Wed. Dec 2nd, 2020

BLAM

KEREN

Resensi Buku: Melampaui Pluralisme Gerardette Philips

6 min read

Foto: Sabara

8,582 total views, 4 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Judul Buku                : Melampaui Pluralisme; Integritas Terbuka sebagai Pendekatan yang Sesuai bagi Dialog Muslim-Kristen

Penulis                        : Gerardette Philips

Penerbit                      : Madani, Jakarta

Cetakan                      : Cet. I April 2016

Jumlah Halaman    : 315 + xlix

Tentang Buku

Gerardette Philips, biarawati dari Kongregasi Religieuses de Sacre-coeur de Jesus (RSCJ), atau Kongregasi Hati Kudus Yesus, memberikan sebuah tawaran mengenai pengelolaan hubungan antar Islam-Kristen.

Melalui buku yang awalnya sebuah disertasi di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta, Gerardette menawarkan perspektif dan pendekatan baru dalam dialog antaragama, yang disebut dengan istilah “Integritas Terbuka.”

Pendekatan yang ditawarkan Gerardette tersebut, ia ramu berdasarkan pemikiran dua tokoh besar, yaitu Hans Kung, dengan konsep global ethic (etika global) dan Sayyid Hossein Nasr,  dengan konsep perennial philosophy (filsafat perennial).

Dengan tawaran konsepnya ini, Gerardette menujukan untuk mengatasi jurang kesalahpahaman antara Muslim dan Kristen, yang meski dalam beberapa dekade telah terlibat dalam dialog yang intens. Baik eksklusivisme maupun inklusivisme kerap menjadi basis analisis atas pendekatan yang dipakai dalam dialog.

Menurut Gerardette, masih belum mampu mewujudkan pelibatan agama-agama dalam dialog yang serius dan membuahkan hasil.

Demikian pula pluralisme yang banyak digagas oleh tokoh-tokoh, yang berusaha menjembatani jurang relasi antariman. Menurut Gerardette, pluralisme masih menyisakan beberapa “cacat-cela” dan bahaya.

Melalui buku yang terdiri atas Delapan Bab, Gerardette mencoba menawarkan “jalan keluar” dari problem-problem yang masih disisakan oleh pluralisme, dengan mengambil inspirasi dan basis pemikiran  dua tokoh; Hans Kung dan Sayyid Hossein Nasr.

Bab Pertama buku ini berisi pengenalan singkat tentang kedua tokoh, disertai beberapa penjelasan beberapa definisi dan istilah yang kerap mereka gunakan.

Bab Dua menghantar pembaca untuk menyelami kehidupan kedua tokoh tersebut, beserta pengaruh dan karya dari kedua tokoh tersebut.

Bab Ketiga berisi gambaran umum tentang dialog antaragama. Bab Keempat dan Kelima mengulas etika global dan filsafat perennial yang menjadi konsep kunci kedua tokoh.

Bab Keenam mengulas tentang integritas terbuka sebagai pendekatan yang “melampaui pluralisme” dan dipandang cocok bagi dialog antaagama.

Bab Ketujuh menawarkan beberapa kemungkinan pertanyaan dan jalan potensial untuk menerapkan integritas terbuka sebuah tawaran “pendekatan baru?

Sementara Bab Delapan, atau bab terakhir, berisi simbulan terbuka tentang konsep integritas terbuka yang mengajak kita untuk benar-benar terbuka, baik kepada Tuhan, kepada diri kita sendiri, maupun terhadap yang lain.

Buku ini semakin lengkap dengan prolog yang diberikan BudhyMunawar-Rachman, yang secara detil mengulas konsep pluralisme yang hendak “dilampaui” oleh Gerardette.

Sayyid Hossein Nasr juga melengkapi buku ini dengan pengantar singkatnya. Ia menekankan pentingnya menciptakan pemahaman yang lebih besar tentang agama dan budaya.

Pluralisme

Bagi para pemerhati dialog dan kerjasama lintas iman, pluralisme dipandang sebagai konsep “par excellence”, yang dapat menjadi jembatan yang menghubungkan perbedaan antar iman, mulai dari ranah paradigmatik hingga aksi.

Pluralisme yang kerap dipandang berakar dari pandangan teologi liberal dituding menjebak pada relativisme. Hal inilah, yang menurut Gerardette, dilihat sebagai bentuk kecacatan pluralisme yang memantik pada beberapa bahaya yang akan timbul.

Dalam pengantar bukunya, Gerardette menulis tiga bahaya akibat pluralisme, yang dianggap tidak memandang serius identitas dan klaim kebenaran agama seseorang.

Menurut Gerardette, pluralisme terkesan “memaksa” seseorang untuk mengabaikan unsur esensial dari agamanya, semisal doktrin Trinitas dalam Kristen maupun doktrin tentang nubuat Muhammad bagi Muslim.

Bahaya Kedua, menurut Gerardette, adalah relativisme dalam bentuk penolakan atas klaim kebenaran, yang diyakini orang lain agar dirinya “terhubung” dengan orang lain.

Bahaya ketiga, adalah pandangan, bahwa pada dasarnya diri kita sama akan memicu kemungkinan berkembangnya sinkretisme. Karena itulah, Gerardette mengklaim pluralisme memiliki kecacatan secara metodologis, bermasalah secara moral, dan mustahil secara logis (hlm. 231-237). Intinya, Gerardette mengklaim, pluralisme sama tidak memadainya sebagai sebuah pendekatan sebagaimana ekslusivisme dan inklusivisme.

Di samping itu, Gerardette juga menawarkan pendekatan baru yang disebutnya sebagai pendekatan integritas terbuka, yang dieksplorasi dari pemikiran filsafat dan teologi Hans Kung dan Sayyed Hossein Nasr, dua tokoh pemikir besar dari Kristen dan Islam.

Integritas Terbuka

Integritas terbuka, yang disebut Gerardette sebagai pendekatan baru yang bergerak melampaui pluralisme, kemudian dijelaskan dalam tiga argumen. Ketiga argumen tersebut dimaksudkan untuk mengatasi bahaya yang ditimbulkan oleh pluralisme.

Ketiga argumen tersebut yaitu; keterbukaan pada klaim-klaim kebenaran, respons terhadap relativisme, dan upaya memelihara keunikan tiap-tiap agama. Kesemuanya berpijak pada konsep teoretis dan praksis dari etika global (Kung) dan filsafat perennial (Nasr) (hlm. 263-271).

Integritas terbuka kemudian diterjemahkan dalam praktik sehari-hari melalui dialog antaragama. Dialog yang didasarkan pada etika global dengan perspektif etisnya dari agama-agama dan filsafat perennial dengan basis esoterisnya, yang mendasarkan pada Intelek Ilahi guna melampaui bentuk dan untuk mencerminkan kebenaran yang unik di setiap agama.

Hal ini untuk membantu menunjukkan perspektif etis dan peran filsafat perennial secara bersama-sama (integritas terbuka) dapat membawa perdamaian melalui dialog antar agama-agama.

Melalui integritas terbuka inilah, menurut Gerardette, akan memungkinkan Muslim dan Kristen bertatap muka secara langsung dalam sebuah komunitas kesetiaan, yang membawa Muslim dan Kristen pada cara-cara dialog realistis dan bergerak ke arah ketaatan, kebebasan, dan kebenaran.

Integritas terbuka membuka jalan bagi orang-orang dari agama berbeda untuk memasuki percakapan dan hubungan satu sama lain, dan pada saat yang sama, membawa jauh ke dalam tradisinya sendiri dan terbuka untuk bergerak melampaui tradisi orang lain.

Gerardette akhirnya menawarkan pendekatan interaksi terbuka, hingga pada penerapan yang bersifat praktis melalui pendidikan dan pelatihan, mulai dari anak-anak hingga kalangan dewasa muda.

Proses tersebut diharapkan untuk memastikan mereka memiliki keterampilan yang diperlukan untuk bertemu penganut agama lain selain agama mereka.

Proses tersebut diklaim oleh Gerardette dalam simpulan terbukanya pada bagian akhir buku (hlm. 301-302), yang dapat memungkinkan suatu pemahaman lebih mendalam guna menangani keragaman agama. Dengan demikian, memberi proses dialog sebagai cara untuk melampaui pluralisme.

Catatan Kritis

Gerardette memulai kajiannya dengan asumsi kritis terhadap pluralisme sebagai pendekatan yang tidak memadai dan memungkin beberapa bahaya yang timbul. Relativisme radikal, agnotisisme mendalam, dan sinkretisme adalah dua bahaya besar yang akan timbul ketika seseorang menjadi pluralis.

Benarkah seorang pluralis untuk memahami klaim kebenaran agama lain terlebih dahulu harus menyangkali klaim kebenaran agamanya sendiri? Misalnya, sebagai seorang Muslim, maka untuk memahami konsep Trinitas, saya terlebih dahulu harus menyangkali konsep Tauhid sebagai pondasi iman saya?

Sejatinya, pluralisme tidak mensyaratkan seseorang untuk melucuti klaim kebenarannya untuk bisa menerima klaim kebenaran agama lain.

Orientasi memahami klaim kebenaran agama lain bukan untuk mencari benar-salah, karena hal tersebut kontra-produktif dengan orientasi pluralisme yang ingin membangun “jembatan” antariman.

Seorang pluralis tidak dipaksa untuk sepakat dengan klaim kebenaran agama lain. Melainkan menerimanya sebagai pluralitas spektrum persepsi dan ekspresi akan Tuhan Yang Satu, yang bahkan tidak hanya berlaku dalam relasi antar tapi juga intraagama..

Benarkan seorang pluralis dipaksa untuk mengabaikan secara serius unsur-unsur penting dari masing-masing agama dalam upaya untuk menemukan yang umum bagi semua agama?

Mengabaikan unsur-unsur penting yang menjadi esensi eksoterik tiap-tiap agama, jutsru bertentangan dengan konsep plrualisme yang menjadikan fakta plrualitas sebagai dasar pijaknya.

Pluralisme juga tidak sebagaimana yang disebutkan oleh Gerardette akan bahaya relativisme berupa penolakan atas klaim kebenaran orang lain agar dirinya “terhubung” dengan orang lain. Penolakan terhadap keunikan identitas agama justru bertentangan dengan pluralisme.

Dengan sedikit tendensius, Gerardette menyatakan dalam perspektif Kristen, pluralisme agama gagal untuk mengakui Yesus sebagai Tuhan (hlm. 236). Hal yang sebenarnya sudah harus selesai bagi seorang Kristiani dan bagi orang non-Kristiani. Doktrin tersebut bukan untuk dipertentangkan dengan doktrin imannya.

Pluralisme bukanlah relativisme, yang secara simplistis dinyatakan, bahwa semua agama sama. Karena pluralisme tidak meyakini, bahwa semua agama sama atau tidak menghargai religuisitas yang partikular, serta mereduksi praktek-praktek keberagamaan yang eksoterik menjadi tidak bernilai.

Pluralisme juga tidak berhasrat untuk “menelanjangi” identitas dan simbol-simbol lahiriah agama, karena hal tersebut bertentangan dengan nilai-nilai pluralisme itu sendiri, yang mengakui pluralitas sebagai dasar pijaknya.

Plurlaisme tidak pula membuka ruang bagi kemungkinan terajdinya sinkretisme, karena pluralisme tidak bertujuan untuk menyatukan agama atau membuat agama menjadi satu. Lagi-lagi, hal tersebut bertentangan dengan prinsip dasar puralisme tentang pengakuan atas pluralitas.

Berangkat dari perbedaan, pluralisme hendak menemukan pertautan yang menjadi “jembatan” lintas keyakinan. Pluralisme berusaha menemukan kesamaan yang menjadi nilai universal agama-agama tanpa menegasi perbedaan-perbedaan yang ada.

Seorang pluralis bukanlah seorang agnostik. Malah, sebaliknya, ia seorang pluralis sejatinya yang sudah harus selesai dengan keyakinan eksklusifnya, untuk kemudian menjadi inklusif terhadap ragam keyakinan dan mengakuinya sebagai spektrum atas bentuk-bentuk pencarian dan jalan manusia menuju Yang Satu.

Gerardette menggunakan konsep etika global dari Kung dan filsafat perennial dari Nasr sebagai dasar teoretik bagi pendekatan integritas terbuka yang digagasnya.

Dua pendekatan, yang pada dasarnya adalah bentuk-bentuk dari pluralisme, yang menggunakan pendekatan prinsip etis dan ontologis dalam upaya menemukan pertautan nilai dan prinsip dari semua agama.

Integritas terbuka yang dikatakan akan membawa kita jauh ke dalam tradisi sendiri dan terbuka untuk bergerak melampaui tradisi orang lain, pada dasarnya tidak berbeda dengan tawaran pluralisme mengenai passing over coming back.

Integritas terbuka dikatakan memungkinkan orang-orang yang berbeda dapat bertatap muka secara langsung dalam sebuah komunitas kesetiaan yang membawa pada cara-cara dialog yang realistis dan bergerak ke arah ketaatan, kebebasan, dan kebenaran.

Hal tersebut tak ubahnya dengan pluralisme, sebagaimana dikatakan Cak Nur, sebagai “pertalian sejati kebhinekaan dalam ikatan-ikatan keadaban.”

Akhirnya, pendekatan integritas terbuka yang ditawarkan Gerardette, bukanlah hal yang baru. Melainkan hanya sebuah bentuk operasional dari pluralisme yang tidak pernah benar-benar “melampaui” pluralisme. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.