Wed. Jan 20th, 2021

BLAM

KEREN

Yang Lokal versus Yang Global

6 min read

Sumber gambar: lektur.id

1,640 total views, 6 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Lokalitas vs Globalitas

Lokalitas adalam sebuah terminologi sosial yang merujuk pada sekelompok orang, yang menempati sebuah ruang geografis tertentu, dan memiliki kesamaan identitas kolektif.

Lokalitas identik dengan sebuah ruang kecil kebudayaan, yang kerap diperhadap-hadapkan dengan ruang besar kebudayaan, yang disebut globalitas.

Globalitas adalah sebuah narasi besar kebudayaan dan lokalitas merujuk pada sebuah narasi kecil kebudayaan yang memiliki batasan ruang tertentu.

Oleh karena itu, dalam perjumpaan kebudayaan, “yang lokal” sering diposisikan sebagai “pinggiran”, sedangkan “yang global” kerap diasosiasikan sebagai “pusat.”

Lokalitas kerap diidentikkan dengan masyarakat minoritas yang secara demografi terbatas, bersifat lokal, dan tidak memiliki kekuatan sosial untuk memengaruhi masyarakat luas melalui arena-arena politik. Sedangkan globalitas, adalah masyarakat luas yang dapat dilihat sebagai kekuatan dominan.

Sejatinya, persoalan lokalitas dan globalitas, tidaklah sekadar persoalan relasi dikotomik antara pusat dan pinggiran, antara “yang global” atau “yang nasional” dan “yang lokal”.  Bukan pula relasi yang bersifat hirarkis antara “yang superior” dan “yang inferior.”

Persoalan lokalitas adalah bagaimana kategori-kategori kelokalan dan keglobalan, yang pusat dan yang pinggiran berwujud dalam sebuah konteks. Juga, bagaimana semuanya itu berproses menjadi sebuah konstruksi yang memungkinkan dominasi maupun subordinasi.

Kebudayaan

Lokalitas secara kebudayaan sering dipahami sebagai ruang bagi komunitas yang memiliki pesona eksotik, artistik, antik, dan kuno yang merupakan penciri esensialnya.

Karena hal tersebutlah, lokalitas kerap diidentikan dengan sesuatu yang bersifat tradisional, primitif, konservatif, ortodoks, terbelakang, dan merupakan lawan dari sesuatu yang disebut modern yang maju, progresif, dinamis, dan berperadaban.

Pada dasarnya, lokalitas tidak hanya menempati ruang yang mati, statis, immobile, dan tidak dialektis, melainkan sesuatu yang dinamis, bisa dimaknai, bisa diciptakan, diracik, dan juga dimanipulasi.

Dengan demikian, sebagai sebuah ruang lingkup, lokalitas cenderung bersifat elastis dan dialektis. Elsastisitasnya terletak pada modus kultural yang cair dan dapat berubah seiring perubahan sejarah dan ruang sosial.

Dialektis, karena lokalitas selalu berinteraksi dengan lokaliats yang lain dalam sebuah ruang global, akhirnya terjadi dialektia kebudayaan yang saling mengisi, saling memberi dan menerima.

Demikian pula, lokalitas sebagai yang identik dengan lokus yang kecil, pinggiran, pratikular, dan minoritas pun selalu berdialektika dengan globalitas yang identik dengan lokus yang besar, universal, sentral, dan mayoritas.

Dalam hal kebudayaan, menurut teori diferensialisme kultural, bahwa antarbudaya terdapat perbedaan-perbedaan yang kekal, yang sebagian besar tidak terpengaruh oleh adanya globalisasi.

Hal ini bukan berarti, bahwa budaya tidak terpengaruh oleh semua proses globalisasi. Yang dimaksud adalah inti-inti budaya tersebut tidak terpengaruh oleh semua proses globalisasi.

Dengan demikian, globalisasi hanya terjadi pada level permukaan. Sejatinya, pada kedalaman substansi, budaya adalah keunikan atau kekhasan masing-masing entitas kelompok kebudayaan.

Globalisasi berada pada level permukaan, sedangkan pada kedalaman budaya disitulah terletak budaya yang genuine, yang menjadi karakteristik atau esensi setiap lokalitas.

Identitas

Lokalitas dalam teori identitas biasanya dibicarakan dalam konteks esensialisme dan anti esensialisme. Pencarian identitas yang didasarkan pada esensialisme, berarti bahwa harus ada sesuatu sebagai inti universal dan abadi.

Esensialisme berasumsi, deskripsi tentang diri mencerminkan suatu identitas yang esensial. Berdasarkan hal tersebut, maka ada esensi yang berbeda antara satu komunitas lokal dengan komunitas lokal lain, serta antara “yang lokal” dan “yang global.”

Sebaliknya, menurut paham anti-esensialis, identitas adalah sebuah konstruksi yang bersifat diskursif dan berubah maknanya menurut ruang, waktu, dan pemakaian.

Namun, perbedaan tersebut tidak dalam kerangka yang vis a vis. Tetap ada ruang saling mengisi antara satu sama lain. Pada tataran pemaknaan pun sangat mungkin berubah sesuai dengan situasi ruang dan waktu tertentu.

Lokalitas sebagai sebuah identitas yang erat dengan sebuah komunitas lokal yang berbasis etnik atau kultural tertentu, merupakan sebuah identitas yang embedded. Identitas tersebut berakar kuat pada setiap anggota komunitas, dan tidak serta merta dapat lepas begitu saja karena sebuah tendensi atau pengaruh tertentu.

Lokalitas sebagai sebuah identitas yang identik dengan komunitas etnik atau kultural tertentu adalah suatu konstruksi kompleks yang mencakup komitmen dan perasaan kebersamaan pada suatu kelompok. Identitas lokal disusun dan dikonstruksi dalam kaitannya dengan sejumlah hubungan dengan other (yang lain).

Sebagai sebuah identitas yang terbentuk, banyak pemaknaan yang kemudian hadir tentang istilah “lokalitas”.

Istilah lokal kemudian dipersandingkan bahkan kerap diperhadap-hadapkan dengan istilah global.

Dari sini kemudian muncul istilah central and periphery (pusat dan pinggiran). Istilah lokalitas kemudian diasosiasikan dengan istilah pinggiran yang berada di luar pusat, khususnya pusat kekuasaan.

Sebagai sebuah identitas sosial, lokalitas merupakan identitas yang berakar dan mengikat individu yang dihimpunnya.

Lokalitas sebagai identitas terbentuk dari keterlibatan, rasa peduli, dan rasa bangga individu sebagai bagian dari kelompok sosialnya yang diyakininya memiliki nilai-nilai luhur dan identitas yang membanggakannya.

Kebanggaan pada identitas lokal tersebut diikat oleh common sense berupa simbol-simbol yang secara bersama disepakati dan disakralkan.

Simbol merupakan akumulasi dari makna yang digambarkan oleh interpretasi pemikiran manusia yang merupakan akibat dari hasil interaksi manusa pada lingkungan alam dan sosialnya.

Sebagai sebuah identitas, kelokalan menjadi daya perekat yang mengikat kesatuan individu yang memiliki perasaan dan visi yang sama serta memiliki orientasi pada simbol yang sama.

Identitas lokal sangat dipengaruhi oleh narasi tentang mitos, yang diyakini sebagai pembentuk konstruksi tentang lokalitas tersebut.

Bagi masyarakat lokal, ikatan kolektif sangat dipengaruhi oleh mitos yang menjelaskan asul-usul mereka, sejarah tentang wilayah, dan legitimasi historis dari praktik ritus yang mereka lakukan.

Melalui mitos, masyarakat lokal mengangkat dan merumuskan kepercayaan, melindungi dan memperkuat moralitas, serta untuk memberi tuntunan praktis tentang aturan-aturan dalam kehidupan mereka.

Dengan demikian, mitos adalah kekuatan yang mempranatakan masyarakat. Melalui kekuatan mitos, ikatan lokalitas menjadi ikatan yang sangat efektif merangkul individu-individu dalam solidaritas organis yang sama.

Lokalitas sebagai sebuah identitas kolektif kemudian dimaknai bersama oleh individu-individu yang menganutnya sebagai sebuah konstruksi bersama yang tidak hanya mengikat mereka dalam kebersamaan tapi mengikat mereka sebagai individu.

Konstruksi identitas lokalitas jika dipandang dari sudut pandang penganutnya, maka bisa saja menjadi sebuah identitas yang mencirikan resistensi kebudayaan, sosial, bahkan politik dan ekonomi, terhadap “the other” yang berusaha untuk mendominasi dan mensubordinasi mereka.

Dengan demikian, istilah lokalitas juga dapat dipandang sebagai sebuah terminologi yang mengandung karakter yang resisten.

Lokalttas sebagai sebuah identitas, tentulah bukan sebuah identitas yang stagnan dan immobile, melainkan identitas yang terus hidup, berkembang, dan berubah, memengaruhi atau dipengaruhi tergantung konteks sosial dan kesadaran komunitas pembentuknya.

Yang Lokal dalam Yang Global

Sebagai sebuah corpus, lokaliats adalah corpus yang terbuka atas bebagai pemaknaan bahkan terbuka atas berbagai pengaruh dan perubahan. Meskipun pada sudut pandang yang lain, terminologi lokalitas, menyiratkan makna “ketertutupan” dan eksklusivisme khususnya pada identitas “yang global.”

Keterbukaan dan ketertutupan justru saling mengisi, jika “yang lokal” tidak memiliki ketertutupan, maka “kelokalannya” pun menjadi hilang.

Namun, jika menegasikan keterbukaan, maka kelokalan tersebut kehilangan aspek dinamisnya, dan menjadi identitas yang rigid dan statis. “Yang lokal” dan “yang global” mesti terpahami sebagai dua jalinan identitas yang saling terkait dan bukan saling menegasi satu sama lain.

Keterbukaan dan ketertutupan dari lokalitas ini berjalin kelindan sebagai bagian dari “yang lokal” tersebut dalam merespon “yang global.” Sisi keterbukaan dan sisi ketertutupan inilah,  yang menentukan model respon “yang lokal” terhadap “yang global” tersebut, baik respon berupa afirmasi, negasi, maupun negosiasi.

Dalam perkembangannya, komunitas lokal kerap pula merespons masuknya globalisasi dengan tidak hanya menjadi obyek-obyek yang pasif, tetapi juga berperan aktif memanfaatkan pengaruh globalisasi untuk memenuhi kebutuhan mereka dalam kehidupan modern.

Dengan begitu, lokalitas pun memainkan siasatnya demi untuk mempertahankan kelangsungan eksistensinya sebagai sebuah identitas yang khas.

Semangat kembali ke budaya lokal (localism), merupakan sebuah reaksi terhadap globalisasi budaya, yaitu reaksi terhadap terjadinya hegemonisasi atau penyeragaman budaya secara besar-besaran di dalam berbagai bentuk, media, dan produknya yang menyebabkan menyempitnya ruang lokal dan tergerusnya ke-lokal-an sebagai identitas.

Sebagai sebuah identitas budaya, lokalitas bukanlah sebuah produk yang final dan tetap. Lokalitas merupakan rangkaian proses pembentukan dan terbentuk dalam suatu representasi, yang senantiasa mencari dan memainkan bentuk-bentuknya sesuai dengan perkembangan dan relevansi sosial.

Akhirnya, kita dapat menyematkan karakteristik yang dinamis, tentang yang disebut sebagai “identitas lokal”. Karena “yang lokal” ketika mengkonstruksi identitasnya, pastilah dipengaruhi oleh perubahan sejarah dan dialektika ruang yang melingkupi setting demografis, sosial, hingga kultural mereka.

Konstruksi tentang “yang lokal” bukanlah konstruksi yang benar-benar independen, melainkan sebagai refleksi dari pergumulan dengan .realitas dan perubahan.

“Yang lokal” akhirnya pun tidak akan pernah benar-benar independen dari sebuah lokus global yang sedikit banyak memberi warna, meski “yang lokal” tersebut di satu sisi tetap berusaha mempertahankan identitas kelokalannya.

Oleh “yang lokal”, globalitas mesti terpahami sebagai pelampauan identitas dan batas-batas kelokalan, dengan tanpa meninggalkan karakteristik khas kelokalannya.

Dengan demikian, terminologi tentang “yang lokal” dan “yang global” tidak lagi menjadi dua term yang selalu dipertentangkan, tetapi dua term yang senantiasa berusaha untuk disinergikan. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *