Tue. Jan 19th, 2021

BLAM

KEREN

Tradisi dan Ritual Masyarakat Katolik di Soppeng

4 min read

Sumber foto: google.com

5,017 total views, 2 views today

Oleh: Sitti Arafah (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Agama, budaya, dan tradisi erat kaitannya dengan kehidupan manusia. Baik dalam keadaan sendiri maupun saat bersosialisasi dengan orang lain. Ketiganya sangat erat kaitannya. Pelaksanaan agama bisa dipengaruhi oleh kebudayaan dan adat istiadat.

Hubungan antara kebudayaan, agama, dan adat istiadat dalam pelaksanaannya di kehidupan manusia, dapat dijelaskan dengan sederhana, yaitu manusia sebagai makhluk sosial dalam kehidupan dapat dipengaruhi oleh unsur-unsur kebudayaan, dan agama dan adat istiadat di daerah atau lingkunga mereka tinggal, seperti berbicara atau melakukan suatu kegiatan.

Sebagai sistem keyakinan yang dianut setiap individu, agama menjadi suci dan sacral, dan menjadi aturan yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan-Nya, hubungan antara sesama manusia dan  manusia alam sekitarnya, di samping pula menjadi kontrol terhadap semua perilaku dari penganutnya.

Tradisi dalam arti sempit adalah kumpulan benda material dan gagasan yang diberi makna khusus, yang berasal dari masa lalu. Masa lalu tidak pernah lenyap, dan senantiasa mewariskan serpihan yang menyediakan ruang dan lokus bagi fase berikutnya untuk melanjutkan proses.

Tradisi lahir melalui dua cara. Pertama, bersifat kultural; Ia muncul dari bawah, spontan, massif, dan mampu berubah menjadi perilaku atau sikap dan dapat menjadi milik bersama dan berubah menjadi fakta sosial.

Kedua bersifat struktural; Ia terbentuk dari kekuasaan elite dan melalui mekanisme paksaaan, seperti seorang raja, kebiasaan-kebiasaan raja lantas dipaksanakan menjadi tradisi rakyat, bahkan menjadi kebudayaan bersama (Arifuddin Ismail; 2012).

Suku Bugis atau “to Ugi” adalah salah satu suku yang ada dan berdiam di belahan nusantara secara umum dan Kabupaten Soppeng secara khusus.

Suku bugis dikenal sebagai masyarakat yang senantiasa memegang erat nilai-nilai adat dan tradisi sebagai warisan turun temurun dari nenek moyang mereka. Demikian pula, suku bugis atau “to Ugi” juga kental dengan nilai-nilai agama yang menjadi dasar dalam bertindak dan berperilaku.

Adat merupakan konsep kunci, sebab keyakinan orang Bugis terhadap adatnya mendasari segenap gagasannya mengenai hubungan-hubungannya dengan sesama manusia, pranata-pranata sosialnya, alam sekitarnya, dan makrokosmos.

Jikalau kita berhasil menemukan maknanya dalam kehidupan kehidupan kekeluargaan, ekonomi, politik, pemerintahan dan keagamaan, maka barulah mungkin kita akan memahami pandangan hidup mereka yang dinafasi oleh adatnya. (Rahman Rahim, 1992).

Sebagaimana diketahui, masyarakat yang mendiami Tanah Soppeng tidak hanya menganut satu agama, tetapi beragam agama yang menjadi anutan masyarakatnya, seperti Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha.

Masyarakat beda agama tersebut merupakan orang Bugis atau “to Ugi”, yang sebagian besar adalah penduduk asli.

Menarik untuk menggali informasi tentang kaitan agama dan budaya, serta tradisi masyarakat yang beragama Kristen maupun Katolik, dalam menjalankan tradisi atau budaya/adat istiadat, seperti dilakukan masyarakat Bugis yang beragama Islam.

Praktik budaya atau tradisi yang masih mentradisi dalam kehidupan orang Bugis, yang dipertahankan hingga kini, seperti pernikahan, ritual bayi yang baru lahir (aqiqah), syukuran memasuki rumah baru, membeli rumah baru, yasinantahlilan (kematian), dan lainnya

Tradisi

Bagi masyarakat Kristen dan Katolik di Soppeng, mereka juga melaksanakan tradisi seperti “menre bola baru” (naik rumah baru),  “makkulawi” atau aqiqah, “ma’takziah” atau pengambilan hari ke 3, 7, 40, dan 100 bagi orang meninggal, dan bahkan pada setiap tahunnya.

Bagi umat Kristiani, pelaksanaan adat atau tradisi tersebut dinyatakan dalam versi mereka, disebut sebagai syukuran, seperti pada kelahiran bayi atau pada saat menaiki rumah baru.  Dalam hal pernikahan, “mappaci” dilakukan dirumah, di samping juga melakukan kebaktian di gereja.

Ritual-ritual yang merela lakukan tidak dikaitkan dengan agama, seperti halnya aqiqah, naik rumah baru, yang disebut syukuran. Hal ini dikatakan sebagai tradisi yang sudah turun temurun dilaksanakan oleh nenek moyang mereka, sehingga sulit untuk mereka tinggalkan.

Ritual-ritual dalam pelaksanaan tradisi tersebut, juga dilakukan sebagaimana halnya ritual dalam agama Islam. Yang membedakan hanyalah penyebutannya. Misalnya, dalam acara aqiqah, tradisi barzanji digantikan dengan persembahan kidung-kidung atau nyanyian-nyanyian yang bersifat pujian pada Tuhan, dan juga dilakukan ritual mencukur rambut oleh pastor.

Diana, penganut Katolik di Soppeng, mengemukakan, tradisi aqiqah bagi umat Katolik tetap dilakukan. Menurutnya, tradisi itu adalah adat dan merupakan inkulturasi budaya. Aqiqah dianggap tradisi dari nenek moyang, dan dirinya sebagai orang Bugis pasti tetap melaksanakannya.

Proses ritual aqiqah dilakukan juga dengan memotong kambing bagi keluarga mampu dan tidak memaksanakan harus sesuai dengan ketentuan. Misalnya, anak perempuan satu kambing, sedangkan anak laki-laki dua kambing.

“Soal pemotongan kambing, kami sesuaikan dengan kemampuan. Di samping itu, kami juga menyiapkan berbagai jenis makanan, memotong rambut, memberikan nama, lalu diadakan pembaptisan dan pemberian nama disesuaikan dengan nama-nama dalam Katolik, atau disebut “santo. Namun itu bebas, siapapun boleh mengambilnya,” kata Diana.

Bila umat Islam melakukan barzanji, maka umat Katolik melakukan nyanyi bersama. Bagi umat Katolik di Soppeng, acara aqiqah atau “mappenre tojang atau makkulawi”, dinamakan syukuran kelahiran bayi atau perayaan ekaristi.

Demikian halnya pada acara kematian, umat Katolik di Soppeng memperingati hari ketiga, ketujuh, keempat puluh, bahkan dalam setiap tahunnya. Mereka memperingati dengan melakukan doa dan makan bersama, dan dibacakan pastor.

“Apa yang menjadi aturan agama, kita tetap ikuti. Kami juga mengundang umat Islam setiap kali mengadakan acara. Khusus jamuan makan, kami orang Bugis Katolik tidak pernah atau jarang memakan daging yang diharamkan agama,” kata Diana.

Bagi umat Katolik Soppeng, memperingati hari kematian disebutnya Misa dan “Hari Arwah”, yang diadakan pada 2 November setiap tahun. Sehingga, yang hidup dan meninggal tetap ada hubungan, khususnya bagi mereka yang mengorbankan hidupnya di jalan yang benar, dan menjalankan hidup penuh kesabaran.

Sementara itu, Juniati, muslimah, menyatakan, orang bugis asli beragama non muslim juga melakukan tradisi seperti menggantung pisang, berdoa (mabbaca-baca) dengan berbagai jenis makanan yang dihidangkan, ketika ingin memasuki rumah baru. Yang bertindak memimpin upacara ritual adalah pendeta.

“Demikian pula acara aqiqahmappacci (pengantin) dan ibadah pengganti barazanji. Semua tradisi tersebut dilakukan di dalam keluarga sebagai sebuah tradisi yang harus dijaga,” kata Juniati. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *