Wed. Dec 2nd, 2020

BLAM

KEREN

Peringatan Maulid dan Syiar Cinta Sang Nabi

5 min read

Sumber foto: minews.id

6,546 total views, 2 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Anta Maa Man Ahbabta

Seorang laki-laki dari kalangan Anshar datang menemui Rasulullah SAW. Dengan mata berkaca-kaca, dan ekspresi yang menyiratkan kesedihan, ia mengadu kepada Baginda Nabi.

“Ya Rasulullah, aku tidak tahan berpisah denganmu. Jika aku masuk ke rumahku, lalu aku ingat dirimu, aku tinggalkan harta dan keluargaku, aku lepaskan kerinduanku dengan memandangmu. Lalu, aku ingat pada hari kiamat. Pada hari itu, engkau dimasukkan ke surga dan ditempatkan di tempat yang paling mulia. Bagaimana aku, ya Nabi Allah?”

Nabi SAW tidak segera menjawab. Tidak lama setelah itu, turunlah ayat:

Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul, mereka itu akan bersama-sama orang-orang yang Allah anugerahkan nikmat, yaitu para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan para shalihin, dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya, (QS, an-Nisa {4}:69).

Begitu ayat tersebut turun, Rasul memanggil laki-laki tersebut dan membacakan ayat itu dan memberikan kabar gembira kepadanya. Ia dijanjikan akan bersama Rasulullah SAW di sana. Rasul SAW juga berkata anta maa man ahbabta (Engkau akan bersama orang-orang yang kau cintai).

Cinta Kepada Nabi

Rasulullah SAW, adalah makhluk Allah yang paling pantas dan paling wajib untuk kita cintai di atas apa pun di dunia ini. Bahkan, melebihi kecintaan pada harta, keluarga, maupun diri kita.

Suatu hari, Ali bin Abi Thalib ra, ditanya oleh seseorang; “Bagaimana kecintaan kalian kepada Rasulullah SAW?” Ali menjawab; “Demi Allah. Ia lebih kami cintai dari harta kami, anak-anak kami, orang tua kami, dan bahkan ia lebih kami cintai daripada air sejuk bagi orang yang kehausan.”

Pada sebuah riwayat dikatakan, Rasulullah SAW bersabda: “Tidak beriman salah seorang di antara kamu sebelum aku lebih dicintainya dariapda anaknya, orang tuanya, dan semua manusia.”

Hal ini juga ditegaskan dalam firman Allah:

Katakanlah jika orangtua kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri kalian, kerabat kalian, dan kekayaan yang kalian usahakan, perdagangan yang kalian takutkan kerugiannya, atau tempat tinggal yang kalian senangi lebih kalian cintai dari Allah dan RasulNya dan dari jihad di jalanNya, tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya, dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”. (Qs. at-Taubah {9}:24).

Jika kecintaan kepada Rasulullah SAW adalah sebuah kemestian bagi setiap umat Islam, maka tentu cinta meniscayakan lahirnya ekspresi, cinta menuntut bukti. Mencintai seseorang atau sesuatu, akan berimplikasi pada kecintaan dan ekspresi pada setiap hal yang berkenaan dengan objek yang kita cintai tersebut.

Mencintai Rasul berarti kita mencintai segala hal yang berhubungan dengan beliau. Dan, tidak akan melewatkan momen-momen penting yang berkenaan dengan diri beliau SAW. Maulid atau peristiwa kelahiran beliau, adalah momentum besar berkenaan dengan diri beliau.

Peringatan Maulid

Riwayat mengenai kapan pertama kali diadakannya peringatan Maulid Nabi SAW, cukup beragam. Hal yang pasti, peringatan Maulid Nabi nanti diadakan beberapa masa setelah baginda wafat.

Ada riwayat menyebutkan, yang pertama kali mengadakan peringatan hari kelahiran Nabi SAW, adalah dari para turunan beliau, yakni pada zaman Imam Ja’far Shadiq dan Imam Musa al-Kazhim, atau sekitar pertengahan abad kedua Hijriah.

Sedangkan riwayat sejarah lain menyebutkan, peringatan Maulid pertama kali dilakukan oleh Sultan Irbil (sekarang masuk wilayah Irak), yaitu Syeikh Muzhaffaruddin al-Kaukabri.

Beliau merayakan peringatan Maulid Nabi SAW dengan acara peringatan yang besar-besaran. Peringatan Maulid oleh Sultan Irbil tersebut terjadi sekitar abad ketujuh Hijriah.

Peringatan Maulid kemudian menjadi sebuah tradisi yang meriah setiap bulan Rabiul Awal oleh umat Islam di berbagai negara dan telah menjadi tradisi umat Islam dunia. Peringatan Maulid di berbagai negara berpadu dengan tradisi dan unsur lokal masing-masing wilayah.

Di Indonesia, peringatan hari Maulid Nabi SAW yang jatuh setiap 12 Rabiul Awal, telah menjadi bagian dari tradisi keislaman masyarakat Nusantara. Bahkan, sejak pertama Islam masuk ke nusantara.

Dapat dikatakan, tidak ada satu etnik atau suku pun yang dominan pemeluk Islamnya, yang tidak menjadikan peringatan Maulid sebagai tradisi keagamaan yang rutin digelar setiap tahunnya.

Semarak peringatan Maulid Nabi menggaung sepanjang bulan Rabiul Awwal, bahkan hingga bulan-bulan setelahnya. Dari Aceh hingga daerah kepala burung di Papua Barat.

Setiap etnik memiliki ragam ekspresi berbeda dalam mengapresiasi peringatan Maulid Rasul SAW.

Tentu saja, hal ini menjadi khasanah besar dalam kebudayaan masyarakat Islam Indonesia. Peringatan Maulid Nabi dengan beragam tradisi menjadi salah satu bagian penting dari kultur Islam Nusantara.

Maulid dan Cinta

Peringatan Maulid, adalah sebuah tradisi yang sangat penting dalam mengup-grade kecintaan kita kepada sosok Rasulullah SAW.

Dengan memeringati hari kelahirannya, kita akan mengenang, menyelami, dan meneladani sosok dan kepribadiannya yang sangat mulia.

Jalaluddin as-Suyuti (Salah seorang penulis tafsir Jalalain) mengapresiasi peringatan Maulid sebagai ungkapan syukur atas diutusnya Nabi Muhammad SAW ke muka bumi.

Penuturan Jalaluddin dapat dilihat dalam Kitab al-Ni’mah al-Kubra Ala al-Alam fi Maulid Sayyid Wuld Adam, yang ditulis di Mesir sekitar akhir abad kesembilan Hijriah.

Menurutnya, memeringati Maulid Nabi SAW, adalah ungkapan kecintaan sekaligus kesyukuran atas kehadiran Rasulullah di muka bumi menghidayahi umat manusia dan menyelamatkannya dari lembah kesesatan.

Oleh karenanya, memeringati Maulid Nabi SAW mnejadi sangat penting bagi umat Islam, guna semakin mendekatkan diri kepada sang Nabi dan menjadi momentum pengingat akan kemuliaan akhlak dan keagungan pribadi rasulullah.

Peringatan Maulid Nabi, adalah ungkapan kecintaan kepada Rasulullah sebagai sang suri teladan yang mulia.

Dengan memeringati hari kelahirannya, akan memantik ghirah keislaman kita dengan meneladani kepribadian beliau yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Namun, hal yang patut diingat, kesemarakan dalam peringatan Maulid Nabi SAW hendaknya tidak diarahkan pada aspek seremonial belaka, yang bahkan mungkin menjurus kepada hal yang bersifat hura-hura.

Kesemarakan peringatan Maulid Nabi SAW mestinya diarahkan pada penghayatan akan perjalanan hidup Nabi SAW.

Peringatan Maulid Nabi SAW juga benar-benar menjadi momentum syiar yang diarahkan pada peningkatan kecintaan kepada Nabi, dengan menghidupkan sunnahnya dan meneladani akhlak mulianya.

Sehingga, substansi peringatan Maulid Nabi SAW dapat benar-benar terrealisasi dan berbekas di jiwa umat Islam yang merayakannya. Sehingga, cahaya petunjuk dari Nabi benar-benar mengeluarkan kita dari kegelapan.

Keluarkanlah kaummu dari kegelapan kepada cahaya terang benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah.” (Qs. Ibrahim {14}: 5).

Maulid Bid’ah?

Sebagian kalangan menggugat peringatan Maulid, dan menyebutnya sebagai perbuatan bid’ah, karena tidak memiliki landasan dalil dari Nabi. Hal ini karena mereka memandang Maulid sebagai menambah ibadah dalam lingkup syariat.

Padahal, peringatan Maulid adalah ranah syiar agama, dan bukan syariat. Pada ranah syiar tentu dibenarkan inovasi, sebagaimana sabda Nabi SAW:

Barang siapa membiasakan –di dalam Islam– kebiasaan yang baik (Bid’ah Hasanah), lalu kebiasaan itu diikuti (orang-orang) setelahnya, maka baginya pahala sebagaimana pahala yang diperoleh oleh orang-orang (setelahnya) yang mengerjakan (Sunnah tersebut), tidak dikurangi dari pahala mereka sedikitpun….” Hadits Riwayat Imam Muslim.

Ilustrasi berikut bisa memberi sedikit kejelasan tentang posisi peringatan Maulid dalam Islam:

Seorang jamaah bertanya kepada ustaz, “Apa hukumnya memeringati Maulid Nabi?” Ustaz menjawab singkat, “Tidak ada.” Karena penasaran, jamaah tersebut meminta penjelasan, “Maksudnya, Ustaz?”

Ustaz tersebut menjawab, ”Ya, karena memeringati Maulid Nabi bukan wilayah hukum syariat.” Karena masih kurang paham, jamaah tersebut bertanya lagi, “Kalau begitu, peringatan Maulid apa maksudnya, Ustaz?”

Ustaz tersebut kemudian menerangkan, “Secara pribadi, peringatan Maulid adalah ungkapan syukur atas kelahiran Nabi dan tanda cinta kita selaku umat kepada Sang Nabi. Secara sosial,  memeringati Maulid adalah budaya dan syiar Islam.”

“Jika peringatan Maulid tidak ada ketentuan hukumnya dalam Islam (wajib atau sunnah), apa kita mendapat pahala dengan memeringati Maulid?” cecar jamaah tersebut kepada sang ustaz.

Secara lugas sang ustaz kemudian menjawab, “Orang yang mengerti hakikat peringatan Maulid tidak akan berpikir pamrih termasuk pahala, karena motifnya adalah cinta. Pencinta sejati tak akan pernah mengharapkan pamrih, sebagaimana Nabi yang mencintai umatnya tanpa pamrih.”

Ustaz tersebut kembali melanjutkan, ”Mereka yang masih mempersoalkan hukum memeringati Maulid, berarti maaf, ia belum sampai pada intisari terdalam dari agama, yaitu cinta.” (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.