Tue. Jan 19th, 2021

BLAM

KEREN

Sekali Lagi tentang Mayoritas-Minoritas

4 min read

Sumber gambar: atmosferku.com

1,557 total views, 2 views today

Oleh: Saprillah (Kepala Balai Litbang Agama Makassar)

Problem relasi sosial yang paling krusial adalah relasi antarkelompok determinan dan kelompok marginal. Determinasi kelompok tertentu, biasanya disebabkan akses terhadap kuasa lebih besar. Akses tersebut disebabkan oleh jumlah nominal yang banyak. Kita menyebutnya kelompok mayoritas.

Hubungan antarumat beragama sangat dipengaruhi oleh relasi mayoritas-minoritas. Relasi ini tidak hanya berada dalam tataran fisik, tetapi juga simbol.

Munculnya istilah sesat, sempalan, dan bermasalah, adalah refleksi dari perspektif mayoritas. Istilah sesat adalah istilah sosiologis, yang berangkat dari perspektif teologis.

Persoalan rumah ibadat, yang menjadi salah satu sumber problem keagamaan di Indonesia, juga muncul dari relasi mayoritaris-minoritas, yang tidak menemukan titik rekonsiliasi yang baik.

Regulasi tentang rumah ibadah yang dituangkan melalui PBM nomor 9 dan 8 tahun 2006 menjadi solusi sementara, tetapi tidak bisa menyelesaikan persoalan pelik ini. Pokok persoalan adalah ide mayoritarinisme.

Definisi Absurd

Meski demikian, mendefinisikan mayoritas tidaklah mudah. Di Indonesia, Islam disebut sebagai kelompok agama mayoritas. Namun, di dalam masyarakat Islam sendiri memiliki varian kelompok bermacam-macam.

Perbedaan ideologi dan gerakan keagamaan menyebabkan sulit menetapkan siapa yang bisa mewakili mayoritas. Begitupula yang disebut minoritas. Agama Kristen, misalnya, seringkali disebut kelompok minoritas. Siapa yang mewakili Kristen yang minoritas itu? Tidak jelas. Padahal, Kristen memiliki banyak denominasi.

Istilah denominasi mayoritas dan minoritas pun terjadi. Beberapa wilayah di Indonesia didominasi oleh penduduk Kristen, seperti Papua dan Manado. Di dua tempat ini, Kristen menjadi representasi mayoritas dan agama lain (termasuk Islam yang secara nasional adalah mayoritas) adalah minoritas.

Yang disebut kelompok Islam mayoritas di Indonesia, adalah Sunni atau kelompok masyarakat Islam, yang mengklaim sebagai penganut ahlussunnah wal jamaah. Di luar masyarakat Sunni, adalah kelompok minoritas dalam agama Islam di Indonesia.

Sebagai penganut teologi mayoritas di Indonesia, kelompok Sunni memiliki kekuasaan untuk memberi definisi sesat, menyimpang atau istilah apapun kepada kelompok yang berada di luar garis teologis Sunni.

Tidak mengherankan, ada sekelompok Sunni di Indonesia percaya, bahwa Syiah itu sesat dan bukan bagian dari Islam. Oleh karena bersifat sosiologis, istilah sesat tidaklah tetap, tetapi dinamis.

Quasi-Mayoritas

Dalam konteks masyarakat multiideologi, pemisahan dua kelas besar menjadi rumit dan tidak cukup digunakan untuk menjelaskan fenomena sosial yang ada.

Di Indonesia, berkembang dua jenis kelompok minoritas Islam. Minoritas dalam pengertian sub-kultur dan subordinat (berada di luar kelompok mayoritas dan mengembangkan ideologi keagamaan sendiri, seperti Ahmadiyah dan Syiah) dan minoritas sub mayoritas (kelompok yang secara jumlah kecil, tetapi berada dalam ideologi yang sama dengan kelompok mayoritas. Mereka bisa disebut sebagai “quasi mayoritas”).

Dalam banyak hal, mereka mengembangkan pendekatan, cara pandang keagamaan, gerakan, serta tujuan akhir yang berbeda.

Mereka yang masuk dalam kategori ini, adalah FPI, kelompok salafi, dan HTI. Perkembangan yang menarik terjadi dalam kelompok berhaluan salafi.

Di antara mereka, ada yang berkembang menjadi bagian dari kelompok mayoritas, seperti Wahdah Islamiyah (WI), yang ditandai dengan terlibatnya mereka dalam konsorsium otoritas keagamaan nasional (MUI).

Ada pula kelompok salafi yang berkembang menjadi kelompok subkultur, seperti Niqab Squad Makassar. Kelompok yang secara ideologis berbasis pada salafisme, tetapi mengembangkan komunitas mandiri dan sistem hidup yang spesifik.

Jadi, bisa disimpulkan, struktur sosial masyarakat Islam di Indonesia ada tiga, yaitu:

Kelompok mayoritas (dalam pengertian ideologi, jumlah, dan akses terhadap sumber-sumber kekuasaan terutama kepada negara), kelompok minoritas dalam mayoritas atau bisa disebut kelompok quasi mayoritas (kelompok yang secara jumlah minoritas, tetapi memiliki psikologi sebagai mayoritas), dan minoritas subordinat/subkultur (kelompok minoritas yang secara ideologi keagamaan berbeda dengan kelompok mayoritas dan menjadi sasaran sub-ordinasi dari kelompok mayoritas dan quasi mayoritas).

Persolan kontestasi keagamaan di Indonesia justru banyak dipicu oleh kelompok quasi mayoritas ini. Sebagai bagian dari mayoritas, kelompok quasi mayoritas ini merasa bertanggungjawab untuk ‘meluruskan’ moralitas dan akidah Islam sunni yang terinterupsi.

Dalam konteks ini, mereka berkontestasi dengan kelompok mayoritas Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.

Sebagai bagian dari kelompok mayoritas, NU dan Muhammadiyah merasa memiliki tanggungjawab untuk menjaga akidah Sunni dari pengaruh kelompok subordinat. Mereka tidak segan-segan melakukan tekanan, intimidasi, dan penyerangan terhadap kelompok yang dianggap sempalan.

Paradigma keagamaan yang hitam putih dan berorientasi pada ‘pemaksaan ideologi’, menyebabkan kelompok quasi mayoritas ini rentan terhadap perbedaan, yang berarti rentan konflik, baik dengan kelompok minoritas subordinat, dengan kelompok mayoritas, atau dengan sesama kelompok quasi mayoritas.

Relasi antarkelas dalam teori konflik, adalah relasi kuasa. Kelompok minoritas (termasuk quasi mayoritas) berada di bawah kontrol kelompok mayoritas (yang sering kali berkonsolidasi dengan kepentingan negara).

Stigma sesat kepada Ahmadiyah dan Syiah, adalah produksi wacana kelompok mayoritas terhadap kelompok minoritas subordinat. Sedangkan stigma radikal, fundamental, wahabi, juga diciptakan oleh kelompok mayoritas (bersama dengan negara) melalui serangkaian riset dan kajian-kajian.

Kerja intelektualisme yang sebagian besar berada dalam kepentingan negara membangun stigma yang bertujuan untuk mendelegitimasi keberadaan kelompok quasi mayoritas.

Bersamaan dengan itu, kelompok quasi mayoritas kesulitan untuk mengelak dengan banyaknya kasus-kasus yang membenarkan asumsi stigma itu.

Berbeda dengan konflik kelas dalam perspektif Marxisme, konflik dalam konteks keagamaan bersifat immateri.

Perjuangan kelas minoritas dalam konteks relasi antarkelompok keagamaan,  adalah perjuangan identitas yang bersumber pada agama. Mereka tidak datang untuk merebut sumber daya kelompok mayoritas, tetapi untuk menegaskan identitas kelompok mereka dalam struktur sosial.

Kontestasi keagamaan dalam bentuk debat wacana adalah inheren dalam kelompok keagamaan Islam. Sebagaimana postulat yang populer dalam teori konflik, konflik inheren tidak terpisahkan dalam suatu masyarakat.

Dalam konteks masyarakat Islam, tidak ada satu pun kelompok yang terbebas dari perselisihan, baik yang bersifat wacana maupun dominasi, yang berimplikasi pada munculnya aliansi-aliansi baru dalam kelompok.

Bahkan, kelompok Jamaah tabligh yang dikenal sangat sederhana dan anti politik, mengalami kontestasi yang berujung pada munculnya dual identitas. Kecuali, Muhammadiyah yang sanggup mengelola konflik internal dalam area yang normal. Tidak ada kelompok baru dalam tubuh Muhammadiyah yang muncul.

Kontestasi keagamaan adalah bentuk relasi kuasa yang mempertemukan berbagai kelompok. Dominasi dan subordinasi menjadi kata kunci untuk memahami bagaimana kontestasi berlangsung.

Kontestasi yang tidak bisa dikelola dengan baik bisa berimplikasi pada konflik sosial. Eskalasi konflik meluas, karena pergeseran pertentangan tidak menemukan jalan keluar yang baik.

Ketegangan sosial muncul sebagai ekspresi dari dialog yang tidak menemukan titik temu dan dua kelompok merasa berada dalam rel kebenaran, meski dengan tafsir yang berbeda. Kekerasan menjadi bentuk lain dari kontestasi yang berbasis pada konstruksi ideologis dan identitas kelompok. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *