Tue. Jan 19th, 2021

BLAM

KEREN

Benarkah MUI Memfatwakan Haram Mengucapkan Selamat Natal?

5 min read

Sumber gambar: fikroh.com

1,304 total views, 2 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Kontroversi Selamat Natal

Dalam beberapa tahun terakhir, polemik mengenai status hukum seorang Muslim mengucapkan Selamat Hari Natal kembali mengemuka. Tak sedikit kaum Muslim, yang akhirnya tidak lagi mengucapkan Selamat Hari Natal kepada umat Kristiani. Mereka berpandangan, ucapan tersebut hukumnya haram.

Keharaman tersebut, menurut mereka, didasarkan pada pandangan, bahwa mengucapkan selamat hari raya bagi penganut agama lain berarti sama saja dengan membenarkan keyakinan agama tersebut. Karenanya, hal tersebut dipandang dapat merusak akidah Islam.

Memang, ada perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai hukum mengucapkan selamat hari raya bagi umat agama lain, termasuk ucapan Selamat Natal. Termasuk perbedaan perspektif, apakah ucapan tersebut konteksnya akidah (teologi) ataukah sebatas hubungan sosial saja.

Ulama yang membolehkan berpandangan, mengucapkan Selamat Natal dikaitkan dengan konteks hubungan sosial kemasyarakatan (muamalah) dalam rangka menjalin hubungan yang harmonis antarumat beragama.

Menurut Prof. Quriash Shihab, selama di Mesir, ia sering melihat dan membaca di koran, bahwa ulama-ulama al-Azhar berkunjung kepada pimpinan umat Kristen dan mengucapkan Selamat Natal.

Di Indonesia, polemik mengenai kebolehan mengucapkan Selamat Natal kerap merujuk pada fatwa yang dikeluarkan MUI pada 1981. Fatwa tersebut dipahami oleh sebagian kalangan sebagai larangan bagi seorang Muslim mengucapkan Selamat Natal.

Namun, benarkah demikian? Tulisan ini mencoba mengulas secara singkat maksud dari fatwa tersebut, dan menjelaskan duduk perkara dari fatwa tersebut, yang mungkin kurang banyak diketahui pbulik.

Di Balik Fatwa

Bermula pada 1968. Di tahun tersebut, Hari Raya Idul Fitri terjadi dua kali, yaitu 1-2 Januari dan 21-22 Desember. Oleh karena perayaan Idul Fitri dan Natal terjadi pada waktu berdekatan, banyak instansi yang mengadakan acara Natal Bersama dan Halal bi Halal secara bersamaan. Ceramah keagamaan dilakukan secara bergantian oleh ustaz kemudian pendeta.

Sejak saat itu, kerap terjadi umat Islam menghadiri perhelatan Natal Bersama dengan anggapan, bahwa perayaan Natal sebagai kelahiran Yesus/Nabi Isa sama dengan peringatan Maulid Nabi Muhamamd di Islam.

Buya Hamka mengecam keras hal tersebut dan menyebut acara tersebut bukanlah toleransi, melainkan memaksa umat Islam dan Kristen menjadi munafik. Hamka bahkan menilai penganjur perayaan tersebut sebagai penganut sinkretisme.

Ketika MUI didirikan pada 26 Juni1975, Hamka terpilih secara aklamasi sebagai ketua umum. Tradisi umat Islam yang berpartisipasi dalam perayaan Natal, dilihat oleh Hamka dan pengurus MUI kala itu, sebagai hal yang patut “diluruskan”.

Akhirnya, pada 7 Maret 1981, bertepatan 1 Jumadil Awal 1401 H, Komisi Fatwa MUI mengeluarkan fatwa tentang hal tersebut. Fatwa tersebut ditandatangani KH.M. Syukri Ghozali dan Drs.H. Mas’udi selaku ketua dan Sekretaris Komisi Fatwa. Saat itu, Hamka masih menjabat Ketua Umum MUI Pusat.

Fatwa MUI

Fatwa tersebut melihat bahwa perayaan Natal Bersama disalahartikan oleh sebagian umat Islam dan “disangka dengan umat Islam merayakan Maulid Nabi Besar Muhammad”. Karena salah pengertian tersebut ada sebagian orang Islam yang ikut dalam perayaan Natal dan duduk dalam kepanitiaan natal. MUI juga melihat bahwa perayaan Natal bagi orang Kristen merupakan ibadah.

Dengan pertimbangan bahwa umat Islam perlu mendapat petunjuk yang jelas tentang perayaan Natal Bersama dan agar umat Islam tidak mencampuradukkan akidah dan ibadahnya dengan akidah dan iabdah agama lain. Komisi Fatwa MUI kemudian mengeluarkan fatwa tentang Natal Bersama.

Isi fatwa tersebut adalah:

  1. Perayaan Natal di Indonesia meskipun tujuannya merayakan dan menghormati Nabi Isa as, akan tetapi Natal itu tidak dapat dipisahkan dari soal-soal yang diterangkan di atas.
  2. Mengikuti upacara Natal bersama bagi umat Islam hukumnya haram.
  3. Agar umat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah Swt dianjurkan untuk tidak mengikuti kegiatan-kegiatan Natal.

Pasca Fatwa

Fatwa tersebut kemudian ramai diperbincangkan dan menjadi polemik. Tradisi saling menghadiri, saling mengucapkan selamat, dan merayakan bersama yang telah menjadi kebiasaan pada saat itu, khususnya di kantor dan sekolah, membuat banyak pimpinan instansi menjadi dilema.

Pemerintah melalui Menteri Agama saat itu, Alamsjah Ratu Prawiranegara, karena menilai fatwa tersebut berpotensi merenggangkan kerukunan antarumat beragama yang sedang digalakkan oleh pemerintah.

Alamsjah kemudian mengundang pimpinan MUI dan meminta agarfatwa tersebut dicabut, dia sendiri selaku Menteri Agama yang akan mengambilalih dengan mengeluarkan peraturan.

Hamka, selaku Ketua Umum MUI tak mencabut fatwa tersebut, namun mengeluarkan SK MUI No 139 tahun 1981 mengenai penghentian untuk mengedarkan fatwa tersebut. Meski ia mengakui SK tersebut tidak memengaruhi keshahihan fatwa yang telah dikeluarkan.

Buntut dari persitegangan tersebut adalah Hamka akhirnya mengundurkan diri selaku Ketua Umum MUI pada 19 Mei 1981 dan menyerahkan surat pengunduran dirinya tersebut ke Departemen Agama.

Polemik Fatwa MUI terus bergulir, bahkan dibahas dalam rapat kerja Komisi IX DPR dengan Menteri Agama.

Sebagai tindak lanjut Departemen Agama menghelat pertemuan dengan Musyawarah Kerukunan Antar Agama yang agendanya untuk merumuskan batasan kegiatan ritual dan seremonial,yang bisa dan yang tidak bsia diikuti oleh orang dari luar agama tersebut.

Menteri Agama kemduian mengeluarkan Surat Edaran No 432 pada 2 September 1981 yang ditujukan kepada berbagai instansi pemerintah. Surat Edaran tersebut berisi penjelasan teknis mengenai hal-hal yang perlu dipedomani berkenaan dengan penyelenggaraan hari-hari besar keagamaan.

Isi Surat Edaran tersebut menjelaskan, dalam hal peribadatan atau adanya unsur peribadatan, maka hanya pemeluk agama yang bersangkutan yang menghadirinya. Namun, dalam penyelenggaraan peringatan hari-hari besar keagamaan yang di dalamnya tidak ada unsur ibadat dalam perayaan dan kegiatan tersebut,i dapat dihadiri dan diikuti oleh pemeluk agama lain.

Akhirnya, klop dan clear duduk persoalan. Sebagaimana diungkapkan KH. M. Syukri Ghozali, fatwa tersebut dibuat sebenarnya agar Depag menentukan langkah dan kejelasan sikap mengenai perayaan Natal dan Lebaran.

Boleh-boleh Saja

Secara eksplisit sangat jelas, fatwa MUI tahun 1981 tersebut hanya membahas seputar kehadiran umat Islam dalam perayaan Natal Bersama yang didalamnya terdapat unsur ibadah menurut agama Kristen.

Tidak ada satu pun kalimat dalam fatwa tersebut yang menyinggung tentang ucapan Selamat Natal oleh umat Islam kepada umat Kristen. Dengan demikian, fatwa tersebut tidak bisa dijadikan referensi tentang keharaman mengucapkan Selamat Natal.

Buya Hamka, sosok ulama yang merupakan sosok utama di balik keluarnya fatwa MUI tersebut. Ternyata diketahui tidak mempersoalkan ucapan Selamat Natal yang diucapkan seorang Muslim.

Mujiburrahman dalam disertasinya di Universitas Leiden yang berjudul Fealing Threatened Muslim-Christians Relations in Indonesian New Order (2006) menemukan persoalan ini telah dibahas oleh Hamka sejak 1974.

Ketika menyampaikan kuliah subuh di RRI pada1974, Hamka mendapatkan pertanyaan dari seorang pendengarnya.”Bagaimana sikap umat Islam yang pantas jika mereka diundang untuk untuk merayakan Natal oleh tetangganya yang Kristen?”

Karena keterbatasan waktu, Hamka tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut secara langsung. Hamka kemudian memberikan jawaban tertulis atas pertanyaan tersebut di majalahnya, Panji Masyarakat.

Hamka menjelaskan, boleh saja seorang Muslim mengucapkan Selamat Natal kepada tetangganya yang Kristen sebagai ekspresi toleransi beragama. Namun, sebagai Muslim tidak dibenarkan untuk ikut dalam perayaan tersebut.

Hamka membandingkan Natal dengan Idul Fitri bagi umat Islam. Umat Kristiani sering mengirimkan kartu Selamat Idul Fitri kepada teman Muslim mereka, tetapi tidak pernah ikut Salat Idul Fitri di Masjid atau alun-aun.

Menurut penuturan anak dan cucunya, ketika Hamka tinggal di Kebayoran Baru dan banyak tetangganya beragama Kristen. Ketika Natal mengucapkan Selamat Natal kepada tetangganya. Bahkan, keluarga Hamka memasak rending dan mengantarkannya kepada tetangganya tersebut, sekalian mengucapkan Selamat Natal. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *