Wed. Jan 20th, 2021

BLAM

KEREN

Kepala BLAM Saprillah: Kerja-kerja Peneliti Itu seperti Aktivis

2 min read

Kepala BLAM, Dr. H. Saprillah, M.Si (songkok) bersama temannya, di Hotel Aryaduta Makassar. Foto: Istimewa.

1,183 total views, 4 views today

MAKASSAR, BLAM – Peneliti Balai Litbang Agama Makassar (BLAM) diharapkan punya kemampuan multitalenta. Selain dituntut memiliki wawasan luas terkait riset-riset yang dilakukan, mereka juga diharapkan mampu menahkodai kegiatan yang laksanakan.

“Kerja-kerja peneliti di BLAM bukan hanya semata riset, tetapi juga beberapa kegiatan pengembangan. Nah, pada kegiatan pengembangan ini, peneliti diharuskan bisa menjadi fasilitator yang bertugas mengelola forum,” kata Kepala BLAM, Dr. H. Saprillah, M.Si, Jumat, 18 Desember 2020.

Setiap tahun, ada dua kegiatan rutin yang digeluti Peneliti BLAM, yaitu riset lapangan dan kegiatan pengembangan berbentuk workshop.

Pada kegiatan terakhir ini, Peneliti BLAM sudah menghasilkan beberapa produk, seperti buku bahan bacaan untuk anak-anak sekolah, modul, serta aplikasi berbasis android.

Sementara untuk kegiatan riset, tahapan yang dilewati antara lain, seminar dalam bentuk presentasi.

Tahapan seminar ini dimulai dari pembahasan desain operasional, penajaman teori, seminar temuan penjajakan, seminar awal, seminar akhir (diseminasi), executive summary, dan policy brief.

Setiap kali diadakan seminar, ada seorang moderator yang memandu jalannya diskusi. Moderator didampingi koordinator penelitian, dan peneliti yang menyajikan temuan lapangannya kepada stake holder dan masyarakat luas (antara lain, akademisi, guru, aktivis, tokoh masyarakat, tokoh agama).

Sementara pada kegiatan pengembangan, peneliti kerap mengadakan kegiatan dalam bentuk diskusi grup terarah (FGD), yang menghadirkan sejumlah peserta dari latar belakang disiplin berbeda.

“Pada kegiatan pengembangan, tugas peneliti sebenarnya agak berat dalam tanda petik. Dikatakan “berat”, karena peneliti harus mampu mengelola forum kegiatannya, supaya diskusi berjalan menarik, tidak monoton, dan fokus pada apa yang ingin dicapai. Termasuk, harus pula pandai-pandai mengatur waktu diskusi sampai selesai,” kata Pepi, sapaan akrab Saprillah.

Menurut Saprillah, di sinilah keuntungan apabila peneliti pernah menyandang aktivis di kampus atau organisasi non pemerintah (NGO). Menjadi fasilitator dan mengelola forum, kata dia, bukanlah kendala bagi peneliti aktivis.

Sebaliknya, bagi orang yang sama sekali belum pernah merasakan mengelola forum, menjadi fasilitator tentulah bakal menjadi kendala tersendiri.

Saprillah sendiri merupakan aktivis di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), saat kuliah strata satu di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar.

Selama menjadi aktivis PMII dan Lembaga Advokasi dan Pendidikan Anak Rakyat (LAPAR), semacam NGO, dan berdiri 17 April 1999 di Makassar, Saprillah tak hanya memimpin dan mengelola berbagai forum. Namun, ia juga ikut menjadi pendamping atau mengadvokasi masyarakat atau komunitas yang dimarginalkan oleh negara.

“Pengalaman menjadi aktivis ternyata banyak sekali manfaatnya. Apalagi, kerja-kerja peneliti di BLAM juga berkaitan dengan masa-masa aktivis dulu. Seperti jadi fasilitator, FGD, dan sebagainya,” ujar Ketua Lakpesdam Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan.

Di BLAM sendiri, sebagian besar penelitinya pernah aktif dan berkecimpung sebagai aktivis di organisasi mahasiswa.

Hingga kini, beberapa di antara peneliti masih terlibat dan dilibatkan pada organisasi di masa kuliahnya dulu, atau aktif di salah satu organisasi keagamaan Islam. (ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *