Wed. Dec 2nd, 2020

BLAM

KEREN

Saprillah: “Generasi Tua tidak Khawatir dengan Kondisi Indonesia di Masa Mendatang”, Catatan Diskusi BC 20 “Generasi Muda Membincang Moderasi Beragama”

4 min read

Diskusi Webinar BLAM Corner edisi 20, Kams, 22 Oktober 2020.

6,356 total views, 2 views today

DISKUSI Webinar BLAM Corner (BC) Balai Litbang Agama Makassar (BLAM), kali ini tampil beda.

Jika pada webinar sebelumnya kerap menghadirkan empat narasumber, maka pada edisi kali ini, BC menghadirkan sembilan narasumber dari kalangan anak-anak muda.

Memasuki edisi ke-20 ini, Kamis, 22 Oktober 2020, BC diramaikan oleh para generasi muda, yang berasal dari anak-anak sekolah menengah (SMA dan madsayah aliyah) di Kawasan Timur Indonesia.

Para generasi muda ini dihadirkan untuk memantik diskusi, yang kali ini mengangkat tema “Generasi Muda Membincang Moderasi Beragama.”

Ingin tahu siapa saja mereka?

Mereka adalah Marcella Arifin (SMAN 2 Makassar), Felicia Clea Abadi (SMA Zion Makassar), Andi M. Irsyad Fahruddin (MAN 2 Makassar), Afriadi Ramadhan (MAN 3 Makassar), dan Tri Yasmin Januarsih Mahka (SMAN 1 Gowa).

Ada juga Kristen Kaunang (MIS Manado), Muh. Shafwan (MA Al Huda Gorontalo), Betriks Sopacua (SMTK Ambon), dan Dewi Lailatul Badriyah (MAN Balikpapan).

Sedianya, BC mengundang juga siswa di Sorong dan Jayapura. Namun, mereka terpaksa tidak bisa tampil, disebabkan masalah teknis.

Dipandu host, Peneliti BLAM, Syamsurijal, diskusi yang dimulai pukul 10.00 Wita dan berakhir pukul 12.00 Wita, berlangsung seru dan menarik.

Para siswa ini mengisahkan pengalaman kesehariannya bersentuhan, berinteraksi, dan bergaul dengan orang-orang yang berbeda agama dengan mereka.

Yang menarik, saat ditanyakan mengenai kesediaan siswa muslim mengucapkan selamat Natal, ada siswa yang ternyata enggan memberikan ucapan Selamat Natal.

“Saya sering bergaul dan juga punya teman Kristen. Kami bahkan sering saling membantu satu sama lain. Tetapi, kalau teman-teman Kristen merayakan Natal, saya tidak mengucapkan Selamat Natal, karena saya menganggap itu urusan akidah, bukan sosial,” kata Dewi Lailatul Badriyah, siswi MAN Balikpapan.

“Secara muamalah, saya sering berinteraksi dengan umat dari agama lain. Namun, hubungan muamalah dengan akidah itu berbeda,” kata Andi M. Irsyad Fahruddin, siswa MAN 2 Makassar, yang juga tidak bersedia mengucapkan selamat Natal kepada rekan-rekan Kristennya.

Kristen Kaunang, Siswi International/Independent School Yayasan Adven di Manado, mengaku ia dan teman-temannya yang beragama Islam tidak pernah mempersoalkan masalah ucapan selamat Natal.

“Kalau kami Natal, teman-teman muslim berkunjung ke rumah kami yang Kristen. Begitupula, kami juga pergi ke rumah teman-teman Islam kalau mereka lebaran,” kata Kristen.

Afriadi Ramadhan, siswa MAN 3 Makassar, punya pandangan lain terhadap fenomena ini. Menurut dia, kecenderungan siswa yang belum berpikiran terbuka, disebabkan oleh minimnya literasi bacaan mereka, serta kurangnya bersosialisasi dengan pemeluk agama berbeda.

“Kalau saya ceramah di sekolah dan kebetulan membahas toleransi umat beragama, maka kelihatan sekali kalau ada teman-teman yang kurang setuju dengan materi ceramah yang saya bawakan. Dari pengalaman saya, orang-orang seperti ini biasanya kurang membaca dan malas mencari kitab-kitab lain untuk dijadikan perbandingan,” kata Afriadi.

Meski begitu, dari penuturan siswa yang dijadikan pemantik, relasi mereka dengan pemeluk agama berbeda, terlihat cukup bagus.

Selain berteman akrab dengan non muslim dan saling mengunjungi rumah saat hari raya (Idul Fitri dan Natal), siswa Kristen pun kerap kali mengingatkan teman-teman muslimnya untuk salat apabila masuk waktu salat.

“Kalau terdengar bunyi adzan di sekolah, teman-teman kami yang Kristen selalu mengingatkan untuk pergi salat. Dan, kalau kami salat, mereka juga menjaga barang-barang kami di kelas,” ujar siswi SMAN 2 Makassar, Marcella Arifin.

Hidup berdampingan dan berinteraksi dengan pemeluk agama berbeda, bukanlah hal baru bagi Felicia Clea Abadi.

Sejak kecil hingga kini, Felicia, siswi SMA Kristen Zion Makassar, sudah sering mengobrol dengan orang non beda agama. Ia bahkan tinggal di lingkungan yang warganya kebanyakan memeluk Islam.

“Dalam urusan pekerjaan, Papa sejak dulu sudah bekerja sama dan berinteraksi dengan orang-orang yang berbeda agama dengan kami. Di lingkungan tempat tinggal, kami juga berbaur dengan semua agama, sehingga kami sekeluarga sudah terbiasa hidup toleransi dan saling menghargai,” tutur Felicia.

Felicia pun tidak sepakat saat Host Syamsurijal memancing dengan pertanyaan, bahwa pelaku bom bunuh diri acap kali dituduhkan kepada umat muslim.

“Pelaku bom bunuh diri atau terorisme tidak bisa dikatakan merepresentasikan umat Islam. Saya percaya, semua agama mengajarkan nilai-nilai kebaikan,” katanya.

Soal mengenakan hijab juga ikut dibincangkan dalam diskusi ini. Tri Yasmin Januarsih Mahka, siswi SMAN 1 Gowa, misalnya, menyatakan, cara berpakaian tidak bisa dijadikan tolok ukur seseorang itu memiliki banyak teman dan diterima di dalam sebuah komunitas.

“Bagaimana cara kita berpakaian bukan menjadi tolok ukur orang-orang mau nongkrong dengan kita, tetapi bagaimana kita bersikap sehingga orang-orang itu respek terhadap kita,” katanya.

Peserta diskusi webinar, Asman Azis, memberikan apresiasi kepada generasi muda yang memiliki wawasan terbuka terhadap perbedaan.

“Intinya adalah mari kita memperbanyak melakukan perjumpaan-perjumpaan dan dialog dengan orang-orang yang berbeda agama maupun etnis dengan kita. Hilangkan juga prasangka-prasangka dan kecurigaan-kecurigaan kita terhadap orang lain,” imbuh Asman Azis, tokoh muda Nahdlatul Ulama di Kalimantan Timur, ini.

Pada akhir diskusi, Kepala BLAM, Dr. H. Saprillah, M.Si, mengaku kagum dengan pemikiran dan praktik generasi muda Indonesia terkait Moderasi Beragama. Ia tidak menyangka generasi muda sekarang memiliki wawasan yang jauh ke depan untuk kebaikan Indonesia.

“Saya kagum dengan pemikiran kalian semua para generasi muda. Kalau melihat generasi muda kita sekarang seperti ini, kami yang generasi tua ini tidak khawatir lagi dengan kondisi Indonesia di masa mendatang,” kata Saprillah. (ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.