Wed. Dec 2nd, 2020

BLAM

KEREN

Cantik Itu Luka, Hantu Komunis, & Film Pengkhianatan G30S PKI

7 min read

Sumber gambar: selalumenguap.blogspot.com/

23,752 total views, 4 views today

Oleh: Syamsurijal (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Pulau Halimunda tiba-tiba mencekam. Hantu-hantu komunis meneror penduduk pulau tersebut. Hantu-hantu itu muncul, setelah peristiwa Gerakan 30 September PKI (G30S PKI) terjadi.

Konon, peristiwa yang disebut Soekarno, “Gestok” (Gerakan Satu Oktober), didalangi oleh para komunis. Para komunis yang dianggap menghianati bangsa ini, akhirnya mendapat serangan balik.

Di Halimunda, di bawah komando Sang Sodancho, mereka memburu para komunis yang dipimpin Kamerad Kliwon.

Akhirnya, setelah perlawanan kurang berarti dari para komunis, mereka pun ditumpas habis. Mati terbunuh. Komunis yang terbunuh itulah, yang tiba-tiba menjadi hantu gentayangan. Muncul dalam sosok makhluk-makhluk menyeramkan yang meneror penduduk Halimunda.

Hantu-hantu itu bisa menjelma tiba-tiba di dalam rumah. Gentayangan di kamar-kamar. Muncul di jendela. Nongol di kamar mandi. Bahkan, keluar dari radio-radio yang sedang dibunyikan.

Ada pula yang mondar-mandir di dapur, sembari minta diberi makan dan minum. Rupa mereka tentu saja menyeramkan. Ada yang masih meleleh darah dari dahinya yang tertembak. Yang lain datang dengan tangan atau kaki kutung berdarah-darah.

Lainnya lagi muncul dengan usus terburai. Tidak sekadar membuat dirinya kasat mata, hantu-hantu itu dengan sengaja memang menakut-nakuti. Membuat panik, bahkan mencelakai para penduduk.

Tingkah pola hantu komunis, ini memang membuat penduduk Halimunda, panik. Sang Shodanco, yang dulu memimpin penumpasan para komunis, menjadi stres, bahkan paranoid.

Segala yang terlihat aneh di matanya dianggapnya hantu komunis. Siang malam kerjanya hanya berburu hantu. Orang gila yang bertingkah aneh pun bisa segera dianggapnya hantu komunis, lalu segera akan dijebloskan dalam tahanan.

Begitulah kurang lebih Eka Kurniawan menggambarkan hantu-hantu komunis, yang tiba-tiba muncul kasat mata, meneror, dan menghantui penduduk Halimunda.

Bisa jadi, cerita hantu komunis yang datang meneror, adalah imajinasi absurd belaka dari Eka. Tetapi, di sinilah menariknya cara Eka bercerita dalam novelnya Cantik itu Luka. Ia mencampur sejarah, filsafat, psikologi, dan imajinasi absurd dalam satu rangkaian cerita.

Penggambaran tentang hantu-hantu komunis, boleh jadi, imajinasi Eka untuk menggambarkan betapa rakyat Indonesia, diam-diam selama masa Orde Baru, merasa terteror dengan hantu komunis. Disebut hantu, karena tidak jelas wujudnya, tetapi selalu dirasakan ada di sekitar mereka.

Hantu-hantu komunis itu muncul meneror psikologi masyarakat, karena situasi memang dikonstruksi sedemikian rupa. Jalinan diskursif tentang komunis ditebar dan berhasil membentuk memori kolektif masyarakat.

Slogan bahaya laten komunis, yang sering muncul dalam pidato-pidato pejabat, diulang-ulang dalam siaran radio dan televisi pada masa orde baru, adalah di antara jalinan diskursif itu.

Dan,  di antara itu, yang membuat teror hantu komunis semakin terasa, adalah penayangan film Pengkhianatan G30S PKI pada setiap 30 September, menjelang tengah malam.

Bagaimana film itu membangkitkan perasaan takut dan menerbitkan teror hantu-hantu komunis, mungkin bisa saya gambarkan dari pengalaman saya menontonnya.

Film ini pernah saya tonton di masa kanak-kanak. Mungkin lebih dari sekali, tapi tidak pernah tuntas.

Menebar Horor

Selain horor yang ditebar melahirkan rasa ngeri di benak seorang kanak-kanak, waktu pemutarannya yang sudah mendekati tengah malam, akhirnya membuat kami menyerah, dan lantas tertidur di pertengahan film. Setelah beberapa puluh tahun kemudian, film ini bisa saya saksikan secara utuh.

Suasana batin yang ditimbulkan film ini, betul-betul bagai teror hantu. Komunis terasa ada di sekitar kita dengan segala kehororannya. Begitulah yang saya rasakan dulu, ketika menonton film ini di masa kanak-kanak.

Film ini diawali dengan lagu Bis Sekolah dari “Koes Ploes Bersaudara.” Suara nyanyiannya dari sebuah piringan hitam, hanya terdengar dalam hitungan detik. Lagu “Bis Sekolah” mengalun sejurus, sekadar opening film.

Belakangan saya tahu, setelah membaca keterangan Embi, penata musik film ini, piringan hitam itu justru adalah lagu Help dari The Beatles. Tetapi, karena lagu “Help” dilarang kala itu, jadilah yang terdengar menjadi pembuka film justru lagu “Bis Sekolah.”

Hanya beberapa jenak kita merasakan sebuah keriangan. Selanjutnya adalah perasaan muram. Ditampilkanlah sumur lubang buaya dengan backsound musik yang mulai angker.

Lalu scene berpindah pada suasana Salat Subuh, bersamaan datangnya orang-orang yang disebut sebagai anggota komunis. Oleh narator film, kejadian itu disebut terjadi di Desa Tanigoro, mereka datang menganiaya tokoh agama dan orang-orang yang sedang salat.

Sebagai catatan, sepanjang film, penonton memang sering kali disuguhkan backsound musik yang terkesan begitu muram, bahkan menyeramkan.

Sebagai kanak-kanak pada masa itu, mendengar backsound musiknya diiringi gonggongan anjing malam, seakan merasakan ada hantu-hantu yang sedang bergentayangan. Bulu kuduk spontan terasa bergidik.

Tapi, memang, pada detik backsoundnya terdengar begitu muram, terlihat kaki melangkah setengah berlari. Merekalah  para komunis yang sedang menyerang orang yang tengah salat. Atau, dalam kesempatan lain, datang melakukan penculikan pada tujuh jenderal.

Dalam pengakuan Embi C. Noer, yang menjadi penata music film Pengihanatan G30S PKI, musik film G30S PKI disetting untuk film horor.

Menurut keterangannya yang dimuat di Jawa Pos.com, Embi, adik Arifin C. Noer, sang sutradara film, didatangi oleh sang kakak. Kakaknya bilang, “Mbi, kita mau bikin film horor.”

Di antara yang paling mencekam dalam film tersebut, ketika muncul adegan penyiksaan terhadap jenderal yang diculik.

Ada yang tubuhnya ditusuk belati karatan, wajahnya disayat silet, disundut rokok, diinjak, diseret, dan dimasukkan ke dalam lubang buaya. Terlihat darah di mana-mana.

Dalam adegan ini, muncul ungkapan “darah itu merah jenderal”, yang akhirnya menjadi kalimat yang sangat popular, sampai saat ini.

Belakangan, adegan penyiksaan ini mendapat banyak kritikan. Ada beberapa kesaksian yang menyebutkan, jenderal itu hanya mati ditembak dan tidak disiksa, sebagaimana dalam adegan film.

Ben Anderson, dalam artikelnya, “How did The General Dies”, di Jurnal Indonesia edisi April 1987, menyebutkan, hasil visum menunjukkan, enam jenderal meninggal karena luka tembak. Sementara MT Haryono gugur disebabkan tusukan senjata tajam. Tidak ada bukti penyiksaan, misalnya disileti wajahnya atau disundut api rokok.

Dalam film digambarkan penyiksaan terhadap para jenderal tersebut diiring lagu “Genjer-Genjer.” Setelah penyiksaan berlangsung, para komunis dan di antaranya para Gerwani  digambarkan menari-nari diiringi lagu-lagu Genjer-Genjer tersebut. Lagu Genjer-Genjer pun menjadi semacam lagu horor nan menyeramkan.

Sebagai satu film, “Pengkhianatan G30S PKI” memang berhasil membentuk satu sudut pandang bagi penonton. Sudut pandang sebagaimana dikehendaki oleh pembuat film.

Rogert Ebert, kritikus film, menyebutkan, salah satu keberhasilan paling sublim sebuah film, adalah ketika berhasil membentuk sudut pandang penonton sesuai keinginan penciptanya.

Bahkan, Genjer-Genjer, yang tadinya lagu yang mengeritik secara satir penjajahan Jepang, bisa berubah menjadi lagu yang menyebarkan rasa horor.

Sebagai sebuah film, Pengkhianatan G30S PKI bisa dianggap berhasil membentuk memori kolektif. Bahwa, komunis, tepatnya PKI, adalah horor menyeramkan bagi bangsa Indonesia.

Film ini bisa menjadi sarana efektif untuk menyampaikan pesan-pesan pemerintah Orde Baru kala itu mengenai bahaya laten komunis.

PKI era Milenial

Pertanyaannya sekarang, bagaimana kita menempatkan film semacam Pengkhianatan G30S PKI di era milenial ini?

Sebagai catatan awal, saya ingin tegaskan, menyampaikan kepada generasi milenial, bahwa PKI pernah memiliki catatan kelam di negeri ini, tentu saja perlu. Tetapi, tentu saja, dengan keberanian untuk menampilkan sejarah yang tidak tunggal.

Demikian halnya, tidak ada salahnya, menyampaikan pada para generasi muda, bahwa komunisme sebagai sebuah paham yang pernah digunakan menjadi ideologi oleh beberapa negara, ternyata memiliki banyak kelemahan, dan cacat di sana-sini. Itu pun harus disampaikan tidak dengan membangun horor, tetapi harus diletakkan dalam cara-cara ilmiah.

Namun, apakah edukasi pada kaum milenial itu perlu dengan cara-cara menonton film semacam film Pengkhianatan G30S PKI?

Saya tidak akan menyalahkan yang tetap merasa perlu. Tetapi, bagi saya, perlu membuat film lain, yang  nuansanya tidak seperti film horor yang meneror.

Dalam hal ini, saya teringat film “Superman: Red Son.” Film ini mengeritik komunis secara tajam, tapi dikemas dengan ringan, menghibur, dan seru. Membuat film-film semacam itu menjadi tantangan tersendiri sebagai sarana edukasi kepada kaum milenial.

Selanjutnya, film-film edukasi yang mencoba membangun kritik pada komunis, harus bisa secara objektif membaca sejarah.

Objektif yang saya maksud, yakni dalam membuat filmnya harus bisa mengambil semua data-data dari berbagai versi tentang gerakan komunis di Indonesia. Data-data itu kemudian diramu, sekaligus dikritisi untuk selanjutnya menjadi dasar dari pembuatan film.

Marxisme

Saat ini, yang paling penting dalam mengedukasi generasi milenial, tidak lagi dalam kerangka menakut-nakuti, membangun nuansa teror, melakukan pelarangan untuk membaca referensi yang ada kaitannya dengan Marxis, dan seterusnya.

Komunisme dan marxisme justru harus disampaikan kepada generasi milenial secara lebih terang. Kita harus menunjukkan di mana letak kelemahannya.

Melarang membaca buku-buku Marxis, bisa jadi tidak akan efektif. Sebab, sekarang semua orang bisa mengakses berbagai tulisan secara online.

Di beberapa negara lain, kritik terhadap komunisme dibangun dengan membaca marxime terlebih dahulu. Membaca, akan melahirkan pengetahuan dan kita bisa mengerti segala kelemahan dan kekurangan marxisme. Berdasar itulah kita bisa melancarkan kritikan.

Waspada terhadap kemungkinan bangkitnya PKI tidak harus membuat kita menjadi  paranoid, merasa terteror, dan akhirnya asal tuduh. Komunisme sendiri sudah runtuh. Ideologi ini telah terkubur dalam sejarah.

Yang tertinggal saat ini mungkin hanya bacaan tentang komunis. Ia sebatas menjadi kajian akademik di berbagai tempat. Bacaan itu tidak lagi untuk dijadikan ideologi. Hanya sebatas tumpuan akademik untuk menyusun teori sosial yang lebih baru.

Mao Zendong di akhir-akhir hidupnya menulis pesan pada Jian Qing, istrinya:

“Hidup manusia terbatas, tapi revolusi tak mengenal tepi. Saya telah memperjuangkan revolusi selama sepuluh tahun, tapi gagal mencapai puncaknya. Kau mungkin bisa menggapai puncak revolusi, tetapi jika gagal, engkau akan terjatuh ke jurang yang sangat dalam. Tubuhmu akan lumat, tulangmu remuk.”

Dan begitulah. Puncak revolusi komunisme, memang tidak pernah terjadi. Kini, bahkan komunisme telah lumat di dasar sejarah.

Komodifikasi Kapitalisme

Di beberapa negara yang pernah menjadi negara komunis, mantan tokoh-tokohnya bahkan hanya dijadikan pajangan atau barang jualan.

Marx dijadikan gambar-gambar baju kaos. Lenin di Rusia jadi patung kecil lucu tempat gantungan kunci. Sementara Mao Tse Tung, gambarnya dibuat sebagai desain interior dinding dan lantai di beberapa rumah makan di Cina. Seolah-olah mereka memang sudah tidak punya tempat lagi, kecuali sebatas kepentingan komodifikasi kapitalisme.

Mungkin, sudah saatnya, kita sebagai satu bangsa, keluar dari trauma hantu komunis ini. Tantangan paling nyata yang kita hadapi saat ini adalah pandemi corona.

Corona-lah sekarang ini, yang nyata-nyata merongrong segenap sendi bangsa Indonesia. Energi bangsa, kita fokuskan untuk menghadapi pandemi tersebut.

Bagaimana dengan komunisme? Ya, tentu saja kritik terhadapnya perlu. Tetapi, takut dan menjadikannya hantu, apalagi hantu untuk komoditas politik, jangan! (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.