Wed. Dec 2nd, 2020

BLAM

KEREN

Riset 2021, BLAM Pastikan Sasar Moderasi Beragama di Komunitas Difabel

2 min read

Kepala BLAM, Dr. H. Saprillah, M.Si, memberi sambutan pada Seminar Hasil Penelitian Tahap Kedua, Selasa, 27 Oktober 2020. Foto: M. Irfan

4,325 total views, 2 views today

MAKASSAR, BLAM – Balai Litbang Agama Makassar (BLAM) bakal menyasar komunitas difabel untuk riset 2021. BLAM ingin melihat komunitas difabel melalui perspektif Moderasi Beragama.

“Kami ingin mengetahui apa hubungan komunitas difabel terkait Moderasi Beragama. Kami memahami, salah satu hal terpenting dalam Moderasi Beragama adalah keadilan distribusi. Sementara komunitas difabel sendiri belum mendapat perhatian dalam konteks sosiologis dan administrasi,” kata Kepala BLAM, Dr. H. Saprillah, M.Si, saat memberi sambutan pada kegiatan Seminar Hasil Penelitian Tahap Kedua, di Hotel Aryaduta Makassar, Selasa, 27 Oktober 2020.

Difabel sendiri adalah kondisi seseorang memiliki keterbatasan fisik maupun mental, sehingga mengalami kesulitan melakukan peran tertentu.

Beberapa hasil riset menunjukkan, komunitas difabel tidak bisa mengakses atau tidak sama aksesnya dengan agama, seperti halnya orang-orang normal. Karena itu, kata Saprillah, negara wajib memfasilitasi akses atau jembatan untuk komunitas difabel terhadap nilai-nilai luhur agama dan bangsa.

Moderasi Beragama menjadi isu arusutama Kementerian Agama RI sejak 2019. Sejak isu tersebut digulirkan, tiga bidang penelitian di BLAM sudah melakukan riset mulai 2020. BLAM sendiri bahkan sudah membuat road map Moderasi Beragama hingga 2024.

“Untuk riset BLAM tahun ini (2020), kami melakukan riset terhadap tokoh agama, Guru Pendidikan Agama Islam, dan kajian naskah keagamaan, sehingga kami meyakini, konsep ini cocok digunakan dalam konteks kebangsaan Indonesia,” kata Saprillah.

Empat konsep Moderasi Beragama yang ditawarkan kemenag mengarah kepada empat hal, yaitu wawasan kebangsaan, toleransi, perspektif anti kekerasan, dan ramah terhadap lokalitas.

“Kami akan melakukan sebanyak mungkin penelitian guna memastikan konsep Moderasi Beragama tidak berada di langit, tetapi ia benar-benar berada di bumi, dan diterjemahkan secara aktual oleh masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat beragama,” ujarnya.

Untuk menghindari konsep Moderasi Beragama terkesan dikatakan elitis, Saprillah kemudian mengajak semua pihak untuk bergerak bersama membangun pemaknaan bersama.

Hal ini juga untuk menghindari asumsi beberapa kalangan yang menyatakan, bahwa Moderasi Beragama itu bagian dari pemikiran kelompok muslim tertentu.

“Tentunya, di dalam masyarakat dibutuhkan upaya gerak bersama, sehingga Moderasi Beragama tidak terkesan elitis, tetapi menjadi dari isu politis menjadi isu populis. Dari isu negara menjadi isu publik. Dari kepentingan politik menjadi kepentingan sosial dan mengarah kepada kepentingan ideologi untuk memperkuat konteks kebangsaan kita,” kata Saprillah. (ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.