Tue. Jan 19th, 2021

BLAM

KEREN

Paulo Freire & Kritik Pendidikan

3 min read

Sumber gambar: belajarbahasa.github.io

1,553 total views, 2 views today

Oleh: Saprillah (Kepala Balai Litbang Agama Makassar)

Paulo Freire bukanlah nama asing bagi para penggiat pendidikan kritis. Namanya sangat populer dan menjadi patron dalam pengembangan sistem pendidikan alternatif. Namun, dia “musuh” dari sistem pendidikan konvensional yang berorientasi pada hasil.

Saya ragu jika banyak guru yang mengenali Freire dan menerima pemkirannya. Oleh karena pemikiran Freire pada dasarnya mencemooh posisi mereka sebagai penindas. Kelas yang mengopresi para siswa melalui pendidikan.

Freire dan Pendidikan Pembebasan

Saya sangat menggilai pemikiran Pendidikan Paulo Freire tentang pendidikan pembebasan, khususnya ketika masih mahasiswa dan aktif di salah satu organisasi ekstra di kampus.

Pemikiran Freire, bagi saya, memberi gairah dari kejenuhan sistem pendidikan yang saya alami selama bertahun-tahun. Freire memberi kritik keras terhadap sistem pendidikan yang hanya mengarahkan para siswa sebagai bagian dari banking system.

 Para guru hanya mendeposit pengetahuan di kepala para siswa, dan mengujinya di akhir semester sebagai alat ukur keberhasilan sistem pendidikan.

Bagi Freire, sistem seperti ini tidak menjadikan siswa sebagai pembelajar, tetapi sekadar mendaftar ilmu pengetahuan yang diperoleh secara pasrah dari para guru.

Saya bahkan mengembangkan pemikiran Freire dalam konteks yang lebih besar. Sistem banking ini tidak hanya sekadar berlaku dalam proses pembelajaran, tetapi juga menjadi idelogi di balik sekolah.

Bagi anak-anak miskin dari pedesaan dan pinggiran peradaban, sekolah adalah jalan terang menuju perbaikan nasib.

Doktrin bahwa sekolah adalah satu-satunya pintu menuju masa depan yang lebih baik, secara ekonomis benar-benar memengaruhi seluruh warga dunia, apalagi warga kelas menengah ke bawah. Jadilah sekolah sebagai jalan tol menuju kesuksesan. Saya tidak memungkiri ini.

Apa yang saya peroleh hari ini, suka atau tidak suka, adalah bagian dari jasa sekolah. Sederhananya, kalau saya tidak sekolah, maka saya tidak mungkin mencapai titik ini. Argumen ini sangatlah strong. Tidak terpungkiri sama sekali.

Tidak ada satupun orang sukses di dunia ini tanpa melalui sekolah. Bahkan, Freire sendiri adalah seorang professor ternama, dan dengan demikian, dia produk sekolah.

Lantas, apakah saya harus mengatakan, bahwa pemikiran kritis Freire adalah utopian? Pemikiran idealis khas kaum kiri, tetapi yang selalu memenangkan situasi dan peradaban, justru kelompok kanan. Pendidikan berbasis kapitalisme justru semakin kuat cengkramannya.

Selain sekolah formal, kursus-kursus yang menawarkan pengetahuan instan (dan mudah terlupakan setelahnya) berjamur. Mereka bermain di tengah kebijakan nasional tentang pendidikan yang tidak bisa dipenuhi oleh sekolah.

Tidak. Pemikiran Freire tetaplah relevan. Freire tidaklah menyarankan dekonstruksi sekolah, melainkan dialog yang setara di dalam proses kelas.

Saya menyaksikan bagaimana para guru modern sudah datang dengan pendekatan yang lebih humanis terhadap anak-anak. Cerita guru otoriter dan memaksakan kehendak sudah lewat.

Yang ada sekarang adalah guru formalis. Mereka berupaya menyelesaikan tugas-tugas yang sudah disusun melalui kontrak belajar. Para guru modern berubah menjadi pegawai perusahaan yang mengukur indikator keberhasilan pada indikator-indikator statistik bernama raport dan hasil ujian.

Pendidikan yang Menemukan

Saya mengajukan pendekatan lebih moderat terhadap pemikiran Freire. Saya menyebutnya, Pendidikan yang menemukan.

Saya setuju dengan Freire, bahwa pendidikan harus membebaskan, tetapi saya tidak setuju jika para guru kehilangan otoritasnya dalam mengendalikan ilmu pengetahuan.

“Pendidikan yang menemukan” adalah adaptasi dari pondasi pemikiran Frerie. Sekolah adalah lingkungan di mana anak-anak menemukan dirinya sendiri. Sekolah harus datang dengan kesadaran, bahwa anak-anak yang berjejer di halaman sekolah adalah anak-anak unik yang menyimpan potensi besar.

Anak-anak dengan kemampuan seni, sastra, dan olahraga harus ditemukan lebih cepat melalui sistem “pendidikan yang menemukan.” Sekolah harus mulai merevisi pandangannya, bahwa matematika, bahasa Inggris, dan pelajaran eksakta, bukanlah ukuran kecerdasan. Sekolah harus memiliki mekanisme untuk menemukan kemampuan anak-anak dengan segera.

Anak-anak tidak boleh dipacu untuk memiliki nilai tinggi untuk semua mata pelajaran. Anak-anak yang mendapatkan nilai tinggi secara konstan harus diperhatikan dengan mengabaikan nilai-nilai rendah yang didapatkannya.

Paradigma ini harus dimulai, bahwa pembelajaran di sekolah bukan untuk mencetak anak cerdas sejak dini, tetapi pembelajaran adalah proses seleksi dari kemampuan alamiah sang anak.

Sekolah yang berhasil menemukan potensi alamiah sang anak akan sangat penting dalam melahirkan generasi berkualitas di masa depan. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *