Wed. Dec 2nd, 2020

BLAM

KEREN

Para Penghijrah yang Gemar Membidahkan Perayaan Maulid

6 min read

Sumber gambar: dream.co.id

29,937 total views, 113 views today

Oleh: Syamsurijal (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Selama ini, dirinya dikenal sebagai artis yang kerap kali berpenampilan seksi. Tampil dengan busana tank top, atau pakaian dengan bagian dada terbuka cukup mencolok.

Di lain waktu,  dirinya melenggang dengan busana t-shirt yang lengket dengan tubuhnya, serta dibalut celana jeans ketat. Cukup mengundang mata untuk mengawasinya dengan lekat.

Namun, itu dulu. Sekarang, ia tampil jauh berbeda. Tidak akan mungkin lagi mata nakal bisa menyusuri lekuk tubuhnya. Segala busana yang sekarang dianggapnya busana jahiliah, telah ditanggalkan.

Tubuhnya kini dibalut busana syar’i. Ia berhijab, bahkan lengkap dengan cadarnya. Hal itu dilakukan setelah beberapa waktu lalu, tepatnya Oktober 2019, artis ini menyatakan dirinya berhijrah.

Dengan penampilannya baru, pesonanya tidak luntur. Tampilannya tersebut justru membuatnya terlihat lebih menawan. Kecantikannya justru memancar dari busananya yang terkesan anggun.

Artis tersebut bernama Fivey Rachmawati.

Dalam jagat artis, dirinya lebih dikenal dengan nama Five Vi. Segala keputusannya untuk berhijrah tentu patut disyukuri dan diapresiasi.

Tak mudah seseorang untuk meninggalkan kebiasaan lama dan mungkin, meminjam istilah Pierre Bourdieu, sudah menjadi semacam habitusnya.

Tetapi, satu unggahannya baru-baru ini, membuat saya terpana. Bukan karena kagum, melainkan jadi cemas. Tiba-tiba, ia mengunggah video dalam status di instagramnya, bahwa maulid itu bid’ah.

Dalam video itu disebutkan, perayaan Maulid Nabi SAW tidak pernah ditemukan dalam praktik Nabi, para sahabat atau pun ulama-ulama salaf dulu.

Selain itu, ia pun ikut menyoroti persoalan bunga bank, yang menurutnya, jangan sampai terjebak di dalamnya, sebab itu riba.

Saya tidak mencemaskan sikapnya yang tidak mau merayakan Maulid. Itu adalah hak setiap bangsa, eh…setiap orang. Tetapi, keberaniannya untuk mengunggah satu video, tanpa ia sendiri tahu lebih dalam mengenai konten video itu, khususnya  hukum perayaan maulid itulah,  yang membuat saya cemas.

Tetapi, Five Vi, mungkin hanya sekadar repost video an sich. Ada beberapa artis yang mengaku sudah hijrah. Malah berani mengeluarkan pendapat atau bikin status di medsosnya, bahwa Maulid itu bid’ah, tidak boleh mengazani bayi yang baru lahir, dan mengeluarkan pendapat lainnya.

Bagaimana mungkin mereka yang mengaku baru berhijrah, dan sekarang sedang merangkak pelan dalam mempelajari agama, ikut mengeluarkan pendapat keagamaan?

Fatwa Ulama

Pendapat hukum keagamaan atas sesuatu, yang sering disebut pula dengan fatwa, bukanlah perkara enteng. Seseorang yang akan mengeluarkan pendapat hukum soal agama harus memenuhi berbagai persyaratan ilmu dan etika.

Dalam bidang ilmu, ia harus menguasai berbagai cabang-cabang ilmu agama. Itulah sebabnya,  di era saat ini, termasuk di Indonesia, tidak ada ulama yang betul-betul ulama yang berani mengeluarkan fatwa formal secara individu. Para ulama merasa tidak ada di antara mereka yang betul-betul menguasai seluruh cabang ilmu agama.

Karena itu, kebanyakan pernyataan hukum agama dikeluarkan secara kelembagaan. Misalnya, di Indonesia diputuskan oleh MUI, melalui Bahtsul Masail di Nahdlatul Ulama, dan Lembaga Tarjih di Muhammadiyah.

Selain itu, orang yang memberikan fatwa atau memberikan pernyataan hukum agama atas sesuatu tanpa ilmu atasnya, maka Rasulullah SAW sendiri memberi ancaman:

Man afta al-nasa bi ghayri ilmin la’natuhu mala’ikatus sama wa malai’katul ardi (Siapa yang memberi fatwa tanpa ilmu, maka akan dilaknat oleh malaikat di langit dan di bumi).”

Fenomena memberikan pendapat hukum agama atas sesuatu, khususnya dalam kasus Maulid, ternyata tidak hanya muncul dari para artis yang menyatakan dirinya hijrah.

Dalam satu kesempatan penelusuran informasi di lapangan, saya menemukan beberapa siswa dan guru-guru yang dianggap telah berhijrah. Mereka juga menyatakan, perayaan Maulid Nabi SAW itu bid’ah dan sesat.

Salah seorang guru di salah satu sekolah SMU, di satu kabupaten misalnya bercerita, bahwa sejak seorang guru di sekolah itu ikut pengajian tertentu dan dianggap telah hijrah, ia mulai sering menyampaikan, bahwa Maulid itu bid’ah. Ia memberi penjelasan kepada para siswanya dan guru-guru lain tentang bid’ah dan sesatnya perayaan Maulid.

Walhasil, demikian cerita guru tersebut, parayaan maulid di sekolah tersebut dalam tahun-tahun terakhir menjadi sepi. Padahal, dulunya semarak dan penuh kegembiraan menyambut kelahiran Nabi SAW yang agung itu. Dulu, seluruh guru dan siswa antusias mengikutinya.

Mengapa para penghijrah itu dengan mudah mengeluarkan pendapat hukum tentang keharaman, makruh atau bidahnya sesuatu, terutama dalam soal Maulid Nabi SAW?

Pengajian Salafi

Harus diakui, mereka yang menyatakan dirinya berhijrah ini, kebanyakan setelah mengikuti pengajian-pengajian salafi.

Di kalangan artis, jaringan pengajian salafi memang sangat kuat. Belakangan, pengajian salafi masuk di sekolah-sekolah dan memengaruhi guru-guru dan para siswa.

Para artis semacam Tengku Wisnu, Shireen Sungkar, Zaskia Sungkar, Irwansyah, Egi John, dan Sunu mantan personil Matta Band. Termasuk pula, Arie Untung dan istrinya Fenita Arie. Untung telah lama mengikuti jaringan pengajian kaum salafi ini.

Ketertarikan para artis dan para kaum hijrah lainnya mengikuti pengajian salafi ini, di antaranya disebabkan oleh kemampuan kelompok ini memanfaatkan media-media sosial.

Teknologi informasi yang berkembang pesat saat ini, betul-betul dimanfaatkan dengan baik. Melalui media sosial semacam itulah, para kaum hijrah ini mengenal salafi dan selanjutnya mulai ikut pengajian-pengajian.

Five Vi sebelum ikut pengajian di kelompok salafi, terlebih dahulu belajar agama dari instagram dan media sosial lainnya dari akun-akun yang dikelola kaum salafi. Setelah itu,  barulah ia mengikuti pengajiannya.

Selain itu, di salafi, konon para artis ini, menemukan cara beragama yang lebih jelas dan pasti. Para ustaz-ustaz salafi dalam menjelaskan hukum sesuatu lebih jelas. Haram atau halal. Boleh atau tidak. Ini yang dibutuhkan mereka, yang sudah ingin menjalankan agama secara jelas, tanpa memikirkan lagi, bahwa ada pendapat ini dan ada pendapat itu.

Dengan mengikuti pengajian salafi, para artis, para guru, dan para siswa yang dianggap berhijrah ini jelas akan mengikuti sepenuhnya pandangan para ustaz-ustaz salafi yang memang hitam putih itu.

Al-Ayubi (1991) sendiri menyebut para kelompok salafi ini, adalah mereka yang memiliki paham keagamaan puritan, tekstualis, anti tradisi, dan ingin memurnikan Islam.

Para kaum salafi secara terang-terangan menunjukkan mereka anti perayaan Maulid. Dalam berbagai ceramah, termasuk di media sosial, ustaz-ustaz salafi secara tegas menyatakan, bahwa perayaan Maulid Nabi SAW itu bidah. Apa kata ustaznya, tentu begitulah juga pendapat murid-muridnya, yaitu para artis atau kaum hijrah lainnya.

Hanya saja, keberanian para murid-muridnya ini, para penghijrah yang baru belajar agama untuk ikut-ikutan memberikan pendapat tentang hukum agama dari perayaan maulid, itu yang mencengangkan.

Konon, di antara para penghijrah ini, memang ada semacam doktrin untuk berdakwah. Mereka diminta menyampaikan ajaran Islam yang benar, karena dianggapnya muslim di nusantara masih banyak kelirunya dalam menjalankan ajaran agama.

Tetapi, selain itu, di mata saya, beberapa artis (tentu tidak semua) yang melakukan hijrah masih belum bisa sepenuhnya melepaskan posisinya sebagai publik figur. Sebagai publik figur, godaan untuk menjadi pusat perhatian belum pudar sama sekali.

Jamak diketahui, ada beberapa publik figur yang dalam istilah psikologi terperangkap dalam histrionic personality disorder (HPD), yaitu mental yang selalu ingin mencari atau menjadi pusat perhatian publik.

Mungkin memang bukan penyakit yang muncul karena faktor genetik, tetapi lebih karena pengaruh lingkungan dan tuntutan pekerjaan. Ada desain dari industri kapitalis perartisan yang mendorong mereka masuk dalam situasi tersebut.

Publik figur semacam artis yang ingin menjadi pusat perhatian sering kali melakukan hal-hal kontroversial, aneh, membuat pernyataan tertentu yang bisa mengundang reaksi publik atau tampil dengan dandanan mencolok.

Rupanya, proses hijrah tidak serta merta mengikis mental ingin selalu menjadi pusat perhatian itu. Hanya bedanya, kini kontroversinya sudah dikaitkan atau mengatasnamakan agama.

Salah satu contohnya, dengan ikut-ikutan membuat pernyataan soal Maulid, memosting video yang menolak Maulid, atau bikin status soal Maulid itu bidah di akun instagram atau media sosial lainnya. Dengan status semacam itu, mereka berharap diri mereka tetap menjadi perhatian publik.

Saya tidak mengesampingkan niat baik mereka berhijrah. Tetapi, cara berhijrah semacam ini belumlah sanggup menghindar dari hiruk pikuk hal-hal bersifat duniawi.

Padahal, hijrah menurut Tariq Ramdhan (2007), adalah bentuk pengasingan hati dan kesadaran manusia dari tuhan-tuhan palsu dan berhala zaman, yakni: menjauhi segala godaan kekuasaan, uang dan kultus diri.

Dengan cara hijrah yang demikian itulah, manusia bisa mencecap kedalaman spiritual.

Wallahu A’lam. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.