Wed. Oct 28th, 2020

BLAM

KEREN

Menyoal Relasi Agama dan Budaya

5 min read

Sumber gambar: geotimes.co.id

11,484 total views, 2 views today

Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Budaya

Masyarakat dan kebudayaan merupakan suatu dwi tunggal yang sukar dibedakan. Di dalamnya tersimpul sejumlah pengetahuan yang terpadu dengan kepercayaan dan nilai, yang menentukan situasi dan kondisi perilaku anggota masyarakat.

Kebudayaan dalam suatu masyarakat secara umum dipahami sebagai suatu sistem nilai tertentu, yang dijadikan pedoman hidup oleh masyarakat pendukungnya, dan dijadikan dasar dalam berperilaku.

Kebudayaan merupakan identitas yang dapat membedakan satu masyarakat dengan masyarakat lainnya. Bagi suatu masyarakat, kebudayaan merupakan “cetak biru” bagi kehidupan dan komunitasnya.

Sebagai pedoman untuk kehidupan, kebudayaan digunakan sebagai acuan untuk menginterpretasi lingkungan yang dihadapi dan untuk mendorong, serta untuk menghasilkan terwujudnya tindakan-tindakan bermakna dalam menghadapi situasi dan lingkungan tersebut (Suparlan, 1995).

Kebudayaan merupakan ekspresi cipta, karya, dan karsa manusia (dalam masyarakat tertentu) yang berisi nilai-nilai dan pesan-pesan religiusitas, wawasan filosofis, dan kearifan lokal (local wisdom).

Menurut Parsudi Suparlan (1995), kebudayaan ialah keseluruhan pengetahuan yang dipunyai oleh manusia sebagai makhluk sosial, yang isinya adalah perangkat-perangkat, model-model pengetahuan yang secara selektif dapat digunakan untuk memahami dan menginterpretasikan lingkungan, yang dihadapi dan untuk mendorong dan menciptakan tindakan-tindakan yang diperlukannya.

Tindakan-tindakan tersebut ditujukan untuk mempertahankan, melanjutkan, dan mengembangkan kelangsungan hidup kolektif mereka.

Operasionalisasi kebudayaan dalam masyarakat adalah melalui pranata-pranata yang ada dalam masyarakat tersebut. Melalui aspek inilah, kebudayaan menjadi “cetak biru” bagi sebuah komunitas.

Clifford Geertz (1992) mendefinisikan kebudayaan sebagai struktur-struktur psikologis yang menjadi sarana bagi individu-individu atau kelompok individu dalam mengarahkan tingkah laku mereka.

Sementara menurut Amartya Sen (2006), melalui rentetan tingkah laku tersebutlah, bentuk-bentuk kultural akan terungkap atau terartikulasikan dalam berbagai macam artefak atau penanda-penanda.

Artikulasi artefak dan penanda tersebut kemudian terlembaga dalam bentuk pranata kebudayaan dan terejawantah dalam tradisi yang sarat dengan nuansa simbolik. Kebudayaan sebagai sebuah identitas, adalah identitas berbasis komunitas dan komunitas sebagai perpanjangtanganan individu.

Agama

Terdapat kesulitan dalam memberikan definisi yang baku tentang agama, mengingat begitu kompleksnya hal-hal yang tercakup.

Secara sederhana, agama dapat disebut sebagai serangkaian kepercayaan dan praktik yang berkenaan dengan hal yang sakral.

Agama bertitik tolak pada kepercayaan terhadap sosok Adi-Kodrati yang menjadi tumpuan keberserahan, ketakutan dan harapan. Semua hal tersebut dimanifestasikan dalam bentuk-bentuk ekspresi simbolik melalui ritus dan ketaatan pada sekumpulan norma hukum.

Ekspresi simbolik melalui serangkaian ritus dan ketaatan pada dogma dan hukum agama melahirkan serangkaian perilaku keagamaan yang dilekatkan dan diorientasikan pada sang Adi-Kodrati, baik yang dilakukan secara individual maupun komunal.

Terdapat lima unsur pokok yang terkandung dalam agama, yaitu kepercayaan, simbol, praktik, pengalaman, dan komunitas.

Menurut Rakhmat (2003) dari keragaman definisi agama, agama memiliki lima dimensi, yaitu ideologi, ritual, intelektual, mistikal, dan konsekuensial.

Agama dan perilaku keagamaan tumbuh dan berkembang dari adanya rasa kebergantungan manusia terhadap kekuatan gaib, agar mendapatkan kehidupan yang aman, selamat, dan sejahtera.

Agama dalam kehidupan manusia dipandang sebagai sistem yang mengatur makna atau nilai-nilai dalam kehidupan manusia yang digunakan sebagai titik referensi bagi seluruh realitas.

Sehingga, dapat dikatakan, agama berperan mendamaikan kenyataan-kenyataan yang saling bertentangan untuk mencapai suatu keselarasan.

Agama hadir dalam penampakan yang bemacam-macam, mulai sekadar ajaran akhlak (moral) hingga agama sebagai ideologi gerakan.

Agama hadir dalam kelana spiritual yang sangat individual hingga tindakan kolektif yang bersifat missal.

Agama, dalam perspektif ilmu-ilmu sosial adalah sebuah sistem nilai yang memuat sejumlah konsepsi mengenai konstruksi realitas, yang berperan besar dalam menjelaskan struktur tata normatif dan tata sosial serta memahamkan dan menafsirkan dunia sekitar.

Agama dan Budaya

Agama dan kehidupan beragama merupakan dua unsur yang tidak terpisahkan dalam kehidupan dan sistem budaya manusia.

Sejak awal, kebudayaan, agama, dan kehidupan beragama telah menggejala dan memberikan corak dan bentuk dari semua prilaku budaya dan bahkan pada prilaku beragama.

Perilaku keagamaan tersebut pun akhirnya berkembang menjadi perilaku kebudayaan, dan akhirnya, pada tataran tertentu sulit membedakan, mana prilaku keagamaan yang genuine dan mana perilaku budaya.

Perilaku agama dan prilaku kebudayaan pada ranah prkasis-empiris, kerap menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Perbincangan tentang agama dan budaya, adalah perbincangan tentang suatu hal yang memiliki dua sisi.

Agama, di satu sisi, memberikan kontribusi terhadap nilai-nilai budaya, sehingga agama bisa berdampingan, atau bahkan berasimilasi dan melakukan akomodasi dengan nilai-nilai budaya masyarakat.

Menurut Anne Marie Malefijt (dalam Agus, 2006), agama adalah the most important aspects of culture. Aspek kehidupan beragama tidak hanya ditemukan dalam setiap masyarakat, tetapi juga berinteraksi dengan institusi budaya yang lain dalam suatu struktur masyarakat.

Pada sisi yang lain, agama sebagai wahyu dan diklaim memiliki kebenaran yang mutlak dan universal, sehingga agama dipandang tidak bisa disejajarkan dengan nilai-nilai budaya yang relatif dan lokal.

Bahkan, agama harus menjadi sumber nilai bagi kelangsungan nilai-nilai budaya. Dengan demikian terjadilah hubungan timbal balik antara agama dan budaya. Hal yang kemudian menjadi problem adalah apakah nilai-nilai agama lebih dominan dalam kehidupan masyarakat tersebut.

Agama dan kebudayaan memiliki dua persamaan, yaitu, keduanya adalah sistem nilai dan sistem simbol yang diresapi, dihayati, diyakini, serta diejawantahkan dalam praksis laku hidup manusia.

Baik agama maupun budaya berasal dari potensi bawaan (fitrah) manusia. Keduanya tumbuh, berkembang, secara terpadu dalam kehidupan manusia.

Secara bersama pula, keduanya membentuk sistem budaya dan peradaban suatu masyarakat/bangsa. Di sisi lain, keduanya memiliki sifat yang berbeda.

Jika agama memiliki sifat, “kebergantungan” dan “kepasrahan”, sedangkan budaya memiliki sifat “kemandirian”  dan “keaktifan”.

Karena itu, dalam setiap tahapan perkembangan menunjukkan adanya gejala, variasi, dan irama yang berbeda antara lingkngan masyarakat/bangsa yang satu dengan yang lainnya.

Masih terkait dengan agama dan kebudayaan, meski agama adalah ajaran yang diyakini diturunkan oleh Tuhan sebagai petunjuk bagi umat manusia dalam menjalani kehidupannya.

Namun, pada hal yang lebih interpretatif dan ekspresif, agama memasuki modus kebudayaan sebagai hasil cipta, rasa, dan karsa manusia yang didasarkan pada wahyu Tuhan. Dari sinilah kemudian hadir kebudayaan agama yang merupakan hasil kreasi manusia beragama.

Sebagai sebuah kenyataan sejarah, agama dan kebudayaan dapat saling memengaruhi karena keduanya terdapat nilai dan simbol. Agama adalah simbol yang melambangkan nilai ketaatan kepada Tuhan.

Kebudayaan juga mengandung nilai dan simbol supaya manusia bisa hidup di dalamnya. Agama memerlukan sistem simbol. Dengan kata lain, agama memerlukan kebudayaan agama. Tetapi, keduanya perlu dibedakan.

Agama adalah sesuatu yang final, universal, abadi (perennial) dan tidak “mengenal perubahan” (absolute). Sedangkan kebudayaan bersifat partikular, relatif, dan temporer. Agama tanpa kebudayaan memang dapat bekembang sebagai agama pribadi. Akan tetapi, tanpa kebudayaan, agama sebagai kolektivitas tidak akan mendapat tempat (Kuntowijoyo, 2001).

Karena itu, biasanya terjadi dialektika antara agama dan kebudayaan tersebut. Agama memberikan warna (spirit) pada kebudayaan, sedangkan kebudayaan memberi kekayaan terhadap agama.

Agama dan kebudayaan kemudian berjumpa dalam sebuah ruang sosial dan satu sama lain menampilkan identitasnya masing-masing dengan segala kekhasannya. Agama sebagai sebuah narasi universal dan global serta dengan klaim absolut, kemudian merespons kebudayaan (lokal) sebagai narasi lokal.

Meski keduanya berbeda pada basis narasi, keduanya menempati posisi yang sama, yaitu sama-sama menempati ruang sakral dan profan dalam kehidupan manusia. Itulah sebabnya, menurut Clifford Geertz (1992), agama kerap tumpang tindih dengan kebudayaan.

Terkadang, dialektika antara agama dan budaya lokal berubah menjadi ketegangan. Karena seni tradisi, budaya lokal, atau adat istiadat, sering dianggap tidak sejalan dengan agama sebagai ajaran teologi yang bersifat absolut.

Superioritas agama berbasis klaim universal dan absolut, kemudian mengklaim kebudayaan lebih sebagai ajaran yang bersifat relatif, karena berasal dari manusia, yang posisi kebenarannya adalah relatif.

Harmonisasi hubungan agama dan budaya dalam sebuah komunitas masyarakat, akhirnya berpulang kepada cara pandang masyarakat tersebut dalam menyikapi posisi relasi antar keduanya. Apakah melihat keduanya dalam cara pandang yang paradoks, ataukah melihat keduanya dalam cara pandang yang sinergis dan komplementer.

Agama meniscayakan budaya agar bisa membumi, dan budaya membutuhkan agama agar mampu membuatnya melangit. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.