Wed. Jan 20th, 2021

BLAM

KEREN

Islam dan Budaya Lokal di Indonesia

5 min read

Sumber foto: bacaanmadani.com

2,544 total views, 8 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Secara geografis, Indonesia berada pada titik peripheral dari dunia Islam. Inodnesia berada jauh dari pusat sentral Islam yang berada di Timur Tengah. Sisi lain, Indonesia merupakan negara kepulauan dengan budaya dan etnik yang beragam.

Hal ini menjadi faktor penentu pembentukan identitas budaya Islam Indonesia yang lokal, yang khas, dan yang plural. kesemua hal itulah yang menjadi esensi dari identitas kebudayaan Indonesia.

Dalam konteks Indonesia, pergulatan pemikiran dan kebudayaan Islam tidak dapat melepaskan diri dari aspek lokalitas sebagai bagian penting. Ini menunjukkan, dalam perjumpaan Islam dan budaya lokal Indonesia mengalami modus yang berbeda-beda.

Setiap lokalitas budaya di Indonesia memiliki cara pandang dan cara respon yang berbeda dalam memahami dan menyikapi perjumpaan Islam dan budaya lokal. Dalam kasus Islam, dikarenakan kedatangan Islam menggunakan modus kebudayaan dalam penyebarannya.

Sebagaimana dikatakan Gus Dur (2006), Penyebaran Islam di Indonesia disampaikan secara damai antara lain melalui budaya. Islam masuk melalui pendekatan budaya tertentu. Akhirnya, apa yang tadinya dianggap sebagai tindakan penyebaran agama, kemudian diterima sebagai adat di berbagai daerah.

Islam hadir di Indonesia membawa transformasi pada kebudayaan lokal. Transformasi adalah sebuah proses pengalihan total dari bentuk lama menuju suatu bentuk baru yang akan mapan.

Transformasi dapat diandaikan sebagai sebuah proses yang berlangsung lama secara gradual. Selain itu, transformasi dapat diandaikan sebagai sebuah titik balik yang cepat bahkan absolut. Transformasi kebudayaan tidak hanya berkaitan dengan bentuk-bentuk kebudayaan, melainkan juga berkenaan dengan nilai-nilainya.

Kehadiran Islam yang melakukan transformasi kebudayaan di Indonesia, membuat kebudayaan lokal di Indonesia mengalami pengalihan sistem kebudayaan menjadi sebuah bentuk baru yang kemudian dianggap mapan, bercita-rasa Islam namun tetap tak kehilangan identitas lokalnya.

Islam Indonesia adalah Islam yang tumbuh dan berkembang dalam lingkungan dan pengaruh tradisi lokal. Langkah-langkah yang ditempuh untuk memasyarakatkan ajaran Islam dalam konteks keindonesiaan dalam kemasan lokal dimulai semenjak Islam masuk di negara ini.

Keberhasilan Islam masuk dan menyebar secara massif di wilayah Indonesia, terutama di daerah-daerah yang memiliki pengaruh kultur Hindu-Buddha yang amat kuat merupakan hasil dari kelonggaran-kelonggaran yang diberikan kepada tradisi setempat, yang sebagian merupakan tradisi asli dan sebagian lagi merupakan tardisi Hindu-Buddha.

Pergumulan Islam dengan tradisi lokal di Indonesia, melahirkan sebuah akulturasi kultur Islam yang sedikit banyak telah kehilangan wajah dan nilai kearabannya.

Dengan demikian,  menjadikan wajah Islam Indonesia menjadi khas dan berbeda dengan wajah Islam di dunia manapun.

Faktor kelonggaran dan keterbukaan dalam proses penyebaran Islam menyebabkan corak keberIslaman masyarakat Indonesia cenderung mempertahankan praktik budaya aslinya.

Hal ini disebabkan pengaruh dari nilai-nilai universal yang terkandung dalam ajaran Islam yang kemudian diapresiasi oleh para penyebar Islam dalam pola dakwah mereka. Islam kemudian diposisikan sebagai pihak yang menampung dan mengakomodasi budaya lain, bukan pihak yang mengubah atau mengintervensi budaya.

Masyarakat Plural

Sebagaimana dikatakan JS Furnivall (dalam Nasikun, 2007), bahwa realitas sosio-kultural masyarakat Nusantara adalah majemuk (plural society). Islam hadir dengan memasuki keanekaragaman tersebut dan berintegrasi di dalamnya, hingga Islam di Indonesia mampu tampil dalam kemasan dan perwajahan budaya-budaya lokal Indonesia yang khas, unik, dan plural.

Nur Syam (2003) menawarkan istilah Islam kolaboratif. Yaitu, realitas keberagamaan (keberIslaman) yang mengadopsi unsur-unsur lokal, yang tidak bertentangan dengan Islam dan menguatkan ajaran Islam melalui transformasi secara terus menerus.

Dengan demikian, Islam hadir untuk membawa spirit transformasi kebudayaan menuju suatu keadaan masyarakat yang lebih baik, namun bukan berarti Islam bersifat disruptif atau menghapus dan menghabisi setiap tradisi yang telah berkembang di suatu amsyarakat.

Dalam konteks Indonesia, berbeda dengan Hindu dan Buddha yang datang dengan “memindahkan” simbol-simbol dan budaya India. Islam datang ke Nusantara tidak dengan membawa simbol-simbol Islam Timur Tengah.

Bahkan, dalam penyebarannya, Islam melakukan akomodasi terhadap kultur masyarakat setempat. Contoh paling populer untuk menunjukkan tradisi ini adalah tradisi keberIslaman yang dilakukan oleh ormas Nahdlatul Ulama (NU) dengan tradisi tahlilan dan manaqibannya.

Semaraknya tradisi pendidikan agama di indonesia berupa pesantren yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, serta dalam wujud seni dan arsitektur dalam membangun masjid yang berbeda dengan arsitektur Timur Tengah.

Islam yang kini menjadi agama mayoritas di Indonesia merupakan hasil dari proses panjang inkulturasi budaya yang tentu saja mengilustrasikan adanya sebuah dialektika intensif antara ajaran Islam dengan tradisi dan tata nilai masyarakat Indonesia.

Hal ini membuat Islam tampak seperti tradisi asli yang sulit untuk dihilangkan begitu saja. Sehingga, bicara tentang Islam, juga kerap identik dengan etnik atau budaya Indonesia.

Mengenai proses akulturasi antara Islam dan tradisi lokal, ajaran yang ditekankan dalam Islam cukup hanya berperan dalam kerangka untuk memberikan fondasi dan nilai bagi tradisi-tradisi tersebut.

Pada sisi inilah, Islam memberikan pengaruh yang sangat besar bagi tatanan sosio-kultural, dan bahkan politik di masyarakat Indonesia.

Sejak berdirinya kerajaan-kerajaan Islam mulai abad ke XIII, Islam telah menancapkan pengaruh politiknya dan pengaruh ini terus berlanjut bahkan tidak hilang meski penjajah Belanda datangmenjajah Indonesia selama berabad-abad.

Islam menjadi spirit dalam melakukan perlawanan terhadap penjajah dengan doktrin jihad dan cinta tanah air. Sehingga masa Indonesia modern, Islam tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Namun, yang menjadi kekhasannya adalah,

Islam yang tampil memengaruhi bukan pada aspek simbol, tapi pada aspek nilai, bukan pada aspek ideologi tapi pada aspek kultural. Pancasila merupakan hasil kompromi antara Islam dan budaya lokal Indonesia dalam sebuah pandangan hidup, ideologi, dan sistem politik Negara Republik Indonesia.

Di sebagian etnis di Indonesia, mengafirmasi Islam sebagai bagian integral dalam identitas sosio-kultural mereka. Bahkan, Islam pun kemudian masuk berdifusi dalam struktur dan sistem budaya setempat. Islam bahkan ditempatkan dalam bagian penting dalam identitas dan struktur kebudayaan.

Misalnya, dalam masyarakat Miang sejak penerimaan Islam terkonstruksi sebuah falsafah budaya, adat basandi sara, sara basandi kitabullah (adat bersendi syara’, syara’ bersendi kitabullah).

Prinsip yang sama juga ditemukan dalam budaya masyarakat Gorontalo, Adati hulo-huloqa to saraqa, saraqa hulo-huloqa to huraqani”. Meskipun Islam diterima sebagai bagian integral dari identitas dan struktur kebudayaan, namun nuansa lokalitas pada dua kasus etnik tersebut masih tetap terasa.

Model yang sedikit berbeda tampak pada masyarakat Banggai Sulawesi Tengah dengan falsafah budaya “Hadat bersendi syara’ dan syara’ bersendi hadat”(Syara’ bersendi adat, dan adat bersendi syara’).

Keragaman model perjumpaan dan penerimaan Islam dengan budaya lokal di Indonesia, membuat tidak bisa dilakukan generalisasi wajah budaya Islam Indonesia. Penyeragaman tersebut akan menghilangkan karakteristik khas yang menjadi keunikan setiap lokalitas etnis di Indonesia.

Untuk membaca model wajah budaya Islam di Indonesia, harus dibaca secara sistematis mulai dari bentuk-bentuk perjumpaan yang antara setiap etnis berbeda satu dengan lainnya. Dalam aras besar, misalnya, antara Islam yang diterima oleh budaya Jawa dan Melayu.

Dalam kasus Jawa, Islam dan budaya mengambil pola dialogis, maka sebaliknya, dalam budaya Melayu mengambil bentuk yang integratif.

Dalam kasus Jawa, Islam berhadapan dengan budaya Kejawen bahkan muncul dalam bentuk ketegangan ketika Islam mulai menyebar di masa kolonial.

Adapula resistensi dari budaya lokal dan tradisi yang sudah mengakar. Sehingga kemudian muncul ketegangan antara penafsiran Islam yang legal (normatif) dan penafsiran Islam yang cenderung mistis.

Dalam pola integrasi, di mana Islam berkembang dan masuk menjadi penyangga terpenting dalam struktur masyarakat, termasuk dalam urusan politik. Gambaran ini tampak pada model kebudayaan Islam Melayu,

Islam terbentuk menjadi karakter bagi kelangsungan budaya di lapisan masyarakat. Secara kultural kemudian menjadi model sebagaimana yang berjalan dalam setiap struktur masyarakat.

Akhirnya, melihat keragaman model tersebut, dalam membaca perjumpaan Islam dan sebuah budaya lokal tertentu harus dipandang dan dieksplorasi secara khusus dengan memandang tradisi lokal tersebut secara an sich atau otonom. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *