Wed. Dec 2nd, 2020

BLAM

KEREN

Membaca Konteks Pidato Presiden Macron

5 min read

Sumber gambar: bbc.com

26,606 total views, 107 views today

Oleh: Saprillah (Kepala Balai Litbang Agama Makassar)

Publik Islam di berbagai belahan dunia sedang marah. Di bulan perayaan kelahiran Nabi Muhammad, Emmanuel Macron, Presiden Perancis, membuat statemen yang menuai kontroversial.

Macron dinilai sedang merendahkan Islam dan Nabi Muhammad. Segera setelah itu, dunia maya ramai dengan reaksi.

Berbagai aksi dilakukan, kontra narasi bermunculan. Dari demonstrasi, statemen politik pemimpin sekelas Presiden Erdogan dan Presiden Jokowi, hingga seruan boikot dari negara-negara muslim.

Sebagai disclaimer, saya tidak paham secara jelas isi pidato Macron. Macron berbicara dalam Bahasa Perancis, dan saya tidak tahu artinya.

Untuk menolong ketidaktahuan ini, saya menggunakan standar sederhana. Apabila semua orang marah, berarti ada sesuatu yang tidak benar sedang terjadi.

Meski demikian, saya tidak dengan cepat mengambil posisi marah berlebihan. Saya lebih tertarik berselancar dengan berbagai jenis informasi tentang peristiwa untuk mengamati apa yang sedang terjadi?

Saya sadar sesadar-sadarnya. Karakter informasi di media digital, tidak sepenuhnya benar dan valid.  Salah satunya, berita tentang mundurnya Paul Pogba (gelandang elegan Timnas Perancis dan Manchester United) dari Timnas Perancis.

Sebagai muslim, Pogba dikabarkan ‘tersinggung berat’ dengan pidato presidennya sendiri.   Pogba konon mengundurkan diri dari timnas sebagai bentuk protes. Berita ini disambut gegap gempita oleh netizen dengan pekikan gembira.

Paul Pogba sedang mewakili kemarahan umat Islam dengan cara ‘heroik.’ Sayangnya, berita ini tidak benar. Paul Pogba tidak mundur dari Timnas Perancis dan tidak sedang marah.

Melalui akun instagram @paulpogba, Selasa 27 Oktober 2020, Paul Pogba mengklarifikasi pernyataan yang dikutip media The Sun dan tersebar ke seluruh dunia.

Paul Pogba justru dikabarkan akan melakukan langkah hukum terhadap media, yang menggunakan namanya sebagai sumber berita, yang tak benar itu. Alih-alih mengkritik Presiden Perancis, Pogba justru mengkritik sumber berita tentang dirinya. Publik yang semula mengelu-elukan gigit jari.

Atas dasar itu, saya cukup berhati-hati menerima berita tentang pidato Macron. Baik pro maupun kontra. Lalu, saya menemukan  teks terjemahan pidato lengkap Macron di laman berita lingkarmadiun.pikiran-rakyat.com.

Pidato Macron

Di bagian bawah berita ini dituliskan bersumber dari diplomatie.com. Pidato Macron ini disusun dengan kadar retorika brilian. Cerdas dan lugas. Saya tidak merasakan keanehan dalam pidato Macron ini hingga tiba pada paragraf berikut:

“Islam adalah agama yang saat ini sedang mengalami krisis di seluruh dunia. Kami tidak hanya melihatnya di negara kami. Ini adalah krisis mendalam terkait dengan ketegangan antara bentuk-bentuk fundamentalisme, khususnya proyek-proyek keagamaan dan politik yang, seperti yang kami lihat di setiap wilayah di dunia, mengarah pada pengerasan yang sangat kuat termasuk di negara-negara dimana Islam menjadi agama mayoritas…”

Kalimat ini memang terkesan menyudutkan agama Islam. Krisis politik memang sedang melanda negara-negara Islam akibat dari perubahan sosial yang terjadi dengan cepat. Masyarakat di dunia Islam memang mengalami ketegangan identitas.

Di Indonesia, sebagai salah satu masyarakat muslim terbesar di dunia, mengalami ketegangan identitas dalam dua dasawarsa terakhir. Resolusi sedang dipacu melalui gagasan Moderasi Beragama. Konteks inilah yang disebut oleh Macron sebagai krisis.

Namun, produksi kalimat Macron memang sangat bisa dibaca sebagai bentuk delegitimasi terhadap agama Islam. Apalagi, akar persoalan ini, yaitu karikatur majalah Charlie Hebdo justru diberi angin oleh Presiden Macron.

Konteks Macron

Konteks Pidato Macron adalah Perancis. Dia sedang berupaya melindungi nilai utama yang dikembangkan dalam sistem sosial dan politik Perancis yaitu kebebasan.

Tindakan pembunuhan seperti yang dilakukan sang murid kepada gurunya, adalah tindakan yang bertentangan dengan nilai dasar masyarakat Perancis. Macron tampil dalam konteks sedang menguatkan nilai yang menjadi fondasi identitas bangsanya.

Sebagai presiden, yang dilakukan Macron benar. Siapapun presiden di dunia ini akan tampil membela nilai ideologi bangsanya dari ancaman yang akan menggerusnya.

Di Indonesia pun, fenomena ini sama. Perang terhadap isu khilafah, adalah bagian dari tindakan politik untuk mengawal dan menguatkan ide kebangsaan NKRI.

Meskipun ide dan gagasan khilafah oleh para pengusungnya dikaitkan dengan begitu kuat dengan ajaran Islam, namun pemerintah Indonesia memiliki argumen politik yang juga kuat untuk menolak ide ini.

Argumen politik yang dimaksud, adalah konsensus kebangsaan yang menetapkan Indonesia bukan negara berbasis identitas agama.

Pidato Macron adalah bagian dari cara untuk menentramkan warga Perancis, yang terbiasa dengan kebebasan berekspresi dan berpendapat.

Tentu saja, jangan lupa, Macron sedang menuju ke fase pemilu tahap dua, 2022. Macron, tentu saja, tidak kehilangan konteks dengan politik Perancis.

Saat ini, popularitas partai pendukung Macron sedang tergerus. Partai Greens, saingan berat Macron, memenangi beberapa perhelatan politik lokal pada Juni 2020 di beberapa wilayah strategis Perancis seperti Lyon, Marseille, Bordeaux, dan Starsborg.

Ini menandakan, bahwa kekuatan politik Macron sedang mengalami krisis. Dia membutuhkan banyak hal untuk bertarung di arena pemilihan Presiden Perancis pada 2022. Kasus pembunuhan Samuel Patty bisa menjadi momentum politik bagi Macron untuk menguatkan eksistensi politiknya.

Macron ingin publik Perancis memahami dan meyakini, bahwa dirinya adalah presiden yang akan berjuang untuk menyelamatkan ideologi Perancis. Untuk menegaskan itu, Macron membutuhkan sejumlah retorika cerdas dan menawan. Dia berhasil.

Tetapi, Macron mungkin tidak menduga. Bahwa, pidatonya itu menuai polemik global. Khususnya dari negara-negara berpenduduk mayoritas beragama Islam. Atau, Macron lupa, bahwa dunia sedang mengalami pelipatan.

Informasi mudah tersebar dengan cepat hingga lalai dalam menata pidatonya. Ide dasar pidato Macron untuk kepentingan Perancis berhadapan dengan kepentingan dunia Islam, yang sedang ingin memulihkan diri dan membentuk tatanan dunia Islam yang lebih baik.

Ide Moderasi Beragama di Indonesia, misalnya, adalah cara untuk memulihkan diri di tengah perdebatan kontra-produktif tentang isu radikalisme. Juga, Arab Saudi sedang menata diri sebagai negara Islam yang lebih terbuka.

Ide Kebebasan yang Mengalami Krisis

Pidato Macron adalah respon terhadap pembunuhan seorang guru bernama Samuel Paty, guru Sejarah dan Geografi. Paty dibunuh oleh Abdullakh Anzorov, pemuda berusia 18 tahun. Muridnya sendiri.

Sang murid tidak terima cara Samuel Paty menggunakan karikatur, yang diklaim sebagai karikatur Nabi Muhammad, yang pernah diterbitkan di Majalah Charlie Hebdo pada 2015 sebagai bagian dari diskusi.

Cara yang dilakukan sang murid tentu saja salah. Dan, bertentangan dengan nilai dasar Islam yang sangat menghargai ‘nyawa manusia. Jika itu terjadi di Indonesia, publik Indonesia pun tidak akan bersetuju dengan cara kekerasan ini.

Kasus ini menunjukkan, ada masalah serius dalam cara Perancis mengelola keragaman identitas. Ide libertarianisme dan penghargaan tinggi terhadap kebebasan individu sulit menemukan formula yang tepat, ketika bersinggungan dengan sensivitas agama.

Kasus karikatur yang dianggap potret wajah Nabi Muhammad sudah menuai polemik pada 2015 lalu. Pemerintah Perancis sudah seharusnya mempertimbangkan hal ini sejak lama.

Keterbukaan Perancis terhadap para imigran dari berbagai negara, memang membutuhkan penanganan dan pengaturan sosial yang sangat kuat.

Ide liberalisme yang bertumpu pada kesadaran individual, tidak bisa diandalkan sebagai alat untuk menata berbagai isu yang berkepentingan untuk hadir. Ide kebebasan gagal mengenali sensivitas yang terkandung dalam agama. Tidak mudah menentramkan orang yang marah, karena sisi sensivitas agamanya disinggung.

Pemerintah Perancis harus menyadari, bahwa di tengah masyarakat Perancis, ada masyarakat beragama yang meminta ‘harga dirinya’ dihormati di tengah ide kebebasan.

Negara-negara berhaluan liberal harus mulai terbuka dengan kenyataan, bahwa agama memiliki sisi sensitif yang bisa meruntuhkan gagasan utama dari ide kebebasan.

Kebebasan yang tidak memperhitungkan nilai sensitif agama, justru membawa ide kebebasan membunuh dirinya sendiri. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.