Wed. Jan 20th, 2021

BLAM

KEREN

Meneguhkan Komitmen Kebangsaan Melalui Moderasi Beragama

5 min read

Sumber gambar: kompasiana.com

1,788 total views, 6 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Dahulu, nasionalisme mendapatkan dukungan dan legitimasi dari tokoh agama, seperti pernyataan KH. Hasyim Asy’ari, “Nasionalisme adalah bagian dari agama dan keduanya saling menguatkan.”

Secara implisit, pernyataan KH. Hasyim Asy’ari tersebut mengisyaratkan, bahwa agama adalah salah satu pilar utama penopang negara.

Demikian pula sebaliknya, eksistensi negara menjadi penting sebagai wadah untuk mengamlkan keagamaan. Agama dan negara keduanya saling mendukung dan menguatkan.

Posisi strategis agama bagi negara di Indonesia, membuat tanpa legitimasi dari agama, melalui tokoh-tokohnya, proses pembangunan nasional pada umumnya tidak akan berjalan secara efektif.

Hal Ini menunjukkan keunikan sistem sosio-kultural dan politik bangsa Indonesia, di mana ketika banyak negara proses pembangunan politik dan nasional berjalan searah dengan kecenderungan sekularisasi.

Namun, untuk kasus Indonesia, kebijakan atau keputusan politik yang diambil tidak dapat mengabaikan otoritas keagamaan yang berlaku.

Sedemikian vital peran agama di Indonesia, meski tidak disebutkan secara formal, tapi agama memberikan kontribusi dan pengaruh yang sangat signifikan dalam pri kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

Keunikan inilah yang ditampilkan oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang berbeda dengan negara-negara lain di dunia, termasuk negara-negara Muslim yang lain.

“Indonesia bukan negara agama tapi juga bukan negara sekuler.” Itulah jargon yang selalu didengungkan dalam berbagai kesempatan untuk mendeskripsikan pilihan model Negara Republik Indonesia.

Pancasila merupakan wujud sintesa politik yang mengakomodir berbagai kepentingan kebangsaan yang majemuk (multi agama dan multi etnik), yang mewakili aspirasi mayoritas tanpa menegasi eksistensi kalangan minoritas.

Pancasila merupakan model yang unik, sebagai pandangan hidup dan ideologi negara, yang menempatkan Indonesia dalam posisi yang benar-benar unik dalam pilihan model negaranya.

Sebuah Tantangan

Jika dahulu agama menjadi support bagi semangat kebangsaan. Saat ini, tampak muncul fenomena adanya sebagian masyarakat atau kelompok tertentu yang mencoba kembali mengangkat pertentangan antara agama dan semangat kebangsaan atau nasionalisme.

Lebih jauh lagi, kelompok tersebut mengklaim, bahwa nasionalisme merupakan paham yang bertentangan dengan agama. Menurut mereka, antara agama dan nasionalisme, akan selalu ada titik di mana keduanya akan bersimpangan, dan kita harus memilih salah satu.

Argumen kelompok ini, bahwa mustahil menganut paham nasionalisme dan agama secara keseluruhan, tanpa ada poin-poin kepercayaan atau ajaran agama yang harus ditinggalkan, untuk diganti satu dengan yang lainnya.

Misalnya, masalah kepemimpinan, agama (dalam hal ini Islam) menurut mereka mewajibkan memilih pemimpin seagama. Sedangkan menurut konstitusi, semua warga negara berhak untuk menjadi pemimpin dengan tanpa menyertakan persyaratan agama tertentu.

Nasionalisme dipersoalkan oleh sebagian Muslim, karena dipandang berwatak sekuler. Bagi mereka, nasionalisme bertentangan dengan Islam, karena di dalamnya tidak ada ruh iman. Inilah yang mereka yakini sebagai hal yang menyebabkan lemahnya kesatuan dunia Islam dan nasionalisme menjadi penyebabnya.

Mengapa semangat kebangsaan sebagian pihak akhir-akhir ini cenderung melemah? Jika ditelisik lebih jauh, tentu ada banyak faktor yang memengaruhi.

Jika semangat kebangsaan tersebut melemah karena atas dasar agama, maka salah satunya diakibatkan oleh pemahaman terhadap nilai-nilai danajaran agama yang cenderung simbolik, formalistik, sempit, dangkal, dan eksklusif.

Secara primordial, agama merupakan cara paling efektif untuk meneguhkan identitas, yang akhirnya membentuk polarisasi pengelompokan, “kami” dan “mereka.” Hal ini disebabkan agama paling efektif menyentuh dan menggugah aspek emosi terdalam, karena menyertakan Tuhan sebagai postulat legitimasinya.

Dikotomi ini mengimplikasikan hadirnya jarak yang cukup jauh. Ritual keagamaan, sebagai salah satu unsur dari agama, juga semakin memperkokoh identitas dan polarisasi kelompok tersebut, sekaligus secara bersamaan mempertahankan batas-batas kelompok keagamaan tertentu.

Penguatan semangat primordial keagamaan yang mengikis semangat kebangsaan inilah yang menjadi tantangan. Terlebih, fenomena ini mulai massif menjalar di kalangan generasi muda.

Fenomena menggugat paham nasionalisme, dan menolak Pancasila, NKRI, UUD 1945, dan Bhineka Tunggal Ika sebagai empat konsensus dasar Bangsa Indonesia, dengan menggunakan doktrin agama cukup massif, khususnya di kalangan muda Muslim.

Banyak hasil riset menunjukkan, perkembangan semangat keagamaan berbanding terbalik dengan semangat kebangsaan. Komitmen keagamaan seolah bertentangan dengan komitmen kebangsaan.

Hal ini karena cara pandang keagamaan yang simbolik, formalistik, kaku, dan ekstrem dengan memandang antara agama dan nasionalisme sebagai dua hal yang paradoks. Komitmen pada salah satunya, dipahami akan menggerus komitmen pada yang lainnya.

Faktor keagamaan kerap menjadi pemicu tergerusnya integritas kebangsaan, di samping faktor lainnya, seperti faktor ekonomi dan politik.

Menguatnya semangat dan militansi keagamaan berbanding terbalik dengan memudarnya semangat nasionalisme, rasa cinta tanah air, dan toleransi pada kebhinekaan.

Semangat dan militansi keagamaan, semisal geliat Islamisme, kerap diperhadap-hadapkan dengan integritas kebangsaan berupa komitmen dan loyalitas kebangsaan, sikap penerimaan serta komitmen pada kemajemukan sebagai kenyataan hidup berbangsa.

Hal ini, tentu saja, menjadi pertaruhan bagi bangsa Indonesia di masa depan. Jika integritas kebangsaan generasi muda tergerus, maka integrasi bangsa ini pun akan rapuh dan eksistensi bangsa menjadi pertaruhan besarnya.

Moderasi Beragama

Moderasi beragama adalah keberagamaan jalan tengah yang mengompromikan dua kutub ekstrem yang mengantarainya. Lawan moderasi beragama adalah ekstremisme beragama.

Sebagai titik tengah, dalam konteks agama dan kebangsaan, moderasi beragama berada di antara dua kutub ekstrem,yaitu agama yang menegasi nasionalisme (radikalisme) dan nasionalisme yang menegasi agama (sekularisme).

Komitmen kebangsaan merupakan salah satu dari empat indikator Moderasi Beragama yang disebutkan dalam buku “Moderasi Beragama” terbitan Kementerian Agama (2019). Indikator lainnya, adalah toleransi, anti kekerasan, dan akomodatif terhadap kebudayaan lokal.

Persoalan kebangsaan (Indonesia) yang menjadi salah satu indikator Moderasi Beragama menjadi urgen, karena diperhadapkan pada dua fenomena paradoks berkenaan hubugan antara agama dan negara.

Perspektif radikalis yang menghendaki terwujudnya sebuah “sistem agama” yang ideal dan menyeluruh dalam kehidupan negara. Sebaliknya, kelompok sekularis berpandangan, hubungan antara agama dan negara perlu ditinjau ulang.

Penerimaan terhadap ideologi Pancasila yang diyakini senapas dengan ajaran agama, merupakan jalan tengah yang moderat di antara dua kubu (radikal dan sekuler) tersebut.

Pancasila merupakan hasil objektifikasi agama-agama yang darinya nilai-nilai unievrsal dari agama-agama yang ada di Indonesia diambil dan dijadikan kekuatan pemersatu.

Kebangsaan dan keagamaan mendapatkan tempat “terhormat” dalam Pancasila. Melalui Pancasila inilah, agama dalam konteks kebangsaan Indonesia menjadi kekuatan pemersatu dan secara signifikan berkontribusi pada terwujudnya integritas dan harmonisasi sosial masyarakat Indoensia yang plural dalam suatu ikatan kebangsaan.

Moderasi Beragama adalah bagian dari strategi merawat keharmonisan bangsa Indonesia. Sebagai bangsa yang sangat plural, sejak awal founding father bangsa sudah berhasil mewariskan satu bentuk konsensus dalam berbangsa dan bernegara, yakni empat konsensus dasar atau yang biasa disebut empat pilar.

Sejak awal berdirinya, disepakati bahwa Indonesia bukan negara agama, tapi juga tidak memisahkan agama dari kehidupan sehari-hari warganya.

Hal Itulah yang menjadi jati diri bansgsa Indonesia, negeri yang sangat agamis meski bukan negara agama. Moderasi Beragama merupakan bagian dari strategi kebudayaan untuk merawat jati diri bangsa tersebut.

Moderasi Beragama bersinergi dengan konsep demokrasi yang mengedepankan nilai egalitarianisme dan keadilan sebagai prinsip. Semua manusia, apa pun latar belakangnya, setara dan adil dalam ruang sosial, politik, ekonomi dan hukum.

Persinggungan Moderasi Beragama dan demokrasi, adalah penghormatan atas hak-hak manusia di antaranya dalam kebebasan berkeyakinan dan mengamalkan keyakinannya tersebut.

Semua manusia diberi ruang yang sama tanpa diskriminasi untuk berkontribusi dalam ruang sosial politik dan perolehan distribusi ekonomi secara setara dan berimbang.

Agama tidak boleh diperalat atau menjadi tunggangan politik, karena tujuan sejati agama adalah mengarahkan manusia pada kebaikan tertinggi (bonum maximum).

Negara sejatinya adalah wadah bagi umat beragama untuk mencapai kebaikan tertinggi tersebut secara bersama tanpa dibatasi oleh sekat-sekat formalis dan simbolik. Sehingga, negara benar-benar menjadi konsensus bersama sebagai hasil objektifikasi nilai agung dari semua agama.

Moderasi Beragama dalam konteks komitmen kebangsaan Indonesia terlihat pada penerimaan dan kesetiaan pada konsensus dasar kebangsaan.

Secara praksis, komitmen kebangsaan sebagai indikator moderasi beragama, seperti sering disampaikan mantan Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin.

Dalam perspektif Moderasi Beragama, mengamalkan ajaran agama adalah sama dengan menjalankan kewajiban sebagai warga negara, sebagaimana menunaikan kewajiban sebagai warga negara adalah wujud pengamalan ajaran agama. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *