Tue. Jan 19th, 2021

BLAM

KEREN

Perempuan dan Kritik Atas Ekonomi yang Maskulin

5 min read

Foto: Sabara

3,032 total views, 8 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Judul Buku    : Siapa yang Memasak Makan Malam Adam Smith? (Kisah Perempuan dan Ilmu Ekonomi)

Penulis            : Katrine Marcal

Penerbit          : Margin Kiri

Cetakan          : Cet I. Mei 2020

Halaman         : 226 + ix

Terbit pertama kali dalam Bahasa Swedia di Stockholm, 2012. Edisi Bahasa Inggris berjudul Who Cooked Adam Smith’s Dinner?: A Story about Women and Economics.

Manusia Ekonomi

Bagaimana Anda mendapatkan makan malam?, merupakan pertanyaan mendasar dalam  ekonomi. Kedengarannya, mungkin, seperti lelucon. Namun, sebenarnya, sangatlah kompleks. Bagaimana manusia memenuhi kebutuhannya?, maka lahirlah imu ekonomi. Ilmu tentang oikos (rumah tangga) dan namos (aturan).

Adam Smith, bapak ilmu ekonomi sekaligus pelopor sistem kapitalisme, pada abad XVIII menjawab pertanyaan dasar tersebut. Menurut Smith, bukan karena kebaikan tukang daging, penjual minuman, atau penjaja roti sehingga makan malam bisa terhidang di meja makan kita.

Mereka sebenarnya hanya berpikir kepentingan diri mereka sendiri, agar bisa terus bertahan hidup. Karena itulah kita semua bisa memenuhi kebutuhan kita. Termasuk, mendapatkan makan malam yang siap kita santap.

Dengan mempertanyakan bagaimana kita bisa mendapatkan makan malam, Adam Smith menggiring kita untuk meyakini, bahwa setiap tindakan individu yang sedang memenuhi kebutuhan pribadinya secara maksimal, sebenarnya ia sedang membantu dunia untuk terus bergerak.

Ilmu ekonomi bukanlah sekadar tentang uang. Hakikatnya, ekonomi adalah bagaimana cara kita berperilaku untuk mendapatkan keuntungan dalam situasi apa pun. Inilah yang disebut, manusia ekonomi.

“Tamak itu baik”, dan dengan menjadi tamak, manusia akan berpikir bagaimana caranya mendapatkan lebih banyak nilai tambah. Kemajuan akhirnya terus didorong, yang akhirnya berimbas pada lingkungan sekitar.

Dari sinilah lahir prinsip ekonomi yang sangat terkenal, “dengan pengorbanan yang sekecil-kecilnya, untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya.” Manusia ekonomi menentukan hidupnya dan membiarkan orang lain untuk menentukan hidup mereka sendiri.

Manusia ekonomi atau homo economicus, adalah manusia yang bertindak rasional  atas dasar nalarnya yang tajam dan pengetahuannya yang kompleks. Manusia ekonomi senantiasa berusaha memaksimalkan apa yang dimilikinya untuk memenuhi kepentingan dan mendapatkan kepuasan pribadi.

Ekonomi Maskulin

Dalam buku “Matinya Gender”, Ivan Illich (2005) “bersorak”, bahwa kesetaraan gender adalah mitos yang dibangun oleh masyarakat industrial.

Istilah the second class  atau the second sex hanyalah umpan yang diberikan agar perempuan mengejar “kesetaraan” tersebut. Ekonomi itu maskulin, dan hanya menghargai kerja maskulinitas yang menghasilkan keuntungan.

Seorang ibu yang memasak untuk keluarganya, seorang kakak yang menjaga adiknya demi memastikan ibunya dapat memasak dengan tenang. Secara ekonomi, kerja tersebut tidak diakui. Keduanya tidak masuk dalam statistik ekonomi.

Terlepas bahwa keduanya telah memainkan peran besar agar sang suami atau bapak mereka dapat menikmati makan malam sebagai asupan energi, agar esok hari dapat bekerja kembali.

Pada akhir abad XIX dan awal abad XX, terjadi gelombang besar perempuan di Eropa yang menuntut kesetaraan akan hak waris, hak kepemilikan, hak untuk memulai perusahaan, hak untuk meminjam uang, hak untuk bekerja, dan hak atas upah yang sama untuk pekerjaan yang sama, sehingga mereka tidak perlu lagi menikah karena uang.

Sebaliknya, mereka dapat bebas memilih untuk menikah demi cinta. Sejak saat itu, feminisme berlanjut pada permasalahan uang

Kerja-kerja feminitas seperti melahirkan, menyusui, membesarkan anak, memasak untuk keluarga, menjahit pakaian suami. Tak satu pun dari semua itu dihitung sebagai “aktivitas produktif” dalam model ekonomi standar.

Aktivitas tersebut tidak menghasilkan barang-barang kasat mata yang dapat diperdagangkan, yang akhirnya menghasilkan keuntungan. Kerja rumah tangga bersifat siklus. Karenanya, kerja tersebut bukanlah “aktivitas ekonomi.”

Nah, jika ekonomi adalah ilmu tentang kepentingan diri dan sangat maskulin, lantas, bagaimana perempuan menempatkan diri di dalamnya? Karena secara jelas yang disebut manusia ekonomi itu, bukan seorang perempuan.

Isi Buku

Buku ini ditulis oleh Katrine Marcal, seorang penulis dan jurnalis asal Swedia. Ia mengkritisi teori ekonomi liberal yang saat ini menjelma dalam carut-marut sistem neo-liberalisme, yang terlalu menekankan pada egoisme pribadi atau kelompok, dengan mengabaikan kaum marginal, termasuk perempuan.

Judul buku mengacu pada pertanyaan Adam Smith yang menjadi dasar dari ekonomi kapitalis. Siapa yang memasak makan malam untuk Adam Smith? Benarkah hanya karena kepentingan bisnis tukang daging, penjual roti, dan penjaja minuman, yang kemudian membuat Adam Smith dapat menyantap makan malamnya?

Katrine Marcal yang skeptik terhadap teori ekonomi Adam Smith, kemudian mengajukan pertanyaan lain. Siapakah sebenarnya yang memasak makan malam untuk disantap oleh Adam Smith?

Jawabannya, ibunya. Sebagai pria yang melajang sepanjang hidupnya, segala keperluan Adam Smith diurus ibunya.

Sepanjang hidup sang ibu, ia merawat Adam Smith dan memastikan, bahwa Adam Smith dapat menikmati makan malamnya, sehingga sang anak dapat fokus menjalankan pekerjaannya sebagai seorang komisioner pabean di Edinburgh.

Ibu dari Adam Smith, adalah jawaban atas pertanyaan, yang kemudian menjadi judul buku ini. Jawaban dari pertanyaan yang dihapus oleh Adam Smith, tentang bagaimana cara kita mendapatkan makan malam.

Ketulusan seorang ibu yang tak pernah meminta imbalan dari anak laki-lakinya. Dasarnya  apa? Tentu jawabannya cinta. Dari jawaban inilah, Marcal mulai mengulas peran perempuan dalam ekonomi. Peran-peran yang tak dianggap dan tak pernah tercatat dalam kalkulasi statistik PDB suatu negara.

Marcal menyentil Adam Smith, bahwa Adam Smith hanya berhasil menjawab separuh pertanyaan fundamental ekonomi.

Adam Smith tidak mendapatkan makan malamnya, disebabkan para pedagang hendak memenuhi kepentingan diri mereka sendiri dengan berdagang.

Adam Smith mendapatkan makan malamnya, karena sang ibu memastikan makanan tersebut terhidang di atas meja setiap malam.

Satire dan Kocak

Dalam buku ini, Marcal menulis ulasan sangat mengalir. Terkadang satire, dan bahkan kerap dengan bahasa kocak. Sebanyak 16 Bab ditambah prolog dan epilog dalam buku ini berisi refleksi kritis dan satire.

Judul-judul bab juga dibuat tidak biasa, sebagaimana sebuah buku ilmiah. Misalnya, pada salah satu bab, ia beri judul “tambahkan perempuan, lalu aduk”. Atau, judul dalam bab lainnya, “ketika kita melihat rahim bukanlah kapal luar angkasa”.

Dari premis bahwa tidak semua tindakan manusia dilandasi kepentingan ekonomi, seperti yang dilakukan ibu Adam Smith. Marcal melontarkan kritikan tajamnya kepada ekonomi liberal.

Marcal seolah ingin mengatakan, dunia ini terlalu kompleks untuk disimplifikasi dengan hanya sekadar menggunakan standar ekonomi. Di antara korban dari simplifikasi itu, tentu saja, adalah perempuan.

Dalam buku ini, Marcal secara gamblang menggambarkan posisi marginal perempuan dalam dunia ekonomi yang sangat patriarki. Posisi perempuan tetaplah the second class, yang seluruh kerjanya tidak dilihat atau diperhitungkan sebagai pekerjaan yang dikalkuasi dan dihargai secara ekonomi.

Marcal menggelitik, mungkinkah Adam Smith dapat menjadi seorang bapak ekonomi jika tidak ada ibu yang tulus merawatnya? Termasuk, tentunya, memastikan Adam Smith telah siap menyantap hidangan makan malamnya?

Buku yang telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 20 bahasa ini, tidak hanya mengulas dan mengkritisi bagaimana ekonomi mengabaikan pekerjaan perempuan di sektor domestik.

Buku ini juga merupakan rangkaian esai tentang fenomena ekonmi dari berbagai belahan dunia. Marcal mengulasnya dengan gaya narasi sederhana, namun penuh refleksi yang mengajak pembaca untuk berpikir lebih kritis tentang hal tersebut.

Bagi pembaca awam, buku ini memberikan informasi yang cukup kaya, namun tetap dengan ulasan sederhana, dan dengan gaya bahasa mengalir mengenai konsep ekonomi. Melalui buku ini, kita mengenal sisi lain dari sang bapak ekonomi, beserta berbagai problematika ekonomi di dunia.

Meski banyak menyentil dan mengkritik tajam konsep manusia ekonomi dan ideologi ekonomi neo-liberal, tentu kita tidak boleh berekspektasi lebih, bahwa buku ini akan menguliti teori ekonomi liberal secara akademik dan mendalam. Sebab, buku ini tidak ditujukan untuk hal tersebut.

Inti buku ini terlihat pada bagian epilog. Di situ, Marcal menulis, jika kita ingin memahami mengapa kita mengalami kenaikan ketimpangan ekonomi, maka ia kemudian menawarkan perspektif feminis dalam memahami ekonomi.

Feminisme jauh lebih besar dari sekadar “hak perempuan”. Sebagaimana ibu Adam Smith menyediakan makan malam untuk anaknya, dan mengapa hal ini sebenarnya bermakna sangat penting secara ekonomi. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *