Wed. Jan 20th, 2021

BLAM

KEREN

Sirnanya Humor dalam Kehidupan Kita

4 min read

Sumber gambar: id.pngtree.com

5,911 total views, 8 views today

Oleh: Syamsurijal (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

“Kebencian akan Tumbang, Komedi akan menang.” Begitulah tema yang dipilih dalam Temu Nasional Penggerak Gusdurian 2018. Bukan tanpa alasan, tentu saja, memilih tema itu.

Bagi saya, salah satu yang bisa menyingkirkan kebencian dari hidup kita ini, tak lain adalah humor atau komedi.

Sebagaimana disebut Gus Dur dalam Mati Ketawa a la Rusia (1986), humor adalah senjata ampuh  untuk memelihara kewarasan orientasi hidup sebuah masyarakat. Tanpa humor, yang ada adalah kegilaan, kebencian, dan kemarahan.

Namun, sayang sekali, sejak kepergian Gus Dur, rasanya humor, komedi, lelucon dan semacamnya, justru mulai sirna dari kehidupan kita. Bukan tidak ada lagi lelucon. Masih banyak.

Para kaum elite  di singgasananya masing-masing juga masih sering mempertontonkan dagelan. Sayangnya, dagelan para elite itu tidak membuat kita tertawa. Sebaliknya, malah membuat rakyat tambah murung.

Lawakan di televisi juga masih menjadi program favorit. Hampir semua stasiun televisi menayangkan acara lawak. Tetapi, komedi di televisi hanya program sebuah acara. Tugasnya tak lain memancing gelak para penonton belaka.

Tujuannya, agar acara di televisi bersangkutan diminati. Tidak lebih, tidak kurang. Tetapi, masih mendingan ini. Karena, setidaknya bisa sedikit menghibur masyarakat yang saban hari bertarung dalam kehidupan yang pahit.

Yang hilang adalah sense of humor kita dalam kehidupan sehari-hari. Dalam perbincangan politik, agama dan bahkan seni sekali pun, kita kehilangan selera humor.

Dan, yang paling penting lagi, kita kehilangan kepandaian merespons kehidupan dengan humor. Kepahitan hidup tidak bisa dihadapi dengan canda. Kritikan dihadapi dengan tanpa humor.

Bahkan, sering kali satu lelucon, disikapi dengan pelaporan pada polisi. Mungkin, karena itulah, Alisa Wahid, anak sulung Gus Dur sampai menulis di koran Kompas: “Indonesia Darurat Humor.”

Ada yang mencoba melontarkan humor, misalnya, dalam perpolitikan, tapi jatuhnya menjadi hinaan. Sering pula, yang menjadi sasaran humor karena tidak punya selera humor, ketika kena sentilan, bawaannya jadi marah. Ujungnya, melapor polisi.

Saking seriusnya dunia politik kita ini, mimpi pun bisa dilaporkan. Padahal, jika misalnya pengabar mimpi tersebut dianggap berbohong, mengapa tidak dianggap lelucon saja.

Dulu, ketika Gus Dur hidup, situasi yang terasa menegangkan dalam berbagai aspek kehidupan kita, seringkali dicairkan dengan humor-humornya.

Ketika, misalnya, politik tanah air sedang tegang-tegangnya, karena Gus Dur diminta mundur sebagai presiden. Ia malah melontarkan joke, yang bahkan menyentil kekurangan dirinya sendiri: “Saya disuruh maju saja susah, lah… ini malah diminta mundur.”

Di saat lain, Gus Dur dikritik lantaran pernyataannya banyak dianggap kontroversial, membingungkan, dan justru membikin kegaduhan. Gus Dur malah bikin joke.

Katanya:

Indonesia ini memiliki empat presiden yang gila. Pertama, presidennya gila perempuan. Kedua, presidennya gila kekuasaan. Ketiga, presidennya gila teknologi, dan keempat, presidennya membuat orang-orang menjadi gila.

Dono Warkop

Dulu, tidak hanya Gus Dur saya kira yang pandai merespons problem kehidupan dengan humor. Beberapa orang yang memang profesinya pelawak, juga pandai merespons situasi politik dengan humor. Salah satunya, Dono Warkop.

Dono, selain terkenal sebagai komedian yang menghibur dengan film-film konyol, juga sering menulis artikel kritis dibumbui humor.

Pada 31 Mei 1999, misalnya, ia menulis artikel di Kompas. Judulnya, “Provokator Foto Bertiga.” Artikel ini ditulis dengan jenaka. Ia menolak, bahwa foto bertiga itu bisa mendatangkan sial.

Dalam kepercayaan sebagian masyarakat, jika berfoto bertiga, yang di tengah cepat mati. Dalam tulisannya, Dono bercerita ada orang yang memberitahukannya agar jangan selalu foto bertiga; Dono, Kasino, dan Indro. Nanti yang di tengah cepat mati.

Dono membantah. Karena katanya, partai-partai dulu juga selalu foto bertiga; PPP, Golkar, dan PDI. Tetapi buktinya, sampai sekarang (1999 saat itu) Golkar aman-aman saja.

Memang, kala itu, Golkar dihujat banyak orang hingga setengah mati, tapi tidak mati. Reformasi tidak berhasil membuatnya terkubur. Hanya membuatnya setengah mati. Itu pun sesaat saja. Selanjutnya, malah tetap sehat walafiat, sejahtera, dan aman sentosa.

Sayangnya, seperti telah disebutkan di muka, kini humor semakin menghilang dalam kehidupan kita. Kalau pun ada, humor hanya sebatas industri pertunjukan. Tidak lagi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Bahkan, boleh jadi, para komedian dalam industri humor, justru tidak bisa menikmati humornya. Ia membuat orang lain tergelak, tetapi dirinya sendiri stres dan sulit tertawa, karena tekanan dari industri pertunjukan humor itu sendiri.

Celakanya lagi, karena banyak orang yang sudah kehilangan selera humor (dan mungkin juga karena humornya memang tidak lucu), maka meski ada satu dua orang yang berusaha melontarkan humor, tetapi malah tidak ditanggapi dengan ketawa.

Sebaliknya, kadang dihadapi kemarahan. Padahal, kata Ra Martin dan Kuiper (1999), seharusnya tertawa karena satu joke itu dirasakan dan dilakukan bersama.

Defisit humor tidak kurang bahayanya dari ancaman darurat ekonomi. Kata Apte (1985) Lefcourt (2001), humor atau rasa humor, adalah salah satu hal fundamental dalam kehidupan manusia. Ia  terdapat pada semua tradisi, dan seharusnya menjadi bagian dari diri tiap individu.

Maka manusia yang tidak memiliki selera humor, sejatinya telah kehilangan sebagian dari kemanusiaannya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *