Wed. Jan 20th, 2021

BLAM

KEREN

Peneliti BLAM Diminta Riset Perkampungan Habaib, Masjid Kesultanan Bulungan, dan Museum Kesultanan Bulungan di Kaltara

3 min read

Peneliti BLAM, Arafah dan Abu Muslim, berkunjung ke Kanwil Kemenag Kaltara. Foto: Istimewa.

938 total views, 2 views today

TANJUNG SELOR, BLAM – Peneliti Balai Litbang Agama Makassar (BLAM), Sitti Arafah dan Abu Muslim, tiba di Pelabuhan Penyeberangan Kota Tarakan, Kalimantan Utara, pukul 07.40 Wita, Kamis, 10 Desember 2020. Mereka kemudian memesan tiket speedboat untuk ke Tanjung Selor.

Pukul 08.15 Wita, keduanya bertolak menuju Tanjung Selor menggunakan speedboat merek Andalas 4. Perjalanan ditempuh sekitar satu jam lebih, melewati laut dan sungai, diselingi gelombang yang mengakibatkan speedboat kerap kali berguncang keras.

Tepat pukul 09.30, mereka tiba di Pelabuhan Tanjung Selor, dan langsung melanjutkan perjalanan ke Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Kalimantan Utara (Kaltara).

Sebelum berangkat, Arafah terlebih dahulu melakukan komunikasi dengan Kepala Kanwil Kemenag melalui whatsapp, serta penyampaian surat resmi kunjungan Peneliti BLAM.

Sayangnya, pada saat bersamaan, Kakanwil Kaltara, H. Suriansyah, M.Pd, sedang tak berada di tempat. Dia lagi bersama Tim FKUB Kaltara. Meskipun begitu, kakanwil sudah mengarahkan untuk bertemu Kepala Bidang Pendidikan Islam (Pendis).

Bersama timnya, Kepala Bidang Pendis, Sapriansyah, menyambut kedatangan Peneliti BLAM. Mereka lalu berbincang-bincang mengenai isu-isu sosial keagamaan di Kaltara, meliputi pelayanan keagamaan, pendidikan agama dan keagamaan, serta lektur dan khazanah keagamaan.

Peneliti BLAM juga menyampaikan beberapa kegiatan yang dapat dikerjasamakan dengan Kanwil Kemenag Kaltara. Beberapa program yang bisa dikerjasamakan, antara lain, Indeks Moderasi Beragama, Pemetaan Sosial Keagamaan, dan Indeks Kesalehan Sosial.

Lalu, seperti apa gambaran kehidupan sosial keagamaan masyarakat Kaltara? Berikut petikan wawancara Peneliti BLAM dengan Kepala Bidang Pendis Kanwil Kemenag Kaltara, Sapriansyah:

Bagaimana Bapak melihat relasi sosial keagamaan di Kaltara?

Masyarakat di Kalimantan Utara sejauh ini hidup rukun dengan beragama suku dan juga agama. Bahkan, kami mendapat harmony Award tahun 2018. Ya, jika dapat dikatakan, di Kaltara masyarakatnya hidup rukun  dan belum terdengar adanya isu-isu konflik. Demikian halnya kehidupan keagamaan berjalan dengan baik.

Perilaku intoleran, kelompok radikal, dan semacamnya belum pernah kami dengar, kacuali di Tarakan sana kami dengar ada satu perkampungan itu ya menjalankan sebuah praktik tarekat (sebuah kelompok), di mana pengamalan ajarannya jika dipahami oleh orang awam mungkin akan berbahaya. Tetapi, bagi mereka yang memiliki pemahaman tarekat cukup baik, ya mungkin tidak masalah. Selain itu, di salah satu kecamatan, yakni Sekatak, itu merupakan perkampungan muallaf.

Kira-kira ada persoalan lain yang mungkin perlu segera disikapi?

Memang perlu diakui, saat ini khususnya guru-guru perlu penguatan literasi beragama maupun literasi-literasi lainnya, sehingga guru memiliki banyak referensi dalam proses pembelajaran.

Selanjutnya, mungkin yang perlu dilihat juga adalah terkait persoalan pendidikan, khususnya di daearh 3 T, yakni adanya kebijakan pemda dan kementerian agama terkait pemberian tunjangan yang belum sinkron, persoalan distribusi guru-guru khususnya di daerah termasuk distribusi di daerah 3T.

Selain itu, persoalan pondok pesantren, pendidikan keagamaan di derah perbatasan, yang menarik bagi Madrasah Aliyah Negeri Tanjung Selor, yakni adanya Program Pengenadian Masyarakat Siswa(i) MAN Tanjung Selor.

Saat ini, apa isu paling krusial untuk segera ditindaklanjuti di Kaltara?

Terus terang, kami butuh informasi dan data tentang sejarah Islam di Kesultanan Bulungan. Sampai hari ini, kita belum memiliki referensi tentang itu. Walaupun ada informasi yang kami dapatkan misalnya di youtube, tetapi itu datanya hanya sepotong-sepotong. Artinya, ini mungkin perlu ditulis, sebagaimana dengan sejarah masuknya Islam di daerah lainnya.

Tanjong Selor juga sebagai perkampungan para Habaib, dan ada beberapa tinggalan sebagai situs-situs keagamaan. Misalnya, Masjid Kesultanan Bulungan, Museum Kesultanan Bulungan, dan juga makam para habaib. Saya kira ini sangat kami perlukan. Jika memungkinkan peneliti dari Litbang bolehlah menuliskannya, sehingga kita tidak kehilangan informasi tentang Kesultanan Bulungan. (sta)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *