Tue. Jan 19th, 2021

BLAM

KEREN

Ada Al-Qur’an Tulisan Tangan Berusia Ratusan Tahun di Soppeng

6 min read

Kabupaten Soppeng terkenal dengan sebutan "Kota Kalong" atau kelelawar. Foto: Nasrun.

792 total views, 2 views today

Oleh: Muh. Irfan Syuhudi (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Kami tiba di Soppeng, salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan, menjelang Magrib. Cuaca cerah menyambut kedatangan kami (saya dan rekan kantor, Nasrun) dari Makassar.

Selama tiga hari berada di sini, cuaca begitu bersahabat. Padahal, pada hari-hari sebelumnya, Soppeng sempat diguyur hujan deras selama berhari-hari.

Begitu tiba di daerah berjuluk “Kota Kalong” (kelelawar), suasana masih dibaluti nuansa pemilihan kepala daerah (pilkada).

Maklum, kami berangkat bertepatan dihelatnya pagelaran pilkada serentak di sejumlah kota/kabupaten di Indonesia, 9 Desember 2020. Soppeng termasuk salah satu daerah yang melakukan pemilihan bupati.

Beberapa kali melintas di rumah pribadi bupati terpilih, saya melihat banyak kendaraan berjejer terparkir di dalam dan pinggir jalan. Dugaan saya, para tim sukses dan pendukung militan tengah merayakan euforia kemenangan di dalam rumah bupati terpilih.

***

Soppeng, yang berjarak sekitar 162,3 kilometer dari Makassar, memang menarik untuk dikaji secara akademis. Dan, karenanya, kami bertandang ke sini memang untuk melakukan pemetaan isu-isu aktual terkait kebutuhan riset kantor kami, Balai Litbang Agama Makassar, proyeksi 2022.

Setelah bertemu dan mengobrol dengan Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Soppeng, Dr. KH. Huzaemah, M.Ag, saya mengetahui banyak fenomena menarik yang bisa digali dan diteliti. Seperti, misalnya, Al-Qur’an yang ditulis tangan, yang diduga berusia ratusan tahun, di Tampening.

Saya belum sempat berkunjung ke Kampung Tampening, yang dikenal juga dengan keindahan batu permatanya. Karena itu, saya pun belum melihat dari dekat Al-Qur’an tersebut.

Huzaemah, yang sempat memegang dan melihat tulisan Al-Qur’an tersebut, menyatakan, Al-Qur’an tersebut tidak berukuran besar. Ia menganalogikan, ukurannya seperti dua buah teh kotak.

“Kayak begini ukurannya,” katanya, sambil memegang dua buah teh kotak dan kemudian didempetkan menjadi satu, saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis, 10 Desember 2020.

Menurut Huzaemah, Al-Qur’an tersebut ditemukan warga tempatan di salah satu pucuk pohon kelapa di kampung tersebut.

Ketika ditemukan, warga sama sekali tidak menduga kalau “benda” yang nangkring di atas pucuk pohon kelapa adalah Al-Qur’an. Terlebih lagi, ditulis tangan. Warga semula menduga “benda” itu hanyalah benda biasa.

Lambat laun, masyarakat tempatan memperlakukan Al-Qur’an ini secara khusus. Selama disimpan, ia juga dibungkus kain tertentu, “dibaca-bacai” kalau hendak dibuka, serta dijaga dan dirawat oleh dukun kampung (sanro) terpilih. Ia disakralkan.

Setiap Agustus dan hingga kini, bertepatan dengan bulan ditemukannya Al-Qur’an, seluruh masyarakat di Kampung Tampening merayakan secara meriah. Kepala desa dan warga bersama-sama mengarak Al-Qur’an tersebut. Sanro yang memimpin arakan ini.

Arakan dimulai dari masjid di kampung ini, dan kemudian berakhir di masjid tadi. Selama arakan berlangsung, semua warga membaca  zikir dan salawatan.

Dalam pandangan Antropolog, benda yang diperlakukan khusus oleh masyarakat atau komunitas tertentu, diyakini sebagai benda “bertuah” dan membawa berkah buat komunitas tersebut.

Sanro yang dipercaya menjaga dan memelihara Al-Qur’an ini, bukanlah sanro sembarangan. Ia adalah sanro pilihan. Bahkan, bila sanro yang ditugasi menjaga ini kelak meninggal, ia akan digantikan oleh penerusnya, yang juga berasal dari keluarga sanro tadi.

Tidak sembarangan orang bisa memegang, membuka, dan apalagi melihat isi bacaannya. Orang yang ingin melihat terlebih dulu mendapat izin dari sanro dan kepala desa. Konon, kalau tidak mendapat restu, huruf-huruf Al-Qur’an itu bisa mendadak hilang, lenyap, sehingga tidak bisa terbaca.

Huzaemah sendiri mengaku pernah memegang dan membuka isinya. Saat mendengar kabar tersebut, ia bersama beberapa “anak buahnya” di Kemenag Soppeng mendatangi kampung tersebut.

“Setelah diberi izin sanro-nya, saya melihat isi Al-Qur’an itu dan memang betul ditulis tangan. Huruf-hurufnya juga tidak ada yang salah. Benar semua,” katanya.

“Hanya saja, cara penulisannya melampaui garis-garis akhir. Di situ ada juga terselip lembar catatan seperti buku nikah, dan tercatat tulisan 260 dalam bahasa Arab. Pada bagian depan, ada tulisan pakai bahasa Indonesia tetapi ejaan lama, dan tulisan China,” lanjutnya.

Sayangnya, saya belum mendapat informasi tentang siapa yang menulis tangan Al-Qur’an ini. Saya juga penasaran, tulisan itu menggunakan tinta apa, bagaimana bentuk kertasnya, dan apakah benar usianya mencapai ratusan tahun?

“Kami senang sekali kalau ada Peneliti BLAM yang datang ke sini (Soppeng) dan meneliti Al-Qur’an itu. Kami akan menemani ke sana, supaya diberi kemudahan untuk menelitinya,” kata Huzaemah.

Desa Sadar Kerukunan

Soppeng juga tergolong unik. Secara etnis, identitas keislaman kerap kali dilekatkan pada orang Bugis. Begitu ada orang menyebut dirinya Orang Bugis, maka tanpa ditanya apa agamanya, orang ini biasanya memeluk Islam. Hal ini diperkuat dengan riset kajian sejarah yang mengulas kerajaan-kerajaan Islam dan Islamisasi di Tanah Bugis.

Namun, tidak semua Orang Bugis beragama Islam di Soppeng. Ada juga Orang Bugis memeluk Kristen, seperti terdapat di Desa Coko, Takalalla. Di desa ini, penduduk memeluk dua agama; Islam dan Kristen.

Yang menarik, mereka yang beda agama ini (sama-sama Bugis), ternyata masih terikat jalinan keluarga atau kerabat.

Tak heran, meski menganut agama berbeda, kita masih menjumpai ada orang Islam dan orang Kristen tinggal satu atap dan rukun-rukun. Kemenag Soppeng sendiri menggambarkan desa ini “Miniatur Desa Kerukunan”  dan kemudian disematkan sebagai “Desa Sadar Kerukunan.”

Ketika Soppeng mengalami musim kemarau panjang dan paceklik panen pada 1972, pendakwah Kristen (misionaris) memasuki desa ini. Mereka menjalankan misi ganda. Selain memberikan bantuan makanan, misionaris juga mengajak warga memeluk Kristen. Ada yang pindah agama, tetapi lebih banyak yang bertahan (menganut Islam).

Selain itu, saya juga menemukan cerita lain, terutama ketika Soppeng dikait-kaitkan dengan Kristenisasi.  Huzaemah menuturkan, yang di Kristen-kan sebenarnya hanyalah kartu identitas warga, bukan orangnya.

“Para misionaris ini memberikan bantuan kepada warga dengan catatan warga menyerahkan kartu identitasnya. Warga yang memberikan kartu identitas kemudian dilaporkan oleh misionaris kepada pimpinannya di pusat sebagai umat Kristen baru. Jadi, yang Kristen sebenarnya kartu identitasnya, bukan orangnya,” kata Huzaemah.

Sejumlah orang yang saya temui juga menyatakan, desa itu sejak beberapa tahun dihuni pula etnis lain, seperti Toraja. “Kalau Toraja yang tinggal di sana, semuanya beragama Kristen. Tapi tidak ada masalah. Tidak pernah ada konflik agama di sana,” kata Muhammad Arif, salah seorang tokoh agama di Soppeng.

Tradisi Lokal sebagai Kearifan Lokal

Soppeng kental dengan tradisi lokalnya. Saya mencatat, banyak sekali tradisi lokal peninggalan leluhur, yang masih dipraktikkan masyarakat Soppeng sampai saat ini.

Sebut, misalnya, Maddoja Bine, atau ritual sebelum menanam benih padi. Yang mengiringi ritual ini adalah Mappadendang dan Massure’, yang menceritakan tentang Meong Palo KarellaE, yang diambil dari kisah di dalam naskah La Galigo.

Ada juga Pattaungeng, tradisi untuk mengatasi krisis air, yang kerap digelar di sumber mata air ompo, serta tradisi memasuki rumah baru atau Manre’ Bola, dan masih banyak lagi.

Funk dan Wagnalls (dalam Muhaimin, 2001), memaknai tradisi sebagai pengetahuan, doktrin, kebiasaan, dan praktik. Oleh masyarakat tempatan, ia juga dipahami sebagai pengetahuan yang diwariskan secara turun temurun, termasuk cara penyampai doktrin dan praktik tersebut.

Setiap menggelar satu tradisi, masyarakat Soppeng selalu menyertainya dengan ritual-ritual tertentu. Antropolog kawakan Indonesia, Koentjaraningrat, dalam bukunya, “Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan (1975)”, menyebutnya, upacara keagamaan.

Upacara keagamaan dibagi menjadi empat komponen, yaitu: tempat upacara, saat upacara, benda-benda upacara, dan orang-orang yang melakukan dan memimpin upacara.

Tradisi lokal juga menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat atau komunitas tertentu. Ia kerap dijadikan instrumen untuk meredam suatu masyarakat yang tengah bertikai.

Tak heran, sering kali tokoh agama maupun tokoh masyarakat mengingatkan kembali tentang kearifan lokal mereka, bila ada di antara mereka terlibat pertikaian atau bentrok.

Samsul Maarif, dalam “Kata Pengantar” di buku “Mutiara Terpendam Papua; Potensi Kearifan Lokal untuk Perdamaian di Papua (2015)”, menyayangkan sikap sebagian orang yang menyebutkan kearifan lokal hanyalah diskursus romantisme belaka. Atau, kearifan lokal diasumsikan sebagai konsep masa lalu yang coba dipaksakan untuk diterapkan pada masa sekarang tanpa sikap kritis.

Menurut Samsul Maarif, kearifan lokal adalah sebuah konsep yang menekankan pentingnya “dinamika.” Kearifan lokal adalah tentang perubahan sekaligus keberlanjutan. Ia adalah tentang masa lalu, sekaligus tentang masa sekarang dan masa depan. Sehingga, kearifan lokal identik dengan dinamika, transformasi, dan reproduksi.

Kearifan lokal, kata Samsul lagi, dapat pula dipahami sebagai sistem budaya yang diciptakan, direproduksi, dan digunakan oleh komunitas untuk mencapai tujuan komunitasnya.

“Sebagai sistem budaya, kearifan lokal adalah alat untuk mengembangkan multikulturalisme yang menekankan pentingnya pengakuan, penerimaan, penghargaan, dan perayaan perbedaan,” tulis Samsul Maarif. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *