Tue. Jan 19th, 2021

BLAM

KEREN

Menyambangi “Makam Keramat” Pangeran Aji Kemala di Gunung Kemendur Balikpapan

5 min read

Makam Aji Kemala di Gunung Kemendur Balikpapan. Sumber foto: balikpapanguide.wordpress.com

2,348 total views, 2 views today

Oleh: Sitti Arafah (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Kota Balikpapan memiliki pesona keindahan yang cukup elok. Tata kota cukup rapi, asri dan menyejukkan. Pada sisi lain, dapat juga dikatakan kota yang “sumpek” dengan kepadatan bangunan-bangunan menjulang tinggi, serta dijumpai pemukiman-pemukiman padat penduduk.

Namun demikian, masih dapat dijumpai nuansa alam natural di Balikpapan, berupa hutan atau area perbukitan  di perkotaan, atau disebut “hutan kota.”

Sembari menunaikan tugas dan menghilangkan kejenuhan, saya pun men-share tempat-tempat wisata di Kota Balikpapan.

Akhirnya, saya menemukan satu tempat wisata bersejarah di Balikpapan, yaitu wisata ziarah Gunung Kemendur di Kampung Pelayaran (Prapatan), Balikpapan Kota. Di sini, terdapat sebuah makam salah seorang keturunan Raja Kutai.

Penasaran dengan keberadaan makam tersebut, saya meminta salah seorang kerabat untuk menemani. Saya memanggilnya Mbak Sum. Ia ternyata belum pernah mendatangi tempat tersebut, tetapi mengetahui jika di gunung tersebut terdapat sebuah makam yang dianggap keramat. Maka, kami bersepakat mencari waktu yang tepat untuk menyambanginya.

Pada Minggu, 14 Juli 2019, pukul 14.00 Wita, mengendarai sepeda motor, kami berangkat menuju Gunung Kemendur. Perjalanan kami tempuh kurang lebih 30 menit, melewati jalan bebukitan dan menanjak.

Untuk sampai area Gunung Kemendur, akses jalannya cukup baik (paving blok). Hanya perlu nyali besar untuk mencapainya.

Setelah tiba di Puncak Gunung Kemendur, saya melihat ke sekeliling. Yang tampak adalah lautan lepas (teluk Balikpapan) dari ketinggian.

Kami menunggu kurang lebih 30 menit di sebuah kafe. Sang pemilik café baru membuka cafenya pukul 15.00 Wita. Apa kaitannya dengan cafe? Ternyata, rumah sang juru kunci makam berada tepat di samping cafe. Dan, untuk mendatanginya harus melewati cafe tersebut, sekalian menitipkan kendaraan di situ.

Kami berjalan menuruni anak tangga menuju rumah di atas bukit, yang tak lain rumuh juru kunci makam. Tiba di rumah juru kunci, kami lalu mengucapkan salam. Juru kunci menjawab salam kami, dan menyambut kami dengan wajah bersahaja. Ia pun mempersilakan masuk.

Nama juru kunci makam adalah Suroto, yang saya taksir berusia 60. Ia menerima kami dengan senang hati. Apalagi, Mbak Sum sudah mengenal Pak De, panggilan akrab Suroto. Setelah berkenalan, kami mengutarakan tujuan kedatangan kami, yakni ingin menziarahi makam tersebut yang dianggap keramat oleh masyarakat di Balikpapan.

Setelah mengutarakan maksud kedatangan kami, Pak De Suroto tak lantas mengiyakan dan mengantar kami. Sejenak ia terdiam, sambil memejamkan matanya. “Mungkinkah Pak De menyampaikan hajat kami secara batin terlebih dahulu kepada pemilik makam?” gumanku dalam hati.

Saya pun ikut terdiam. Beberapa menit kemudian, ia berkata kepada kami. “Mari ke atas. Sudah ada yang menjemput.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, ada rasa yang bercampur aduk, antara percaya dan tidak percaya dengan apa yang ucapkan oleh Pak De.

Dengan rasa penasaran, saya pun memberanikan diri bertanya kepada Pak De apa maksud dari kalimat “ada yang menjemput?”

Dengan mimik serius, Pak De menjawab, bahwa kami “beruntung.”

“Tidak semua yang datang untuk menziarahi makam tersebut dapat sampai ke sana. tapi kalian diperkenankan untuk menziarahinya,” katanya. Saya pun semakin penasaran dengan cerita Pak De. Namun, saya tak ingin lagi menggali informasi yang berbau mistis lebih dalam.

Tiba-tiba ada perasaan takut menyelimuti hati dan pikiran kami, ketika mengajak untuk segera beranjak menuju makam.

Namun, karena niat awal ingin berziarah, kami akhirnya beranjak dan mengikuti dengan menggunakan motor. Kami masih harus melewati tanjakan sekitar 15 menit untuk sampai di jalan setapak menuju area pemakaman.

Area pemakaman ini dikelilingi rindangnya pepohanan. Kami melewati setapak kecil,  yang di samping kiri terhampar bebukitan, dan di samping kanannya tampak jurang-jurang.

Dengan mengikuti Pak De yang berjalan di depan saat menelusuri setapak kecil, sesekali bulu kuduk merinding. Dengan diselimuti perasaan takut, kami berjalan tanpa sekali pun mengeluarkan suara. Dan, akhirnya kami tiba di sebuah rumah,/pendopo berdinding kayu.

Pak De sendiri yang membuat rumah/pendopo. Ia membangun menggunakan biaya yang disedekahkan para peziarah. Di dalam rumah/pendopo inilah, makam Pangeran Aji Kemala  berada.

Entah apakah ini secara kebetulan, ataukah memang setiap yang datang menziarahi senantiasa mencium aroma wewangian yang menyengat, seperti yang saya rasakan dari area makam. Aromanya mirip kemenyan, bahkan mirip dengan aroma parfum dari tanah Arab.

Ketika memasuki rumah  yang di dalamnya teradapat makam Pangeran Aji Kemala, tak terlihat adanya dupa atau kemeyan yang dibakar. Lalu, dari manakah sumber bau-bauan wewangian tersebut?

Setelah juru kunci membuka pintu, lalu memberi salam dan masuk ke dalam, saya pun ikut masuk dan tentunya mengucapkan salam sebagai bentuk penghargaan terhadap “pemilik rumah”.

Saya mengambil posisi duduk berhadapan dengan sebuah makam berbentuk segi empat, yang di dalamnya terdapat nisan kayu dan terbalut kain putih. Makam tersebut juga ditutupi kelambu warna kuning, hijau, dan putih.

Saya merasakan aroma wewangian itu semakin menyengat. Saya penasaran karena tak menemukan adanya kepulan asap atau kemenyan yang di bakar. Dari manakah sumber wewangian itu? Apakah sang pemilik makam hadir saat itu. Akhirnya, saya pun mengirimkan Al-Fatihah kepada sang pemilik makam, yang merupakan saah satu keturunan Raja Kutai.

Kami kemudian berbincang-bincang dengan Pak De. Ia menjelaskan tentang makam tersebut, yakni Makam Aji Kemala bergelar Aji Pangeran Karta Intan bin Sultan Aji Muhammad Sulaeman, salah seorang penganjur Islam di Bumi Kalimantan.

Pencarian makam tersebut awalnya dilakukan oleh keluarga Kerajaan Kutai sendiri, yakni Pangeran Sumantri. Makam tersebut baru ditemukan di Gunung Kemendur pada 2010.

Selain makam Aji Kemala, juga ditemukan beberapa petilasan, atau tempat pertapaan orang-orang dahulu. Di antaranya, petilasan dari Kerajaan Majapahit dan kerajaan dari Sulawesi (Bone).

“Ada juga goa, yang dulunya bekas tinggal orang Jepang,” kata Pak De.

Keberadaan makam tersebut lambat laun mulai diketahui masyarakat, sehingga banyak yang datang berziarah.

“Bagi yang berkunjung, cukup hanya menziarahi dan mengirimkan doa. Jangan melalukan hal-hal yang dapat melanggar ketentuan agama, seperti meminta sesuatu hajat melalui makam tersebut. Berdoa tetap ditujukan kepada Allah Swt, tetapi mungkin ada tawassulnya, khususnya kepada mereka yang dianggap memiliki karamah,” imbuhnya.

Setelah mendapat penjelaskan tentang makam dan tempat-tempat lain di sekitar makam, serta hal-hal yang tidak boleh dilakukan peziarah, saya lalu melanjutkan perbincangan untuk mendapatkan informasi siapa sosok Sultan Aji Kemala?

Dalam penuturannya, ia mengatakan, Sultan Aji Kemala bergelar Aji Pangeran Aji Kerta Intan, merupakan keturanan Raja Kutai, putra salah seorang Raja Kutai, Aji Sultan Muhammad Sulaiman, Raja Kutai ke18. Makam tersebut baru ditemukan sekitar 2010 oleh kerabatnya.

Berdasarkan penelusuran, maka ditemukan data yang bersumber dari Balikpapan Pustaka, pangkalan data dan informasi, bahwa Pangeran Aji Kemala Gelar Pangeran Aji Karta Intan, merupakan putra ke-20 dari Raja Kutai ke-18, bernama Aji Muhammad Sulaiman, sebagai raja yang memerintah di Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Marthadipura (1850-1899). Penemuan makam Sultan Aji Kemala tepat pada Jumat, 19 Februari 2010. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *