Wed. Dec 2nd, 2020

BLAM

KEREN

Jeffrey Lang Buka “Rahasia” Ibadah dalam “Mengapa Harus Beribadah”

5 min read

Sumber Foto: Sabara

4,914 total views, 13 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Judul Buku                : Mengapa Harus Beribadah

Penulis                        : Jeffrey Lang

Penerbit                      : Qalam, Jakarta

Cetakan                      : Cet. I, 2019

Jumlah Halaman       : 209

Terbit pertama kali dengan judul Why We Worship: a Reflections (Kansas University Press, 2018)

PERINTAH melaksanakan ibadah atau melakukan tindakan penyerahan diri kepada Tuhan, adalah hal umum bagi semua agama. Secara khusus, ibadah dipahami sebagai serangkaian tindakan ritual tertentu yang ditujukan untuk menyembah Tuhan.

Setiap agama memiliki kekhasan tersendiri mengenai tata cara hingga waktu dalam melakukan laku ibadah yang diwajibkan bagi penganutnya. Perbedaan yang tentu didasarkan pada kekhasan dogma teologi, atau dasar-dasar kepercayaan antara satu agama dengan agama lainnya.

Perbedaan ekspresi, bentuk, simbol, hingga tata ritus, adalah hal lumrah. Namun, dibalik semua perbedaan tersebut, semua agama mendoktrinkan ibadah kepada Tuhan sebagai jalan keselamatan bagi manusia.

Apakah beribadah hanya bermakna sebagai jalan untuk memeroleh keselamatan dari murka Tuhan dan untuk mendapatkan “iming-iming” surgaNya? Mengapa harus dengan beribadah untuk mencapai keselamatan tersebut? Apakah Tuhan memang mengingini ibadah manusia, sehingga Dia menjadi murka jika manusia enggan untuk beribadah kepadaNya?

Beragam perspektif diajukan, untuk menjawab pertanyaan tersebut. Pendekatan yang tidak sekadar melalui dogma, melainkan pencarian jawaban dengan penalaran intelektual melalui filsafat, penjelasan empiris dengan pendekatan sains, hingga menemukan jawaban melalui penghayatan dan pengalaman spiritual.

Jeffrey Lang, seorang Profesor Matematika dari Amerika Serikat, yang memutuskan menjadi mualaf pada 1981, turut memberikan refleksi pemikirannya tentang mengapa kita harus beribadah?

Tentang Buku

Buku “Mengapa Harus Beribadah” merupakan buku terbaru Prof. Jeffrey Lang. Profesor Matematika, yang kini bertugas di Kansas University Amerika Serikat, sejak dekade 1980-an, cukup produktif melahirkan beberapa buku tentang Islam dengan gaya penulisan reflektif.

Dalam perjalanan hidupnya, Jeffrey Lang sempat menjadi seorang ateis saat berusia 18, hingga akhirnya memutuskan menjadi mualaf di usia 27, setelah melalui proses pergumulan intelektual kala mempelajari Al-Qur’an.

“Dengan Islam, semuanya menjadi rasional, masuk akal, dan mudah dicerna,” kata Jeffrey Lang.

Jeffrey Lang menulis buku ini pada dasarnya ditujukan kepada ketiga anak perempuannya, untuk menuntun dan memperkenalkan mereka tentang lima rukun Islam dengan menekanan aspek spiritualitasnya, keimbang sekadar aspek rutinitas formal dan legalistik dari perintah ibadah.

Melalui buku ini, Jeffrey Lang ingin menegaskan, bahwa mencapai makna dan merasakan hakikat ibadah, adalah dengan memahami dan mengalaminya. Menghayati setiap pengalaman yang dirasakan saat beribadah. Sehingga, ibadah bukan sekadar rutinitas yang dijalankan, atau sekadar penggugur kewajjiban.

Jeffrey Lang dalam buku ini mengkesplorasi penghayatan dan pengalamannya ketika melaksanakan salat, termasuk ketika melaksanakan salat perdana setelah mualaf. Pengalaman dan penghayatan tentang puasa, zakat, dan berhaji, ia tuangkan dengan sangat apik dan reflektif.

Buku ini ditulis dengan gaya bertutur sederhana, namun sarat dengan refleksi spiritual mengenai keimanan dan peribadatan. Jeffrey Lang menuturkan “rahasia” di balik ibadah sehari-hari dengan mengalir dan sarat dengan refleksi permenungan yang menggugah pikiran maupun perasaan.

Buku ini merupakan kumpulan dari 12 tulisan singkat Jeffrey Lang, yang satu sama lain saling terkait. Setiap tulisan memiliki kekhasannya dalam membahas sebuah tema terkait keimanan dan ibadah.

Keduabelas tulisan yang menjadi bab dalam buku ini adalah; “Melanikan supaya mereka menyembah-Ku”, di balik rukun Islam, menyeru kepada keimanan, memberikan kesaksian, penolong dan penghibur uatama, merasakan keintiman, Ramadhan bulan kedamaian dan rahmat.

Selanjutnya, zakat dan pembersihan spiritual, haji dan persaudaraan sejati, pengalaman spiritual dan perlunya memelihara iman, ketika iman mengalami pasang surut, serta ibadah dan tujuan hidup manusia.

Makna Ibadah

Seorang kawan bertanya pada Jeffrey Lang tentang bagaimana cara orang Muslim beribadah. Jeffrey menjawab, mencari nafkah untuk keluarga, mengantar anak-anak ke sekolah, tersenyum dan memberi salam kepada orang yang dijumpai, termasuk menahan pintu untuk tetap terbuka bagi orang yang akan masuk di belakang kita.

Tentunya, kawannya itu tidak puas dengan jawaban Jeffrey, dan memberi penekanan, bahwa yang ia tanyakan adalah ritual.

Jeffrey menjawab, bahwa seorang Muslim juga mengamalkan upacara keagamaan dan itu bagian ibadah orang Muslim yang sangat penting.Namun, jawaban Jeffrey yang tadi sekadar untuk memberikan penekanan akan konsep ibadah Islam yang sangat luas.

Istilah Islam untuk menyembah adalah ibadah. Kata yang berakar dengan kata yang sama dengan kata ‘abd, yang berarti hamba.

Dan, kaum Muslimin sangat bangga menyebut diri mereka hamba-hamba Allah, sebagaimana Nabi Muhamamd saw yang lebih senang disebut abduh (hamba) ketimbang disebut rasul.

Bagi seorang Muslim, hampir setiap saat dari hidupnya adalah kesempatan untuk beriibadah. Seorang Muslim berkeinginan untuk mengubah semua kehidupan duniawinya menjadi satu bentuk ibadah yang berketerusan.

Sebagaimana penegasan dalam surat 6:162, ”Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah.

Beribadah merupakan tujuan penciptaan manusia sebagaimana disebut dalam Surat 51:56. Namun, tujuan tersebut bukan kembali kepada Allah, melainkan kembali kepada manusia. Karena ibadah hakikatnya untuk meningkatkan kualitas diri manusia.

Kepasrahan diri kepada Allah adalah Islam itu sendiri, melalui ibadah-ibadah ritual kaum Muslim mengalami kepasrahan diri tersebut secara paling personal dan langsung. Ibadah ritual juga menjadi media bagi seorang Muslim untuk “menumpahkan” cinta kepada Allah secara langsung dan personal.

Oleh karena itu, ketika kaum Muslimin menjalankan ibadah ritual, hakikatnya akan mengantarkan pada pengertian, bahwa mereka tidak hanya kembali kepada agama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. Melainkan kembali kepada agama suci dan abadi yang diturunkan Allah kepada semua NabiNya, yaitu agama kepasrahan diri kepada Allah (Dinul Islam).

Aktivitas ibadah ritual mengingatkan manusia akan tujuan hidupnya dan membantu manusia untuk membangun kekuatan batin, keteguhan hati, dan karakter yang dibutuhkan untuk menjalani hidupnya.

Akhirnya, menurut Jeffrey Lang, ibadah-ibadah ritual merupakan persiapan dan semacam geladi-resik bagi seorang Muslim dalam menghadapi hari pengadilan.

Ibadah ritual merupakan kendaraan hamba Allah untuk mengalami terlebih dahulu perjumpaan yang menentukan dengan Tuhannya.

Rukun Islam

Menurut Jeffrey Lang, lima rukun Islam memadukan antara kewajiban manusia terhdap Allah, dan kewajiban individu terhadap sesamanya. Antara vertical-spiritual dan horisontal-sosial.

Secara bersamaan, kelima rukun Islam menyentuh banyak wilayah eksistensi duniawi seorang Muslim. Kesemuanya itu membantu dan menguatkan seorang Muslim untuk mengarahkan segenap usahanya kepada Allah dan menjadikan totalitas hidupnya di dunia sebagai suatu amal ibadah.

Syahadat, salat, puasa, zakat, dan haji menopang seorang individu dalam seluruh perjalanan hidupnya. Melalui lima rukun itu pula, seorang Muslim mengabadikan waktu mereka di bumi.

Syadahat mengabadikan setiap detik waktu seorang Muslim kepada Tuhan. Salat mengabadikan hari-hari mereka, puasa mengabadikan bulan-bulan mereka, zakat untuk mengabadikan tahun-tahun yang dilalui, dan haji untuk mengabadikan seluruh umur yang diberikan Allah.

Menurut Jeffrey, syahadat menguji kesetiaan seseorang, sedangkan salat adalah sebuah tetirah spiritual. Sebuah kesempatan untuk undur diri selama beberapa menit dari hiruk-pikuk dan stres duniawi, sehingga dapat mereorientasi dan mengingatkan diri akan tujuan hidup yang sejati.

Bagi Jeffrey, puasa menguji kendali seorang Muslim pada kebutuhan fisiknya, yang mengajari seorang Muslim untuk mengendalikan diri dan mempersiapkan dirinya menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan ini.

Adapun zakat untuk menguji kemampuan seorang Muslim untuk mendisiplinkan segenap hasrat materialnya.

Zakat mengantarkan manusia pada dua sifat yang mempercepat pertumbuhan spiritual, yaitu kedermawanan dan kerendahan hati, serta menghilangkan dua sifat yang menghalanginya, yaitu kesombongan dan kerakusan.

Sedangkan haji ke Mekkah, dalam beberapa hal, menguji tiga aspek (kesetiaan, kesabaran, dan kedisiplinan). Ibadah haji mengabadikan diri kembali kepada keimanan dan kemanusiaan, serta haji merupakan bayang-bayang dari kehidupan serta hari pembalasan.

Akhirnya, seluruh ibadah ritual tersebut adalah luapan cinta. Cinta yang lebih permanen dan nyata ketimbang bumi yang sedang dipijak. Cinta yang memberi kekuatan pada perbaikan diri. Cinta kepada Allah yang ditunjukkan dengan membantu kepada sesama ciptaanNya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.