Tue. Jan 19th, 2021

BLAM

KEREN

“Toleransi Padaidi”: Sepenggal Cerita Masyarakat  Beda Agama di Soppeng

4 min read

Sumber gambar: kalbar.inews.id

1,072 total views, 4 views today

Oleh: Sitti Arafah (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Potensi kerukunan umat beragama berada dalam ranah sosial, di mana masing-masing umat yang berbeda agama melakukan interaksi dalam kehidupan sosial mereka. Mencermati relasi sosial masyarakat beda agama di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, sangat menarik.

Orang Bugis yang dikenal dengan kekentalan agama dan tradisinya, sehingga orang biasa mengatakan, tidak ada Orang Bugis beragama selain Islam. Namun, realitasnya, Orang Bugis asli juga ada yang memeluk Kristen dan Katolik. Seperti inilah yang ditemukan di Tanah Bugis,  Soppeng.

Secara historis, Kristen maupun Katolik di Soppeng diperkiran sudah ada sejak 1930-an. Dua agama ini disebarkan oleh orang lokal, pendeta, dan pastor, yang berasal dari Makassar maupun orang Belanda dan Portugis dari Makassar.

Hingga kini, agama Kristen dan Katolik tetap eksis di Soppeng, walaupun jumlahnya tidak singnifikan. Tentunya, dengan beberapa sarana peribadatan baik gereja Kristen maupun Katolik.

Kekerabatan dan kawin-mawin merupakan perekat kuat bagi keberlangsungan keberagamaan masyarakat Soppeng. Hubungan sosial yang terjadi sangat erat dan takkan lekang oleh adanya perbedaan agama. Mereka berada dalam satu ikatan kekerabatan dan darah.

Mereka yang memeluk Islam maupun Kristen atau Katolik memiliki satu keturunan (orang tua dan nenek). Banyak di antara mereka melakukan pernikahan beda agama, namun mereka tetap satu etnis dan satu budaya, sehingga tidak ada kata putus tali persaudaraan.

Relasi sosial yang terbangun di antara mereka tampak harmonis, dan hidup berdampingan tanpa saling menganggu. Mereka saling menghargai, bekerjasama, saling menjaga, dan masing-masing menjalankan agama sesuai keyakinannya berlandaskan kitab suci sebagai petunjuk kebenaran dan jalan keselamatan untuk mereka hidup berdampingan, damai, dan rukun.

Beberapa penyebab mereka tetap hidup berdampingan, rukun, aman, damai tanpa adanya konflik, yakni mereka adalah satu ikatan kekerabatan dan satu etnis.

Di samping itu, penghargaan yang diberikan oleh pemerintah tanpa membeda-bedakan agama, serta peran tokoh-tokoh agama dalam wadah kerukunan umat beragama.

Konsep toleransi yang terbangun pada masyarakat Islam, Kristen, dan Katolik, di Soppeng dikenal dengan istilah “toleransi padaidi” (toleransi sesama kita). Konsep ini dapat memberikan makna satu rumpun atau sesama, bahkan tak jarang dari mereka adalah keluarga.

Pengalaman Hidup Bersama

Diana, Katolik, dan pendamping Pastor Paroki Soppeng, menuturkan, ia sejauh ini belum pernah mendengar ada gesekan atau konflik di Soppeng. Kerukunan terjaga dengan baik. Umat beda agama hidup berdampingan rukun dan harmonis dalam bingkai keyakinan. Hanya panggilan jiwa yang berbeda untuk mencari keselamatan.

“Kita semua saling menerima dan tidak saling mengganggu. Artinya, kita sama-sama mencari kedamaian untuk saling berkasih sayang, karena kita ini satu keturunan  atau satu  nenek,” tutur Diana.

Hal serupa dikatakan Benyamin, penganut Kristen. Katanya, relasi sosial masyarakat Islam dan Kristen di Soppeng sungguh baik.

Hal ini tampak pada komunikasi yang aktif antarsesama agama, serta saling menghargai dan membantu dalam setiap kegiatan sosial maupun keagamaan. Penghargaan yang diberikan berbagai pihak, baik pemerintah maupun masyarakat, juga cukup tinggi.

Saat Natal dan Tahun Baru, misalnya, keluarga Islam datang menziarahi. Mereka bahkan turut membantu membuatkan jamuan untuk para tamu. Bila Idul Fitri maupun Idul Adha, mereka saling berbagi, saling mengunjungi, dan menziarahi dengan tujuan mempererat kebersamaan.

Benyamin sendiri memeluk Kristen. Sedangkan istri, anak-anak, menantu, dan cucunya beragama Islam. Meski begitu, mereka semua hidup akur, saling menyanyangi, serta saling mengganggu dan tanpa mempengaruhi. Prinsipnya, di mana ada keyakinan dan ketaatan, maka di situ harus dijalankan. Misalnya, salat, puasa, dan sebagainya.

Ketika menghadapi Natal dan Tahun Baru, istri dan anak-anak Benyamin sibuk menyiapkan kebutuhannya. Demikian pula pada kegiatan kumpulan, istrinya selalu menyiapkannya.

“Di Soppeng, tidak ada kesusahan antara Kristen dan Islam, karena kita saling menghargai. Ketika ada kematian, kami juga saling membantu,” kata Benyamin.

Dalam keluarga Benyamin, hanya dia dan ayahnya Kristen. Sementara saudara-saudaranya yang lain memeluk Islam. Hal  ini disebabkan, dia tidak ingin meninggalkan perjuangan ayahnya.

Demikian halnya, kata Benyamin, ketika ada yang bertanya tentang ke-Kristen-an di Soppeng, maka siapa lagi yang akan memberikan penjelasan. Inilah yang membuat Benyamin enggan meninggalkan Kristen.

Pendeta Lomba, yang ditugaskan di Gereja GKSS Cabang Pacongkang, juga menuturkan pengalamannya. Menurutnya, hubungan masyarakat Kristen dan Islam di Desa Pacongkan tergolong baik.

“Sebagai orang baru di sini, saya belum melihat konflik. Kristen maupun Islam mereka itu satu etnis. Bahkan, di antara mereka ada yang satu keturunan, sehingga inilah yang membuat mereka tetap membangun komunikasi,” kata Pendeta Lomba.

Lomba menjelaskan, jika umat Islam berlebaran, saudara atau keluarga yang beragama Kristen datang memberikan ucapan. Sebaliknya, ketika orang Kristen merayakan Natal atau lainnya, maka saudara atau keluarga mereka yang beragama Islam turut membantu menyiapkan makanan atau memasak makanan yang akan disajikan pada hari Natal.

“Jadi, kami di sini merasa aman-aman dan saling menghargai, bekerjasama dalam berbagai kegiatan, khususnya kegiatan sosial,” kata Pendeta Lomba.

Menurutnya, kondisi umat beragama di Soppeng cukup aman, karena berasal dari satu rumpun. Tak heran, masih ada dalam satu rumah tangga beragama Islam dan Kristen.

“Di antara kita tidak ada yang namanya kecemburuan sosial, saling mengejek, dan tidak ada kata “siabbeang” atau saling menjauhkan diri karena kita satu keturunan,” katanya.

Pengalaman-pengalaman hidup bersama sebagaimana digambarkan di atas menunjukkan, relasi atau hubungan masyarakat beda agama di Soppeng, harmonis. Kawin-mawin dan kekerabatan menjadi perekatnya.

Ikatan-ikatan tersebut berpengaruh secara signifikan untuk meredam gejolak atau gesekan-gesekan yang akan muncul di antara mereka.

Di samping itu, tradisi atau adat masih dijunjung tinggi oleh masyarakat tanpa melihat identitas keagamaan (Islam, Kristen, Katolik).

Setiap pelaksanaan kegiatan sosial maupun keagamaan, mereka semua saling membantu dan saling menjaga sebagai upaya mempererat kerukunan di antara mereka.  (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *