Tue. Jan 19th, 2021

BLAM

KEREN

KUA Gantarangkeke Bantaeng Memerlukan Fasilitas Suscatin 

2 min read

Inilah Tim BLAM yang berkunjung ke Kabupaten Bantaeng, Sulsel. Foto: Istimewa.

1,736 total views, 4 views today

BANTAENG, BLAM – Kantor Urusan Agama (KUA) di Kecamatan Gantarangkeke, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, memerlukan fasilitas kursus calon pengantin (suscatin), berupa materi bahan ajar dan ruangan khusus.

“Di KUA Gantarangkeke belum dilengkapi fasilitas peningkatan mutu materi kursus pengantin dan ruangan khusus,” kata Peneliti BLAM, Rahman Arsyad, usai melakukan koordinasi pemetaan isu-isu aktual penelitian BLAM proyeksi 2022, di Bantaeng, 9-11 Desember 2020.

Dua peneliti lain yang juga sama-sama ke Bantaeng, adalah Muhammad Nur dan Syamsurijal. Tiga peneliti ini didampingi Kepala Urusan Umum BLAM, Asnianti.

Sejak 2014, kemenag mengadakan prorgam mengenai kebijakan biaya nikah gratis bagi pasangan yang ingin melangsungkan akad nikah di KUA. Ini berlaku pada hari dan jam kerja. Sementara, bagi yang menikah di luar KUA dikenakan biaya Rp. 600 ribu, yang dibayarkan melalui setoran bank, bukan lewat petugas.

Pada 2015, BLAM pernah meneliti soal pelayanan KUA di kawasan timur Indonesia. Berdasarkan temuan riset BLAM saat itu, hampir semua KUA sudah memiliki balai nikah yang dilengkapi “kursi adat” (pelaminan), serta ruanganmemadai untuk menggelar kurus pengantin.

Temuan isu-isu aktual lain yang bisa dijadikan pertimbangan bahan riset di Bantaeng, adalah tradisi lokal keagamaan masyarakat yang bisa dikaitkan dengan Moderasi Beragama, serta minimnya referensi soal masuknya enam agama “resmi” Indonesia di Bantaeng.

Tim Peneliti BLAM memperoleh sejumlah informasi tersebut, setelah mengobrol dengan beberapa pejabat di Kemenag Bantaeng, yaitu Kepala Seksi Zakat dan Wakaf, Kepala Seksi Madrasah, dan Kepala Bimas Islam. (ir)

Berikut temuan isu aktual di Bantaeng untuk bahan riset BLAM 2022:

  • Pelayanan KUA (Suscatin) perlu dilengkapi fasilitasnya berupa peningkatan mutu materi dan ruangan khusus.
  • Peran penyuluh memberikan pembinaan dan pemahaman keagamaan.
  • Peningkatan Kompetensi Guru PAI terhadap etika moral.
  • Implementasi Pendidikan Agama lewat MULOK.
  • Efektivitas Pembelajaran PAI Melalui (virtual).
  • Peningkatan Kapasitas dan Perekrutan Guru PAI.
  • Pengawasan Orang Tua terhadap Anak dalam Menggunakan Teknologi (Medsos).
  • Tradisi Masyarakat Bantaeng dalam Pelestarian Budaya Ziarah.
  • Jaringan Ulama Perlu di Lakukan Penelitian Lanjutan (Sejarah Masuknya Islam di  Bantaeng).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *