Tue. Jan 19th, 2021

BLAM

KEREN

After the Prophet: Menelisik Muasal Skisma Sunni-Syiah

7 min read

Sumber foto: Sabara

2,459 total views, 2 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Judul Buku    : After the Prophet: Kisah Lengkap Muasal Perpecahan Sunni-Syiah

Penulis            : Lesley Hazleton

Penerbit          : IRCiSoD Yogyakarta

Cetakan          : Cet. I November 2018

Halaman         : 422 Halaman

Terbit pertama kali dengan judul The Epic Story of the Shia-Sunni Split in Islam (After the Prophet), terbitan Knopf Doubleday Publishing Group, 2009.

Skisma Sunni-Syah

Dalam Islam, skisma biasanya digunakan untuk merujuk pada perpecahan Sunni-Syiah pada awal sejarah Islam.

Skisma Sunni-Syiah bertumpu pada perbedaan pandangan mengenai siapa yang berhak menggantikan Nabi Muhamamad sebagai pemimpin umat (imam/khalifah) pasca meninggalnya nabi.

Skisma Sunni-Syiah merupakan friksi besar dalam sejarah Islam. Friksi yang berujung polemik abadi hingga intrik dan konflik politik, yang mewarnai babakan demi babakan sejarah dunia Islam bahkan hingga abad XV Hijriyah.

Konflik antara Sunni dan Syiah, adalah konflik dua saudara dalam Islam, yang telah membawa dampak mudarat bagi keutuhan dan persatuan Islam. Selanjutnya tentang Sunni-Syiah dapat dilhat pada tulisan Problem Sunni-Syiah: Titik Beda dan Titik Temu.

Lesley Hazleton

Persoalan skisma Sunni-Syiah kemudian ditelisik oleh Lesley Hazleton, penulis kelahiran Inggris, dan saat ini tinggal di Washington. Hazleton berlatar seorang jurnalis dengan latar pendidikan psikologi. Sebagai jurnalis, Hezleton banyak menulis tentang kawasan Timur-Tengah.

Tema agama juga menjadi perhatian dalam tulisan Hazleton. Ia pernah menulis buku khusus tentang Jerussalem. Karya lainnya tentang Maria, pernah terbit dengan judul Mary a Flehs and Blood: Biography of the Virgin Mother.

Karyanya tentang Nabi Muhamamd, ia tulis dalam buku the First Muslim, yang telah diterbitkan dalam edisi bahasa Indonesia dengan judul, Muslim Pertama:Melihat Muhamamd Lebih Dekat.

Kemudian, melalui buku After the Prophet, Hazleton mengulik sejarah Islam awal di masa enam dekade pertama dalam sejarah Islam.

Dengan mengulik sejarah awal Islam tersebut, Hezleton bermaksud menguraikan secara “lengkap” bagaimana sejarah skisma Sunni-Syiah dalam Islam tersebut bermuasal.

Akademik-Populer

Hazleton bukanlah seorang yang berlatar pendidikan sejarah. Namun, sebagai seorang jurnalis yang banyak melakukan peliputan tentang Timur-Tengah, menarik Hazleton untuk mengurai akar dari problem yang sering timbul di antara sesama Muslim di Timur-Tengah, yaitu Sunni-Syiah.

Melalui buku ini, Hazleton menarasikan konstruksi sejarah tentang bagaimana awal skisma Sunni-Syiah dalam Islam bisa terjadi, serta bagaimana peristiwa pada sejarah awal tersebut masih berpengaruh kuat saat ini pada sentimen Sunni-Syiah di Timur-Tengah.

Hazleton menggunakan metode bertutur ketika menyajikan narasi sejarah dalam buku ini. Hazleton menggunakan narasi cerita yang menarik dan cukup “renyah” dibaca. Sejarah disusun bagaikan plot novel, sehingga pembaca tidak terjebak pada kesan buku ilmiah yang agak rumit saat dibaca.

Metode ini merupakan sebuah model historiografi atau penulisan sejarah, yang paling memungkinkan sebuah narasi sejarah dapat dibaca dan dipahami bahkan oleh mereka yang paling awam sekalipun.

Metode penulisan sejarah dengan gaya bertutur atau bercerita merupakan yang paling menarik dan persuasif.

Meski sejarah yang disajikan dalam bentuk cerita sangat rentan terdistorsi atau sebaliknya terinterpolasi. Namun, tingkat efektivitasnya untuk dipahami oleh pembaca, sulit ditandingi oleh metode yang lain.

Dengan metode tersebut, Hazleton menuliskan buku ini. Gaya bertutur Hezleton dapat menggiring pembaca untuk terbawa dalam suasana emosi dan empati yang mendalam tentang skisme dan konflik dalam sejarah awal Islam.

Hazleton memilih gaya penulisan sejarah yang tidak bersifat akademik, tetapi lebih bercorak jurnalistik. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh latar belakangnya sebagai seorang jurnalis.

Uraiannya yang bertutur dengan cukup mengalir. Sangat terlihat pengaruh latar belakang pendidikannya di bidang psikologi memengaruhi caranya menulis. Terlihat dengan caranya menyajikan narasi yang kerap cukup memainkan emosi pembaca.

Meski ditulis dengan narasi yang tidak terkesan akademis, namun karya Hazleton ini merujuk pada sumber-sumber akademik. Sumber klasik dalam sejarah Islam, Tarikh Al-Tabari (839-923 M), menjadi referensi yang paling banyak dirujuk dalam buku ini.

Selain Al-Tabari, sumber-sumber yang lebih klasik juga dirujuk, seperti Sirah Ibnu Ishaq (704-767 M), Al-Tabaqat Ibnu Saad (764-845M), dan Kitab Futuh al-Buldan karya Al-Baladhuri (w. 892 M). Hazleton juga melengkapi referensinya dengan karya-karya yang ditulis penulis kontemporer dari penulis Muslim maupun orientalis.

Dengan referensi rujukan yang cukup kaya baik dari sumber klasik maupun kontemporer, menjadikan buku ini sebagai karya ilmiah. Namun, narasinya yang bertutur, membuat buku ini menjadi karya ilmiah yang tersaji dengan gaya yang populer.

Isi Buku

Buku ini tampak menjadikan Karbala sebagai titik klimaks dari skisma Sunni-Syiah. Hal ini terlihat ketika setting tentang Karbala menjadi prolog dan opini penutup mengenai Sunni-Syiah di era kontemporer.

Uraian buku dibuka dengan peristiwa pada Hari Asyura 1435 H, yang bertepatan 4 Maret 2004, di Karbala, Irak. Peristiwa bom bunuh diri yang dilakukan oleh Al-Qaeda, sebuah kelompok ekstremis Sunni terhadap para peziarah Syiah yang sedang memperingati Hari Asyura di Karbala.

Analisis tentang Asyura dan Karbala juga menjadi opini akhir dari Hazleton tentang spirit Karbala, yang menginspirasi Revolusi Iran 1979, serta perpecahan Sunni-Syiah, yang kembali dipolitisasi sebagaimana pada masa awal perpecahan.

Buku ini terdiri atas 15 bab dengan tiga bagian, yaitu bagian Muhammad, Ali, dan Husain. Ketiga tokoh kunci tersebut menjadi penanda pada masing-masing babakan sejarah dengan masing-masing ulasan pada beberapa peristiwa penting.

Pada bagian tentang Muhammad, Hazleton memulai cerita mengenai tragedi kalung. Yaitu, hilangnya kalung Aisyah di tengah gurun, yang dalam pandangan Hazleton, dari situlah semua cerita bermula.

Diceritakan Aisyah yang tertinggal dari rombongan ketika mencari kalungnya yang hilang. Aisyah kemudian menyadari, bahwa dirinya tertinggal dari rombongan, dan sendiri di tengah padang pasir.

Namun, Aisyah masih beruntung. Beberapa saat kemudian, ia bertemu seorang pemuda bernama Safwan, yang akhirnya mengantar Aisyah hingga ke Kota Madinah.

Kedatangan seorang perempuan ditemani seorang lelaki yang bukan muhrimnya, tentu merupakan aib di masa itu. Sehingga, tidak bisa dicegah kemudian, gosip-gosip yang tidak mengenakkan tentang Aisyah.

Meski kemudian turun ayat yang menerangkan Aisyah tidak bersalah pada peristiwa tersebut. Namun, suasana tidak menyenangkan telanjur terjadi. Terutama antara Ali dan Aisyah, yang menurut suatu sumber yang dikutip Hazleto, menyarankan kepada Nabi untuk menceraikan Aisyah.

Kisah dilanjutkan dengan sikap Nabi pada Khadijah dan putrinya. Kedekatan Nabi pada putrinya Fatimah, Ali dan anak-anaknya. Kecemburuan Aisyah yang ekspresif, diulas dalam narasi yang menarik oleh Hazleton.

Hal inilah yang ditafsirkan Hazleton sebagai sumber antara rivalitas Ali dan Aisyah yang terus terbawa. Puncak rivalitas tersebut terjadi 25 tahun setelah wafatnya Nabi, yaitu dengan terjadinya Perang Jamal di Basrah (Irak).

Perang saudara pertama dalam sejarah Islam, di mana Ali dan Aisyah dengan pasukan yang saling berhadap-hadapan. Perang besar, yang dalam riwayat memakan korban hingga 18.000 umat Muslim dari kedua belah pihak.

Bagian ini ditutup dengan narasi seputar peristiwa Ghadir Kum, hari-hari terakhir menjelang wafat sang Nabi, termasuk narasi tentang “Peristiwa Hari Kamis”.

Bagian ini berakhir dengan penguburan Nabi oleh Ali dan drama pemilihan khalifah di Saqifah antara Muhajirin dan Anshar yang dimenangkan oleh Muhajirin dengan dibaiatnya Abubakar.

Bagian kedua tentang Ali, dimulai dari narasi tentang masa kekhalifahan Abubakar, Umar bin Khatab, dan saat-saat menegangkan ketika terjadi penyerangan terhadap Khalifah Utsman bin Affan yang berujung tragis dengan terbunuhnya Khalifah Usman.

Ali kemudian diangkat oleh umat Islam sebagai khalifah. Peristiwa berdarah dimulai saat Aisyah bersama pasukannya melawan Khalifah Ali dan terjadilah perang besar yang melibatkan keduanya.

Pada perang ini, dua sahabat Nabi yang berada di pihak Aisyah, yaitu Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam, terbunuh.

Selain harus menghadapi kelompok Aisyah, Ali juga harus menghadapi Muawiyah dan pasukannya, yang klimaksnya pada pertempuran di Siffin.

Perang tersebut berujung arbitrase yang tidak diterima oleh sekelompok pengikut Ali, yang kemudian keluar dan berbalik melawan Ali.

Kelompok tersebut adalah Khawarij, yang akhirnya terlibat perang dengan Khalifah Ali. Bagian ini ditutup dengan wafatnya Ali di Kufah, akibat tebasan pedang seorang Khawarij saat salat subuh di bulan Ramadhan.

Narasi berlanjut pada bagian ketiga tentang Husain. Narasi dimulai antara perseteruan Hasan bin Ali dengan Muawiyah yang berujung perjanjian damai. Muawiyah berkuasa hingga mendirikan imperium Umayyah.

Muawiyah menekan masyarakat Kufah, yang merupakan loyalis Ali dan putranya. Hingga Muawiyah menugaskan seorang istri Hasan agar meracuninya. Akhirnya, Hasan putra Ali, pun wafat akibat racun tersebut.

Seiring kematian Muawiyah, Yazid putranya ditetapkan menjadi khalifah Umayyah. Sebagaimana Muawiyah yang memerangi Ali dan meracuni Hasan, Yazid pun menyuruh pasukannya untuk membunuh Husain bersama 72 orang yang menyertainya di Karbala.

Karbala 680 M. banjir darah atas pembantaian pasukan Umayyah yang berjumlah ribuan kepada rombongan kecil yang dipimpin Husain. Kejadian ini senantiasa dikenang oleh kaum Muslim sepanjang sejarah.

Setiap 10 Muharam, di Karbala dan di berbagai tempat lainnya, umat Muslim Syiah berkumpul untuk mengadakan perayaan mengenang peristiwa tragis yang menimpa keluarga Nabi Muhammad tersebut.

Peristiwa tersebut terus diglorifikasi dengan slogan, “Semua Hari adalah Asyura dan semua tempat adalah Karbala.” Klimaksnya, Revolusi Iran yang terinspirasi dari perjuangan Husain saat menentang despotisme Bani Umayyah.

Catatan Kritis

Melalui buku After the Prophet, Hazleton memberi kita ragam perspektif mengenai akar dari polemik dan konflik yang bermula dari sejarah Islam awal.

Meskipun begitu, buku ini menyajikan informasi dengan tidak bermaksud menggiring pembaca untuk memihak pada salah satu dari dua aliran arus utama dalam Islam tersebut.

Sebagai outsider, Hezleton lepas dari keberpihakan ataupun sakralisasi atas figur-figur sentral dalam sejarah awal Islam, yaitu nabi dan orang-orang dekatnya (keluarga maupun sahabat).

Hal ini, di satu sisi, memberi nilai positif untuk membaca sejarah Islam secara lebih cermat dan kritis, dengan tanpa sekat tembok fanatisme.

Namun, di sisi lain, narasi yang sangat profan tentang sosok-sosok kunci yang merupakan orang dekat nabi cukup menggugat dan menggugah emosi keagamaan, yang mungkin membuat seorang Muslim akan terhenyak, sulit untuk menerima dan percaya.

Sebagaimana dikemukakan sebelumnya, penulisan sejarah yang ditulis dengan gaya bercerita rentan terdistorsi atau terinterpolasi.

Demikian pula pada buku ini. Interpretasi dan opini dari Hazleton tentang suatu peristiwa sangat sulit untuk dipisahkan dengan narasi yang sesungguhnya, sebagaimana yang tertulis dalam kitab tarikh.

Setelah membaca keseluruhan buku dan memahami analisa Hazleton tentang tema ini, saya tidak menemukan sesuatu yang baru sebagai kekhasan dari analisis Hazleton, selain hanya pada gaya penyajian sejarahnya.

Buku ini seolah hanya mengulang saja dari karya yang telah ada sebelumnya, khususnya karya yang ditulis oleh orientalis tentang sejarah Islam awal dan skisma Sunni-Syiah. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *