Tue. Jan 19th, 2021

BLAM

KEREN

Moderasi Beragama: Jalan Menuju Akseptansi

5 min read

Sumber gambar: kompasiana.com

919 total views, 4 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Moderasi Beragama

Pada Sabtu, tiga hari menjelang tutup tahun 2018, diadakan dialog lintas iman yang digagas Kementerian Agama (Kemenag), di Jakarta. Hadir pada kesempatan tersebut, adalah perwakilan tokoh dari enam agama di Indonesia.

Ada tiga tema pokok yang dibahas pada pertemuan yang dihadiri sekitar 50 tokoh agama tersebut, yaitu Konservatisme, Relasi Agama dan Negara, serta Beragama di Era Disrupsi.

Hasil pembahasan tersebut tersebut kemudian menghasilkan lima rumusan, yang disebut Risalah Jakarta. Rumusan Risalah Jakarta tersebut menjadi langkah awal bagi pengarusutamaan Moderasi Beragama oleh kemenag.

Sebagai bentuk keseriusan kemenag dalam mengarasutamakan Moderasi Beragama, disusunlah Buku Putih Moderasi Beragama, yang peluncurannya 18 Oktober 2019. Buku tersebut mencerminkan Moderasi Beragama dalam perspektif kemenag.

Moderasi beragama adalah “jalan tengah” (the middle path) dalam beragama, yang diartikan sebagai cara pandang, sikap, dan perilaku dengan selalu mengambil posisi di tengah-tengah, selalu bertindak adil, dan tidak ekstrem dalam pemahaman dan praktik beragama.

Dalam Moderasi Beragama ada prinsip keseimbangan, kesederhanaan, kesantunan, dan persaudaraan. Ekspresi keagamaan diungkapkan dengan santun, dan agama yang menekankan persaudaraan.

Tujuan Moderasi Beragama adalah untuk menghadirkan keharmonisan sebagai sesama anak bangsa. Dengan demikian, Moderasi Beragama menjadi penting guna mencegah intoleransi dan radikalisme agama yang sangat mengganggu keharmonisan sesama anak bangsa.

Moderasi Beragama, adalah bagian strategi merawat keharmonisan bangsa Indonesia. Sebagai bangsa plural, Moderasi Beragama adalah bagian penting dari upaya mengelola keragaman yang dimiliki bangsa Indonesia

Moderasi Beragama tidak dapat dipisahkan dari terma toleransi, bahkan toleransi dalam Buku Putih Moderasi Beragama terbitan kemenag menjadi salah satu dari empat indikator Moderasi Beragama. Disebutkan, moderasi adalah proses sedangkan toleransi adalah hasil, jika moderasi diterapkan.

Toleransi dipandang sebagai salah satu indikator paling penting untuk menciptakan kerukunan umat beragama. Yaitu, sebuah kondisi kehidupan umat beragama yang berinteraksi secara harmonis, toleran, damai, saling menghargai, dan menghormati perbedaan agama dan kebebasan menjalankan ibadat.

Toleransi Pasif

Rainer Fost (2013) menyebut, tindakan toleransi tidak dapat dilepaskan dari pembicaraan mengenai konteks. Sikap toleran dalam satu konteks, boleh jadi, tidak bisa diterima dalam konteks yang lain.

Lantas, seperti apakah toleransi yang dimaksud dalam kontek Moderasi Beragama?

Oleh sebagian tokoh, toleransi sejatinya dipandang tidak mencukupi untuk membangun hubungan harmonis antarumat beragama. Secara kebahasaan, toleransi berasal dari bahasa latin, tolerantia, yang berarti kelonggaran, kelembutan hati, keringanan, dan kesabaran.

Pemaknaan toleransi dapat menjadi bias, karena dapat dipahami sebagai pembiaran atau permakluman.

Andrew Jason Cohen (2004), misalnya, mendefinisikan toleransi sebagai sikap untuk menahan diri dari seorang agen, yang didasarkan pada intensi dan prinsip tertentu, untuk tidak mengintervensi orang lain yang tidak disetujuinya [baik perilakunya atau yang lain).

Dalam konteks relasi antaragama toleransi seperti ini, adalah sikap pasif dengan “membiarkan” umat lain menganut dan menjalankan keyakinannya atau membiarkan perbedaan secara pasif.

Toleransi seperti itu disebut toleransi pasif, yaitu sikap menerima perbedaan sebagai sesuatu yang nyata dalam kehidupan manusia. Karenanya, tidak ada cara lain, kecuali menerima perbedaan itu sebagai suatu fakta.

Toleransi pasif seperti ini jika pun menghadirkan kerukunan, tidak lebih dari sekadar kerukunan semu. Kerukunan yang semu ini akan mudah berubah menjadi pertikaian, jika rasa kekhawatiran mulai hadir, bahwa kelompok lain telah atau akan menjadi ancaman bagi diri dan kelompoknya.

Kerukunan yang semu, adalah kerukunan yang rentan terkoyak, dan akan mudah terburai menjadi konflik, jika variabel ekonomi dan politik dimainkan dengan menggunakan sentimen identitas.

Toleransi Aktif

Agar terlepas dari bias perspektif, penggunaan kata toleransi harus disertai kata ‘aktif’, sehingga menjadi toleransi aktif, yang diwujudkan melalui sikap pro-eksistensi aktif dalam perbedaan, yang mensyaratkan dialog dan kerjasama untuk meraih kebaikan bersama.

Toleransi aktif tidak sekadar berhenti pada sikap penerimaan terhadap kenyataan dari keragaman yang ada, tapi juga terlibat aktif dalam keragaman tersebut. Toleransi semacam ini memungkinkan penganut agama berbeda untuk berdialog secara aktif dan bekerja sama dalam berbagai bidang.

Toleransi aktif dari antarpemeluk agama sangat dibutuhkan sebagai upaya mewujudkan harmoni sosial. Upaya membangun kerukunan antarpemeluk agama tidak dapat dilakukan dengan hanya memandang perbedaan sebagai fakta sosial yang fragmentatif.

Sikap pasif menerima perbedaan saja tidak cukup, perlu keterlibatan (engagement) untuk saling merangkul sesama anak bangsa, yang ditunjukkan melalui peran aktif dalam mengelola keragaman.

Keterlibattan aktif yang dimaksud, yaitu mengakui keberadaan dan hak agama lain. Lebih dari itu, terlibat dalam usaha memahami perbedaan dan persamaan melalui interaksi sosial yang intensif.

Toleransi aktif tersebut merupakan perwujudan dari Moderasi Beragama yang memandang umat agama lain sebagai sesama makhluk Tuhan, dan sebagai sesama warga negara Indonesia yang juga harus dihormati dan dilindungi.

Toleransi aktif selalu disertai sikap hormat, menerima orang yang berbeda sebagai bagian dari diri kita, dan selalu berpikir positif. Toleransi aktif, dalam kaitannya dengan relasi antaragama, dapat dilihat pada sikap terhadap pemeluk agama lain.

Seperti kesediaan berdialog, bekerja sama, pendirian rumah ibadat, serta pengalaman berinteraksi dengan pemeluk agama lain. Sedangkan toleransi intraagama digunakan untuk menyikapi sekte-­sekte minoritas yang dianggap menyimpang dari arus besar agama tersebut

Akseptansi

Mengingat istilah toleransi dapat bermakna ganda (pasif dan aktif), secara pribadi, saya lebih sreg menggunakan istilah akseptansi. Dibandingkan istilah toleransi, istilah akseptansi memiliki makna yang lebih lugas dan aktif dalam menyikapi perbedaan.

Akseptansi, atau penerimaan atas perbedaan, menjadi penting guna membangun relasi pro-eksistensi antarpenganut agama. Akseptansi, adalah menerima keberadaan penganut keyakinan lain yang berbeda, tanpa menilai atau menghakimi apakah keyakinannya itu benar atau salah.

Jika toleransi digagas dari prinsip setuju dalam ketidaksetujuaan agree in disagreement. Akseptansi melangkah lebih jauh dengan menerima perbedaan, berangkat dari persetujuan (setuju dalam kesetujuan) akan nilai universal, yang disepakati bersama oleh semua agama, yaitu nilai kemanusiaan dan kebaikan bersama.

Akseptansi akan tumbuh di tengah-tengah masyarakat, yang memandang fakta tentang perbedaan sebagai hal positif. Sikap yang dituju bukan sekadar ko-eksistensi pasif, tapi pro-eksistensi.

Ko-eksistensi, adalah kesediaan hidup berdampingan secara damai dengan tidak saling mengganggu. Ko-eksistensi sangat tepat pada masyarakat bercorak individualistik.

Sedangkan pro-eksistensi, adalah hidup berdampingan secara damai dengan saling menumbuh-kembangkan kebersamaan yang harmonis. Akseptansi sangat cocok dengan karakter kultural masyarakat Indonesia yang guyub yang sangat menjunjung tinggi semangat kesetiakawanan dan gotong-royong.

Secara implementatif, akseptansi ditunjukkan dengan sikap menerima, bahwa orang lain memiliki hak yang sama untuk berkeyakinan.  Mengekspresikan keterbukaan terhadap orang lain, ingin tahu, menghargai, ingin mendengarkan, dan saling belajar.

Puncaknya, dukungan penuh terhadap perbedaan, dengan tidak hanya sekadar mengakui dan menerima perbedaan sebagai sebuah fakta sosial. Melainkan sikap aktif untuk mendukung, merawat, hingga merayakan perbedaan tersebut.

Moderasi Beragama sebagai paradigma sangat mempertimbangkan kepentingan kemanusiaan di samping kepentingan keagamaan yang sifatnya subjektif. Bahkan, dalam situasi tertentu, kepentingan kemanusiaan mendahului subjektifitas keagamaan.

Moderasi Beragama, adalah jalan menuju akseptansi. Moderasi Beragama sebagai basis paradigmatik dalam membangun penghayatan dan pengamalan beragama yang menyeimbangkan seluruh aspek keagamaan sehingga tercipta pola keberagamaan yang sehat baik secara individual dan sosial.

Sedangkan akseptansi, adalah hasil ketika Moderasi Beragama sebagai proses menghasilkan sikap arif menerima perbedaan.

Ruang dialog, saling memahami, kerjasama, dan persaudaraan sebagai implementasi konsep akseptansi akan lebih mudah untuk terbangun dalam ranah kehidupan sosial umat beragama yang berbeda.

Moderasi Beragama yang menjadi agenda arusutama dari kemenag, jika dikawal dengan baik melalui strategi dan program yang tepat, maka akan menciptakan suasana relasi umat beragama yang akseptan, guyub, dan rukun. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *