Wed. Dec 2nd, 2020

BLAM

KEREN

Saprillah: Siswa Mesti Terbiasa Berdialog & Menerima Kecanggungan

4 min read

Kepala BLAM, Dr. H. Saprillah, M.Si (berbaju batik), berfoto bersama peserta Pembahasan Draf Final Bahan Bacaan Moderasi Beragama. Foto: M. Irfan

14,274 total views, 2 views today

MAKASSAR, BLAM – Kepala Balai Litbang Agama Makassar (BLAM), Dr. H. Saprillah, M.Si, memberikan beberapa catatan penting terhadap pembuatan Bahan Bacaan Moderasi Beragama yang tengah digagas Peneliti Bidang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan.

Pepi, sapaan akrab Saprillah, menuangkan beberapa catatannya, saat berbicara di depan Peneliti Bimas dan sejumlah Guru Madrasah Aliyah Negeri (MAN)/SMA, serta siswa MAN/SMA di Makassar, pada kegiatan “Pembahasan Draf Final Bahan Bacaan Moderasi Beragama,” di Hotel Arya Duta Makassar, Selasa, 6 Oktober 2020.

Ingin tahu seperti apa? Berikut penuturan Saprillah:

Bagi saya, ide membuat bahan bacaan Moderasi Beragama untuk siswa sekolah menengah umum yang dilakukan Peneliti Bimas ini, sangat menarik. Apalagi, hari ini, saya mengikuti dari awal hingga selesai diskusi dengan adik-adik siswa dan guru-guru. Diskusinya sangat menarik. Ternyata, adik-adik ini (siswa-siswi) merupakan pembaca, sekaligus kritikus sastra yang baik.

Yang menarik, saya melihat ada yang setuju dan kurang setuju dengan alur kisah yang dituangkan di dalam draf bahan bacaan ini. Menurut saya, setuju dan kurang setuju itu, wajar saja. Sebagai pembaca, kita tidak mesti selalu bersepakat dan bersetuju dengan apa yang kita baca.

Namun, yang harus dipahami, di luar kita ini, ternyata ada orang yang berpikir berbeda dengan pikiran kita. Misalnya, soal pernikahan beda agama, yang ditulis di dalam salah satu bagian di dalam bahan bacaan ini.

Soal nikah beda agama ini, ada yang mempertanyakan, mengapa harus ada orang menikah berbeda agama? Sebagai orang yang tidak setuju (beda nikah agama), sah-sah saja Anda kecewa. Tetapi ketika Anda berdialog dan mengajukan pertanyaan mengapa mereka bersetuju (nikah beda agama), mungkin kekecewaan Anda menjadi turun, karena memahami reasoning-nya (alasannya).

Contoh lain lagi, mungkin saja ada teman-teman kita bercadar, dan ada juga teman-teman kita tidak berjilbab. Secara personal, ada mungkin yang tidak setuju, tetapi ketika melakukan tindakan dialog, kita akan memahami reasoning-nya mengapa ada yang menggunakan dan ada yang tidak menggunakan.

Nah, itulah mengapa, kita harus membaca lebih banyak hal yang berbeda dengan kita, supaya kita bisa memiliki banyak perspektif, tetapi tidak harus ikut pada perspektif itu. Saya setuju teman-teman peneliti memiliki standing-nya, sehingga tidak larut dengan ideologisasi, karena punya pendirian sendiri.

Lalu, bisakah sikap kecewa atau ketidaksetujuan Anda ini tidak berhenti pada justifikasi? Misalnya menganggap, Ah, orang ini salah. Masa’ sih mau menikah dengan orang yang berbeda agama. Bisa tidak berhenti pada pertanyaan seperti ini, dan sebaliknya, mengubah pertanyaan menjadi dialog, seperti mengapa ada orang yang melakukan seperti itu (nikah beda agama).

Tema ini (nikah beda agama) sudah kami diskusikan di awal-awal, dan memang benar, bahwa isu nikah beda agama tidak populer di masyarakat kita. Dan, ternyata, adik-adik kita juga merasa canggung dengan isu ini. Tetapi, bagi saya, adik-adik itu mesti terbiasa menerima kecanggungan di dalam hidupnya. Namun, kecanggungan itu bukanlah untuk menjadikan kebenaran, melainkan untuk memahami hikmahnya.

Saya ingat, ketika saya menulis Novel “Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki,” sebagian orang masih memandang calabai dengan stigma buruk, karena perspektif kita memandang mereka adalah hitam-putih.

Mengapa? Karena kita tidak pernah membangun jembatan kemanusiaan yang bernama dialog. Kita cuma berhenti pada sebatas memberikan stigma kepada mereka. Kita tidak pernah berpikir dan merasakan bagaimana mereka ini hidup sebagai calabai.

Saat saya wawancara calabai, mereka pun tak ingin dilahirkan seperti itu. Mereka menangis. Mereka akui, masih banyak yang tidak menerima mereka sebagai manusia, yaitu kita.

Kita selama ini hanya berhenti pada teks yang kita baca, lalu kemudian menjustifikasi orang berdasarkan bacaan kita, dan sama sekali tidak pernah mendengarkan, bahwa sebenarnya orang ini mau sadar atau tidak. Kalau mau sadar, mengapa kita tidak menarik tangannya dari kubangan. Yang kebanyakan orang lakukan, adalah tetap menempatkan mereka ke dalam kubangan tanpa berusaha menariknya.

Bahan bacaan Moderasi Beragama ini disetting semi novel. Jadi, seperti sinetron di televisi, jalan ceritanya memang dibuat rumit. Kalau tidak rumit, tentu tidak menarik. Proses cerita itulah yang bikin sebuah kisah menjadi menarik, karena di situ ada ketegangan.

Cara mengakhiri kisah juga berbeda-beda dan tentunya sesuai selera penulisnya. Sebab, cara mengakhiri cerita, ternyata punya selera. Ada novel yang berakhir tragis atau tragic ending. Ada yang happy ending (berakhir bahagia).

Dan, ada juga flow ending, atau membiarkan tafsiran kita (pembaca) terhadap akhir cerita menjadi bebas, tidak ingin mengikat tafsiran dan tidak ingin mendikte tafsir kita. Penulisnya meminta pembaca untuk menafsirkan sendiri novelnya sebebas yang pembaca inginkan dengan membuka berbagai kemungkinan pada bagian akhir kisahnya.  

Bahan bacaan yang dibuat tim Peneliti Bimas ini, poinnya adalah, meskipun masih ada adik-adik yang bingung dengan alurnya, tetapi mereka semua paham.

Artinya, tujuan teman-teman untuk menghasilkan bacaan Moderasi Beragama untuk anak-anak muda, berhasil. Bahwa, buku ini sedang bertugas untuk menjelaskan Moderasi Beragama kepada siswa SMA atau generasi Alfa, saya anggap sudah clear, dengan catatan tetap memerhatikan saran-saran dan kritikan dari adik-adik siswa sebelum diterbitkan menjadi buku. (ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.