Wed. Dec 2nd, 2020

BLAM

KEREN

Resensi Buku: Wasathiyah: Wawasan Islam tentang Moderasi Beragama

6 min read

Foto: Sabara

10,113 total views, 18 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Judul Buku                : Wasathiyah: Wawasan Islam tentang Moderasi Beragama

Penulis                        : M. Quraish Shihab

Penerbit                      : Lentera Hati, Ciputat

Cetakan                      : Cet. I September 2019, Cet. II Februari 2020

Jumlah Halaman    : 188 + xv

Moderasi Beragama

Tema moderasi beragama kembali menjadi perbincangan hangat sejak Kementerian Agama Indonesia pada 2019 menjadikannya sebagai platform dan arusutama bagi arah kebijakan dan agenda kerja.

Di akhir masa jabatan Lukman Hakim Syaifuddin selaku Menteri Agama, diterbitkanlah buku Moderasi Beragama sebagai bentuk keseriusan kemenag dalam mengarusutamakan Moderasi Beragama diIndonesia, pada Oktober 2019.

Moderasi beragama yang diusung kemenag, sebagaimana disebut dalam buku Moderasi Beragama, adalah cara pandang, sikap, serta perilaku di tengah-tengah di antara pilihan ekstrem, yaitu fundamentalis (ekstrem kanan) serta liberalis dalam beragama (ekstrem kiri).

Jalan tengah tersebut meliputi aspek kemanusiaan yang merupakan bagian esensial dan sangat ditekankan dalam agama, seperti halnya penekanan di aspek teologi pada dogma maupun hukum agama.

Sebulan sebelum kemenag meluncurkan bukunya tentang Moderasi Beragama, Prof M. Quraish Shihab, telah lebih dulu menerbitkan buku tentang konsep Islam mengenai moderasi beragama, yang dia beri judul, “Wasathiyah”. Buku ini kemudian menjadi salah satu referensi utama buku Moderasi Beragama terbitan kemenag.

Tentang Buku

Pada pengantar bukunya, Quraish Shihab, mengakui, meski telah lama meniatkan menulis buku tentang moderasi atau wasathiyah, namun hal tersebut baru dapat terealisasikan ketika  Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin, secara khusus memintanya berbicara tentang “Moderasi: Apa dan Mengapa” pada acara Halal bi Halal Kemenag, 14 Juni 2019.

Quraish Shihab adalah seorang (bahkan mungkin satu-satunya) begawan tafsir yang masih dimiliki Indonesia, saat ini. Karya-karyanya mencerminkan pemikiran tentang Islam yang sangat wasathiyah (moderat).

Melalui buku ini, Quraish Shihab menjelaskan konsep elementer wawasan Moderasi Beragama dalam perspektif Islam, yang dikenal dengan istilah wasathiyah.

Untuk itu, Quraish Shihab banyak menyitir dan menafsir ayat Al-Qur’an, hadis, riwayat sahabat, hingga pendapat ulama klasik maupun kontemporer berkenaan wasathiyah.

Buku ini terdiri atas tiga bagian dalam mengurai konsep wasathiyah, yaitu apa, mengapa, dan bagaimana wasathiyah? Uraian mengenai wasathiyah mendapatkan porsi paling banyak dibandingkan dua bagian lainnya.

Wasathiyah

Moderasi adalah padanan dari kata wasathiyah, yang beberapa kali disebut di dalam Al-Qur’an. Berbagai kelompok yang bahkan satu sama lain bertolak-belakang, mengklaim bahwa kelompoknyalah yang paling wasathiyah atau mdoerat.

Hal ini, kata Quraish Shihab, disebabkan sebagian kita tidak memahami apa wasathiyah, dan sering kali tidak juga memahami tentang bagaimana dan kapan menerapkannya. Semua umat Islam memang memahami pentingnya wasathiyah, karena Al-Qur’an telah menegaskan umat Islam sebagai ummatan wasathan.

Namun, menurut Quraish Shihab, tak jarang kabur bagi sebagian kita tentang apa makna, tujuan, dan bagaimana menerapkan konsep wasathiyah tersebut. Terkadang sikap yang ditampilkan jauh dari pertengahan, yang menjadi salah satu indikator wasathiyah.

Padahal, wasathiyah sangat luas maknanya dan membutuhkan pemahaman mendalam tentang syariat Islam, serta kondisi objektif yang dihadapi sekaligus cara dan kadar menerapkannya.

Wasath secara bahasa berarti, apa yang terdapat di antara kedua ujung. Dapat pula berarti pertengahan dari segala sesuatu.

Kata wasath dalam Al-Qur’an yang disebut dalam beberapa bentuk, menurut Quraish Shihab, semuanya mengandung makna, “berada di antara dua ujung.”

Itu sebabnya, kata wasath atau wasathiyah, dipandang equal dengan kata moderasi atau moderat, yang memiliki padanan makna dengan kata tawasuth (tengah-tengah), I’tidal (adil), dan tawazun (seimbang).

Diperlukan pengetahuan memadai guna memahami hakikat wasathiyah, sehingga tidak terseret pada salah satu ujung. Dari kedua ujung tersebut, dapat ditarik apa yang dibutuhkan untuk mencapai keadilan dan kebaikan, yang merupakan syarat mutlak dari hakikat wasathiyah.

Mengutip Fakhruddin al-Razi, khususnya ketika menafsirkan makna wasathan dalam surat al-Baqarah (2) ayat 143 memiliki kemungkinan arti antara lain, adil, yang terbaik, yang paling utama, serta bermakna sikap pertengahan antara berlebihan dan berkekurangan. Dari sinilah, orang atau umat yang wasath akan memeroleh petunjuk pada jalan yang lurus (sirathal mustaqim).

Terdapat beberapa istilah lain dalam Al-Qur’an yang digunakan untuk maksud serupa selain wasathiyah, yaitu al-sadad, al-qashid, dan al-istiqamah. Ketiganya bermakna keteguhan, konsistensi, dan moderasi.

Definisi wasathiyah secara lebih detail dapat merujuk pada pendapat ulama kontemporer Mesir, Ahmad Umar Hasyim (mantan Rektor Universitas al-Azhar). Dalam bukunya Washatiyyat Al-Islam, ia mendefinisikan wasathiyah sebagai:

Keseimbangan dan kesetimpalan antara kedua ujung, sehingga salah satunya tidak mengatasi ujung yang lain. Tidak berlebihan, tidak juga berkekurangan. Tiada pelampauan batas, tidak pula pengurangan batas. Ia mengikuti yang paling utama, paling berkualitas, paling sempurna.

Quraish Shihab sendiri mendefinisikan wasathiyah sebagai:

Keseimbangan dalam segala persoalan hidup duniawi maupun ukhrawi yang selalu harus disertai dengan upaya menyesuaikan diri dengan situasi yang dihadapi berdasarkan petunjuk agama dan kondisi objektif yang dialami.

Wasathiyah adalah keseimbangan yang didasarkan pada prinsip “tidak berkelebihan dan tidak berkekurangan.”

Dengan demikian,wasathiyah bukanlah sikap moral yang pasif, melainkan sikap aktif yang menuntut adanya pengetahuan dan objektivitas. Sehingga, wasathiyah dapat mengantarkan pada keadilan, kebaikan, dan keutamaan.

 Wasathiyah merupakan sikap keagamaan yang mempersyaratkan keseimbangan dan implementasinya pada berbagai aspek. Mulai aspek keagamaan yang mencakup akidah, ibadah, dan hukum.

Wasathiyah juga berarti keseimbangan dalam aspek kehidupan bermasyarakat yang mencakup politik, ekonomi, hubungan sosial, termasuk kehidupan rumah tangga.

Aspek personal yang mencakup, keseimbangan dalam pemikiran, perasaan, dan pemahaman atas teks-teks keagamaan.

Ekstremisme

Lawan dari wasathiyah adalah ghulaw atau tatharruf, yang bisa disinonimkan dengan ekstremisme.

Kata ghulaw bermakna pelampauan batas. Sedangkan kata tatharruf, secara kebahasaan berarti, “ujung dari sesuatu.”

Ekstremisme akan merebak bila syarat bagi hadirnya wasthiyah terabaikan. Ekstremisme lahir dari kebodohan terhadap ajaran agama dan ketidakhati-hatian membaca situasi yang disertai fanatisme buta, emosi/semangat (militansi) berlebihan, sehingga yang bersangkutan (individu maupun kelompok) bersikap dan bertindak melampaui batas.

Orang yang ekstrem, boleh jadi, paling banyak ibadahnya, tekun dalam membaca Al-Qur’an, dan rajin salat malam dan puasa sunnah. Akan tetapi, ia sering berburuk sangka dan tidak menampilkan akhlak Islam yang penuh toleransi.

Penganut wasathiyah bisa jadi tidak banyak ibadahnya, tetapi luhur akhlaknya dan selalu tampil dengan ramah dan santun. Toleran atas perbedaan, terbuka terhadap keragaman, dan tulus dalam relasi kemanusiaan.

Baik wasathiyah maupun ekstremisme bukanlah suatu mazhab tertentu, melainkan sikap personal dalam memahami, menghayati, dan mengamalkan agama, serta dalam penyikapan atas kenyataan yang menyuguhkan keragaman.

Mengapa dan Bagaimana?

Mengapa harus wasathiyah? Quraish Shihab menjawab dengan kembali pada makna dan hakikat penciptaan alam dan manusia yang dilandasi keseimbangan dan keteraturan.

Dengan demikian, wasathiyah sesuai fitrah/jati diri manusia yang tunduk pada keseimbangan dan keteraruran, serta mendamba pada keadilan, kebaikan, dan keutamaan.

Guna memperjelas jawaban atas pertanyaan, mengapa wasathiyah, Quraish Shihab menyajikan tafsir atas surat al-Baqarah (2) ayat 143 dan Ali Imran (3) ayat 110. Kedua ayat tersebut berkaitan erat dengan makna dan penerapan wasathiyah.

Menurut Quraish Shihab, kedua ayat tersebut menekankan tugas umat Islam untuk senantiasa mengedepankan persatuan serta menegakkan amar ma’ruf nahy munkar.

Kandungan kedua persoalan tersebut mutlak diwujudkan dalam konteks wasathiyah dan mewujudkan ummatan wasathan.

Persoalan berikutnya, adalah bagaimana menerapan wasathiyah? Menurut Quraish Shihab, untuk menerapkan wasathiyah atau moderasi diperlukan pengetahuan mengenai; Pertama; fiqh al-maqashid yaitu pengetahuan akan latar belakang atas suatu ketetapan hukum dan bukan sekadar mengetahui bunyi teksnya.

Kedua; fiqh al-awlawiyat, yaitu kemampuan memilih yang terpenting dari yang penting, dan yang penting dari yang tidak penting.

Ketiga; fiqh al-muwazanat, yaitu kemampuan membandingkan kemaslahatan dan kemudharatan.

Keempat, fiqh al-ma’alat, yaitu kemampuan meninjau dampak dari pilihan, apakah mencapai target atau sebaliknya menjadi kontra-produktif.

Sementara, beberapa langkah penting yang perlu diperhatikan guna tegaknya wasathiyah, antara lain; Pertama; pemahaman yang terperinci mengenai teks-teks Al-Qur’an dan Sunnah. Kedua; kerjasama dan toleransi. Ketiga; menghimpun dan mempertemukan ilmu dengan iman.

Keempat; penekanan pada prinsip dan nilai-nilai kemanusiaan. Kelima; mengajak pada pembaharuan sesuai tuntunan agama.

Keenam; menaruh perhatian yang besar dalam membina persatuan. Ketujuh; memanfaatkan sebaik mungkin warisan dan peninggalan dari tokoh terdahulu.

Untuk menerapkan wasathiyah dalam kehidupan pribadi maupun masyarakat, diperlukan upaya serius yang dikukuhkan oleh, pengetahuan/pemahaman yang benar, emosi yang seimbang dan terkendali, serta kewaspadaan dan kehati-hatian bersinambung.

Wasathiyah menuntut pemahaman agama dan pengamalannya yang berkonsekuensi menjauhi ekstremisme atas diri dan pihak lain, sebagaimana juga menghindari sikap penggampangan dalam berbagai aspek kehidupan.

Pada akhirnya, menjadi wasathiyah bukanlah hal gampang dan bukan untuk menggampangkan.

Wasathiyah bukanpula hal sulit, apalagi menyulitkan. Wasathiyah menuntun kita keluar dari kesulitan tanpa menggampang-gampangkan sesuatu. Wasathiyah ditandai oleh ilmu, kebajikan, dan keseimbangan. Tanpa ketiganya, wasathiyah tak akan dapat terwujud. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.