Wed. Oct 28th, 2020

BLAM

KEREN

Ingin Tahu Moderasi Beragama di Lembaga Pendidikan Keagamaan? Inilah Temuan Riset Peneliti Utama BLAM  

2 min read

Peneliti Ahli Utama BLAM menyajikan temuan riset mereka terkait moderasi beragama. Foto: M. Irfan

4,750 total views, 2 views today

MAKASSAR, BLAM — Pemikiran dan Praktik Moderasi Beragama, ternyata bukanlah sesuatu yang baru bagi dunia pesantren.

Bahkan, sebelum Kementerian Agama RI menggaungkan istilah Moderasi Beragama pada 2019, sejumlah pondok pesantren di Indonesia sudah lama mempraktikkan hal tersebut di dalam dan luar lingkungan pesantren.

Hal tersebut dikemukakan empat Peneliti Ahli Utama (PAU) Balai Litbang Agama Makassar (BLAM), saat menyajikan temuan lapangan mereka di hadapan pimpinan pondok pesantren, akademisi, dan aktivis, di Hotel Arya Duta Makassar, Selasa, 22 September 2020.

Keempat Peneliti Ahli Utama itu adalah, Dr. H. Abd. Kadir M, yang memberi judul makalahnya, “Merajut Moderasi Beragama dari Tradisi Pesantren (Jejak Pemikiran dan Praktik Moderasi Beragama di Pesantren Lembaga Pendidikan Islam Pondok Karya Pembangunan Manado.”

Kemudian, Prof. Dr. H. Abd. Kadir Ahmad, “Praktik Moderasi Beragama di Kalangan Arab Keturunan Kafaah dan Akomodasi Kultural Klan Assagaf di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.”

Selanjutnya, Prof. Dr. H. Hamdar Arraiyyah, “Pengembangan Moderasi Beragama di Pesantren DDI Pattojo Soppeng, Sulawesi Selatan.” Dan, Prof. Dr. H. Idham, “Moderasi Beragama dan Berbudaya Masyarakat Ambon Pasca Konflik 1999.”

Abd. Kadir M, yang tampil pertama, menyatakan, Pesantren Pondok Karya Pembangunan sejak berdiri hingga sekarang sudah memiliki pemikiran Islam moderat dan dipraktikkan di dalam dan luar lingkungan pesantren.

Menurut Kadir, penanaman moderasi beragama kepada santri di pesantren di lingkungan pesantren dilakukan dalam bentuk pembelajaran kitab kuning dan pembelajaran klasikal di madrasah.

“Pengajaran kitab kuning di pesantren dengan sistem sanad yang sangat efektif dalam menumbuhkan pemahaman keagamaan yang moderat masih tetap dilakukan sebagai sebuah tradisi pembelajaran dalam pesantren,” kata Kadir.

Sementara, Prof Kadir Ahmad, menyatakan, moderasi beragama di kalangan Arab Assagaf merupakan karakter beragama yang melekat pada kultur mereka sebagai bagian tak terpisahkan dari masyarakat lokal.

“Hal ini dapat memperkuat dan menjadi testimoni terhadap klaim ajaran Islam moderat dan moderasi beragama oleh pemerintah melalui kementerian agama,” kata Kadir Ahmad.

Prof Hamdar, yang meneliti di Pesantren DDI Pattojo Soppeng, menyatakan, para pembina pondok pesantren sejak awal berdirinya adalah orang yang memiliki ilmu agama mendalam disertai sifat bijak.

Selain itu, kata Hamdar, pembina memperoleh ilmu dengan belajar di Mekkah dan di sejumlah pondok pesantren di Sulawesi Selatan, seperti di Sengkang dan Mangkoso.

“Beberapa kitab kuning yang diajarkan kepada para santri memberi bekal awal untuk mendalami ilmu agama Islam secara mendalam dan komperehensif. Kitab tersebut mencakup beberapa kajian pokok, seperti Al-Qur’an, hadis, akidah, fikih, akhlak, tasawuf, dan bahasa Arab,” ujar Prof Hamdar.

Moderasi beragama dan berbudaya masyarakat Ambon, menurut temuan Prof Idham,  bukan hanya dalam bentuk slogan-slogan, tetapi juga kesadaran kolektif untuk saling menghargai keyakinan sesuai agama yang dianut.

“Konflik Ambon yang melibatkan penganut Islam dan Kristen, kemudian memunculkan kesadaran di antara dua kelompok agama tersebut untuk menyelesaikannya dengan menggali dan meneguhkan kembali nilai-nilai budaya yang sudah mulai dirasakan melemah,” kata Prof Idham. (ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.