Wed. Dec 2nd, 2020

BLAM

KEREN

Kepala Badan Litbang dan Diklat Apresiasi Pembuatan Bahan Bacaan Moderasi Beragama

2 min read

Kepala Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI, Prof.Dr.H. Achmad Gunaryo (kiri), menjadi narasumber bahan bacaan Moderasi Beragama. Foto: M. Irfan

14,101 total views, 2 views today

MAKASSAR, BLAM – Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, Prof. Dr. H. Achmad Gunaryo, M. Soc.Sc, memberikan apresiasi terhadap pembuatan buku bahan bacaan bertema Moderasi Beragama bagi anak-anak sekolah.

“Ide membuat bahan bacaan Moderasi Beragama untuk anak-anak sekolah itu sangat bagus dan strategis. Tapi, bahan bacaan ini sebaiknya jangan terlalu akademik dan jangan pula terlalu mengawang-awang, supaya nantinya bisa dibedakan yang mana buku untuk umum, untuk siswa, dan mahasiswa,” kata Gunaryo.

Gunaryo mengemukakan hal tersebut, saat menjadi narasumber dengan judul “Pembangunan Moderasi Beragama Bagi Generasi Muda”, pada kegiatan pengembangan “Pembahasan Draf Final Bahan Bacaan Moderasi Beragama,” yang diadakan Peneliti Bidang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Balai Litbang Agama Makassar (BLAM), di Hotel Arya Duta Makassar, Selasa, 6 Oktober 2020.

Selain Kepala BLAM, Dr. H. Saprillah, M.Si, Kepala Balai Diklat Keagamaan Makassar, Juhrah, M.Si, Peneliti Bidang Bimas, kegiatan ini ini juga mengundang sejumlah Guru Madrasah Aliyah Negeri (MAN)/SMA dan siswa MAN/SMA di Makassar.

Gunaryo menyatakan, guru di sekolah memainkan peran yang dimainkan oleh orang tua. Asumsinya, anak yang ada di sekolah telah kehilangan hak asuh orang tua, sehingga hak pengasuhan anak kemudian diambilalih oleh guru di sekolah.

Karena itu, kata dia, selain dibangun dari keluarga, kesalehan sosial juga dibangun di sekolah, melalui guru-guru dan kawan-kawan sebaya sang anak.

“Saya saja sebagai seorang Guru Besar di kampus Islam negeri, anak saya malah terkadang lebih mendengar dan menuruti apa yang dikatakan gurunya. Ini menunjukkan, betapa pentingnya pembentukan karakter yang dimulai dari sekolah dan teman sebaya anak di sekolah,” kata Gunaryo, disambut tawa peserta.

“Sebagai orang tua kita semua tahu, bahwa pada saat anak kita masuk sekolah, maka sebagian waktu kita kehilangan dengan anak-anak, karena waktu mereka lebih banyak tersita untuk kehidupan sosialnya di luar rumah,” lanjutnya.

Menurut Gunaryo, moderasi beragama bukanlah suatu keinginan, melainkan sudah menjadi keharusan. Kalau ingin berkembang, maka suka atau tidak suka, semua pemeluk agama di Indonesia mesti bersikap seperti itu.

“Inilah yang menjadi tugas peneliti dalam pembuatan buku ini untuk menjelaskan bagaimana konsep moderasi beragama yang sulit itu, dapat dipahami oleh anak-anak sekolah dengan menggunakan kalimat-kalimat sangat sederhana,” imbuh Gunaryo. (ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.