Wed. Dec 2nd, 2020

BLAM

KEREN

Masih Ada Guru PAI Enggan Hormat Bendera, Kemenag Bulukumba Berharap Kerjasama dengan BLAM

3 min read

Peneliti BLAM melakukan sosialisasi hasil temuan riset di Kantor Kemenag Bulukumba. Foto: Istimewa

1,939 total views, 2 views today

BULUKUMBA, BLAM – Sejumlah Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di Madrasah Aliyah dan SMA di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar), ternyata masih enggan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan memberi penghormatan kepada bendera merah putih.

“Mereka adalah Guru PAI yang berafiliasi dengan salafi. Mereka menganggap upacara menghormat bendera menyalahi perintah agama,” kata Peneliti Balai Litbang Agama Makassar (BLAM), Dr. Syamsurijal, saat menyambangi Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bulukumba dan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Bulukumba, Selasa, 17 November 2020.

Syamsurijal ke Bulukumba, Sulawesi Selatan (Sulsel), bersama tiga Peneliti BLAM, yaitu Dr. Sabara, Muh. Irfan Syuhudi, dan Muh. Dachlan.

Mereka datang untuk mensosialisasikan temuan penelitian tahap kedua BLAM pada 2020 tentang Pemahaman Moderasi Beragama Guru PAI di Madrasah Aliyah dan SMA di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar). Syamsurijal bertindak koordinator pada penelitian ini.

Untuk Sulsel, lokasi penelitian memilih Makassar, Bantaeng, Bulukumba, Wajo, Bone, dan Palopo. Sedangkan di Sulbar menyasar Kabupaten Polewali Mandar dan Majene.

Hasil temuan riset ini sudah diseminarkan secara nasional oleh masing-masing penelitinya di Makassar, Oktober 2020, dan sudah menghasilkan Executive Summary serta Policy Brief.

Riset ini merujuk pada tiga aspek Moderasi Beragama berdasarkan Buku “Moderasi Beragama” terbitan Kementerian Agama 2019, yaitu Penghargaan terhadap keragaman atau sikap toleransi; pandangan terhadap hubungan negara dan agama atau sikap guru PAI terhadap bentuk negara yang telah disepakati saat ini; dan penghargaan terhadap kebudayaan, tradisi, dan kesenian yang berkembang di masyarakat.

Di Kantor Kemenag Bulukumba, Tim Peneliti Bimas Agama dan Layanan Keagamaan BLAM diterima Kepala Kemenag Bulukumba, Dr. H. Ali Yafid, M.Pd.I, beserta Kepala Tata Usaha dan semua kepala seksi. Usai sosialisasi, peneliti menyerahkan hasil Executive Summary kepada Kemenag Bulukumba.

Syamsurijal melanjutkan, temuan menarik lainnya, adalah beberapa Guru PAI menganggap tradisi lokal di masyarakat tidak sesuai ajaran Islam, dan banyak mengandung takhayul, bid’ah, dan khurafat.

“Guru PAI yang cenderung menolak adalah mereka yang berafiliasi dengan salafi, atau sering mendengarkan pengajian dari ustaz salafi, baik secara langsung maupun melalui media sosial,” ujar Syamsurijal.

Guru PAI yang cenderung menolak kebudayaan, kesenian, dan tradisi lokal banyak ditemukan  di Bulukumba dan Bantaeng. “Sebagian kecil ada di Makassar dan Kota Palopo,” kata Syamsurijal, yang juga Ketua Lajnah Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN-NU), Sulsel, ini.

Kepala Kemenag Bulukumba, Dr. H. Ali Yafid, M.Pd.I, mengaku,  riset BLAM ini sangat membantu mereka untuk memetakan kondisi sosial keagamaan Guru PAI di daerahnya.

“Yang pasti, kami tentu sangat berterima kasih. Hasil riset ini semakin memudahkan kami untuk lebih memahami lagi paham keagamaan Guru PAI di lingkungan madrasah aliyah dan SMA di Bulukumba,” kata Ali Yafid.

Ali Yafid mengakui, salah satu penyebab munculnya paham keagamaan ektrem di kalangan Guru PAI adalah karena mereka kurang membaca. Boleh jadi, Guru PAI selama ini hanya membaca buku tertentu, tetapi menjadikan buku tersebut sebagai sumber rujukan utama.

“Saya akui, ini mungkin disebabkan oleh kurangnya literatur bacaan. Budaya literasi Guru PAI kurang begitu baik. Ketika Guru PAI hanya mengajarkan satu mazhab kepada anak-anak (siswa), maka anak-anak itu bisa tumbuh menjadi intoleran, karena tidak ada bacaan lain sebagai perbandingan,” kata Ali Yafid.

Untuk mensosialisasikan pemahaman Moderasi Beragama Guru PAI di lingkungan Kemenag Bulukumba, Ali Yafid berharap menjalin kerja sama dengan BLAM.

“Insya Allah kita akan programkan satu kegiatan tentang Moderasi Beragama di Kemenag Bulukumba. Kami akan mengundang Peneliti BLAM untuk berbicara dan menjelaskan Moderasi Beragama. Apalagi, Moderasi Beragama merupakan misi kementerian agama,” kata Ali Yafid.

Di tempat terpisah, Kepala MAN 2 Bulukumba, Anas Muhammad, menyatakan, untuk mengetahui pemahaman keagamaan guru di madrasah, terutama guru yang baru lulus,  pemerintah menelorkan satu program yang diberi nama Program Induksi Guru Pemula Madrasah (PIGPM). Program ini baru berjalan dua tahun.

“PIPGM ini merupakan program nasional berupa pendampingan terhadap guru baru. Pendampingan dilakukan selama satu tahun,” kata Anas, di ruangan kerjanya, usai mendengarkan Tim Peneliti BLAM memaparkan temuan risetnya.

Anas menjelaskan, model pendampingan PIPGM adalah apabila guru mata pelajaran umum, maka guru bersangkutan akan didampingi dua pendamping, yaitu satu guru sesuai mata pelajaran guru bersangkutan, dan satunya lagi guru agama, selaku pembimbing spiritual.

Sementara itu, kata Anas, jika guru bersangkutan mengajar mata pelajaran agama, mereka hanya didampingi satu pendamping saja, yaitu guru agama sekaligus menjadi pembimbing spiritual.

“Cara mengajar guru baru ini akan dipantau oleh pendampingnya ketika mereka mengajar di ruangan kelas, berdialog dengan siswa, termasuk memerhatikan tata cara salatnya,” kata Anas Muhammad. (ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.