Wed. Dec 2nd, 2020

BLAM

KEREN

Kelompok Mayoritas Jangan Diam, Kepala BLAM Saprillah Ajak Bersama-sama Mengedukasi Generasi Muda

2 min read

Foto: Istimewa

4,896 total views, 4 views today

GORONTALO, BLAM – Generasi muda atau generasi milenial Muslim di Indonesia kepincut dengan model dakwah kelompok keagamaan tertentu. Akibatnya, mulai ada generasi muda Muslim yang “latah” tidak bersedia memberikan ucapan selamat hari raya kepada pemeluk agama lain, dan anti tradisi.

“Salah satu temuan riset kami tentang media online, adalah generasi muda Muslim saat ini cenderung lebih tertarik dengan ceramah-ceramah yang ditonton di youtube. Alasannya, terkesan tegas dan hitam-putih. Kalau haram, langsung dibilang haram,” kata Kepala Balai Litbang Agama Makassar (BLAM), Dr. H. Saprillah, M.Si.

Saprillah mengemukakan hal tersebut, saat menjadi narasumber pada acara talk show bertajuk “Moderasi Beragama di Indonesia; Wacana dan Praktik”, yang disiarkan langsung (live streaming) dari studio Radio Kharisma FM 90.00 MHz Gorontalo, Kamis, 12 November 2020, pukul 20.00 Wita.

Acara talk show, yang dipandu Reporter Kharisma FM, Bung Adhar, juga menghadirkan Kepala Penelitian Universitas Nahdlatul Ulama Gorontalo, Samsi Pomalingo, MA, sebagai narasumber.

Saprillah bertandang ke Gorontalo untuk melakukan sosialsasi hasil penelitian tahap pertama BLAM tahun 2020, yaitu “Media Online dan Pembentukan Pemahaman Keagamaan Siswa Madrasah Aliyah di Kawasan Timur Indonesia.”

Orang nomor satu BLAM ini ke Gorontalo ditemani penelitinya, Sitti Arafah dan Paisal. Gorontalo menjadi salah satu lokasi penelitian ini.

Menurut Saprillah, generasi muda sekarang perlu selalu diingatkan tentang beragam varian pendapat di dalam Islam. Artinya, setiap fenomena keagamaan selalu menawarkan beberapa alternatif jawaban berbeda.

“Anak-anak sekarang, mereka sepertinya butuh yang pasti-pasti. Kalau melihat dakwah-dakwah sekarang, mereka cenderung tidak memberikan alternatif pendapat ulama lain, selain dari kelompoknya saja. Ini berbeda sekali dengan cara orang-orang di pesantren, yang selalu menawarkan banyak alternatif jawaban-jawaban,” kata Ketua Lakpesdam Nahdlatul Ulama, Sulawesi Selatan, ini.

Dalam hal mengucapkan selamat Natal, misalnya, generasi muda Muslim juga mulai menyalahkan rekan-rekannya. Seperti, menyebutkan teman Muslimnya lemah iman saat memberikan ucapan selamat Natal, atau membid’ahkan teman-temannya yang merayakan Maulid Nabi Muhammad Saw.

Begitu urgennya masalah generasi muda di masa mendatang, Pepi, sapaan akrab Saprillah, mengajak semua pihak, termasuk Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyyah, sebagai kelompok mayoritas di Indonesia, untuk bersama-sama mengedukasi publik.

“Kalau kelompok mayoritas diam (silent mayority), kelompok kecil ini seolah-olah memenangkan dan merebut panggung. Maka dari itu, kita harus melawan dalam tanda petik. Jadi, NU dan Muhammadiyah harus terus bersuara dan ikut bermain di media online, seperti menulis dan berdakwah di youtube,” ujarnya.

Meski begitu, sebagai negara demokrasi, Saprillah tidak sependapat terhadap pelarangan berbagai kelompok keagamaan di Indonesia.

“Yang perlu diingat, ketika varian pendapat tersebut saling menegasi satu dengan yang lain, dan memunculkan ujaran-ujaran kebencian seperti kafir, dan sebagainya, maka negara perlu hadir untuk mencari jalan tengahnya. Salah satunya, Moderasi Beragama,” katanya. (ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.