Wed. Dec 2nd, 2020

BLAM

KEREN

Craig Considine: Katolik yang Mencintai Islam dan Nabi Muhammad

5 min read

Foto: Sabara

5,833 total views, 11 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Judul              : Muhamamd Nabi Cinta: Catatan Seorang Nasrani tentang Rasulullah

Penulis            : Craig Considine

Penerbit          : Noura, Bandung (Mizan Grup)

Cetakan          : Cet. I, September 2018

Halaman         : 184 + xix

SAAT ini, salah satu trending topic di jagad media, adalah pernyataan Presiden Perancis Emmanuel Macron yang membela penerbitan karikatur Nabi Muhammad, karena menurutnya, kebebasan berekspresi dan berpendapat.

Sontak, pernyataan Macron tersebut menuai kecaman dari berbagai negara, khususnya negara Muslim, hingga seruan memboikot berbagai produk Perancis pun menjadi viral.

Kontroversi Macron merupakan kelanjutan dari Islamophobia yang telah sering terjadi di Barat (Eropa dan Amerika). Menebarkan ketakutan dan stigma tentang Islam sebagai agama kekerasan.

Islamophobia yang menggambarkan sosok Nabi Muhammad saw selaku sosok sentral dalam Islam sebagai sosok yang sarat dengan kekerasan. Hal tersebut divisualisasikan dalam karikatur, yang bagi orang Islam dianggap sangat melecehkan Nabi dan Islam.

Kala gelombang Islamophobia melanda sebagian masyarakat Barat, dan saat citra Islam sebagai agama teror banyak disebarkan oleh media, bahkan pemimpin negara Barat yang diamini oleh banyak masyarakatnya.

Jika hal ini dibiarkan tanpa narasi pembanding dan penyeimbang, akan sangat rentan memicu kerentanan hubungan antara Muslim dan Kristen, sebagai dua agama dengan jumlah penganut terbesar di dunia.

Karena itu, dunia butuh narasi objektif dan jernih dari seorang intelektual tulus, yang bisa merekatkan hubungan renggang antara Muslim dan Kristen, antara Timur dan Barat.

Craig Considine

Craig Considine, Doktor Sosiologi di Rice University Houston, Amerika Serikat, hadir dengan kejernihan pikiran dan hati, serta objektivitas keilmuan. Ia pun aktif mengampanyekan narasi sejuk tentang Islam dan Nabi Muhamamd kepada masyarakat Barat.

Craig Considine tumbuh dari keluarga Katolik keturunan Irlandia. Ia tinggal di pinggiran Boston. Sebagaimana banyak warga Amerika, Craig tidak tahu apa-apa tentang Islam, dan tidak pernah bertemu seorang Muslim pun.

Craig Remaja kemudian mengenal Islam melalui peristiwa 11 September 2001. Peristiwa tersebut membuatnya berpandangan, bahwa Islam adalah Osama bin Laden, Al-Qaeda, terorisme, dan kekerasan.

Pandangannya kemudian berubah pada 2004, ketika kuliah di American University dan bertemu Prof Akbar S. Ahmed. Di awal perkuliahan, Prof Ahmed mengutip hadis Nabi yang membuat Craig terpukau, “Tinta ilmuwan lebih keramat daripada darah syuhada.”

Perjumpaannya dengan Prof Ahmed membuat Craig jatuh cinta pada Nabi Muhammad, yang setelah ia pelajari lebih banyak, Craig menemukan sosok Nabi yang penuh cinta, serta ajarannya yang mengutamakan kasih-sayang.

Craig tetap mempertahankan identitasnya sebagai seorang Katolik taat. Namun, ia sangat terinspirasi dengan ajaran Islam yang penuh rahmat, sekaligus sangat mengagumi sosok Nabi Muhamamad, yang menurutnya adalah Nabi Cinta.

Tentang Buku

Gagasan-gagasan Craig tentang Islam dan Nabi Muhammad dituangkan dalam buku yang terbit pada 2018 ini. Melalui buku “Muhammad Nabi Cinta”, Craig menuangkan hasil pembacaan dan refleksinya yang jernih serta objektif tentang Islam dan sosok Nabi Muhammad.

Buku ini merupakan kumpulan tulisan yang terdiri atas 25 tulisan singkat, yang kemudian dikelompokkan menjadi tiga bab, yaitu Islam dan Toleransi, Islam dan Peradaban, serta Islam dan Politik.

Dalam tulisannya, Craig banyak mengeksplorasi riwayat-riwayat tentang praktik toleransi Nabi Muhammad yang memperlakukan orang-orang yang berbeda, khususnya orang Kristen dengan penuh cinta kasih dan toelransi.

Riwayat tentang perjumpaan Nabi di Madinah dengan sekolompok Kristen dari Najran, di mana Nabi alih-alih membiarkan mereka menunaikan ibadah di tengah jalanan Madinah yang panas dan berdebu.

Nabi dengan penuh cinta dan toleransi, justru mempersilakan mereka menunaikan ibadah di dalam Masjid Nabawi yang suci.

Perjanjian Nabi dengan sekelompok biarawan Saint Cathrine diMesir, hadis-hadis Nabi, serta ayat Al-Qur’an yang isinya menyeru umat Islam untuk menghormati dan menjaga hubungan baik dengan umat Kristen yang oleh Al-Qur’an disebut sebagai Ahli Kitab, dieksplorasi dengan sangat apik oleh Craig.

Dalam pengantar bukunya, Carig berharap melalui tulisannya dapat mendorong segenap umat Kristen untuk memperlakukan umat Islam dengan penuh kasih-sayang, kerendahan hati, dan ketulusan.

Craig juga berharap, melalui bukunya ini dapat membuka hati dan pikiran umat Islam untuk memandang saudara Kristen mereka dengan penuh kasih-sayang.

Akhirnya, buku ini dapat menjadi referensi berisi kontra narasi dari gelora Islamophobia yang marak melanda sebagian masyarakat Barat.

Dan, bagi umat Islam, buku ini dapat mengantarkan pada penghayatan akan Firman Allah dalam surat al-Maidah (5) ayat 82:

“…dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan kamu adalah orang-orang yang berkata,’sesungguhnya kami ini orang Nasrani’.

Apologis Islam

Karena sikapnya yang banyak membela Islam, orang-orang banyak melabeli Craig sebagai kiri, liberal, progresif, bahkan komunis. Sebutan yang oleh Craig sendiri tidak memiliki arti baginya. Namun, ada satu sebutan yang ia terima dan akui, yaitu sebutan seorang ”Apologis Islam.”

Bagi Craig, dirinya seorang Apologis Islam, yang memiliki misi memerangi Islamophobia dan mempromosikan pemahaman yang lebih baik tentang –dan untuk cinta- kepada Al-Qur’an, serta kehidupan Nabi Muhamamad.

Apologis Islam, menurut Craig, berarti mempresentasikan kebenaran mengenai Islam kepada mereka yang sudah telanjur punya penilaian sendiri tentang Islam. Ada dua metode menurutnya dalam apologetika Islam.

Pertama, memasyarakatkan ayat-ayat Al-Qur’an yang menjadi bukti, bahwa Islam berarti rahmat, kasih-sayang, dan perdamaian.

Kedua, menegaskan teladan-teladan Muhamamad untuk menangkal Islamophobia, terutama yang menyatakan, bahwa Muhamamad adalah nabi palsu, dan menganggap Muhammad sebagai manusia jahat.

Apologis Islam adalah orang yang berkomitmen pada nilai-nilai pluralisme, serta konsisten untuk membela hak asasi manusia, seperti kebebasan beribadat dan kebebasan berbicara.

Apologetika Islam, menurut Craig, adalah aspek penting dari pengalaman menjadi manusia. Apapun agama yang dianut. Karena menurutnya, kita semua diperintahkan oleh para nabi untuk menyebarkan niat baik kepada tetangga, dan bahkan orang asing di sekitar kita.

Menurut Craig, itulah hakikat menjadi Muslim, hakikat menjadi Kristen, dan hakikat menjadi manusia.

Nabi Cinta

Nabi Cinta, itulah persepsi seorang Craig Considine, seorang Katolik, tentang sosok Nabi Muhamamad.

Terlepas dari keimanannya sebagai seorang Katolik, Craig yakin betul, bahwa sosok Muhamamad, adalah Nabi yang ajarannya penuh cinta kasih.

Bagi Craig, ikatan penting yang menghubungkan Nabi Muhammad dan Kristus, adalah cinta mereka kepada kemanusiaan.

Bagi Craig, Nabi Muhammad adalah sosok inspiratif penuh cinta yang membela hak asasi manusia, jauh sebelum negara-negara Barat modern menyerukan itu. Muhamamad disebutnya sebagai “juara dunia” dalam pembelaan hak asasi manusia dan semangat melawan rasisme.

Piagam Madinah diakui Craig sebagai dokumen hukum pertama dalam sejarah untuk melindungi hak asasi manusia. Khutbah terakhir Nabi di Haji Wada menegaskan pengakuan martabat kemanusiaan.

Demikian pula, perjanjian serta sikap Nabi yang melindungi kelompok minoritas. Semua tu dan banyak lagi riwayat, menunjukkan sosok Nabi Muhammad sebagai manusia utusan Tuhan yang penuh cinta.

Sikap anti rasis ditunjukkan oleh Nabi di tengah masyarakat Arab yan saat itug sangat rasis. Mentallitas tersebut menurut Craig membuat Nabi Muhammad berhasil menuntun dunia Arab keluar dari kegelapan menuju cahaya yang menuntun mereka ke jalan keadilan dan kesetaraan.

Pada salah satu pembahasannya, Craig mengkritisi Presiden Donald Trump, dan memaparkan hal-hal yang perlu dipelajari oleh Trump, serta para pendukungnya dari pemimpin Islam.

Di tengah narasi dan demam Islamophobia yang melanda sebagian masyarakat Amerika, termasuk Presiden Trump, Craig menyampaikan hal yang sebaliknya dan menegaskan, bahwa:

“Umat Islam memiliki banyak hal untuk ditawarkan kepada Amerika Serikat. Peradaban Islam memiliki sejarah keadilan, kasih-sayang, dan kemanusiaan yang kaya.”

Akhirnya, kesimpulan dari uraian Craig tentang Islam dan Nabi Muhamamd, bahwa dalam pandangannya sebagai seorang Kristiani, ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad adalah ajaran yang sarat dengan cinta damai dan anti kekerasan.

Bahwa, Nabi Muhammad, adalah sosok penyayang dan ajarannya sangat mengutamakan kasih-sayang. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.