Wed. Jan 20th, 2021

BLAM

KEREN

Moderasi Beragama: Jalan Keberagamaan tanpa Kekerasan

5 min read

Sumber gambar: jalandamai.org

12,531 total views, 4 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Paradoks Keberagamaan

Jumat pagi, 27 November 2020, di Desa Lembatongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Empat orang, yang masih satu keluarga, meregang nyawa secara tragis. Mereka dibunuh oleh gerombolan yang menamakan dirinya Mujahidin Indonesia Timur (MIT).

Kejadian di Sigi memperlihatkan satu gambaran, bahwa ada orang yang tega melakukan tindakan sadis atas nama agama. Tentu bukan hal baru, karena kekerasan atas nama agama telah menjadi fakta di berbagai tempat dan lintasan waktu.

Kekerasan atas nama agama seolah menjadi momok yang menodai doktrin agama sebagai jalan keselamatan. Teror berlabelkan agama menjadi anomali dari seruan agama sebagai ajaran cinta damai.

Agama menjadi bagian inhern dalam sejarah sosial manusia. Menjadi fakta yang begitu dekat dan bagi banyak orang, agama adalah identitas yang sangat lekat. Begitu dekat dan lekatnya agama sebagai fakta dan identitas, sehingga agama menjadi hal yang paling mudah dijadikan alat untuk menyulut emosi terdalam dan melakukan tindakan kekerasan.

Mungkin, agama bukanlah satu-satunya dimensi primordial pada jiwa manusia. Namun, penyandaran pada dimensi teologis dan eskatologis, membuat agama menjadi fakta primordial terunik dan tersensitif dalam sejarah manusia.

Apalagi, jika agama berkelindan dengan hasrat ekonomi dan syahwat politik, agama kerap tak lagi menunjukkan wajah yang ramah, melainkan menjadi pemantik amarah yang memicu tragedi kemanusiaan yang penuh darah.

Kerap kita disajikan dengan kenyataan yang paradoks, seseorang yang tampak begitu sangat religious, rajin beribadah, dan terlihat sangat takut kepada Tuhan. Akan tetapi, pada saat yang sama, mereka juga tega melakukan tindakan biadab dengan membantai manusia tak bersalah.

Paradoks lainnya, ketika tindakan kekerasan nan biadab itu justru diyakini memiliki legitimasi dari keyakinan keagamaannya, sehingga mengklaim tindakannya tersebut adalah tindakan benar dan diridhai Tuhan. Bahkan, meyakini dengan jalan itulah, mereka akan mendapatkan reward keselamatan dari Tuhan.

Sebagai contoh, betapa kita sulit untuk mengerti mengapa seorang Amrozi yang tampak sangat religious, tetapi tega ikut andil dalam teror bom Bali yang membuat ratusan nyawa melayang. Demikian pula kasus Sigi. Kira-kira, apa salah korban tersebut kepada Ali Kelora dan kelompoknya, sehingga mereka harus dibantai secara sadis?

Paradoks semacam inilah yang digambarkan Charles Kimball dengan ungkapan; “Ketika banyak orang menyandarkan harapannya pada agama sebagai jalan keluar untuk mengatasi masalah. Namun, di sisi lain, kita disuguhkan dengan fakta-fakta bahwa agama kini telah menjadi bencana bagi manusia.”

Sebagai orang beragama, tentu kita tidak bisa menerima jika agama digunakan sebagai alat kekerasan. Namun, kita pun tak dapat memungkiri fakta, bahwa pada sebagian orang, agama telah dijadikan alat untuk melegitimasi tindakan kekerasan yang menodai kemanusiaan dan bahkan menodai agama itu sendiri.

Ekstremisme Beragama

Mengapa orang beragama yang sedemikian saleh secara ritual namun secara sosial dapat dengan tega melakukan tindakan kekerasan? Tentu jawabnya, karena keberagamaan yang terlampaui ekstrem, sehingga tidak bisa menerima ruang bagi adanya perbedaan.

Ekstremisme beragama memungkinkan seseorang atau sekelompok orang untuk menegasi dan mengeksklusi orang atau kelompok lain. Bahkan, pada tataran yang paling ekstrem, negasi dan eksklusi tersebut diwujudkan dalam tindakan kekerasan untuk menghabisi yang lain.

Ekstremisme beragama yang tidak menerima ruang perbedaan, memungkinkan seseorang atau sekelompok orang melakukan tindakan intimdasi, persekusi, bahkan hingga genosida kepada orang atau sekelompok orang hanya karena perbedaan agama, atau bahkan hanya karena perbedaan aliran keagamaan.

Ekstreisme beragama, menurut Godon W. Alport, disebabkan pola keberagamaan yang ekstrinsik. Yaitu, keberagamaan yang hanya fokus pada pemaknaan literer atas dogma, beragama dengan sangat simbolik dan formalistik.

Ekstremisme, adalah gerakan keberagamaan yang centrifugal, atau gerak yang menjauh dari pusat atau inti dari agama menuju sisi yang terluar dari agama. Itu sebabnya, ekstremisme agama menunjukkan pola keberagamaan ekstrinsik dan eksoterik.

Dogma, hukum, dan ritus keagamaan dimaknai secara kaku dengan tafsir tunggal dan menegasi keragaman tafsir maupun ekspresi keagamaan.

Sampai di sini, sangat jelas tak ada ruang yang dimungkinkan bagi keragaman pandangan atau keyakinan, baik agama maupun mazhab/sekte.

Aspek lahir (eksoteris) dari agama menjadi penekanan utama dan cenderung mengabaikan aspek batin (esoteris). Sehingga, nilai-nlai batin yang merupakan substansi dari agama seperti cinta kasih menjadi terabaikan. Kalah oleh penguatan aspek normativitas agama yang sangat eksoterik.

Sehingga, wajarlah, misalnya, pada sebagian Muslim yang berpikiran ekstrem, memahami jihad hanya dalam artian sempit yang bermakna qital (perang). Padahal, secara substantif,  makna jihad adalah upaya sungguh-sungguh untuk menjadi manusia. Itulah makna jihad terbesar adalah jihad melawan diri sendiri.

Qital atau perang, adalah makna tersempit dan eksoterik dari jihad, yang hanya dimungkinkan sebagai jalan defensif. Namun, bagi mereka yang ekstrem dan eksoterik, jihad adalah sikap ofensif melawan atau bahkan membasmi mereka yang dianggap sebagai musuh Allah.

Moderasi Beragama

Lawan dari keberagamaan yang ekstrem, adalah keberagamaan yang moderat. Yaitu, keberagamaan yang penekanannya ada pada titik tengah dari agama yang intrinsik, substantif, dan cenderung esoterik.

Moderasi beragama, adalah gerak keberagamaan yang centripetal, yaitu gerak dari pinggir yang selalu cenderung bergerak menuju pusat atau titik tengah yang merupakan titik equilibrium (keseimbangan).

Dogma, hukum, dan ritus dimaknai sebagai jalan untuk membentuk pribadi yang bijaksana. Keberagamaan intrinsik mengarahkan pada kematangan beragama yang bersikap terbuka pada keragaman fakta, pandangan, dan nilai.

Agama dipandang sebagai comprehensive commitment dan driving integrating motive. Agama diterima bukan hanya sekadar sebagai pemandu, tetapi juga sekaligus sebagai pemadu (uniflying factor). Implikasi dari pola keberagamaan secara eksternal, adalah keberagamaan inklusif dan toleran.

Dengan demikian, sikap moderasi beragama adalah pilihan untuk memiliki cara pandang, sikap, dan perilaku di tengah-­tengah di antara pilihan ekstrem yang ada. Sedangkan ekstremisme beragama, adalah cara pandang, sikap, dan perilaku melampaui batas dalam pemahaman dan praktik beragama.

Oleh karena itu, moderasi beragama adalah cara pandang, sikap, dan perilaku yang selalu mengambil posisi di tengah-tengah, selalu berupaya untuk adil, serta tidak ekstrem dalam beragama.

Anti Kekerasan

Dalam buku Moderasi Beragama yang diterbitkan Kementerian Agama (2019), disebutkan,  salah satu dari empat indikator moderasi beragama adalah anti kekerasan.

Kekerasan atas nama agama atau radikalisme dalam konteks moderasi beragama, dipahami sebagai suatu paham keagamaan yang ingin melakukan perubahan pada sistem sosial dan politik, dengan menggunakan cara-­cara kekerasan/ekstrem atas nama agama, baik berupa kekerasan verbal maupun fisik.

Inti dari tindakan radikalisme adalah sikap dan tindakan seseorang atau sekelompok orang yang menggunakan cara-­cara kekerasan dalam memperjuangkan cita  perubahan yang diinginkan.

Perubahan yang dimaksud adalah perubahan tatanan sosial ke arah tatanan sesuai cara pandangnya saja dan menegasi beragam cara pandang yang lain. Bahkan, memandang cara pandang yang lain itu sebagai cara pandang yang sesat, sehingga tidak boleh diberi ruang. Bahkan, bila perlu harus dihabisi.

Radikalisme yang menjadi dasar kekerasan atas nama agama sering dikaitkan dengan terorisme. Sebab, kelompok radikal dapat melakukan cara apa pun agar keinginannya tercapai, termasuk meneror pihak yang tidak sepaham dengan mereka.

Moderasi beragama berbasis pada nilai universal agama yang mengajarkan keseimbangan dalam berbagai aspek kehidupan yang menjunjung tinggi niai-nilai kemanusiaan.

Bagi Moderasi Beragama, nilai-nilai kemanusiaan adalah salah satu nilai esensial agama yang harus ditegakkan.

Dengan demikian, Moderasi Beragama tidak memberi ruang untuk membenerkan tindakan kekerasan apa pun atas nama agama yang mencederai nilai-nilai kemanusiaan.

Anti kekerasan sebagai salah satu indikator Moderasi Beragama, dengan sendirinya terwujud pada sikap kesalehan beragama yang tak terjebak pada keberagamaan yang simbolik dan formalis.

Praktik keberagamaan yang moderat menuntun pada pencapaian dua kesalehan secara berkelindan, yaitu kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Sehingga, perilaku keberagamaan yang santun dan penuh cinta kasih akan menjadi refleksi kongkret dari keberagamaan yang moderat.

Sebagai jalan keberagamaan yang anti kekerasan, Moderasi Beragama memunculkan nilai-nilai kesalehan sosial dari keberagamaan yang sejati. Nilai kepribadian adiluhung yang tergambar dalam praktik kongkret yang disebut akhlakul karimah.

Yaitu, agama yang ramah bukan marah. Agama yang mengajak bukan mengejek. Agama yang membina bukan menghina. Agama yang merangkul bukan memukul. Serta, keberagamaan yang penuh cinta kasih tanpa pilih kasih. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *