Wed. Dec 2nd, 2020

BLAM

KEREN

“Saya Rasa” & “Saya Pikir”: Konstruksi Pengetahuan Nusantara vs Barat

6 min read

Sumber gambar: satriapg.blogspot.com

26,242 total views, 2 views today

Oleh: Syamsurijal (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Pernahkah kita merenungkan mengapa ada orang ketika berargumen selalu menyebut kata “Saya rasa”?  Misalnya: “Saya rasa, UU Cipta Kerja omnibus law yang sedang menjadi polemik saat ini, memang menyisakan beberapa celah yang perlu diperbaiki. Oleh sebab itu, “saya rasa”, UU ini tidak perlu buru-buru disahkan.”

Ternyata, kebiasaan menggunakan kata “saya rasa”, tidak sesederhana yang kita bayangkan, bahwa itu hanya kebiasaan belaka. Karena itu-lah, saya ingin bercerita tentang kebiasaan menggunakan kata “saya rasa” tersebut, dan ada apa di balik kebiasaan itu?

Pada satu siang di pertengahan 1996. Di satu musim kering yang panasnya terasa mencubit-cubit permukaan kulit dan menampar ubun-ubun. Dalam perjalanan pulang dari kampus ke tempat kos-kosan, seorang teman bercerita pada saya.

Ia bilang begini:

“Tadi di kelas, sewaktu diskusi, dosen menegur kami, para mahasiswa. Kata dosen, mengapa kalian jika memberikan pendapat, atau sedang mengetengahkan argumen, selalu mengatakan “saya rasa.

Saat mengetengahkan pendapat, demikian kata dosen itu, kita berangkat dari argumentasi logis, menggunakan akal dan pikiran, bukan perasaan. Jadi, seharusnya kalian ketika mengeluarkan pendapat selalu mengatakan “saya pikir“.

“Hebat yang dosen itu,” kata teman itu, selanjutnya. “Selama ini, kita tidak pernah memikirkan kelaziman kita mengucapkan kata “saya rasa.” Itu kita anggap hanya sekadar kebiasaan, tapi ternyata dosen itu bisa menunjukkan, bahwa kita memang selama ini lebih banyak mengandalkan perasaan atau perkiraan dalam berargumen, di banding berdasarkan data-data empiris atau penalaran logis.”

Saya tidak langsung menimpali. Saya hanya mengangguk-angguk macam burung perkutut, menyetujui pernyataan teman tersebut.

Beberapa jenak kemudian, saya hanya mengatakan: “Saya rasa (Ups.. Saya pikir), kalau begitu kita harus mulai mengubah kebiasaan kita saat memberikan argumen. Kita harus membiasakan mengatakan “saya pikir”, kita lupakan salah kaprah kita selama ini yang selalu mengatakan “saya rasa.”

Sejak saat itulah, selama menjadi mahasiswa, kami berupaya selalu menggunakan: “Saya pikir…bla….bla..bla…dan seterusnya,” bila sedang mengemukakan argumen.

Namun, saya merasakan keanehan. Rasanya, ada yang tidak sinkron dengan sekeliling saya dengan ucapan itu.

Lagipula, saya mendengar beberapa akademisi, intelektual, dan orang-orang pintar tetap saja menggunakan ungkapan “saya rasa”, ketika mulai berargumen. Padahal, argumennya dikuatkan dengan data atau referensi.

“Ah… ala bisa karena biasa. Itu pasti hanya karena kebiasaan.” Begitu pada akhirnya kesimpulan saya.

Rene Descartes

Suatu ketika, saya membaca ungkapan Rene Descartes, cogito ergo sum (saya berpikir maka saya ada).

Saya mulai berpikir-pikir (atau merasa-rasa), jangan-jangan pandangan dosen yang meminta kami, agar setiap berargumen harus bilang “saya pikir”, bukan “saya rasa”, berangkat dari pandangan Rene Descartes ini?

Semakin lama, saya semakin yakin itu. Kerangka berpikir ini khas paham rasionalisme Barat. Pusat dari pengetahuan adalah rasionalisme, bukan perasaan. Rasa sama sekali tidak dianggap sebagai pengetahuan.

Sang dosen, rupanya, menginginkan mahasiswa dalam berargumen harus terlihat kerangka rasionalismenya, setidaknya meskipun hanya secara retoris dimulai dari ungkapan: “saya pikir.

Terlihat sederhana saja. Sesederhana memasak mie instant, yang hanya dituangi air panas. Tidak perlu dibesar-besarkan. Tetapi ternyata, implikasinya luar biasa.

“Rasa” dianggap bukan pengetahuan. Padahal, sejauh saya meliat dan mengamati dari berbagai ajaran, petuah, pasang (pesan), teks-teks naskah, ‘rasa’ menjadi salah satu poin penting dari pengetahuan orang nusantara.

Saya ingat pesan orang-orang tua kita dulu jika ingin bepergian: “Nuarepi ambbattu kalennu nampa nulampa” (Jika kamu sudah merasakan dirimu sampai di tujuan, barulah engkau pergi). Jelas, ini adalah pengetahuan tentang rasa. Bukan soal olah pikir.

Demikian halnya cara orang tua kita menentukan waktu, menyirap akan terjadinya peristiwa alam, semua itu dengan “rasa.” Tetapi, ilmu rasa yang dikenali orang tua kita, bukan sekadar insting belaka, sebagaimana dikenal orang Barat.

Ilmu rasa ini dilatih dan diolah dengan sesering mungkin bersentuhan dengan alam. Orang pesisir di nusantara, misalnya, merasakan akan datangnya badai, dan tidak akan melaut dengan kemampuan mereka dalam melihat susunan bintang, merasakan hembusan angin, dan seterusnya.

Saya semakin merasakan, orang nusantara memiliki pijakan pengetahuan sendiri berbasis dari “rasa”, setelah membaca novel Nugroho berjudul Panji Wirapati.

Novel ini berbicara tentang perjuangan laskar-laskar Diponegoro, setelah sang Pangeran diasingkan. Ternyata, dalam pengakuan tokoh-tokoh laskar itu, banyak pejuang ditubuh Diponegoro memiliki ilmu panggraita (ilmu rasa). Ilmu yang bisa merasakan dan memprediksi kejadian yang belum terjadi.

Ilmu panggraita adalah tanggap ing sasmita lantip ing panggraita: Tanggap membaca isyarat, pandai memaknai gelagat. Ilmu ini harus diasah dan dilatih. Salah satu caranya, mendekat dan lebur dengan mayapada.

Karena itu, tokoh cerita, Panji, yang juga dikenal dengan nama Rangga Bledeg, dalam mempelajari ilmu ini tidak senang tidur dalam kamar. Ia lebih suka tidur di bentangan semesta. Berpayung langit dan berselimut angin.

Hebatnya, setelah Panji menguasai Panggraita, ia bisa mendeteksi gerakan lawan melalui rasa, sebelum lawan itu sendiri bergerak. Ia bisa merasakan lawan akan menendang, memukul lurus atau silang, sebelum lawan itu sendiri melakukan pukulannya. Ilmu panggraita melampaui gerakan yang secepat kilat sekalipun, karena ia mendahului gerakan.

Pangeran Diponegoro

Konon, ilmu ini dipergunakan Pangeran Diponegoro untuk mengatur siasat, sebelum Belanda menyerang. Dengan ilmu ini, Diponegoro sudah bisa merasakan kehadiran Belanda, dan apa yang akan dilakukannya sebelum pasukan itu sendiri datang.

Pada saat Pangeran Diponegoro ditipu, diminta berunding padahal ditangkap, ada dua versi cerita.

Pertama menyebut, Diponegoro sudah tahu siasat ini melalui panggraitanya, tapi membiarkan dirinya ditangkap. Kedua, saat peristiwa itu terjadi, Diponegoro justru lebih banyak dipengaruhi oleh pertimbangkan akalnya. Ia tidak menerapkan ilmu panggraitanya.

Beberapa orang dekatnya, yang menerapkan ilmu panggraita, sudah melarang Diponegoro untuk ikut perundingan tersebut. Tapi, sang Pangeran bergeming.

Dengan demikian, kebiasaan menyebut “saya rasa” ketika kita berargumen, sejatinya karena pengetahuan kita banyak bertumpu pada “ilmu rasa”, bukan pada ilmu rasio. Tetapi mengapa,  ilmu rasa ini tidak kita anggap pengetahuan. Sebaliknya, hanya yang rasio(nalisme) yang kita sebut sebagai pengetahuan?

Penjajah & Terjajah

Proses tersebut terjadi dalam relasi colonizer (penjajah) dengan colonized (terjajah), antara hubungan orientalis dengan orang Timur (nusantara).

Apa yang terjadi dalam proses itu? Edward Said (1978) dengan Orientalismenya, Leela Ghandi (1998) dengan Postcolonial Theory-nya, dan Pal Ahluwalia (2001) dengan Politics and postcolonial theory-nya, sedikit banyak bisa membantu kita memahaminya.

Dalam relasi pengetahuan Barat dengan Timur, Barat  tidak sekadar ingin mengetahui (will to know), tetapi juga memiliki hasrat untuk menguasai (will to power).

Barat tidak sekadar hanya ingin mengenal timur, mengetahui kebudayaannya, mendiskusikan nalarnya, tetapi juga ingin mengolah ulang dan meracik kembali soal ketimuran atau kenusantaraan.

Apa yang tadinya di nusantara dianggap sebagai praktik kebudayaan, kebiasaan, kearifan, dan pengetahuan lokal, tidak hanya dideskripsikan begitu saja. Akan tetapi, ia dikonstruksi ulang oleh para orientalis, sebagai bentuk irrasionalisme, keprimitifan, ketidak-setaraan, dan sekadar mistis. Di titik ini, pengetahuan nusantara mulai disisihkan.

Pengetahuan nusantara dianggap tidak ada, kecuali jika pengetahuan itu disesuaikan dengan kultur Barat. Begitu standar yang diletakkan oleh para colonizer (penjajah) ini.

Dengan kata lain, pengetahuan nusantara barulah dianggap sebagai satu pengetahuan jika sudah menjadi modern, liberal, rasionalis, dan seterusnya.

Dalam situasi demikian, orang-orang Timur (Nusantara) pelan-pelan menginternalisasi konstruksi pengetahuan Barat ini. Cermin mereka adalah pengetahuan barat.

Maka, agar bisa disebut pengetahuan, basis-basis epistemologis-nya harus didasarkan pada basis pengetahuan barat. Cara-cara berpikir rasionalisme harus terlihat. Orang-orang Indonesia pun lebih senang disebut berpikir daripada merasa.

Bahkan, beberapa pejuang feminisme di Indonesia, menolak keras ketika disebutkan, bahwa perempuan lebih banyak menggunakan rasa dibanding rasio.

Dalam pandangan beberapa feminis tersebut, jika dianggap menggunakan rasa, maka perempuan  dalam bersikap dan bertindak diasumsikan tidak berlandaskan pengetahuan.

Keseluruhan dari proses tersebut menunjukkan, orang-orang nusantara sendiri menginternalisasi konstruksi orang-orang Barat tentang apa yang disebut dengan pengetahuan.

Maka, jangan heran, jika cerita dosen di awal tulisan ini, memerintahkan mahasiswanya untuk meninggalkan kebiasaan menyebut “saya rasa” dan mengganti dengan “saya pikir.”

Hal itu terjadi, karena si dosen telah menginternalisasi konstruksi Barat. Bahwa, yang disebut dengan pengetahuan haruslah terlihat rasional dan berpatokan pada pikiran. Sementara rasa,  tidak bisa disebut sebagai pengetahuan.

Saya rasa ada benarnya kata Ashis Nandy (1983): Barat sekarang ada di mana-mana, di Barat dan di luar Barat, bahkan juga terdapat dalam struktur dan alam pikiran. Barat tidak hanya menguasai teritorial dan ekonomi, tapi juga telah menundukkan raga, jiwa dan kesadaran. Barat bahkan telah mengatur bagaimana kita harus bicara, dan berargumen yang benar.

Lantas, yang mana yang Anda ingin pilih: “Saya rasa” atau “saya pikir”?

 “Saya rasa, itu kembali pada Anda masing-masing….!” (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.