Wed. Jan 20th, 2021

BLAM

KEREN

BLAM “Kebanjiran” Siswa dan Mahasiswa Magang Sepanjang 2020

3 min read

Pelaksana pada Urusan Keuangan dan Perencanaan BLAM, Nur Aini (tengah), berfoto bersama siswa magang di BLAM. Foto: Israpil.

2,324 total views, 4 views today

SEPANJANG 2020, Kantor Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar (BLAM) “kebanjiran” siswa dan mahasiswa magang yang melakukan Praktik Kerja Lapangan (PKL). Mereka adalah mahasiswa UMI Makassar, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Makassar, dan siswa SMK Negeri  1 Palopo.

Dalam UUD Sisdiknas 2003 pasal 20 ayat 2, disebutkan “Perguruan tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat”. Salah satu implementasi dari tridarma perguruan tinggi, adalah melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Dengan KKN, mahasiswa dapat mengembangkan keilmuan yang dimiliki di meja kuliah di kampus dan diimplementasikan dalam masyarakat. Begitupun dengan SMK (Sekolah Menengah Kejuruan), adalah lembaga pendidikan, yang peserta didiknya diorientasikan kepada pengenalan dunia usaha, bagaimana melihat peluang usaha, dan belajar beradaptasi dengan lingkungan kerja, sehingga mereka bisa kembangkan pada masa akan datang (Yudi, 2013).

Para siswa dan mahasiswa tersebut diperkenalkan untuk lebih mengenal lebih dekat realitas sosialnya. Kalau George Herbert (2015) menyebut KKN sebagai miniatur sebuah realitas sosial.

Para siswa dan mahasiswa yang magang tersebut ditempatkan berdasarkan bidang atau jurusan yang mereka pilih di kampus, dan penempatan mereka di ruangan disesuaikan kebutuhan mendesak  setiap bidang.

Misalnya, semua mahasiswa dari UMI, ditempatkan di Bidang Lektur Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi, mengingat di bidang ini, ada banyak naskah-naskah klasik hasil penelitian yang masih berserakan di laptop peneliti yang perlu dirapikan dan didigitalkan.

Saya lebih banyak mengelaborasi kegiatan siswa SMK Negeri 1 Palopo, dengan alasan, selain durasi waktu PKL yang begitu lama, yaitu tiga bulan, saya juga punya kedekatan emosional dengan lembaga ini. Saya termasuk alumni SMK ini.

Dulu, ketika saya sekolah di sini, namanya masih SMEA (Sekolah Menengah Ekonomi Atas) Palopo. Saya pun mengalami hal serupa, yaitu melaksanakan PKL, ketika duduk di bangku kelas III. PKL merupakan kewajiban sebagai salah satu syarat kelulusan.

Tepatnya, 5 Oktober 2020, siswa SMK Negeri 1 Palopo menyambangi Kantor BLAM untuk melaksanakan PKL. Kala itu, mereka diantar langsung pembimbingnya, Muis Hamid, dan diterima resmi Kepala Balai Litbang Agama Makassar, yang diwakili Kasubag Tata Usaha, Nelly, MM, dan Asnianti (Kepala Urusan Umum).

Tujuan mereka PKL sebagai syarat kelulusan. PKL juga dilaksanakan sebagai bekal atau pengalaman siswa sebelum terjun ke dunia kerja sesuai bidang atau jurusan yang mereka pilih.

Sebanyak lima siswa SMK Negeri 1 Palopo melaksanakan PKL di BLAM, yaitu Nurul Fatimah, Chitra Damayanti, Sukma Hadisa (Jurusan Akuntansi), Wahida, dan Asnah (Jurusan Administrasi Perkantoran). Mereka ditempatkan sesuai jurusan. Satu orang masing-masing di ruangan sekretaris Kepala BLAM, Urusan Kepegawaian, dan Perpustakaan/Kerarsipan, dua orang lainnya di Urusan Umum dan Urusan Perencanaan dan Keuangan.

“Dengan adanya siswa-siswa PKL sedikit banyak memberikan bantuan, terutama untuk kelancaran proses administrasi di BLAM,” kata Nur Aini, Pelaksana pada Urusan Keuangan dan Perencanaan BLAM.

Menurut Nur Aini, siswa yang ditempatkan di keuangan dan perencanaan sangat membantu tugas-tugas mereka, antara lain, mengklasifikasi surat-surat masuk dan keluar, pengarsipan SPM (Surat Perintah Membayar), membantu dalam hal mendistribusikan administrasi keuangan para peneliti yang dianggap belum rampung dan yang terlewatkan, dan masih banyak lagi.

Hal serupa dikatakan Andi Rosmini, Bagian Umum/Arsiparis). “Dengan adanya siswa PKL, pekerjaan saya banyak terbantu dalam mengarsipkan surat-surat kantor,” ujarnya.

Kesan-kesan

Selama PKL di BLAM, para siswa ini ternyata mempunyai kenangan tersendiri. Dalam suatu kesempatan, saya dan Peneliti BLAM, DR. Badruzzaman, sempat ngobrol bareng dengan mereka, seusai Salat Zuhur di mushalla kantor. Kami menanyakan kesan-kesannya dan apa saja yang mereka kerjakan selama PKL.

“Saya senang PKL di BLAM, Pak. Semua pegawainya baik dan ramah-ramah. Ruang kerjanya juga adem (ber AC),” kata Chitra.

Lain halnya Asna. Ia menyatakan, kantor BLAM selalu sunyi. “Mungkin karena masih ada covid-19 ya, Pak?” ujarnya.

Sementara Nurul mengaku banyak pengetahuan yang ia dapatkan selama PKL di BLAM. “Ternyata, apa yang kami pelajari di sekolah soal persuratan mempunyai kesamaan, meskipun ada yang berbeda sedikit, seperti model surat menyuratnya agak berbeda seperti yang kami terima di sekolah,” katanya.

Namun, ada juga yang tampak malu-malu memberikan kesan-kesannya selama di PKL di BLAM. “Malu-malu ka, Pak. Hehehe,” ujarnya, dengan wajah memerah.

Setelah mengobrol sejenak, DR. Badruzzaman kemudian memberikan pemahaman dan mengenalkan kepada mereka mengenai Tusi (tugas dan fungsi) Kantor BLAM, bahwa BLAM berbeda dengan instansi lainnya.

BLAM adalah lembaga riset. Salah satu tusinya adalah sebagai penyediaan data dan informasi, dan tidak melayani masyarakat secara langsung.

“Pegawai yang bekerja di sini kebanyakan peneliti. Jadi, mereka lebih banyak berada di luar lapangan untuk riset dan kegiatan-kegiatan lain berkaitan kantor,” kata Badruzzaman.

Selain itu, hampir sepanjang 2020, terutama sejak Covid-19 menerjang Maret 2020, pegawai BLAM masuk kerja dengan pembagian waktu (shift). Jadi, ada yang bekerja work from home dan juga work from office.

Rencananya, PKL siswa SMKN 1 Palopo berakhir antara 21 dan 23 Desember 2020, dan mereka akan dijemput langsung pembimbingnya di BLAM. (isr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *