Wed. Jan 20th, 2021

BLAM

KEREN

Nasionalisme Sehari-hari

3 min read

Sumber gambar: youngontop.com

2,204 total views, 2 views today

Oleh: Saprillah (Kepala Balai Litbang Agama Makassar)

Percakapan tentang nasionalisme selalu kontekstual. Meski gagasan sebagai Bangsa Indonesia sudah diterima oleh seluruh elemen bangsa Indonesia melalui proklamasi 17 Agustus 1945, namun isu nasionalisme terus menerus menjadi bahan diskusi dan bahan ajar dalam sebuah pelatihan.

Termasuk, ketika saya mengikuti Diklat PKA (Pelatihan Kepemimpinan Adminsitratif) yang diselengarakan Pusdiklat Administrasi Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI, wawasan kebangsaan tetap menjadi tema pertama dan utama.

Imagined Community

Mengapa? Apakah semua kita diragukan wawasan kebangsaannya? Tentu saja tidak. Ide nasionalisme adalah gagasan politik berbasis pada kesepakatan. Sebuah bangsa hanya bisa berdiri berdasarkan kesepakatan yang diikat dalam kesetiaan terhadap kesepakatan itu.

Ben Anderson menyebutkan hakikat sebuah bangsa adalah imagined community, atau komunitas yang membayangkan diri mereka terikat dalam kesamaan identitas. Orang Aceh dan Papua –meski secara ras berbeda– tetapi membayangkan diri sebagai manusia yang sama, manusia Indonesia.

Tentu saja, tidak mudah membentuk “pembayangan yang sama” itu. Kita butuh usaha politis yang serius. Keadilan dan kesamaan hak adalah kunci sebuah bangsa bisa menyatu dengan baik. Isu separatisme di Aceh dan Papua, serta beberapa daerah lain, adalah efek dari tindakan ketidakadilan dan kesamaan hak yang dirasakan oleh warga Indonesia di wilayah itu.

Teori Anderson menunjukkan, bahwa konsep nasionalisme pada dasarnya fragile, rapuh. Jika pembayangan yang sama ini berhasil dibelokkan, maka nasionalisme runtuh.

Gerakan separatisme di Papua terus menerus ada karena kelompok ini gagal membayangkan dirinya sebagai bangsa Indonesia. Mereka membayangkan diri berbeda dan mereproduksi perbedaan itu dalam bentuk tuntutan untuk merdeka.

Aktivis Hidzbuttahrir gagal membayangkan dirinya sebagai bagian dari Indonesia yang majemuk dan egaliter. Mereka membayangkan diri sebagai “tentara Tuhan” yang diberi amanah untuk menegakkah pemerintah Islam universal.

Kegagalan pembayangan ini mendorong para aktivis HTI ini menawarkan “imajinasi” baru yang bernama Khilafah. Alih-alih tunduk dalam pembayangan bersama sebagai bangsa Indonesia, para aktivis HTI ini justru sedang membangun munculnya imajinasi baru tentang kebangsaan yang dianggap sebagai amanah ilahiah.

Kesepakatan atas “bayangan” yang sama ini adalah pekerjaan yang tidak pernah selesai. Setiap saat kita harus bertindak dan bekerja untuk meyakinkan kepada setiap generasi, bahwa kita adalah orang Indonesia dan selamanya akan menjadi orang Indonesia.

Tantangan Kontemporer

Para pendiri bangsa sudah berhasil melewati fase kritis dan sukses membangun satu entitas dan  identitas bangsa yang bernama Indonesia.

Pancasila dan UUD 1945, adalah fondasi yang mengikat seluruh kepentingan masyarakat Indonesia, tanpa terkecuali. Itu tidak berarti pekerjaan bangsa Indonesia sudah selesai. Memelihara nasionalisme tidak kalah beratnya. Setiap generasi akan melahirkan tantangan-tantangan tersendiri.

Di era media sosial, tantangan nasionalisme semakin berat. Setiap kelompok memiliki peluang untuk menanamkan gagasannya ke masyarakat, tanpa mampu dikendalikan.

Sebagai contoh, mengapa ide khilafah begitu massif di Indonesia? Padahal, yang menggagas ide ini hanyalah kelompok kecil? Jawabannya adalah karena mereka tekun menampilkan gagasannya di media digital, selain melakukan pembasisan dan pengkaderan secara aktual.

Film Jejak Khilafah Nusantara adalah salah satu bentuk propaganda berbasis sejarah yang sedang diframing oleh para pegiat khilafah untuk memberikan legitimasi sejarah terhadap gagasan khilafah yang sedang mereka perjuangkan. Cara yang dilakukannya menarik dan sulit untuk dilarang. Satu-satunya cara adalah melakukan kontestasi di media digital.

Nasionalisme Sehari-hari

Ernest Renan populer dengan istilah ini, daily nasionalism. Nasionalisme sehari-hari adalah hal yang patut diperhatikan. Konten-konten kreatif dengan berbasis pada budaya lokal Indonesia sangat bagus untuk diproduksi dalam jumlah yang massif.

Saya membayangkan, apabila semua satuan kerja kementerian agama bergerak dengan frekwensi yang sama dan saling membahu untuk memproduksi konten nasionalisme secara sederhana, maka gagasan anti keindonesiaan dan pembelokan pembayangan tentang Indonesia tidak akan berkembang kuat di Indonesia.

Media digital adalah arena perjuangan nasionalisme. Produksi wacana dalam bentuk qoute, tulisan ringkas, flyer, infografis tentang nasionalisme harus terus menerus dilakukan. Ini karena kelompok-kelompok yang bekerja menggerus ide nasionalisme juga menggunakan cara yang sama. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *