Wed. Oct 28th, 2020

BLAM

KEREN

Etnografi a la Bugis-Makassar

6 min read

Sumber gambar: dictio.id

18,252 total views, 6 views today

Oleh: Syamsurijal (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Satu masa di penghujung 2004. Saat matahari mulai rembang petang, saya bersama Bissu Saidi, Pimpinan Bissu Segeri Pangkep, kala itu, tiba di sebuah rumah seorang tokoh adat.

Ketika itu, saya sedang penelitian. Tentunya, maksud kedatangan saya di rumah itu, bukan lain, ingin mewawancarai si tokoh adat.

Sampailah saya di rumah panggungnya yang terlihat mulai doyong ke kiri. Tidak berselang lama, tokoh adat itu muncul menemui kami. Penampilannya sangat sederhana. Kemeja putih dan sarung yang mulai lusuh. Di atas kepalanya menclok kopiah, yang warna hitamnya mulai memudar kekuning-kekuningan.

Kami duduk di ruang tamu. Melantai. Di ruang tamu itu tak terlihat sebiji kursi atau pun meja. Rumah yang betul-betul bersahaja. Padahal yang punya adalah seorang tokoh adat.

Mulanya senyap. Tidak ada yang angkat bicara. Namun, apa yang terjadi kemudian, betul-betul saya tidak pernah sangka.

Tidak lama saya duduk di ruang tamu ketua adat ini. Lalu, tak ada angin-tak ada hujan, dia tiba-tiba menggebrak lantai papan tempat kami duduk. Tentu saja saya kaget tak ketulungan. Saya memandang ke Bissu Saidi. Saya ingin bertanya: “Ada apa? Apa salah dan dosaku ini?” Tetapi,  Bissu Saidi memberi isyarat untuk diam.

Setelah menggebrak meja, sang informan yang merupakan laki-laki setengah baya ini, mulai marah-marah dalam bahasa Bugis.

Lamat-lamat, saya menangkap ucapannya.

Katanya: “Untuk apa ke sini? Apa yang kau cari di rumah ini? Kalian hanya datang mengganggu para arwah nenek moyang yang menjaga sureq (naskah) yang telah kami simpan dengan rapi.”

Saya masih dicengkau suasana. Bissu Saidi juga masih diam. Namun, setelah beberapa jurus kemudian, sesekali Saidi mulai menimpali. Dan, suatu ketika, dalam perkiraan yang matang, atau mungkin juga karena wangsit, Saidi pun balas menggedor lantai rumah.

Perlahan, ucapan-ucapan keras laki-laki berkopiah lusuh ini, mulai menurun. Malah, kini ia bicara dalam bahasa Bugis, dan kadang dicampur bahasa Indonesia, dengan nada getir.

Dia menjelaskan kondisinya sebagai pemilik naskah, yang sering didatangi oleh para pemburu naskah dan peneliti.

Menurut ceritanya, para pencari naskah itu terlihat penuh perhatian pada saat datang mencari naskah, dan berempati padanya. Bahkan, di antara mereka ada yang berjanji untuk memperbaiki rumahnya, karena dianggap sebagai salah satu tempat penyimpanan naskah.

Sayangnya, setelah naskah mereka salin, penelitian mereka telah usai, janji tak pernah ditunaikan. Si peneliti pun tak kujung datang.

Jangankan memperbaiki rumahnya yang telah doyong itu, para peneliti dan pencari naskah itu malah terasa menjadi orang asing. Jauh tak terjangkau. Sangat berjarak.

Si peneliti ini telah menjadi orang hebat. Meraih gelar tinggi. Jadi pejabat.  Presentasi di dunia-dunia asing berkat naskah si tokoh adat tadi. Sedihnya, si peneliti ini tak sekalipun kembali menyapanya. Padahal, mereka dulunya bagai kerabat dekat, seperti sanak kadang, dan handai tolan yang rapat.

Mendengar cerita getir lelaki setengah baya ini, lamat-lamat saya teringat cerita seorang Rektor Perguruan Tinggi termuka di Indonesia. Cerita tersebut saya baca di salah satu tulisan di media online.

Konon, rumah orang tua si rektor ini pernah ditempati oleh salah satu antropolog dan Indonesianis terkemuka. Ketika itu, si antropolog tersebut tengah meneliti di Indonesia.

Pada suatu ketika, anaknya (rektor yang menceritakan kisah ini ) akan melanjutkan studi ke luar negeri. Bapaknya lantas teringat, bahwa dulu pernah tinggal seorang peneliti asing di rumahnya, dan mereka sangat akrab.

Dalam benak si Bapak Rektor ini, ia meyakini peneliti tersebut pasti mengingat dirinya. Karena itu, dia pun menitip oleh-oleh ke anaknya untuk si peneliti asing tersebut. Sepasang wayang kulit. Maka, diboyonglah wayang kulit ini ke Amerika, tempat si anak akan melanjutkan studi.

Singkat cerita dia ketemu si peneliti terkemuka itu. Lalu dijelaskanlah siapa dirinya. Tetapi, dia sedikit kaget karena si peneliti tersebut menyambutnya dengan dingin.

Bahkan, dalam pandangan si anak, si peneliti tersebut seakan-akan tidak mengenal ayahnya. Ketika oleh-oleh ayahnya dia serahkan, ada kesan tidak senang dari sang peneliti kawakan tersebut.

Apa yang digambarkan ayahnya, bahwa sang peneliti asing itu sangat akrab dengan ayah dan ibunya, sama sekali tidak dia rasakan setelah pertemuan dengan sang peneliti asing tersebut.

Setelah peristiwa tersebut ia mulai berpikir, bahwa seorang peneliti dan antropolog asing, betul-betul membangun keakraban dengan informan, sebatas sebagai bagian dari metodologi penelitian dan kepentingan  menggali data. Kedekatan yang dibangun ternyata palsu. Tidak ada hubungan kemanusian yang betul-betul sejati di sana.

Meski tidak persis sama, tetapi cerita laki-laki setengah baya tadi, mirip dengan kisah si rektor tersebut. Si peneliti dalam dua cerita tersebut hanya datang, berusaha akrab, dan melebur dengan informan sebatas kepentingan penelitian.

Metode etnografi semacam ini, rupanya dalam konteks masyarakat Bugis-Makassar, justru menimbulkan kejenuhan. Orang yang sudah sering didatangi para peneliti, mulai bosan dengan segala maksud dan tujuan peneliti tersebut. Karena itu, mulailah mereka menilai siapa yang datang.

Dalam penilaian itu, mereka tidak sekadar membaca siapa orang yang datang, serta apa kepentingannya. Tetapi juga, menjajaki sejauh mana kesungguhan, keikhlasan, dan pemihakan mereka terhadap yang diteliti.

Kebudayaan Bugis

Puang Matoa Saidi yang ikut bersama saya berhadapan dengan ketua adat tadi, menjelaskan, bahwa ketika lelaki berkopiah usang tadi marah-marah, sejatinya dia tengah kemasukan. Dia ketitisan roh nenek moyang.

Melalui roh nenek moyang itu, dia sedang menjajaki apa kepentingan saya, serta menguji kesungguhan dan keikhlasan saya untuk membela kepentingan komunitas bersangkutan.

Saya tidak tahu apakah lelaki tersebut betul-betul tengah ketitisan nenek moyang saat menggebrak meja atau tidak. Namun, saya meyakini, bahwa itulah cara dia menguji kesungguhan dan keikhlasan saya untuk mengetahui kebudayaan mereka.

Dari situlah saya belajar, bagaimana secara sungguh-sungguh saya bisa diterima sebagai bagian dari komunitas. Bukan semata-mata, karena saya punya kepentingan mencari data.

Dalam kebudayaan Bugis, untuk mendapatkan informasi, data, atau ilmu tertentu, memang harus melalui tahapan-tahapan. Tahapan tersebut menentukan tingkat kepercayaan komunitas yang diteliti terhadap peneliti.

Tahapan pemberian ilmu, data, dan informasi itu menggunakan filosofi bertamu orang-orang Bugis.

Filosofi bertamu itu, yakni: tamu yang diterima di sumpang bola (serambi rumah), tamu diterima di tengga bola (ruang tamu), tamu diterima di jongki bola (ruang dalam, dapur atau ruang keluarga), dan tamu diterima di laleng boco (di dalam kelambu).

Filosofi bertamu ini, dalam hemat saya, merupakan metode etnografi a la Bugis-Makassar dalam menggali satu ilmu atau data.

Jika saya hanya diterima di sumpang bola, maka itu berarti saya belum berhasil diterima oleh penduduk yang diteliti. Saya belum berhasil, dalam istilah Rogers, dressed down, yakni belum bisa melepas baju sebagai pendatang dan melebur dalam masyarakat.

Dalam posisi seperti ini, biasanya peneliti  dituntut membangun unconditional positive regard, yaitu membangun hubungan antara pribadi yang positif dengan dilandasi sikap saling menghargai tanpa syarat.

Tahap selanjutnya, adalah diterima di tengnga bola. Pada tahap ini, tamu (peneliti) mulai disambut, tetapi formal dan posisinya tetap sebagai tamu.

Jika dikaitkan dengan pengumpulan data, data-data yang diperoleh masih data permukaan. Meminjam istilah Geertz,  peneliti hanya  memperoleh thin description (data permukaan). Dia belum bisa menemukan informasi pada lapisan-lapisan makna yang terdalam dari suatu peristiwa kebudayaan.

Berbeda halnya jika seorang peneliti telah diterima di dapur (jongki bola), maka filosofinya, informasi yang lebih mendalam sudah bisa didapatkannya atau dalam istilah Geertz “thick description” (deskripsi mendalam).

Apalagi jika sudah diterima dan berbicara di balik kelambu (ilalang boco), maka seorang peneliti sudah mendapatkan informasi rahasia. Bahkan sudah dapat ilmu-ilmu tertentu, mantra warisan leluhur, dan data-data yang unik.

Tentu saja tidak mudah untuk diterima di jongki bola (ruang keluarga), apalagi laleng boco (di balik kelambu). Di sinilah proses melebur dan membangun keakraban diuji. Di sini pulalah,  keikhlasan, kesungguhan, dan kerelaan menjadi bagian dari komunitas sedang ditakar.

Jika keakraban yang dibangun hanya keakraban semu, bukan kedekatan yang sejati, jangan harap bisa mendapatkan informasi dan ilmu yang penting.

Dan, jika proses melebur itu hanya semata-mata agar bisa mendapatkan data, bukan karena sungguh-sungguh ingin belajar dan menjadi bagian dari komunitas, bisa diprediksi kita tidak akan pernah diterima di jongki bola dan ilalang boco.

Seorang antropolog senior di Bugis-Makassar yang saya kagumi, bercerita mengenai pengalaman dia untuk mendapatkan kepercayaan dari satu komunitas.

Suatu ketika, dia diuji oleh pimpinan komunitas itu; apakah dia berani mengiris/menusuk sedikit lehernya dengan keris. Karena dia memang ingin belajar dengan ikhlas terhadap komunitas tersebut, maka ujian itu dia jalankan.

Setelah itu, barulah dia dapat diterima ilaleng boco. Di situlah dia mendapatkan banyak data, mantra, ilmu leluhur, dan informasi rahasia yang sangat penting.

Di mata saya, begitulah rupanya metode etnografi a la Bugis-Makassar. Etnografi yang Anda gunakan harus berfungsi sebagai metode yang bisa mendekatkan Anda secara sungguh-sungguh dengan komunitas yang diteliti. Kedekatan yang membuat jarak Anda dengan yang diteliti semakin menipis, bahkan mungkin telah sirna.

Keakraban yang tidak akan pernah pupus, kendati penelitian itu sendiri telah usai. Dan, suatu ketika, kearaban itu bisa saja meningkat menjadi pembelaan terhadap komunitas yang ditelitinya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.