Tue. Jan 19th, 2021

BLAM

KEREN

Imam Kecil yang Berpikiran Besar

5 min read

Sumber gambar: nkriku.com

3,830 total views, 2 views today

Oleh: Syamsurijal (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

“Yang umat butuhkan saat ini adalah imam-imam kecil tapi berpikiran besar.”

Kalimat itu dilontarkan Kang Sobari, ketika memberi testimoni dalam penutupan Pertemuan Nasional Jaringan Gusdurian se-Indonesia, Rabu, 16 Desember 2020.

Testimoni Kang Sobari yang segar dan mengalir (maklum, yang bercerita seorang Antropolog), saya ikut dengarkan dengan sesekali terkekeh-kekeh sendirian. Tentu masih ada kalimat lanjutan dari kalimat di atas, dan banyak pula pesan lainnya yang tak kalah menariknya. Tetapi,  saya hanya akan memberikan catatan pada kalimat tersebut.

Mengapa saya tertarik pada kalimat itu? Segera setelah Kang Sobari mengucapkan kata-katanya tersebut, saya lantas teringat dengan satu kisah nyata seorang imam, di sebuah pelosok kampung.

Imam ini hanya berskala kampung. Ya… Dia hanya imam di sebuah kampung kecil yang letaknya di pelosok pula. Tidak mudah menuju ke tempat itu. Jalanannya sangat buruk, becek,  dan berlumpur di musim hujan.  Malam hari, kampung itu selalu berselimut kegelapan, karena belum ada listrik.

Imam kampung ini, sebagaimana laiknya orang kampung, penampilannya sangat biasa. Perawakannya kecil. Ke mana-mana hanya mengenakan kopiah hitam. Bahkan, setelah berhaji, ia masih terbiasa menyungkupkan kopiah hitam di kepalanya.  Ia gemar bercerita dan senang bercanda.

Biasanya, jika imam ini dipanggil dengan sebutan “Pak Imam”, khususnya oleh orang atau pejabat dari kota, ia akan segera menimpali: “Saya hanya imam kecil dari kampung kecil.”

Maksudnya, tentu karena memang ia hanya imam kampung biasa. Ia hanya imam, atau semacam penghulu dalam soal-soal keagamaan, dengan umat yang kecil. Gelarnya pun tak ada. Sekolahnya hanya sampai di Pendidikan Guru Agama (PGA) 6 Tahun. Dan, secara kebetulan,  perawakannya pun tak besar.

Namun, ternyata dalam hidupnya, imam kampung itu memiliki pemikiran besar. Setidaknya, tentu saja, menurut ukuran saya dan orang kampung. Ia tidak sekadar berpikir bagaimana ceramah di masjid. Tidak juga menghabiskan waktunya pidato penuh retorika agama untuk memukau warga kampungnya, siapa tahu kelak bisa dipilih jadi kepala desa.

Ia malah berpikir bagaimana tiap-tiap orang di kampungnya bisa memiliki WC pribadi dan air bersih. Memang, selama ini, orang-orang di kampung itu, saban hari buang hajat di sawah, di ladang atau di parit-parit. Air minum dan mandi juga mengandalkan dari sumur-sumur, yang biasanya kering di musim kemarau.

Bersama beberapa orang, pikirannya ini berupaya diwujudkan. Dan, pucuk dicinta ulam pun tiba. Kebetulan, ada Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang punya program sanitasi dan pengadaan air bersih. Program itu sudah jalan di kampung lain. Pak Imam ini berusaha mendatangi LSM tersebut. Yang diharapkan pun akhirnya terkabulkan.

Bukan hanya itu. Pak Imam kampung ini juga memikirkan bagaimana agar kampungnya bisa diterangi listrik. Tetapi, mengajukan ke PLN tingkat kabupaten, ternyata prosesnya lama. Ia pun berinisiatif langsung ke Kantor PLN di tingkat yang lebih di atasnya.

Berkali-kali Pak Imam datang ke kota yang berjarak seratus kilo lebih dari kampungnya. Ia ingin memastikan,  apakah permohonannya dipenuhi.

Pikiran besarnya (untuk ukuran di kampung itu) pun akhirnya terwujud. Beberapa waktu kemudian, kampung halamannya yang dulu gelap-gulita, kini mulai terang. Televisi yang merupakan barang sangat langka dan istimewa di kampung tersebut, kini bisa disaksikan bersama.

Pikiran-pikirannya itu, membuat orang-orang menghormatinya. Ia telah mencetak harapan menjadi kenyataan. Tetapi, setiap kali pula ia memperkenalkan dirinya, ia akan tetap menyebut dirinya “Imam kecil dari kampung yang kecil.”

Umat Butuh Imam-imam Kecil dengan Pikiran Besar

Saat ini, di tengah kehidupan umat Islam yang penuh tantangan, mereka memerlukan imam-imam kecil yang memiliki pikiran besar.

Imam-imam yang cukup hanya memimpin satu kelompok, imam di organisasi keagamaan tertentu, memimpin satu organisasi pemuda, penghulu umat di kampungnya, dan seterusnya. Tidak harus menjadi atau ingin dianggap imam seluruh umat. Yang paling penting, pikirannya harus besar.

Jadi, setiap kelompok dan organisasi harus punya imam-imam kecil. Imam itu bisa saja yang terpilih secara struktural, bisa juga tidak.

Organisasi semacam PMII, HMI, IMM, hingga yang seperti NU, Muhammadiyah, PGI, dan seterusnya, perlu masing-masing memiliki imam. Imam yang  merasa cukup sebagai imam dari kelompoknya saja.

Para imam di tiap kelompok itulah yang harus berpikir besar. Ciri-ciri imam berpikir besar, adalah senantiasa memikirkan nilai-nilai universal.

Misalnya, soal kemanusian, kebangsaan, keindonesiaan, dan nilai-nilai keagamaan dalam skop universal. Bukan hanya sekadar memikirkan bagaimana memenangkan pemilu, mempertajam pembelahan identitas, dan sekadar memikirkan kelompoknya.

Sebagaimana kisah imam kecil di kampung tadi, imam yang berpikir besar juga akan selalu menabur harapan, bukan menebar ancaman. Ia akan memberikan jalan keluar, bukan menumpuk masalah yang tak kunjung kelar.

Imam-imam dengan pemikiran besar juga akan selalu memikirkan persoalan rakyat yang paling mendasar dan sistemik.

Saat ini, rakyat Indonesia masih dikepung persoalan korupsi, kerusakan lingkungan, eksploitasi sumber daya alam, dan kesenjangan sosial.

Beberapa catatan dan laporan dari lembaga-lembaga pemerhati lingkungan, misalnya, memperlihatkan kerusakan lingkungan yang parah di beberapa tempat di Indonesia.

Begitu pun sumber daya alam di beberapa tempat banyak yang dieksploitasi habis-habisan. Koefisien gini kita masih di kisaran 0,38. Itu berarti, masih ada 38% kekayaan di Indonesia yang tidak tersebar secara merata.

Konon, (saya bilang konon, karena saya menemukan informasi ini hanya dalam status seorang sahabat di media sosial), KH Hasyim Muzadi, pernah ceramah di salah satu organisasi keagamaan. Kiai Hasyim bilang begini:  “Organisasi ini sudah harus bergeser memikirkan hal-hal yang lebih besar.”

Hal-hal semacam, buka warung di siang hari saat bulan ramadan, toko-toko yang menjual minuman keras, prostitusi, dan semacam itu, memang adalah satu persoalan sendiri.

Tentu saja, perlu dicari solusinya dengan cara-cara yang lebih soft. Tetapi, tidak bisa hanya fokus memikirkan hal-hal tersebut. Sebab, dampak yang ditimbulkan hal-hal tadi, mungkin hanya pada sekelompok orang dan tidak sistemik.

Sementara itu , ada persoalan dengan kemudaratan yang ditimbulkan lebih besar dan berdampak sistemik.  Korupsi,  kesenjangan sosial, dan eksploitasi sumber daya alam, adalah di antaranya. Isu-isu tersebutlah yang perlu dipikirkan dan ditindaklanjuti dengan aksi nyata.

Saat itu, konon, imamnya berjanji akan mulai memperhatikan isu semacam itu. Tetapi, sampai saat ini, apakah ia dan organisasinya betul-betul menggeser fokus perhatian dan pemikirannya? Saya sendiri tidak bisa menilai. Tetapi, semua itu tergantung, apakah yang bersangkutan mau berpikir besar atau kecil.

Apakah saat ini telah ada ketua satu organisasi, pemimpin satu aliran, atau imam satu kelompok keagamaan berpikiran besar? Mungkin saja ada, tapi langka. Jarang yang bisa menjadi seperti imam kampung dalam cerita di awal tadi. Tak ada gelar besar, apalagi imbalan besar, tetapi masih mau memikirkan kemaslahatan orang banyak.

Dulu, ada sosok-sosok pemimpin dengan pemikiran besar. Sebut saja KH Hasyim Asyari, KH Ahmad Dahlan, Soekarno, Hatta, Tan Malaka, dan Gusdur. Tetapi kini, sulit mencari pemimpin (imam) dari satu kelompok yang sepadan dengan mereka.

Yang gampang kita temukan, pemimpin yang hanya memikirkan klannya; gemar berebut popularitas, gelar, serta jabatan; ribut saat perhelatan politik elektoral; sibuk berdebat dalam hal-hal sepele; tak pandai membingkai harapan, dan sebaliknya, gemar menebar ancaman.

Gusdur pernah menulis satu artikel berjudul: “Pemimpin dan Kepemimpinan.”

Pada satu bagian, ia bilang begini:

“…Pemerintahan akhirnya jatuh ke tangan mereka yang berambisi politik sangat besar, tetapi tidak memiliki kepemimpinan dengan orioentasi yang benar. Mereka hanya memikirkan kekuasaan golongan sendiri, dan mencari sebesar-besarnya bagi kelompok sendiri, tentu saja dengan mengorbankan kepentingan orang banyak.”

Pemimpin yang bisa berpikir besar memang adalah sosok langka. Itulah, mengapa, sekali lagi, umat betul-betul rindu sosok-sosok imam yang kecil saja, tetapi memiliki pikiran besar. Memang sulit mencari sosok semacam itu. Tetapi, bukan berarti, tidak ada bukan? (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *