Wed. Dec 2nd, 2020

BLAM

KEREN

Kerikil dalam Sepatu Oemar Bakri: Pahlawan Tanpa Tanda Jasa dalam Naungan Eksklusivisme Beragama?

5 min read

Ilustrasi seorang guru mengajar di ruangan kelas. Sumber gambar: agnazgeograph.wordpress.com

14,296 total views, 110 views today

Oleh: Syamsurijal (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Oemar Bakri, Oemar Bakri
Pegawai negeri
Oemar Bakri, Oemar Bakri
Empat puluh tahun mengabdi
Jadi guru jujur berbakti memang makan hati
Oemar Bakri, Oemar Bakri
Banyak ciptakan menteri
Oemar Bakri
Profesor, dokter, insinyur pun jadi
Tapi mengapa gaji guru Oemar Bakri
seperti dikebiri?”

Masihkah Anda ingat lirik lagu di atas?

Kalau Anda remaja 1980-an dan 1990-an, Anda kemungkinan tahu lagu tersebut. Bahkan, boleh jadi, masih mengenangnya hingga hari ini.

Lirik itu adalah sepenggal bait lagu Iwan Fals: “Guru Oemar Bakri”. Lagu itu  bercerita tentang seorang guru bersahaja bernama Oemar Bakri. Ia yang menciptakan banyak menteri, profesor, insinyur, dan dokter, tetapi nasibnya sering kali nelangsa. Gajinya kecil. Sudah begitu, acap kali dikebiri pula.

Ketika lagu itu sedang popular, guru memang sering didengungkan sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Aforisme itu pujian. Tetapi, mungkin juga menunjukkan nasib guru yang memang tidak mendapat perhatian. Iwan Fals dengan jitu memotret dan mengeritisi fenomena sosial tersebut melalui lagu “Guru Oemar Bakri-nya.”

Namun, konon, itu dulu. Kala rezim orde baru sedang kuat-kuatnya menancapkan kuku kekuasaannya.

Sekarang ini, para Oemar Bakri, meminjam istilah Iwan Fals dalam lagunya tadi, boleh dikata, cukup sejahtera. Para guru berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN), apalagi sudah bersertifikasi, tentu hidupnya tidak memprihatinkan lagi.

Hanya memang tidak semua guru adalah ASN, dan apalagi bersertifikasi. Konon, malah lebih banyak honorer. Guru berstatus honorer ini, sampai kini, biasanya bertahun-tahun mengabdi dengan gaji tidak seberapa.

Dalam situasi antara Guru ASN yang mulai sentosa dan honorer yang masih makan hati, terbetiklah sebuah berita. Kabarnya, di antara para guru tersebut, terjebak dalam belenggu eksklusivitas beragama.

Istilah eksklusivitas ini, saya sengaja gunakan untuk mengganti istilah intoleran dan radikal, yang digunakan oleh beberapa lembaga, yang meneliti para pahlawan tanpa tanda jasa ini. Saya tidak tega menyematkan istilah intoleran dan radikal kepada para guru.

Riset PPIM

Hal tersebut terungkap dalam dua riset yang digeber Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah.

Riset pertama 2016, yang fokus mengulik pandangan guru agama terhadap toleransi. Dalam penelitian ini, ada beberapa temuan yang bisa menjadi semacam kerikil cukup tajam bagi guru agama. Di antaranya disebutkan: “Sekitar 80% responden menolak pemimpin, baik di lingkungan sekolah, kepala dinas pendidikan maupun kepala daerah, yang tidak seagama.”

Dua tahun berikutnya, 2018, PPIM UIN Jakarta & Convey Indonesia, kembali menggeledah pemahaman keagamaan guru-guru di Indonesia. Kali ini tidak hanya guru agama, tetapi juga guru secara umum.

Temuannya lagi-lagi membuat kita terhenyak. Di antaranya disebutkan: “Sekitar 53,06% guru-guru di Indonesia secara implisit beropini intoleran, dan 10,1% sangat intoleran. Sementara secara eksplisit, ada 50,87% guru-guru beropini intoleran dan 6,03% beropini sangat intoleran.”

Contoh yang dimaksud opini intoleran dalam penelitian ini, salah satunya: “56% guru-guru tersebut menyatakan secara eksplisit tidak setuju sekolah non muslim berdiri di lingkungan mereka.”

Ada pula di antara guru tersebut  yang dianggap sudah beropini radikal, karena mereka setuju jika ada orang orang memperjuangkan negara Islam, atau setuju jika ada yang ingin berjihad ke Syuria dan Irak untuk mendirikan khilafah.

Betapa pun banyak pihak mempertanyakan indikator yang digunakan dalam penelitian tersebut, tetapi lamat-lamat ada satu informasi tentang para guru ini.

Informasi itu yakni, sebagian di antara Oemar Bakri tersebut telah terpapar paham-paham intoleran, bahkan mungkin radikal. Atau, paling tidak, dalam istilah saya, mereka terperangkap dalam eksklusivitas beragama.

Riset BLAM

Setelah penelitian PPIM menunjukkan demikian, pada 2020, Balai Litbang Agama Makassar (BLAM), akhirnya ikut tergelitik menyibak mendung yang sedang menggelayuti para guru tersebut.

Penelitian pun dilakukan dalam tema “Pemahaman Moderasi Beragama Pendidikan Guru Agama Islam di Madrasah Aliyah dan SMU.”

Penelitian BLAM memang tidak menyuguhkan angka-angka ekstrem, yang menunjukkan intoleransi guru sebagaimana penelitian PPIM. Akan tetapi, tetap saja menemukan adanya problem eksklusivitas beragama di kalangan Guru PAI tersebut.

Yang menggembirakan, karena dalam beberapa aspek, misalnya, pemahaman tentang hubungan negara dan agama, tidak banyak lagi dari para guru tersebut mengidamkan adanya negara agama. Mereka memahami, bahwa model hubungan integratif atau bentuk teokrasi, hanya akan mengoyak persatuan di Indonesia yang berbineka ini.

Dalam aspek menghargai keragaman, terlihat di antara Guru PAI tersebut memang masih ada yang cenderung tidak bisa sepenuhnya menerima. Penerimaan mereka bersyarat.

Temuan BLAM ini memang lebih menggembirakan dari temuan PPIM. Hanya saja, sebagai catatan, temuan PPIM sebelumnya yang menunjukkan adanya gejala intoleransi di kalangan guru, juga masih terlihat dalam penelitian ini.

Misalnya, masih ditemukan adanya guru yang tidak bisa sepenuhnya menerima agama lain yang berbeda. Juga, masih ada yang menganggap siswa beda agama sebagai kelompok lain,  yang tidak bisa ditemani bergaul dengan akrab.

Singkat kata, penelitian terakhir ini, setidaknya masih mengonfirmasi, bahwa di kalangan guru masih ada yang terjatuh dalam eksklusivitas beragama.

Mengapa sampai para guru tersebut mengalami eksklusivitas dalam beragama? Salah satu jawaban yang mengemuka dalam semua penelitian tadi, adalah: Para guru tersebut diam-diam telah mengalami infiltrasi pemahaman keagamaan dari kelompok-kelompok Islamis.

Kelompok Islamis

Siapa kelompok Islamis ini? Mereka adalah salah satu kelompok dalam Islam, yang meletakkan Islam tidak sekadar agama dan rujukan nilai, tetapi juga sebagai ideologi bernegara dan berbangsa.

Kelompok Islamis ini memiliki cita-cita untuk membangun negara teokrasi atau negara agama. Hanya melalui jalan itulah, mereka meyakini ajaran Islam dapat diterapkan secara kafah.

Selain itu, kelompok Islamis ini juga ingin menegakkan ortodoksi Islam dengan cara memurnikan kembali Islam.

Pemurnian itu dilakukan dengan adagium kembali ke Al-Qur’an dan Hadits. Istilah kembali kepada Al-Qur’an dan Hadis ini, sejatinya, menjebak. Sebab, tentu semua umat Islam ingin kembali pada Al-Qur’an dan Hadis. Masalahnya, bagaimana cara kita merujuk pada Al-Qur’an dan Hadis itu.

Dalam kenyataannya, kembali pada Al-Qur’an dan Hadis, menurut para kelompok Islamis ini, adalah kembali memahami Al-Qur’an dan Hadis secara tekstual dan tertutup.

Tekstual artinya Al-Qur’an hanya dipahami berdasarkan arti teksnya belaka tanpa menimbang konteks dan piranti penafsiran lainnya.

Sementara disebut tertutup, karena kelompok ini menolak semua pandangan di luar yang mereka pahami. Meskipun pendapat yang lain itu juga memahami nash secara tekstual.

Cara pandang semacam ini menurut Arkoun akan sulit menerima perbedaan dalam memahami Islam. Di saat yang sama juga canggung dalam melakoni perbedaan di tengah realitas.

Hal itu terjadi, karena mereka telah menyakralkan pendapatnya sebagai Islam atau kebenaran itu sendiri. Dalam istilah Arkoun, mereka telah melakukan taqdis al-afkar ad-diniyah (pesakralan buah pikiran keagamaan).

Pemahaman kaum Islamis inilah yang berinfiltrasi ke beberapa kalangan guru. Ada yang memang menjadi anggota dari kelompok ini, yang lain hanya rajin mengikuti pengajiannya, bahkan ada pula yang terpengaruh karena saban hari mengikuti ulasan dan pengajian para kaum Islamis di media sosial.

Kenyataan ini menjadi tantangan tersendiri bagi para guru. Tentu saya yakin, guru yang berpikiran moderat dan toleran, jauh lebih banyak. Tetapi, keberadaan guru-guru yang terpapar paham Islamis tidak bisa diabaikan begitu saja.

Para gurulah yang diharapkan mendorong sikap moderasi di kalangan siswa, dan membendung serangan radikalisme beragama yang sedang menghantui para peserta didik tersebut. Tetapi, sulit membayangkan mereka bisa membendung paham-paham radikal yang berasal dari luar, jika beberapa di antaranya juga terjebak dalam eksklusivitas beragama.

Hanya saja, kerikil-kerikil semacam eksklusivisme beragama ini tidak hanya menjadi tugas para guru untuk menyingkirkannya.

Pemerintah, tokoh agama, organisasi keagamaan moderat, FKUB, pemerintah daerah dan para aktivis perdamaian, ikut pula bertanggung jawab untuk membersihkannya.

Jangan biarkan guru menjadi pincang jalannya, hanya karena terdapat kerikil eksklusivisme beragama dalam sepatunya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.