Wed. Dec 2nd, 2020

BLAM

KEREN

Tiga Balai Sepakati Kolaborasi Penyusunan Buku Riset Kebijakan, Modul Moderasi Beragama Milenial, & Indeks Pembangunan Pendidikan Agama

4 min read

Kepala BLAM, Dr. H. Saprillah, M.Si, berbicara pada pertemuan tiga Balai Litbang Agama di Bandung. Foto: Nasri

16,537 total views, 2 views today

BANDUNG, BLAM – Rapat koordinasi tiga Balai Litbang Agama Jakarta (BLAJ), Balai Litbang Agama Makassar (BLAM), dan Balai Litbang Agama Semarang (BLAS), menghasilkan keputusan untuk melakukan kolaborasi antartiga balai pada program kelitbangan 2021.

Kolaborasi yang dimaksud di sini, adalah setiap balai membuat satu program kegiatan, dan kemudian melibatkan peneliti pada dua balai lainnya.

Program kegiatan yang dibuat BLAJ, adalah “Indeks Pembangunan Pendidikan Agama dan Keagamaan,” BLAM membuat “Buku Pedoman Riset Kebijakan Bidang Pembangunan Agama,” sedangkan BLAJ membuat “Modul Moderasi Beragama di Kalangan Generasi Milenial.”

Semua tiga Balai Litbang Agama tersebut (BLAJ, BLAM, BLAS) ini berada di bawah naungan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama.

Keputusan tersebut disampaikan masing-masing Kepala BLAJ, BLAM, BLAS, pada pertemuan tiga balai bertema “Laporan Hasil Penelitian Isu Aktual Pendidikan Agama dan Keagamaan (Finalisasi Bunga Rampai)”, di Hotel G.H. Universal Hotel, Bandung, 1-3 November 2020.

Sebenarnya, perbincangan kolaborasi atau kerjasama ini sudah pernah dibahas pada pertemuan antar tiga balai, belum lama ini. Namun, tiga balai ini kembali mematangkan pada pertemuan yang berlangsung selama tiga hari ini.

Selaku tuan rumah, BLAJ mengundang Kepala Kanwil Kemenag Jawa Barat (Jabar), Dr. H. Adib, M.Ag, untuk memberikan sambutan, sekaligus membuka pertemuan, yang dihadiri sejumlah peneliti dari tiga Balai Litbang Agama ini.

“Konteks membuat buku pedoman riset kebijakan, adalah kami seringkali agak kebingungan ketika menghasilkan temuan riset dan kemudian menyusun rekomendasi. Pada saat itu, kami sering mempertanyakan ulang, apakah riset yang kami lakukan ini berbasis kebijakan ataukah tidak,” kata Kepala BLAM, Dr. Saprillah, yang diberi kesempatan pertama berbicara.

Saprillah mengaku masih banyak “anak buahnya” yang belum memahami riset kebijakan. Boleh jadi, di kalangan Peneliti BLAJ dan Peneliti BLAS, mengalami pula hal serupa.

“Di antara kita, barangkali ada yang masih lemah soal metode riset kebijakan, sehingga memang perlu ada gagasan untuk mewujudkan buku pedoman riset kebijakan di lingkungan Badan Litbang. Ini yang coba dikerjakan BLAM tahun 2021,” ujarnya.

Saprillah menyadari, setiap peneliti memiliki mazhab atau ideologi tertentu pada saat riset lapangan. Namun, dari beragam mazhab yang dianut peneliti tersebut, ia berharap ada suatu metode riset kebijakan yang menjadi rujukan ketika akan menulis laporan penelitian.

“Karena itu, kita semua berharap, buku pedoman riset kebijakan yang kita buat nanti, tidak hanya dirujuk oleh Peneliti BLAM dan di lingkungan Badan Litbang saja, tetapi juga menjadi rujukan peneliti di seluruh Indonesia,” imbuh Pepi, sapaan akrab Saprillah.

BLAS

Kepala BLAS, Dr. H. Samidi, menyatakan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupatan Demak sudah mengetahui rencana BLAS membuat Modul Moderasi Beragama untuk Generasi Milenial. Alhasil, ia pun diundang menjadi narasumber pada kegiatan yang diadakan MUI Demak.

“Ketika mau menyusun Moderasi Beragama, saya mendapat telepon dari MUI Demak. MUI Demak kebetulan juga ingin menyusun modul Moderasi Beragama. Lihat saja, kami belum selesai buat modulnya, tapi saya sudah diminta menjadi narasumber,” kata Samidi, disambut tawa hadirin.

Samidi juga mengusulkan untuk “menghidupkan” kembali tradisi mengundang beberapa peneliti, saat seminar akhir atau diseminasi.

Sebelumnya, setiap kali tiga Balai Litbang Agama menggelar seminar akhir, mereka selalu mengundang beberapa peneliti untuk hadir pula pada kegiatannya. Namun, tradisi ini sempat ditiadakan sejak beberapa tahun terakhir ini.

“Nantinya, kami akan mengundang Peneliti BLAM dan BLAJ, saat kami diseminasi. Ini juga sekaligus menyambung kembali tradisi yang sempat terputus,” imbuh Samidi.

BLAJ

Kepala BLAJ, Dr. Nuruddin, menyatakan, indeks yang selama ini menjadi indikator utama di kemenag, terutama Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan, adalah baru sebatas Indeks Karakter. Selain itu, kata dia, belum ada lagi indeks.

“Karena itu, untuk kolaborasi program 2021, kami akan membuat Indeks Pembangunan Pendidikan Agama dan Keagamaan,” kata Nuruddin.

Nuruddin menyatakan, yang membedakan lembaga riset di kementerian/lembaga dengan lembaga riset lain, adalah dari sisi kebijakannya. Menurutnya, lembaga riset di kementerian/lembaga menghasilkan output, yang tidak hanya dalam bentuk laporan kegiatan saja, melainkan berupa policy brief dan policy paper.

“Kalau misalkan Kanwil Jabar minta dibantu untuk keberhasilan program-program di kanwil, dan karena riset kami merupakan riset evaluasi kebijakan dan produk akhirnya policy brief, maka apakah kebijakan itu akan diteruskan dengan perbaikan, dihentikan, ataukah perlu ada kebijakan baru yang jauh lebih progresif,” kata Nuruddin.

Kakanwil Jabar

Kepala Kanwil Kemenag Jawa Barat, Dr. H. Adib, M.Ag, sebelum membuka kegiatan, mengemukakan keresahannya terkait fenomena keagamaan di wilayahnya.

Menurut Adib, Jabar memilik tantangan, utamanya dalam bidang agama. Sebagai provinsi, kami juga memiliki tingkat heteroginitas yang luar biasa, sehingga bisa dianggap sebagai paramater dari kehidupan beragama di Indonesia. Apalagi, kata dia, seluruh aliran keagamaan ada di Jabar.

“Kami senang tiga Balai Litbang Agama mengadakan pertemuan di Jabar. Kami tentu berharap, fenomena keagamaan di Jabar bisa dijadikan bahan pengambilan kebijakan terkait layanan keagamaan dan pendidikan. Kami sangat mendukung penelitian-penelitian BLAJ, yang salah satu wilayah penelitiannya adalah di Jabar,” kata pria kelahiran 1974, ini. (ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.