Wed. Dec 2nd, 2020

BLAM

KEREN

Bedah Bahan Bacaan Moderasi Beragama, BLAM Libatkan Aktivis di Barru  

3 min read

Kepala BLAM, Dr. H. Saprillah, M.Si, membawakan materi pada kegiatan Validasi Pengujian Draf Bahan Bacaan Moderasi Beragama. Foto: M. Irfan

8,033 total views, 2 views today

BARRU, BLAM – Kementerian Agama Kabupaten Barru menyambut gembira kegiatan Validasi Pengujian Draf Bahan Bacaan Moderasi Beragama, yang diadakan Balai Litbang Agama Makassar (BLAM) di Barru, Sulawesi Selatan.

Kemenag Barru bahkan berharap, di tahun mendatang, BLAM bersedia lagi mengadakan kegiatan terkait Moderasi Beragama di kabupaten ini.

“Meminta itu sebenarnya perbuatan tabu menurut agama. Tetapi, permintaan saya ini adalah berorientasi kepada peningkatan sumber daya manusia kami di Kemenag Barru, khususnya soal Moderasi Beragama. Karena itu, kiranya kalau ada kegiatan seperti ini lagi, kami siap menjadi tuan rumah. Di daerah, kami juga selalu haus dengan informasi-informasi seperti ini,” kata Plh. Kepala Kemenag Barru, H. Syamsul Bahri, M.Ag.

Syamsul Bahri mengatakan hal demikian, saat memberikan sambutan kegiatan Validasi Pengujian Draf Bahan Bacaan Moderasi Beragama, yang diadakan Peneliti Bimas Agama dan Layanan Keagamaan BLAM, di Hotel Youtefa, Kabupaten Barru, Senin, 19 Oktober 2020.

Untuk mendedah bahan bacaan Moderasi Beragama yang diproyeksikan buat generasi muda (anak-anak SMA dan mahasiswa), Peneliti Bimas mengundang peserta yang berasal dari kalangan aktivis berbagai kampus di Barru, aktivis Gereja Kristen di Barru, dan Gusdurian Barru.

Syamsul Bahri menambahkan, Moderasi Beragama yang dicanangkan oleh kementerian agama diakui sebagai program cemerlang, mengingat negara Indonesia adalah negara plural dan majemuk.

Menurutnya, yang perlu dipahami dari Moderasi Beragama selaku tolok ukur, adalah kembali pada ajaran inti agama, yaitu kemanusiaan, bagaimana bisa memanusiakan manusia, dan bagaimana bisa mengangkat harkat kemanusiaan itu.

“Jadi, kita ini sebagai manusia tidak mau saling mencederai, tidak mau saling menghinakan,  dan tidak mau saling menyepelekan antara satu dengan yang lain. Gerakan ekstrem, seperti pelaku bom bunuh diri dan teroris, misalnya, yang hanya mementingkan kepentingan pribadi dan kelompoknya, justru menodai dan mencederai harkat kemanusiaan,” kata Syamsul Bahri.

Agar Moderasi Beragama terus berkelanjutan di Indonesia, Syamsul Bahri pun mengajak kepada pemeluk agama berbeda untuk saling memiliki kesepakatan dan komitmen, serta membingkai kesepakatan dan komitmen tersebut dengan ketertiban.

“Alhamdulillah, sampai saat ini, kami di Barru belum pernah terjadi sekalipun gesekan yang bisa mencederai nama agama. Kami selama ini hidup berdampingan dengan saudara-saudara berlainan agama,” kata Syamsul Bahri.

Kepala BLAM, Dr. H. Saprillah, M.Si, dalam sambutannya, menyatakan, Moderasi Beragama sudah menjadi wacana arusutama di lingkungan kemenag di Indonesia.

Menurut Saprillah, ada empat konsep Moderasi Beragama yang ditawarkan kemenag. Yaitu, penguatan wawasan kebangsaan, toleransi, anti kekerasan, dan ramah terhadap lokalitas atau tidak membuang lokalitas.

“Yang kita adakan saat ini, adalah membuat atau menggagas sebuah bahan bacaan untuk generasi muda dengan mengarusutamakan relasi antaridentitas. Tujuannya adalah memperkuat atau menegaskan, bahwa relasi itu penting untuk kita jaga bersama-sama, dan kita pun harus saling menghargai sesama manusia tanpa kehilangan identitas kita sendiri,” kata Saprillah.

“Kita memberikan apresiasi terhadap kerukunan umat beragama (KUB) di Barru. Ini juga yang menjadi salah satu alasan kami memilih Barru, dan kemudian mengajakdan melibatkan para generasi mudanya untuk mengikuti kegiatan kami ini,” lanjut Ketua Lakpesdam Nahldatul Ulama, Sulsel, ini.

Sementara itu, diskusi pembahasan draf bahan bacaan Moderasi Beragama, yang kali ini memasuki tahapan kelima, berlangsung interaktif. Saprillah sendiri bertindak selaku narasumber.

Selama mendedah draf tulisan, para peserta terlihat sangat antusias. Mereka memberikan masukan maupun kritikan terhadap delapan draf tulisan, yang ditulis Peneliti Bimas.

Meskipun berupa cerita ringan (feature), tulisan ini merupakan temuan Peneliti Bimas, ketika meneliti Best Practice Kerukunan Umat Beragama di Kawasan Timur Indonesia pada 2018. Setelah semua tahapan dituntaskan, delapan draf tulisan ini bakal diterbitkan menjadi buku. (ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.