannya akan sangat terasa. Sang penutur dengan mimik yang kocak dan olah bahasa yang tepat, akan membuat suasana pecah oleh gelak tawa.

Seturut dengan pandangan Walter J Ong (2013), kelisanan memang memiliki karakter yang berbeda dengan keaksaraan. Salah satu yang menonjol adalah kelisanan bersifat agregatif.

Dalam karakter agregatifnya itu, maka dalam bertutur selalu akan muncul bunga-bunga kata untuk melengkapi satu kata.

Kata prajurit, misalnya, biasanya akan dilengkapi dengan prajurit gagah perkasa. Karakter kelisanan ini biasanya lenyap ketika ditulis. Apalagi, jika yang menulisnya memilih menggunakan kalimat yang efisien dan efektif.

Menghibur dan Rileks

Pada dasarnya, tujuan parupama adalah menghibur dan membangun suasana rileks. Dan, memang humor tujuan utamanya adalah menghibur dan bercanda. Rod A. Martin & Thomas Ford dalam “The Psychology of Humor: An Integrative Approach (2018)”, bilang begini: “Indeed humor is essentially a way for people to interact in a playful manner.”

Namun, meski tujuan utamanya untuk bercanda, menghibur, dan bermain-main, tetapi melalui humor, kritikan-kritikan juga bisa disisipkan. Melalui humor, seseorang juga bisa menertawakan satu kondisi yang tidak pada tempatnya.

Dalam parupama juga terdapat unsur-unsur kritik dan menertawakan kehidupan yang tidak pada tempatnya.

Cerita Imam Kampung yang menyembunyikan onde-onde di kepalanya, seperti diuraikan di atas, bisa dibaca sebagai kritikan atas pengagungan berlebihan terhadap satu tokoh, meskipun itu tokoh agama.

Parupama tersebut seolah sedang menggambarkan, seorang imam yang terhormat sekalipun, pada dasarnya adalah manusia biasa. Ia tidak bisa luput dari kekonyolan-kekonyolan. Karena itu, tanpa mengurangi rasa hormat, ia juga tidak harus disanjung dan disakralkan berlebihan.

Bagi orang kampung yang mendengar parupama tentang “Imam Kampung dan onde-onde tadi,” tidak juga berlebih-lebihan menanggapi, bahwa ini adalah pelecehan bagi seorang tokoh agama. Biasa saja. Mereka bahkan justru bisa mencecap kejenakaannya. Itulah mengapa,  mereka tidak mudah marah. Sebaliknya, mereka bisa enjoy dalam menghadapi kehidupan.

Melalui parupama pula, nasihat-nasihat keagamaan, yang seberat apa pun isinya, menjadi ringan dan menghibur. Bahkan, terkadang nasihat keagamaan yang sebenarnya menohok kelakuan seseorang atau kalangan tertentu, terdengar sebagai lelucon menyenangkan.

Kini, parupama nyaris tinggal kenangan. Tradisi ini sudah sulit ditemukan. Terakhir, saya menyaksikan parupama ini dipentaskan oleh Teater Kondo Buleng dari Paropo. Mereka mapparupama dalam satu pesta, sekitar 2004.

Pada masa-masa kecil saya di kampung (1980-an), parupama ini salah satu tradisi menghibur yang lazim ditemukan. Setiap saya mendatangi acara atau pesta tertentu, selalu akan bertemu orang yang pintar mapparupama.

 Kini, posisinya telah diganti hiburan lain. Berbagai acara ataupun pesta telah menghadirkan pertunjukan musik dari orkes melayu, orgen tunggal ataupun pemutaran film.

Dalam kehidupan sehari-hari, parupama juga telah digeser serial telenovela, ataupun sinetron di berbagai stasiun TV. Orang juga lebih senang mendengar perdebatan politik dan berita infotainment dibanding sekadar cerita-cerita orang tua yang disebut dengan parupama itu.

Kini, orang yang pintar mapparupama bukan hanya langka. Tapi, hampir pasti, tidak lagi ditemukan dalam ruang-ruang masyarakat modern.

Dengan digalakkannya gerakan literasi (melek huruf) oleh pemerintah, orang-orang semakin bisa mengakses tulisan. Tuturan bersalin rupa jadi bacaan.

Kini, bahkan tak perlu bersusah payah membeli buku, karena berbagai bacaan itu telah ada di dalam genggaman kita melalui smart phone atau Ipad. Tuturan semacam parupama ini pun semakin kehilangan tempat.

Perkembangan zaman telah menggilas hal-hal yang dianggap sudah tua dan kuno. Begitulah hidup ini berjalan. Yang tua mangkat, yang muda lahir. Tradisi lama menghilang, tradisi baru muncul.

Hilangnya parupama  memang tak harus ditangisi. Kalau memang waktu telah menyingkirkan parupama, ia memang tidak akan mungkin dipertahankan mati-matian.

Tetapi, dalam udara kehidupan yang makin pengap ini, rasanya kita kembali membutuhkan tradisi humor seperti parupama ini. Mungkin, ia bisa dikemas secara berbeda. Entah lebih modern, atau dikemas lebih ngepop mengikuti selera kaum milenial.

Parupama bisa juga menjadi alternatif dakwah, di tengah pesan-pesan keagamaan yang kebanyakan menohok kelompok lainnya.

Siapa tahu dari sana, sambil kita tersenyum mendengar pesannya yang menghibur, kita menemukan sesuatu yang lebih bernas dibanding narasi-narasi kemarahan yang semakin menguar akhir-akhir ini. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *